
"Ah, Ya Kak... Saya juga setuju dengan Bram." kata Meilinda. "Bukannya saya membela Dimas, tapi sepertinya kakak terlalu keras padanya. Juga... Masalah pernikahan ini, apakah kakak begitu tidak percaya kepada kami sampai harus merahasiakannya?"
Sebastian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan menyeringai sambil menunduk, menatap lantai.
"Saya..." Meilinda menatap Dimas yang sedang menatapnya balik. Wajah pria itu begitu sendu saat memperhatikannya.
Entah apa yang ia pikirkan, jarang ada yang mengetahui isi hati Dimas selama ini. Pria itu terlalu dinamis, tidak tertebak.
Sama seperti kakaknya...
"...saya cukup tahu diri kalau kakak tidak memberitahu saya. Untuk masalah diri sendiri saja, saya sangat ceroboh. Tapi ternyata kakak juga merahasiakannya dari Trevor dan keluarga Milady..." kata Meilinda.
Sebastian tidak langsung menjawab.
Ia mengulur waktu...
Milady sudah ia kabari supaya jangan jauh-jauh darinya dalam beberapa hari ini.
Sampai di menit berikutnya...
"Mohon maaf mengganggu Pak." Suara Arman dari interkom. "Kalau boleh kita bicara di jalur privat?"
Sebastian menyeringai.
Ini dia yang ia tunggu...
"Kamu masuk, bawa ketua tim masing-masing unit." sahut Sebastian.
Terdengar jeda.
"Bapak yakin?" tanya Arman.
"Ya. Masuk saja."
Tidak berapa lama, Arman masuk dengan dua orang anak muda seumuran Ipang dengan gaya khas urban dan Yazaki Eiichi.
"Maaf mengganggu Pak." Sahut Arman.
"Bicara." kata Sebastian
Arman melirik Milady dan sekelilingnya.
Ia ragu, namun ia mematuhi perkataan Bossnya.
"Hari Fadil meninggalkan negara, menuju Enoshima. Obat antidrepesan buatan Garnet Med baru saja diumumkan sebagai obat herbal dengan kandungan tanaman langka yang hanya tumbuh setiap 100 tahun milik Keluarga Bagaswirya. Konferensi pers oleh BNN sudah diumumkan sekitar 15 menit yang lalu, sesuai rencana, pihak Garnet Grup mewakili Garnet Med mengajukan tuntutan pencemaran nama baik ke Hari Fadil."
"Hm... Semua sesuai perhitungan ya. Lanjutkan..."
"Saat ini istri Hari Fadil, Sarah Fadil, sedang dipanggil untuk dimintai keterangan..." lanjut Arman.
"Sarah Fadil... Bukannya Sarah Kadiv Pendanaan Garnet Bank ya?" tanya Dimas.
"Ya betul... sebenarnya hubungannya dengan Hari Fadil sudah pisah ranjang, namun demi nama baik mereka belum bercerai. Lanjutkan laporan kamu..." sahut Sebastian.
Arman menghela napas sambil melirik Trevor.
"Tim kami dilapangan melaporkan anak buah Yamaguci mulai memasuki negara ini. Mereka bekerja sama dengan preman bayaran Hari Fadil untuk mulai mencari Ayumi Sakurazaka."
Trevor sampai-sampai menarik napas mendengarnya.
"Asse sudah kamu pindahkan?" tanya Sebastian ke Arman.
"Ayah! Ayumi di sini?!" seru Trevor kaget.
"Ya... dia meminta perlindungan dari Yakuza. Kelihatannya senjata makan tuan..."
"Dimana dia?"
"Bukan urusan kamu."
"Ayah..."
"Hei...! Kali ini jangan membantah Ayah. Kamu bukan anak kecil sampai bisa terperangkap dua kali, kan?!" Hardik Sebastian.
Trevor diam.
Namun ia bertekad setelah ini akan mencari tahu keberadaan Ayumi.
"Malam ini baru akan dipindahkan... Ke safe house." sambung Arman.
Sebastian mendengus. "Safe House..." ia hampir saja terkekeh.
"Dia belum mau bicara mengenai hal yang ia sembunyikan, sampai Yakuza bela-belain memburu dia ke negara ini..." gerutu Sebastian.
"Dia akan bicara, kalau dia sudah yakin hidupnya terjamin sepenuhnya..." sambung Arman.
