
Sebastian dalam kondisi meeting dengan para Direktur-Direktur anak usahanya, saat kabar itu datang.
Pak, saya dan Ayumi berada di Kedutaan Jepang. Sedang mengurus beberapa dokumen agar kami bisa kembali ke Indonesia. Tampaknya agak sulit karena Ayumi saksi kunci, tapi situasi di sini kurang kondusif. Sekali lagi, boleh saya berharap bantuan bapak?
Pesan dari Arman.
Sebastian sampai mengernyit. Dan membacanya 3x.
"Sontoloyo." Umpatnya pelan setelah itu.
"Salah apa lagi Saya Pak?" Ujar Dimas.
Pria itu memang sedang duduk di sebelahnya, membacakan hasil investigasi dari adanya indikasi kecurangan pada laporan audit dari beberapa Sub Usaha Grup mereka.
"Bukan kamu." Dengus Sebastian.
Ia rencananya tidak mau membalas pesan Arman.
Biar saja si Casanova itu menyelesaikan masalahnya sendiri. Sudah diwanti-wanti sejak awal, berbahaya mengaktifkan ponsel untuk mencari Ayumi.
Apalagi mengetikkan nama 'Ayumi Sakurazaka' pada search engine mereka. Intel bisa-bisa langsung bertindak.
Mending kalau cuma intel, masih bisa negosiasi.
Ya kalau Yakuza?!
Langsung lah digerebek, tanpa basa-basi!
Mereka sampai mengungsi lagi di kedutaan, membahayakan banyak orang-para karyawan dan pengunjung kedutaan- sudah pasti Arman dan Ayumi nekat saling berkomunikasi.
Beberapa menit kemudian...
Pesan singkat dari 'My Lady'.
Mas, boleh ya aku minta tolong? Itu Mas Arman dibantu.
Sebastian sampai tertegun membacanya.
"Kampret!" Umpatnya agak kencang.
Luar biasa si Arman ini, dia tahu kalau aku pasti tidak mengindahkannya, jadi dia juga mengirimkan pesan ke Milady!
"Loh? Benar kok pak... NPF yang seharusnya 0,03% dilaporkannya 4,96% agar kita memasukan modal kembali untuk pencadangan sehingga mereka bisa..."
"Bukan kamuuu Boyoooo!" Omel Sebastian.
Dimas mencibir menanggapi keanehan Big Bossnya itu.
"Kan tadi udah dibilangin makannya pecel ayam aja ngga usah sok-sok'an soto kikil..."
"Apa?!" Sebastian memotong omelan Dimas.
"Enggak papa Pak. Saya lanjutkan boleeeh?" Dimas menyeringai sambil menggeser toples Pia Malang isi nanasnya ke arah Sebastian.
"Loh? Yang isi durian mana?"
"Enggak ah, tadi udah soto kikil masa sekarang mau makan duren, nanti nyeleneh lagi tingkah bapak, saya capek. Pak Arman ngga di sini loh. Saya ngga sanggup menghadapi Bapak sendirian."
"Mulut kamu gemulai amat sih lama-lama. Ketularan Alex ya? Makanya jangan main game terus!"
"Apa hubungannya game sama mulut..."
"Huss, Ah! Lanjut." Sahut Sebastian sambil membalas pesan Milady.
Belum sempat Dimas membaca laporannya, ponselnya berdenting.
Notifikasi aplikasi Signal.
Pak Dimas, tolong ingatkan Pak Sebastian supaya membaca Telegram dari saya. - Arman.
"Eh...ada..." Gumam Dimas sambil membaca pesan di layar ponselnya
Sebastian langsung merebut ponsel Dimas.
Lalu memicingkan mata membaca pesannya.
"Ya Ampun, dia lebih ngerepotin daripada anak gue sendiri!" Omel Sebastian, kali ini setengah berteriak.
"Isoma dulu! Saya ada urusan!"
"Anu... Henpon saya..."
"Kamu juga ikut!" Sebastian menarik lengan Dimas.
"Duh..." Keluh Dimas.
Sementara peserta meeting hanya bisa diam terpaku.
Mereka sama-sama melirik jam.
Pukul 14.
Padahal mereka baru saja break makan siang, sekarang sudah Isoma lagi.
(Isoma : Istirahat Solat Makan)
"Wah, sering-sering aja Isoma kayak begini! Sejam sekali, seneng deh saya!" Selena duduk bersandar sambil meluruskan kakinya dan mengelus perutnya yang mulai membentuk Babybump.
Ditanggapi dengan seringaian semua peserta meeting yang langsung duduk-duduk dengan santai.
*****
"Kamu dan Yazaki ke Kedutaan Jepang untuk menjemput Arman, sekarang." Kata Sebastian memberi perintah sambil menuju ke arah lift, mereka akan turun ke Basement Dua tempat kantor Garnet Security Agency.
