
Trevor mulai waspada.
Milady kalau sedang serius dan memendam masalah... Trevor meyakini pasti hal itu adalah sesuatu yang penting, baik diri Milady maupun diri Trevor.
Sejak lama wanita ini menjadi radar baginya untuk memilah kapan ia harus santai dan kapan ia harus bergerak cepat.
Dan karena sifat Milady yang lembut dan seringkali bersikap tenang, terkadang masalah sepele sudah selesai tanpa Trevor harus turun tangan. Yang sampai ke mejanya hanya masalah yang terbilang mendesak membutuhkan keterlibatan Trevor atau Bram.
Dan kini...Milady sangat tegang.
Hal apakah yang akan disampaikannya?
Masalah pekerjaan?
Apakah Bangunan di coastview? Atau mengenai pameran di Jepang? Rasanya hanya dua hal itu yang mendesak.
Atau...
Mengenai masalah pernikahan ini?
Penyebab kenapa Milady memutuskan untuk mundur?
"Kamu...tahu kan kalau selama ini aku memendam perasaan ke seseorang...?"
"Oh iya...Mr. X..."
"Hah? Mr. X ?"
Trevor terkekeh. "Iya, aku dan Bram menjuluki laki-laki misterius dambaan kamu itu dengan sebutan Mr. X."
Milady mencibir. Lalu menghela napas panjang.
"Sebenarnya... Baru-baru ini aku bertemu lagi dengannya..."
Trevor langsung mendekat dan mencondongkan tubuhnya. Dia tampak antusias.
"Dia masih hidup?" tanya Trevor dengan berbisik.
Milady mengernyit. "Aku ngga pernah bilang dia sudah meninggal Trev..."
Trevor tampak mengingat. "Sepertinya kamu bilang dia sudah mati."
Milady berdecak.
"Dia sudah 'mematikan' hatiku, iya?" Milady mengulangi kata-katanya yang dulu, saat Trevor dan Bram menanyakan mengenai keberadaan Mr. X.
Trevor tertegun, dia kembali mengingat.
"Oh iya... Hehe...sori." akhirnya ia ingat kata-kata pastinya.
Laki-laki... kalau diajak curhat kebanyakan hanya ingat sepenggal-sepenggal... Keluh Milady dalam hati.
"Lalu... Siapa dia?" tanya Trevor. Ia bersiap-siap menelpon Bram.
"Ini diantara kamu dan aku saja. Karena Bram dan Dimas tidak menjadi calon suamiku. "
Trevor berdecak sambil menurunkan ponselnya.
"Aku ngga biasa menyembunyikan sesuatu dari Bram." keluh Trevor.
"Yang ini, diantara kita saja, itupun karena aku mau mundur dari pernikahan dan aku butuh kerjasama kamu..." Milady sedikit memaksa. "Bram bukan calon suami aku... Kamu yang calon suami aku. Jadi, ini diantara kita saja..."
"Kalau Bram bertanya?"
"Bilang saja kamu sudah disumpah sama Milady untuk bungkam. Dia tidak akan bertanya lagi kalau sudah berhadapan denganku."
Trevor berpikir.
Selama ini, yang bisa menaklukan Bram memang hanya Milady. Kalau menyangkut wanita ini, dia biasanya mengalah. Mereka bahkan biasa berdebat berdua, dengan senyum masih terpatri di bibir mereka masing-masing.
"Oke..." Trevor menghela napas pasrah. "Jadi... Siapa dia?"
"Tebak?"
"Dia yang membuat wajah kamu seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Merona dan menerawang..."
"Hm... Begitu yah." Milady tersipu lagi.
"Dan yang membuat kamu berdandan secantik ini."
Milady tersenyum malu.
"Dan juga, yang membuat kamu melupakan komitmen kita."
Milady menghela napas.
"Dia...adalah..."
Milady menahan dagunya dengan tangannya di meja. Bersabar menunggu Trevor menebak.
