
"Mandi lama amat, Tuan Muda... Sempet pingsan kehabisan oksigen... Atau... Lo sambil..."
"Lo kayaknya semangat amat dari siang? Gara-gara jas Armani, kayaknya." potong Trevor sebelum Bram mulai menggodanya lagi.
Bram tersenyum simpul.
"Wait..." tiba-tiba ia menyadari suatu hal. "Dirimu emang boleh mandi lama-lama begitu? Kan maksimal shower lima menit, Bro."
"Jatah air lo, gue pake..."
"Terus gimana besok gue mandinya?!"
"Lo kan udah ganteng paripurna begitu, ngga perlu lah mandi. Lagian Rusia dingin..."
"Tetep aja ada bedanya penampilan orang mandi sama enggak." Bram bersungut-sungut sambil memanggil pramugari.
"Pak Bram jangan kuatir, ada cukup air kok untuk kita sepesawat, hehe..." sahut Pramugari.
"Maaf yah mbak, temen saya harus selalu berkilau soalnya lagi pedekate..." desis Bram.
Trevor berdecak.
Pramugari itu mendesah pelan saat menanggapi Bram. Karena memang pembawaan Bram yang tenang dan ramah. Namun saat ia sadar kalau sedang dipelototi oleh Trevor, ia menunduk dan langsung berlalu.
"Kalem dikit kenapa sih kalo sama cewek..." dengus Bram.
"Hah? Itu gue kalem loh... Emang tampang gue gimana?!"
"Kayak ngeliat virus di depan mata."
"Hm..."
"Beda banget muka lo kalo ngomong sama..."
"Mas Trevor udah pesan makan? Mas Bram udah?" terdengar suara renyah Mitha yang tahu-tahu sudah berdiri di sebelah Bram.
"Loh belum Mbak." sahut Bram mendahului Trevor menjawab Mitha. "Mbak Mitha kalau lapar duluan saja. Trevor dan saya sepertinya mau ke Bar dulu..."
"Ha? Gue ngga.."
"Kita mau ngatur strategi menghadapi amukan massa, besok."
"Oooh... Baiklah. Aku pesan duluan yah, mau tidur cepat soalnya. Mumpung bisa tidur soalnya biasanya diganggu. anak-anak hehehehe..."
"Nikmati saja Mbak saat anak-anak masih dekat sama Mbak Mitha. Karena sebentar lagi kan main sama teman-teman se-genknya ibunya dicuekin..." Bram tersenyum simpul.
Trevor menatap Bram sambil mengernyit.
"Nanti di Bar jangan terlalu banyak minum yah bapak-bapak, soalnya besok butuh fokus..."
"Tenang Mbak, kita sukanya ngopi..."
Dan Mitha berlalu ke sofanya, menutup pintunya rapat.
"Udah?" tanya Trevor ke Bram sambil mengangkat alisnya.
"Gila seru banget... Pingin nelpon si Tole hehehe... Eh, dia lagi bachelor party... Hehehe..." Bram terkikik sambil menelungkupkan kepalanya ke bantal
"Ck..." Trevor sekali lagi memukul punggung Bram dengan bantal.
Milady dan gamenya.
Daster lengan buntung, sandal bulu besar di kedua kakinya yang diangkat ke kursi, headphone putih di kepalanya, mouse di tangan kanan dan tangan kirinya pada keyboard.
Sebastian hanya mendengar suara hentakan keyboard yang beradu dengan jemari lentiknya dan mouse yang bergerak aktif di atas meja kayu.
Entah sejak kapan ada laptop gaming di sana, Sebastian bahkan tidak melihat Milady mengangkut-angkut barang-barang, tahu-tahu sudah ada di dalam.
Bibir Milady masih cemberut.
Dan mengunyah...
Potongan besar cake yang entah kapan dia buat, atau dia pesan.
Milady sedikit melirik Sebastian yang sedang memperhatikannya sambil berdiri bersandar di tepi pintu.
Tapi wanita itu mengacuhkannya dan kembali melanjutkan gamenya.
Sampai-sampai Sebastian bertekad untuk memboikot Beaufort Tech agar di game dipasangi timer khusus untuk Milady.
Tapi...
Akibatnya Milady mungkin akan lebih marah padanya.
Duh duh...
Benar-benar seperti menghadapi anak kecil sekaligus wanita dewasa dalam satu tubuh.
Sebastian mengetuk pintu, meminta perhatian.
"Apa, Tuan Besar ?" tanya Milady dengan mata masih tetap menatap layar laptop kesayangannya.
Milady menghela napas sambil. "5 menit. Aku sedang membangun jaringan."
"Jaringan...?"