"Kebetulan, Pak Hans minta dibawain cemilan." Desis Dimas sambil berbalas pesan singkat dengan mertuanya.
"Tapi birokrasi agak ribet ya. Kamu ketemu Judicial Court dulu untuk kemungkinan bisa mengeluarkan Ayumi dari Jepang."
"Ayumi? Mantan Trevor? Apa hubungannya sama Pak Arman?"
Sebastian menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, menatap si Boyo dengan malas.
Dimas hanya menatapnya dengan pandangan innocent.
Sebastian belum menceritakan apa pun kepada Dimas mengenai permasalahan keluarganya yang baru.
Bakalan panjang ceritanya. Keluh Pria berambut putih itu dalam hati.
"Ceritanya di pesawat aja. Nanti Yazaki akan cerita. Kamu bisa Bahasa Jepang kan? Kita butuh untuk merayu Mahkamah Agung..."
"Ngga, Mas." Potong Dimas.
"Kamu ngga bisa bahasa Jepang?"
"Dipikirnya saya ini Google Translate?! Tau-tau bisa semua bahasa?!"
"Kamu kan akan menggantikan saya! Belajar dong, cabang kita tersebar di 30 negara! Buat apa saya rela serahkan 50% saham konsolidasi kalau kamu ngga kuasai semuanya."
"Ini kan belum setahun Maaaas, Mas Yan aja menguasai semuanya hampir 30 tahunan masa berharap saya bisa semua dalam waktu setahun?!"
"Berapa lama kamu bisa kuasai semuanya?"
"Mana saya tauuuu Mas YAYaaaaan. Hih beneran besok-besok ngga usah lagi makan soto kikil, ah!" Keluh Dimas.
*****
Dan saat bertemu Hakim Ketua di Supreme Court of Japan , belum Dimas berbicara, sudah ditanggapi dengan jawaban :
"Definitely CAN NOT." Sahut Hakim Ketua.
Positifnya, langsung diucapkan di depan muka Dimas, tidak lewat surat.
Dan positif yang kedua, menggunakan Bahasa Inggris.
"Yang bener aja, Bambang." Gumam Dimas.
(English Mode On, sudah di translate ke dalam bahasa Indonesia)
"Kalian mengolok-olok kami namanya kalau sampai mau membawa saksi kunci ke Indonesia. Dipikir kami tidak bisa melindunginya? Penjagaan kami lemah? Mereka ketahuan karena mereka mengindahkan protokol!" Sahut Hakim Ketua.
Sepertinya dia agak meradang karena kasus percintaan Arman dan Ayumi.
"Mohon maaf Yang Mulia, mereka berdua sedang jatuh cinta. Seperti kita semua pernah merasakan, bagaimana dunia ini hampa tanpa cinta." Dimas mulai puitis.
"Saya dijodohkan dengan istri saya." Sahut Hakim Ketua dingin.
"Maksud saya, yang lain. Yang profesinya Maido" Sahut Dimas sambil memicing.
Oke, Dimas agak curang.
Ia menyuruh Eiichi untuk menghubungi semua teman-temannya di Kabukicho. Kemungkinan Hakim Ketua menyewa hostess atau kabuki.
Untung-untungan saja sih.
Tapi sekali lagi keberuntungan berpihak ke Dimas.
Hakim Ketua tergila-gila pada seorang pelayan bar di salah satu Cafe Maid!
Sampai mengirimkan bingkisan berisi Melon dan Strawberry yang muahal punya!
Walaupun hubungan itu sudah berakhir 3 tahun yang lalu. Dan si pelayan cafe juga sudah pindah, tapi tampaknya Hakim Ketua saat itu benar-benar tertarik.
"Kamu mau mengancam saya?" Sahut Hakim Ketua dengan wajah dingin dan waspada.
"Bukan, saya hanya mengingatkan saat rasa cinta itu mendera kita. Kita akan melupakan semua yang berhubungan dengan akal dan logika. Termasuk untuk kasus Arman, eh Ares Manfred dan Ayumi Sakurazaka ini, Yang Mulia."
Hakim ketua masih memicing menatap Dimas.
"Lagipula... Bukankah lebih memguntungkan kalau Ayumi ada di Indonesia. Toh daftar itu sudah ada di tangan pemerintah negara Anda. Menjaga Ayumi di sini bukankah malah membuang-buang dana operasional? Seperti dana hunian dan kebutuhan sehari-hari?" Sahut Dimas.
Hakim ketua mencibir.
Bukannya hal itu tidak pernah dibahas sih, pernah dibahas waktu itu.
Mengenai kemungkinan keluar dana kas negara untuk fasilitas saksi penting seperti Ayumi.
Tapi mereka merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan warga negara mereka.
Juga kemungkinan rahasia itu akan keluar dari mulut saksi, resikonya sangat besar.
