Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Baper Sergap (2)



Saat semua terasa samar


Kawan atau lawan bercampur baur


Kepercayaan dan kejujuran seakan buyar


Alasan demi alasan berdalih terlanjur


Kebohongan secara cepat berakar


Kini menyisakan hampa tiada akhir


(Septira, 2020)


"Makan, Lady..." Latief membawakan Milady makanan. Ada pisang, lemper dan berbagai makanan tradisional. Juga teh manis.


Milady menatap Latief sambil tersenyum.


Pria itu langsung menghela napas, dan duduk di depan Milady.


"Kamu ini tahu tidak, kalau senyum kamu itu selalu membuatku merasa bersalah? Seperti sedang... Menghukumku atas pengkhianatanku..."


"Loh? Kok begitu ngomongnya?" kata Milady sambil mengernyit.


Latief menunduk sejenak sambil tersenyum tipis.


Ia sedang memikirkan banyak hal.


"Aku sudah pernah meminta kamu untuk berjanji menyembunyikan kenyataan orientasiku... Sepertinya, kali ini aku akan meminta kamu untuk berjanji lagi." Latief menatapnya.


Berjanji lagi... katanya. Pikir Milady.


Padahal Latief sendiri yang paling tahu, menepati janji tidak mudah.


Latief mendekat dan merendahkan suaranya.


"Lady..." bisiknya. "Walaupun penjagaan di sekitar sini terkesan ketat dan banyak pasukan, namun kemampuan mereka setara preman. Tidak profesional. Dengan mudah pasukan suami kamu akan meringkuk mereka..."


"Hah..."


"Ssh...dengar dulu." Latief menyampirkan rambut Milady ke belakang telinga wanita itu. Hal yang sering dilakukannya saat masih menjadi seorang suami.


Ia menyayangi Milady walaupun tidak mencintainya, dan hal itu tampaknya tidak berubah sampai sekarang.


"Secara cepat kami semua akan... Tertangkap ataupun terbunuh. Aku ingin minta kamu instruksikan ke pengawal Sebastian untuk... Membunuhku."


Milady seakan tidak bisa mempercayai pendengarannya.


Mata bulatnya membesar.


"Latief...untuk apa..."


Latief menghembuskan napas berat.


"Berita ini akan cepat menyebar, Lady... Dan tertangkap jauh lebih buruk dibanding mati. Pada saat aku menerima order ini, aku sudah tahu akhirnya akan begini..."


Tidak...


Bukan begini cara untuk mengakhiri semuanya! Pikir Milady.


"Masih banyak hal yang bisa diperbaiki kalau kamu hidup!" ujar Milady.


"Mengenai apa? Diperbaiki dalam hal apa? Dalam hal Abah akhirnya tahu mengenai orientasi seksualku? Bahkan dia akan tahu tentang penyakitku? Kalau mati, yang dia akan tahu hanyalah aku pengedar narkoba. Tapi kalau tertangkap, semua mengenaiku akan terkuak di media. Lalu aku akan hidup untuk menerima cercaan orang-orang..."


"Kamu mati pun kemungkinan mereka tahu juga akan tetap ada, Latief..."


Latief menunduk menatap lantai beralaskan semen di bawah kakinya.


"Mungkin kamu benar, tapi aku tidak akan sanggup menghadapinya..."


Milady menarik napas panjang.


Matanya berkaca-kaca.


Lalu pria itu mengangkat wajahnya, menatap Milady dengan penuh keyakinan.


"Sampai akhir hidupku aku akan berusaha melindungi kamu agar tidak tersentuh siapa pun... Itu janjiku ke kamu."


Milady menghela napas panjang.


Sejak dulu...


Hal seperti ini yang Milady selalu tidak sependapat dengan mantan suaminya...


Latief selalu mudah putus asa.


Selalu cepat menyerah...


Selalu tidak percaya diri...


Setelah mereka bercerai pun tampaknya hal itu malah makin menjadi-jadi.


"Latief... Bunuh diri menunjukan seberapa pengecutnya kamu. Belum lagi kamu akan menyuruh anak buah kami berbuat dosa dengan membunuh kamu? Kamu pikir mudah membunuh orang lain?! Berapa banyak orang yang akan tersakiti atas tindakan kamu? Abah? Pasangan kamu? Anak kamu? Terkadang, walaupun kenyataan sangat terasa sakit, tapi lebih baik daripada mati dibanjiri hujatan."


Latief tertegun menatap Milady.


"Mati... Dibanjiri hujatan?" Desisnya.


"Ya. Saat itu tidak akan ada yang bisa membela kamu karena tidak tahu kebenarannya, sudah begitu kamu tidak bisa lagi memohon ampun, meminta maaf, bahkan merasakan kasih sayang. Dan sekarang kamu bilang kamu janji untuk melindungi aku? Ya Ampun Latief... Bagaimana aku bisa percaya?! Kamu saja tidak bisa melindungi orang-orang yang jelas-jelas mencintai kamu!" Sahut Milady.


