Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Langit Malam Tokyo



Saat Lady kembali ke kamarnya dan menutup pintu geser, Trevor merogoh tas kerjanya dan menemukan obat anti-depresannya.


Sial...!


Padahal sebelumnya ia sudah meminum dua butir.


Tadi tubuhnya gemetar, namun bisa berhenti setelah ia menyesap sake yang berdampak hangat di dada dan perutnya.


Namun perlahan...


Ia menjadi sangat takut!


Takut dengan Milady...


Wanita itu begitu cantik, ternyata.


Semakin cantik, semakin ia merasa takut.


Trevor kira ia bisa lebih lama berakting di onsen karena sebelumnya sudah menegak dua butir. Ternyata debar jantungnya mulai tak menentu sampai ia sendiri kesulitan bernapas, lalu ia mulai berhalusinasi dan sentuhan Milady menjadi terasa perih di kulitnya...


Trevor bisa berakting karena terbiasa, di depan Ayahnya. Ia terlihat biasa saja, luwes, seakan tidak memiliki beban.


Namun...


Ia menegak 2 butir lagi dengan sebotol air mineral.


Kalau bisa, adegan seperti ini hanya sekali saja seumur hidupnya.


Ini ternyata tidak seperti ia berinteraksi dengan Ayumi.


Sangat berbeda, dengan reaksi yang berbeda...


Dan kini Trevor mengerti kenapa Ayahnya sampai bisa jatuh cinta dengan Milady. Setiap sudut tubuh wanita itu manis... Dan caranya menyambut tubuh Trevor, terasa pas bagaikan memang diciptakan untuknya.


Trevor merasa sangat pusing. Debaran jantungnya masih tak menentu. Ia bertahan di meja konter, berdiri sambil menunduk, dengan kedua tangan menggenggam erat pinggiran konter. dapur. Menunggu reaksi obat bekerja dengan susah payah.


Jangan sampai Milady masuk lagi.


Ia tidak tahan ingin mengamuk...


Ia ingin berteriak sekeras mungkin...


Ia butuh Ayumi...


*****


Trevor sangat mencintai Ayumi


Hal itu terlihat jelas...


Milady bisa melihat bagaimana awalnya pria itu marah karena kecewa, lalu selanjutnya ia bisa melupakan semua kesalahan kekasihnya. Dan ingin memulai lagi...


Ia bangkit lagi.


Hanya dengan modal perkataan dari mulut Ayumi.


Kalau wanita itu mencintanya.


Dan ia akan percaya selama ia hidup.


Gerakannya memang tidak terduga.


Kadang kita merasa kalau ia tidak peduli. Namun, sebenarnya ia peduli dan beraksi di belakang.


Seperti saat ini...


Pukul 2 pagi, Milady merasa sangat haus. Mungkin ia berendam terlalu lama.


Ia merapatkan sweaternya dan berjalan ke konter dapurnya untuk memasak air hangat.


Lalu ia mendengar suara dari arah kamar Trevor...


Dan mengintipnya sedikit melalui pintu geser penghubung.


Trevor mengenakan jaket dan kupluk hitam. Lalu mengambil gelang kulit dari Ayumi, dan menggenggamnya.


Dan pria itu keluar dari kamarnya.


Milady tersenyum lega.


Kejar cintamu sekuat tenaga, Trevor... Saat lelah, kau bisa bersandar padaku.


Dan wanita itu kembali ke konter dapurnya untuk membuat teh.


Sekarang... Apa yang akan kulakukan dengan Sebastian.


Tidak ada, sepertinya.


Hidupnya harus tetap berjalan, ia akan menjalaninya seperti biasa saja. Hari ini mereka akan kembali ke Indonesia pukul 12 siang, Milady akan berbenah di kantor cabang Jepang dan memeriksa beberapa hal, lalu membeli oleh-oleh untuk keluarganya, teman kantor, juga Bram dan Selena.


Nikmati saja langit Jepang pukul 2 dini hari. Walau terasa dingin, namun wangi sakura dan uap onsen mendamaikan hatinya.


Milady menceburkan kakinya di Onsen.


Hebat juga bisa bikin yang seperti ini di tengah kota... Kebanyakan Onsen di Jepang ada daerah dipegunungan. Namun Garnet Hotel Shibuya bisa melakukannya di tengah kota. Onsen private dengan Air belerang yang dibawa khusus dari Kyoto yang terkenal dengan sumber air panas belerang yang teksturnya seperti awan. Perjalanan 5 jam dari tokyo... Mungkin Milady akan mengunjungi Kyoto suatu saat.


Dan semoga saat itu, bukan dengan Trevor. Bukan urusan pekerjaan juga...


Dengan...


Milady menghela napas.


Ah! Sudahlah...


Lupakan saja 'dia'.


Dia dan obsesi liciknya....