Lalu Hakim Ketua menatap nanar ke arah keluar jendela ruangannya. Taman dalam yang luas terbentang di depannya, dengan pepohonan yang dedaunannya mulai rontok karena persiapan memasuki musim dingin.
Gedung kebanggaannya
Jabatan yang dibanggakannya
Reputasi yang disandangnya
Membuat keluarga besarnya mendapatkan penghormatan tak terkira dalam masyarakat.
Lalu ia pun memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana berbahan kain katun kualitas eropa.
Dan...
Berdecak.
Dimas tersenyum menang.
Decakan yang berarti izin untuknya mengambil langkah lebih jauh.
"Terima kasih banyak Yang Mulia. Pak Sebastian akan hadir dalam pernikahan anak bungsu Anda." Sahut Dimas sambil menunduk memberi hormat dan berlalu.
Hakim Ketua menatap sosok Dimas yang menjauh.
Penerus Sebastian.
Tampaknya bisa lebih menipulatif dibanding Sebastian.
"Astaga, tugasku bisa jadi lebih berat daripada kemarin-kemarin." Keluhnya.
*****
Menjelang malam hari Dimas tiba di Kedutaan Jepang untuk Indonesia.
"Pak Armaaaannnn!!" Serunya sambil langsung memeluk pria Kroasia-Korea itu. Sampai Arman agak limbung kebelakang. "Udah berapa lama kita ngga ketemuuuu kenapa dirimu jadi makin ganteng begini?! Diriku terharu! Traktir sushi dong."
"Jadi syaratnya apa Pak Dimas Yang Terhormat?!" Tanya Arman tanpa basa-basi.
"Selain menikah di Jepang, nama belakang Mbak Ayu berubah, surat pernyataan untuk berjanji tidak memiliki criminal record di Indonesia dalam waktu 5 tahun, wajib lapor 6 bulan sekali, Dan Surat Perjanjian bersedia diperbudak sampai Rahwana dapat KTP sendiri, yang lain adalah urusan administrasi yang Pak Sebastian bilang : tolong Arman bayar sendiri untuk feenya. Duit pensiunnya banyak."
"Ck..." Arman mencibir
"Katanya lagi, itu bukan pelit, tapi efisien."
"Ck..." Arman kembali berdecak.
"Jadi..." Dimas berkacak pinggang, menatap Arman dengan berbinar. "Pendeta sudah dipanggil? Sudah siap menempuh hidup baru?"
Arman menatap Dimas dengan pandangan lembutnya.
Pria itu terlihat sangat bahagia.
Tidak ada lagi aura suram dibalik senyum malaikatnya.
Kini sunggingan melebar di bibirnya terasa lebih tulus.
"Saat Pak Dimas menikah dengan Bu Meilinda, saya di balik layar menangkapi Yakuza, sampai tertembak di pinggang." Kata Arman.
"Betul. Suasana heboh sekali waktu itu." Desis Dimas.
"Terimakasih sudah memberikan pengorbanan yang cukup epic ya Pak Arman."
Arman menyeringai.
"Saat itu saya sempat berpikir kalau pernikahan adalah sesuatu yang merepotkan. Sama sekali tidak menyangka kalau saat saya menikah, Pak Dimas dan Yazaki-lah yang akan ada di sebelah saya. Mendampingi saya menempuh hidup baru. Bersama wanita yang tidak terpikir akan saya cintai..."
Arman menoleh ke belakang.
Ayumi Sakurazaka muncul dan meraih tangan Arman, menyambut Dimas dan Eiichi dengan senyuman manisnya.
"Ayumi?" Tanya Eiichi tidak yakin. "Oh, Woow!" Sahutnya kemudian, karena ia merasa wajah baru Ayumi sangat berbeda, dan sangat cantik.
"Eiichi-Kun. Pak Dimas." Ayumi menunduk sekilas memberi hormat. "Apa kabar, saya Ayumi Manfred."
Arman menyeringai.
Dimas mengelus tengkuknya sambil tertawa terpukau. "Astaga! Jadi merinding mendengar nama itu."
"Sudah siap?" Seorang pendeta muncul dari balik pintu, memanggil mereka untuk masuk ke ruang doa Kedutaan.
Arman menyampirkan rambut kecoklatan
Ayumi ke belakang telinganya.
Lalu menggenggam kedua tangan wanita itu.
Tangan yang penuh tanda luka, dengan gelang berlian kesayangan mereka melingkari pergelangan tangannya.
Arman berjanji dalam hati, setelah ini ia tidak akan membiarkan ada goresan sekecil apa pun di tubuh Ayumi.
Lalu menatap mata hitam wanita itu.
Mata yang selalu membuatnya terlena.
"Ayumi Sakurazaka, aku mengambil engkau menjadi seorang istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus."
****