"James bukan?" tebak Trevor.
"Kenapa harus dia?!" Milady sewot
"Dia mencecarku di telepon, bertanya bernarkah kita akan menikah. Kubilang saja kita baru pacaran..."
"Gara-gara itu kamu menyimpulkan kalau Mr. X adalah James?"
"Yah, yang akhir-akhir ini bertemu kamu lagi setelah sekian lama kan dia."
"Bukan James..." keluh Milady.
"Ya udah kasih tahu aja, aku ngga pintar tebak-tebakan." Trevor menggaruk tengkuknya. "Yang pasti sih bukan ayahku..." tambahnya.
Milady membeku.
Ia diam.
Lalu menegak air putihnya.
Trevor menatap tingkahnya yang salah tingkah.
"Milady..." ia menekan suaranya.
"Hm..." Milady menunduk menatap cakenya yang baru dimakan setengah.
"Mr. X itu... Adalah..."
Milady melirik Trevor, lalu kembali membuang muka.
"Astaga..." gumam Trevor.
*****
Arran berdiri bersandar ke pilar yang menghadap air mancur raksasa. Ia kini berada di Garnet Central, salah satu Mall terbesar di negara ini, dibangun di bawah Garnet Grup.
Ia disini karena...
Yah, walaupun terdengar memalukan, ia sedang menunggu teman kencannya yang dikenalnya secara online lewat aplikasi jodoh.
Bukannya ia tidak laku...
Tapi...
Setelah Milady menolaknya, Arran merasa ia telah salah melangkah. Sehingga saat ini ia butuh pelampiasan lain.
Seakan ia tidak bisa mencari pasangan di kehidupan nyata.
Namun karena ia sedang bosan, jadi kemarin...
(Flashback kemarin)
Situs perjodohan trending, Arran mengetahui dari salah satu media sosialnya. Lalu jemarinya otomatis mencari tahu dan masuk ke alamat virtual.
Situs ini selain menyediakan jasa perjodohan, juga menawarkan jasa teman kencan. Anggotanya eksklusif, harus membayar sejumlah biaya administrasi dan pengecekan identitas segala. Setelah itu harus mengisi data diri.
Setelah Arran sadar, ia bahkan sudah sampai ke tahap submit.
Ya ampun... Pikir Arran.
Apa yang kulakukan?
Kenapa aku mendaftar tanpa pikir panjang? Bahkan sampai membayar biaya anggota?
Memangnya aku segitu putus asanya dengan status jombloku?
Kalau mau berkencan bukankah lebih baik dengan para wanita yang rutin mengirimiku bingkisan setiap minggu?! Kenapa aku harus ke situs kencan segala??
Namun karena ia sudah membayar biaya anggota, jadi ia tidak ingin dirugikan. Jadilah ia menekan tombol submit data dirinya.
Hm...
Situsnya lumayan unik
Pengunjung tidak bisa berkomentar dengan kata-kata sendiri.
Para wanita atau pria yang statusnya available tidak dapat diakses lagi baik itu foto maupun data dirinya.
Dan ada beberapa orang di urutan top class.
Arran mengakses salah satu data wanita dengan level tertinggi di sana.
Wow...
Cantik sekali!
Lalu membaca komentar pilihan.
Rata-rata pria yang sudah berkencan dengannya mencontreng kata-kata pilihan : kenyataannya lebih cantik daripada di foto, sangat ramah, berwawasan luas, akan berkencan dengannya lagi.
Arran mencoba menginvitenya dalam chat pribadi melalui situs itu, karena pengunjung tidak diperbolehkan untuk mencantumkan nomor ponsel pribadi.
Namun pria itu juga tidak terlalu berharap dibalas karena wanita ini berada di urutan paling atas, mungkin ada banyak penawaran invite dari pria lain.