"Oke, Asse urusan kamu. Singkirkan semua yang mendekat. Seperti kamu menyingkirkan geng Adam Quon waktu itu. Saya jadi sambil menyelam minum air, ini... tapi yang rapi ya, jangan sampai kepolisian dan temen kamu si Dirga itu mencium bau busuk..."
"Mungkin Rama Bagaswirya sudah..."
"Rama di pihak kita. Dia pasti sudah tahu... Dia harus tutup mulut kalau mau karirnya lancar sampai jadi... Brigjen. Hehehe." sindir Sebastian ke Arman.
Ia melempar kartu akses.
Arman mencibir sambil menangkap kartu akses Sebastian.
"Bapak mau menggunakan yang biasa?"
"Iya, pakai yang biasa, dia sudah mencabut masa depan beberapa orang besar, sejak Perang Afganistan."
"Untuk yang mana, kali ini pak?" Arman berjalan ke arah mobil emas dan memasukkan kartu akses ke lubang kunci mesinnya.
"Saya sih inginnya Yamaguci... Soalnya waktu itu yang Adam Quon gagal karena sudah minta maaf duluan..."
"Oh..." Arman mengambil beberapa peti panjang berwarna hitam dari arah bagasi mobil, meletakkan salah satunya di atas bagasi mobil emas yang baru saja ia tutup tanpa mempedulikan body mobil yang bisa saja tergores, dan mengeluarkan senapan laras panjang, Arctic Warfare Magnum.
Bibirnya yang biasa menyunggingkan senyum sinis, kini menyeringai dengan terpesona.
"Seksi banget kamu... Hehe..." desisnya sambil membelai larasnya, lalu memeriksa kokangnya.
Senapan itu diperoleh Sebastian saat Perang Afganistan berlangsung, langsung dari Accuracy International, sebuah perusahaan senjata di Hampshire, Inggris. Jarak bidik 1400 meter menggunakan peluru .338 Lapua Magnum.
Dan Arman langsung membidiknya ke arah Sebastian.
"Masih tersisa satu peluru... Dan diantara orang besar yang dibidik selama ini, Bapak adalah target paling menggiurkan..."
Semua orang disana tegang.
Sebastian tak bergeming...
Tepat sasaran...
Mengenai piagam di belakang Sebastian.
Pria itu masih menyimpan piagam penghargaan Kapolri Cup milik Arman saat memenangkan kejuaran menembak di Hari Bayangkara Polri beberapa tahun lalu.
Peluru melubangi tepat di bagian tengahnya.
"YA nenavizhu etu shtuku..." (Saya benci benda itu.) ujar Arman dalam bahasa Rusia.
Sebastian menoleh dan melihat piagam yang dilubangi Arman.
"Itu kan sebagai pengingat saya, kalau saya worthed bayar kamu mahal di sini..." dengus Sebastian.
Namun, keduanya, Arman dan Sebastian, sangat mengetahui kalau hubungan mereka lebih dalam dan lebih akrab dari itu.
"Oh iya, Arman... Perkenalkan." Sebastian menunjuk Dimas dengan dagunya. "Bakal Boss kamu selanjutnya."
Dimas menatap Arman dengan waspada.
Arman tersenyum licik padanya.
"Sampai ketemu di 15 bola nanti malam, Pak Dimas..."
Anak buah Arman mengambil satu persatu tas senjata dari lantai. Yazaki Eiichi menunduk menghormat pada Trevor sekaligus melambaikan tangan pada Milady.
Mulut Milady berucap 'hati-hati' tanpa suara padanya.
"Kami permisi..." desis Arman sambil menopang senjatanya di bahunya dan menyeringai senang.
Senang karena ia akan bermain sebentar lagi.
Permainan berbahaya yang memacu seluruh adrenalinnya.
"Jadi itu pekerjaan Eiichi yang sebenarnya..." umpat Trevor perlahan saat pintu di depan mereka tertutup. "Seharusnya Garnet Security Agency hanya melakukan usaha pengamanan, Ayah. Bukannya jadi penembak jitu..."
"Itu salah satu pekerjaan pengamanan yang mereka lakukan, kalau yang harus mereka lindungi adalah... Saya..."
Semua bergumam pelan.
Tentu saja begitu...
Sebastian bisa jadi lebih penting daripada para pejabat negara. Akibat banyak bisnis yang alurnya serba rumit.