Walaupun tingkah lakunya untuk melindungi Trevor cukup membuat Milady kagum, namun tetap saja menyakiti orang lain tidak dibenarkan... Kenapa tidak ada yang berani melaporkan dengan pasal penganiayaan? Apakah Sebastian memang memiliki banyak backup di pemerintahan?


Ini baru di negara ini, bagaimana dengan di negaranya?


Lalu terbayang di benaknya wajah babak belur Eiichi.


Pria itu terlihat ketakutan, dan juga kuatir akan keadaan istrinya.


Sebenarnya apa yang terjadi?!


Tringg!!


Terdengar notifikasi pesan singkat.


Milady masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.


"Aku di lobi."


Lalu Milady menatap sekelilingnya. Trevor tidak ada, dan ia hanya mengenakan piyama di balik sweaternya, tanpa pakaian dalam.


Malas ke Lobi...


"Malam, Pak. Segala urusan pekerjaan akan saya selesaikan besok pagi."


Balas Milady.


Send.


Lalu ia berjalan ke futonnya, meletakkan teh di sampingnya, dan meringkuk di balik selimut.


Hm...


Nyamannyaaaa...


Tringg!!


Ck !


Milady berdecak karena merasa terganggu.


Lalu mengulurkan tangannya dari balik selimut dan membawa ponselnya masuk ke dalam selimut.


"Aku di depan kamar kamu."


Milady langsung bangun terduduk.


Astaga...!! Seru Milady dalam hati.


Pergerakan Sebastian hampir mirip dedemit! Tahu-tahu ada di depan kamar?!


Ini Sebastian beneran atau Siluman yang menyamar?!


Lalu ia memeriksa dandanannya.


Tunggu...


Ia berakting mesra dengan Trevor tadi, jadi seharusnya, ia tidak memakai piyama...


Lalu Milady membuka semua bajunya, memasukannya di kantong laundry, mengambil kimono tidur di lemari dan mengenaikan kain tipis satin itu.


Terbayang jelas sekali lekuk tubuhnya!


Yah, sudahlah! Tidak ada waktu untuk menggunakan lingerie...


Lalu membuka pintu kamarnya dan menyapa sosok di depan kamarnya.


"Bisa saya bantu, Pak?" Desisnya, dengan kekesalan masih tertinggal.


Sebastian mengernyit melihat Milady.


Bahasa Resmi...


Pakaian seksi...


Wajah polos tanpa make up.


Dan Trevor baru saja sembunyi-sembunyi keluar untuk menemui Ayumi.


Pria itu menghela napas.


"Kamu tidak mencegah Trevor keluar?" Tanya Sebastian langsung.


"Ia hanya keluar untuk mengembalikan barang pemberian Ayumi. Dan lagi, semua butuh proses..." Milady menghadang di depan pintu. Tidak mempersilahkan Sebastian masuk.


Ia sengaja berpose dengan belahan dada lebar terbuka setengah.


Sebastian melirik ke asetnya.


"Kalau tidak ada urusan lagi, saya tutup pintunya yah...dingin..." Desis Milady sambil beranjak ke dalam.


Drakk!


Tangan Sebastian terulur menahan pintu.


Milady meliriknya dengan kesal.


"Ada yang belum jelas, Pak?" tanya Milady sinis.


Namun pria itu tak bergeming dari tempatnya.


Milady menatap mata pria itu lurus.


Ah...


hasrat yang tertahan.


Dan emosi yang hampir meledak...


Secepat ini reaksinya...? Baguslah.


pikir Milady.


Jemari lentik berkuku lancip Milady terulur, menyentuh bibir Sebastian.


Dan membelainya perlahan.


Mulai dari sudut bibir... rahang persegi dengan jambang putihnya... lalu janggutnya yang panjang...


"Trevor... menyentuh... hampir semuanya." desis Milady perlahan.


Ia sedikit berbohong untuk merayu Sebastian. "Dan Ayumi telah menemukan pria lain. Jadi... sebentar lagi, aku bukan lagi milik kamu..." bisik Milady.


Jemarinya turun ke dada Sebastian, lalu perlahan ke arah otot perutnya.


"Waktu kita untuk bersama sangat sedikit. Dan kamu mengacaukannya dengan membuatku kesal..."


Sebastian mengernyit. "Kamu kesal?"


"Aku sudah bilang jangan ganggu temanku."


"Hm? dimana kalian bertemu..."


"Ooh... kamu tidak tahu? Yah... karena aku melepas gelang dan cincin dari kamu, jadi aku tidak terlacak, yah..."


Jemari Milady semakin turun, bermain di pinggiran ikat pinggang Sebastian.


"Dasar Rubah Tua licik..." desis Milady sambil mengelus resleting celana Sebastian, yang kini terasa sangat padat.


Sebastian menangkap tangan Milady. Lalu mendorong wanita itu ke dalam kamar.