Latief hanya bisa membisu.


*****


"Baper 4, posisi?" Arman berbicara melalui interkom.


"Baper 4, menyusuri tanjakan dari Tampi." suara Eiichi.


"Heli diparkir di Purwokerto, lalu naik mobil ke mari."


"Jauh amat di Purwokerto, heli kami di Wonosobo, kan ada area heli juga." suara Umar.


"Disebar biar ngga terlacak Pak Umar. Helinya terlalu mencolok."


"Kamu parkir di kantor polisi dong biar ngga mencolok... Kan Pak Kapolri sudah memerintahkan jajaran polisi supaya bersiaga."


"Saya parkir di Kantor Walikota Pak."


"Oke lah..."


"Baper 2, gimana vila?"


"Serem an*jay... Sampe gue ke wc minta ditemenin Heksa." dengus Moses.


"Ah kalian ini suka halusinasi. Jangan kebanyakan nonton net*flix makanya." suara Pak Kardi


"Loh... Yang tiba-tiba gabung pipis pas kita di WC siapa yaaaaa."


"Loh saya kan kebelet, masa ga boleh ke wc?!"


"Kebelet ato takut ditinggalin sendiri?!"


"Hush!"


"Kabut mulai turun, hati-hati." ujar Arman.


"Opini asumsi membara... Namun tak ada satu pun yang bisa kupercaya... Benar salah tak lagi terbaca... Tertutup dalam pekatnya... Kabut..." terdengar Heksa bernyanyi.


(Kabut. Bondan Prakoso 2020)


Arman menarik napas panjang.


Ya... mungkin lagu itu dapat mewakili perasaannya saat ini.


"Perhatikan ke arah mana kabut berhembus, itu tujuan kita. Please nyalakan lampu di jam tangan masing-masing untuk petunjuk arah. Yang tersesat tidak akan dicari sebelum misi selesai." kata Ayumi


Arman mengernyit sambil menatap Ayumi yang berjalan menanjak di sebelahnya.


"Yang bener aja Sakurazaka-San. Lama-lama posisi komandan kamu kudeta, kali!"


"Hm... aku kan cuma mau bantu kamu. Kenapa sih kamu tidak pernah menghargaiku?"


"Ya tapi ngga harus menggantikanku memberikan instruksi!"


"Loh, tapi aku benar, Kan?! Aku juga perhatikan sepertinya kamu tidak terlalu cocok memimpin."


"Aku? Aku tidak cocok memimpin?!"


Ayumi mengangguk yakin.


"Cara kamu memimpin terlalu friendly sampai-sampai mereka terlalu cuek dengan tugas mereka, akhirnya kamu yang turun tangan untuk tertembak... Kamu terlalu lembut." kata Ayumi cuek.


Arman ternganga mendengarnya.


Ia tidak terima mendengar hal itu dari mulut seorang wanita yang bahkan terlihat lemah seperti sosok yang ada di hadapannya sekarang.


"Hah? Bagian mana dari aku yang terlalu lembut?! Kamu kan ngerasain sendiri sampai pingsan!"


"Aku pingsan karena cara kamu melakukannya kurang beretika! Kamu sepertinya tidak pernah diajarkan cara menghargai wanita!"


"Kamu waktu itu masih jadi penjahat, jelas aku tidak bisa memperlakukan kamu dengan baik!"


"Oke, sekarang aku bukan penjahat, tapi kamu masih saja kurang ajar di villa tadi! Akui saja kamu ketagihan kan?! Milikku itu berbeda wanita lain! Tanya Yazaki-Kun!"


"Mana bisa kutanya dia! Harga diriku bisa jatoh!"


"Tuh kan kamu baru saja mengakuiku!"


"Aku ngga bilang begitu!"


"Dasar laki-laki hentai..."


"Yang bener aja Medusa!"


"Anooooo..." terdengar suara Eiichi dari interkom. "Bisa tidak bertengkar urusan ranjangnya nanti saja? Juga ngga usah bawa-bawa saya."


Terdengar kekehan tertahan semua orang dari interkom.


"Gue bilang juga ape... Udah bonding mereka." bisik Moses, tapi masih bisa didengar yang lain.


"Boleh lah Pak Arman, tumpengan melepas status Durjana jadi DuhBini..."


"Woi, Yazaki...itu beneran yang dibilang Mbak Ayu?"


"Saya waktu itu lagi mabok pengaruh narkotik jadi... Yah... Maaf tidak terlalu ingat..." sahut Eiichi


"Rugi bandar lo..."


"Sudah cukup!!" seru Arman emosi. "Ada lagi yang bahas ini, langsung saya pecat! Jelas?!"


"Siap Pak!!"


Hening...


"Ukurannya Pak Arman berapa Mbak?"


"Moses! Mau mati?!"


"Ngga Pak!! Sori kepo!!"


*****