Lalu pria itu meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali ke pekerjaannya merancang konsep dan detail bangunan dari komputernya.
"Pak Arran, ada paket." Tony mengetuk pintu ruangannya.
Arran menghampirinya dan membuka pintu.
Tampak wajah sumringah Tony dengan kotak berwarna coklat di depan dadanya.
Arran membukanya sekilas.
Cake.
Dari cafe bunga.
Cafe yang sedang booming belakangan ini, dan rencananya mau buka cabang di Garnet coastview.
Lumayan sebagai penglaris mall yang baru dibangun, jadi mungkin Arran akan minta pihak mereka bekerjasama untuk promosi awal.
Arran mengambil kartunya.
"Bagikan saja ke anak-anak..." desisnya.
Raut wajah Tony langsung menyeringai cerah.
"Baik Pak!" desisnya riang.
Arran kembali duduk di kursi kerjanya sambil membaca kartu.
Terima kasih atas bantuan kamu waktu di notaris.
Yori Hainez.
Senyum tipis Arran mengembang. Satu keluarga dengan nama aneh...
Tapi sejujurnya, menurutnya, Yori bukan tipe wanita yang bisa dijadikan istri. Dan tampaknya wanita itu juga tidak mencari suami. Ia terlalu mandiri dan jenis yang independent. Arran tidak akan kaget kalau Yori bisa mengganti ban mobil sendiri.
Dan saat itu ponselnya berdenting tanda notifikasi.
Besok, jam 10 pagi, Garnet Central, depan air mancur. Oke?
Arran tertegun melihatnya.
"Waduh..." gumamnya.
Ia tidak menyangka balasannya tiba secepat ini.
dan sejujurnya Arran agak ragu untuk mengetik balasannya.
(Flashback Off)
Dan disinilah ia sekarang.
Menunggu teman kencannya, yang nicknamenya bernama Queenie.
Kok... rasanya deg-degan yah. Padahal Arran menganggap ini hal konyol. Kencan buta, seperti yang dia lakukan jaman SMA waktu masih ada aplikasi friendster.
"Arran?"
terdengar suara memanggilnya.
Arran menoleh mengikuti arah suara.
lalu pria itu tertegun beberapa saat, memicingkan mata, dan... tetap tidak mengenal wanita yang memanggilnya.
Sangat cantik menurutnya. Hampir mirip dengan Milady, namun yang ini lebih mungil.
":Iya?"
Wanita itu menghela napas. "Ini Yori... masih inget dong..." decak wanita itu.
Mata Arran terbelalak.
"Hah?" sahut Arran, lalu ia memandang Yori dari atas kepala sampai kaki wanita itu. Penampilannya benar-benar berbeda. Yang ini sangat feminim dengan gaun berwarna salem dan sepatu hak tinggi. Walaupun rambutnya sama-sama pendek, tapi wanita yang di depannya ini mengenakan riasan dan tanpa tindik berlebihan. "Masa?"
"Dih kamu nih... belum juga seminggu ketemu udah lupa aja... batalin ah kerjasama iklannya!" Yori pura-pura ngambek.
Ah iya, suaranya suara Yori.
Arran terkekeh. "Habisnya..." dia tidak melanjutkan kalimatnya, mengagumi dandanan Yori.
Penasaran, untuk siapa wanita ini berdandan semanis itu.
"Kaget yah?" tanya Yori sambil berdiri di sebelah Arran.
"Pasti mau pacaran yah..." tebak Arran.
"Hehe..." balas Yori. "Belum kenal sih, mau ketemuan aja dulu."
"Maksudnya?"
"Mau...kencan buta."
Arran kehilangan senyumnya. Perasaannya langsung tidak enak.
Lalu pria itu meraih ponselnya.
dan mengangkatnya ke sebelah wajah Yori.
Foto queenie.
"Kenapa?" tanya Yori.
"Kamu...Queenie?" gumam Arran.
Yori terpaku.
*****