"Iya, game online ngga bisa dipause, kalau kamu ngga tahu, dan kita main dalam 1 tim 3 orang, bekerjasama untuk juara. Aku sedang satu tim sama orang yang mengaku sebagai CEO Beaufort Grup, namanya Alexander Lucas Beaufort... Kalau aku tiba-tiba berhenti main, jadi tim mereka tinggal 2 orang... Aku ngga mau disalahkan kalau mereka ngga juara gara-gara aku disconnect... bla...bla...bla... Itulah jaringan pertemanan, mungkin bisa diperluas suatu saat menjadi bisnis, tahu kan artinya komitmen..."
Milady berbicara panjang lebar sampai-sampai semua kata-kata tercampur dalam telinga Sebastian, sehingga ia tidak bisa mendengar jelas.
"Kalau di rumah kamu begini juga? Di pekerjaan juga?" terdengar suara Sebastian agak sewot.
"Aku ngga pernah main game di kantor, menyalahi aturan perusahaan. Kecuali aku kerja di kantor Beaufort Tech... Apa aku pindah saja ke sana yah? Bisa main game seharian tanpa ada yang cerewet..." kata Milady dengan penuh keketusan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Sebastian sambil mengernyit.
"Tadi aku bilang 5 menit, Mas..."
"Dan bagian mana yang menurutmu aku akan menuruti kamu?" Sebastian masih berdiri di sana, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Bagian Hak Asasi Manusia berhak mendapatkan kehidupan nyaman, untukku."
Milady kalau sudah cuek, ternyata lumayan menyebalkan.
"Lima menit, atau listriknya kumatikan." kata Sebastian.
"Itu berarti satu hotel mati semua."
"Aku ngga peduli kehilangan beberapa ratus juta kerugian..."
"Apa susahnya membiarkanku sendirian untuk menenangkan diri karena kamu membuat ulah lagi..." Milady tetap berbicara dengan mata tertuju ke layar laptop.
"Ulah apa sih maksud kamu? Setelah ini, aku harap kamu memakai gaun yang kamu pilih, dengan memikirkan diriku."
Milady lagi-lagi menghela napas.
"Bukannya lebih mudah kalau kamu yang pilih, aku tinggal pakai saja?"
"Aku suami kamu, bukan majikan kamu..."
"Teruskan saja perbincangan tentang gaun sampai subuh. Aku bakalan perpanjang waktu gamingku..." sahut Milady tak mau kalah.
Saat ini Sebastian merasa ia harus mengalah. Dan benar-benar memberi waktu Milady untuk 5 menit 'menenangkan diri'nya. Kalau tidak, sepertinya semua akan serba runyam.
*****
Bau Alkohol...
Keluh Ayumi saat mendapati Arman sedikit sempoyongan di depan pintu apartemen.
Pria itu melihatnya, namun hanya sekilas.
Lalu langsung masuk ke toilet.
Ayumi baru saja selesai merawat luka-lukanya dengan antiseptik. Pertamanya sangat perih bagai terbakar, namun detik selanjutnya yang ada hanya rasa sejuk. Obat racikan yang disebut 'antiseptik' itu pemberian Dokter Arjuna, dokter pribadi keluarga Bataragunadi. Katanya ia memperolehnya dari kenalannya yang bernama Bagas... Ayumi lupa lagi, namanya terlalu sulit untuk diucapkan, seperti nama keluarga Bataragunadi. Ayumi bahkan sampai berbulan-bulan menyesuaikan lidahnya hanya untuk mempelajari lafalnya.
Sekitar beberapa detik kemudian, Arman keluar dari toilet, membuka pakaiannya, lalu menjatuhkan dirinya di ranjang.
"Tolong nanti matikan lampunya, hemat listrik." gumam Arman.
Lalu secara cepat, terdengar dengkuran halus pria itu.
Ayumi menatap tubuh yang tergeletak di sampingnya dengan setengah tak percaya.
Sesantai itu?
Itu saja pengamanan bagi dirinya?!
Dan lagi...
Apa-apa'an pria ini? Bersikap seakan mereka sudah lama saling kenal.
Apa ia juga berharap Ayumi akan bersikap santai?
Hm...
Keluar dari sini jelas tidak mungkin. Mati konyol namanya.
Tapi Ayumi juga risih berduaan saja dengan pria asing di sebelahnya ini, setampan apa pun rupanya.
Kalau begitu...
Ayumi akan memanfaatkan kesempatan ini, untuk memulihkan dirinya...
Juga... Hatinya.
Mungkin ia akan berusaha keras untuk menghilangkan kebenciannya pada Sebastian.
Namun, waktu yang dibutuhkan tidak akan singkat.