"Dulu, Mitha bekerja di sana. Tugasnya sama seperti Susan. Pengamatan." kata Sebastian. "Tapi dulu Arman belum jadi anak buah saya, jadi baru kali ini Arman dan Mitha bertemu ya..."
Trevor menatap Mitha.
"Yang begini bisa jadi agen?" sahutnya langsung skeptis. Ia menuduh ayahnya berbohong.
"Jadi pengamat kan tidak harus tembak-tembakan, Mas Trevor... Paling banter saya nyamar..." Mitha menyeringai.
"Dia kerja di toko perhiasan milik target waktu saya tugaskan ke Amerika. Juga pernah kerja di mall milik target saat saya tugaskan di Rusia." kata Sebastian.
"Kalau urusan 'bersih-bersih' ya jadi tugas timnya Mas Arman itu..." sambung Mitha.
"Jadi... sekarang semua mengerti kan, kenapa saya harus merahasiakan status Milady untuk sementara. Seharusnya disembunyikan sampai Hari Fadil saya jebloskan ke penjara... atau sampai Yamaguci saya lenyapkan. Tapi Milady tampaknya tidak merasa itu etis kalau sampai terlalu lama disembunyikan dari keluarga sendiri." Kata Sebastian.
"Orang-orang yang menjadi pesaing bisnis saya, kebanyakan bukan dari kalangan biasa. Gangster seperti Yakuza, Triad, Mafia Italia... tidak bisa dianggap keren. Mereka seburuk-buruknya penjahat. Mereka kaum yang bisa dengan mudah menganiaya wanita dan anak-anak sampai korbannya berharap mati saja. Saya melihat dengan mata saya sendiri bagaimana perdagangan anak-anak dijalankan... sampai-sampai Mitha takut hamil waktu itu. Setelah itu saya tidak memberi kelonggaran lagi untuk mafia... Jadi, karena saat ini golongan itu menganggap kalau saya adalah saingan mereka, itu berarti saya harus menyembunyikan kelemahan saya, yaitu Milady, untuk sementara waktu."
Hal inilah yang membuat Trevor merasa tidak sanggup dan memilih untuk melepas sahamnya atas perusahaan.
Tapi harus ada yang meneruskan... kalau tidak, saat perusahaan diambil alih orang lain, perlakuan terhadap keluarga Bataragunadi akan semena-mena. Apalagi kalau sampai perusahaan diambil alih oleh orang yang dulunya memiliki dendam ke Sebastian.
Dimas menatap Milady sambil mendengarkan perbincangan mereka. Wanita itu sedang memperhatikan suaminya. Senyum lembut terpancar dari raut wajahnya.
Ia sangat mencintai suaminya.
Seperti Dimas mencintai Meilinda.
Seburuk apapun kehidupan Sebastian dan Meilinda, serumit apapun.
Ia dan Milady adalah orang biasa yang harus terjun ke kubangan, lingkaran para konglomerat, akibat perasaan mereka.
Semua juga tahu...
Berurusan dengan kaum kelas atas tidak semudah main perintah sana-sini dan membuang-buang uang.
Karena saat ini posisi Pemegang Saham Mayoritas semacam Sebastian, mutlak berada di atas seorang CEO.
CEO hanya jabatan yang tugasnya memastikan perusahaan memberikan cuan kepada shareholders lewat strategi dan keputusan. Dengan kata lain, mereka sebenarnya hanya karyawan yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan, mereka sama-sama digaji seperti karyawan lain.
Siapa yang berhak memecat mereka?
Shareholders...
Melalui Rapat Komite Pemegang Saham.
Bahkan seorang owner saja bisa dipecat kalau Shareholders Terbesar tidak berkenan.
Dan kini, yang diminta Sebastian adalah sesuatu yang menurut Dimas dan Bram memang sedikit egois.
Ia akan melepas jabatan CEOnya. Namun masih tetap memegang saham mayoritas.
Dengan kata lain, sebenarnya Sebastian hanya butuh budak.
Karena anaknya sudah bisa mengendus tingkah liciknya, jadi Trevor bahkan enggan memegang tampuk jabatan itu.
"Pak..." desis Dimas.
Sebastian menoleh.
"Oke saya akan ambil tawaran itu. Pemimpin perusahaan. 150 cabang dan anak usaha di seluruh negara... 150ribu karyawan... Dengan syarat."
"Apa?"
"50persen saham atas nama saya."
"Saham dari usaha yang mana."
"Saham konsolidasi."
Sebastian mencibir.
"Dasar serakah..." umpatnya.