
Sebastian menarik napas panjang sambil bersandar ke dinding. Dari kejauhan ia bisa mendengar keriuhan teman-temannya yang sedang berkumpul di dalam rumah, mengenang masa lalu di rumah ini.
Ia kini berada di teras depan karena tadi mengangkat video call dari Milady.
Rumah Bu Sulastri memang sangat jauh dari sekolah mereka dulu, namun karena itu tempat ini sempurna sebagai tempat melarikan diri.
Dulu Mereka berempat, geng rusuh tahun 80an, rela berpanas-panasan menaiki metromini, lalu naik kereta ke Bekasi. Membolos sampai dua hari demi menginap di sini.
Rumah Bu Sulastri memang banyak berubah, sudah direnovasi sehingga lebih nyaman ditinggali. Namun kenangan indah di sini terlalu banyak. Jadi ini kesempatan baik untuk berkumpul, napak tilas, dengan Malik Adara, Farid Al Farouq, dan dirinya. Jago, alias Johanes Gottoe masih berada di Dubai karena pekerjaan, namun tadi mereka sempat video call.
Apalah arti kata sempurna, kalau yang sederhana saja sudah bisa membuat bahagia...
Berkumpul dengan teman-temannya mengenang masa lalu tanpa memikirkan pekerjaan, sudah jadi hal indah untuknya.
Ditambah, satu lagi kebahagiaan ini...
Sebastian sampai tidak mampu berkata-kata.
Dulu... Saat Ratna mengumumkan kehamilannya... Sebastian senang, namun lebih ke rasa lega.
Lega karena pewaris sudah muncul, sehingga ia tidak perlu ditagih-tagih lagi oleh keluarga besarnya.
Namun sekarang...
Rasanya sangat berbeda!
Sebastian duduk di selasar di teras rumah Bu Sulastri. Memandangi pohon mangga dan bougenville di halaman.
Angin sepoi membelai rambut putihnya yang mulai memanjang.
Lalu mengetik beberapa kata untuk Milady.
"Terima kasih... Kalian berdua, kamu dan anak kita, sangat berarti untukku..."
*****
Hanya itu balasan Sebastian.
Sampai-sampai Milady menghentikan kunyahannya dan tersenyum.
Ia sangat haru akan respon Sebastian.
Senyum Milady yang tulus dan dipenuhi rasa cinta, sampai membuat Arman memperhatikannya.
Pria itu juga ikut tersenyum.
Lalu kembali melahap dagingnya.
Milady mengangkat ponselnya ke hadapan Arman, memperlihatkan balasan Sebastian.
"Wah... Baru kali ini saya lihat beliau bicara begini. Dia pasti sangat sayang sama Mbak Milady..." Arman mengembalikan ponsel Milady. "Dijaga baik-baik Mbak, jangan dimusuhi terus... Sudah lanjut usia itu, sebentar lagi masuk kemana-mana gratis, dianggap lansia." sahut Arman.
Milady merengut.
"Siap Pak Jenderal..." dengusnya.
Arman hanya menanggapinya dengan senyum di sudut bibirnya.
"Ngomong-ngomong... Dulu bagaimana kalian bisa bertemu?"
"Akhirnya nanya juga..." kata Milady sambil mencibir.
"Ya sudah kalau tidak mau bicara..."
"Saya cerita, tapi Mas Arman juga cerita bagaimana bisa ketemu Mas Yan dan berakhir di Garnet."
"Astaga... Romantis banget yah percakapan kita. Kayak lagi kencan buta ngga sih ini..." Arman bicara tanpa ekspresi seakan dia sedang menyindir Milady.
"Loh Mas Arman, sebentar lagi hubungan kita akan jauh lebih romantis loh! Sudah pasti setelah ini Boss kamu akan memperketat penjagaan atas saya."
Arman langsung mendengus malas.
Bukannya Ia tidak tahu.
Ia hanya merasa sangat capek saat membayangkannya.
"Saya ngga mau yah disuruh mengasuh bayi... sewa saja baby sitter selusin..."
"Ya ngga sampai segitunya juga, saya juga tahu diri!" Milady agak tersinggung.
"Kirain menganggap saya budak..."
"Hey, kita ini masih sama-sama karyawan yang digaji sama Garnet, kali."
"Awas yah kalau saya disuruh aneh-aneh..."
"Ada fee tambahan yah."
"Gaji Mas Arman berapa sih sebenarnya?! Kayaknya kok susaaah banget keluar duit dari tadi? Ada target yang dituju atau memang kesejahteraan di Garnet kurang sesuai? Nanti saya bilang sama Boss biar situ dinaikin..."
"Saya punya standard hidup sendiri..." desis Arman sambil melanjutkan makannya. "Kurang 1 milyar lagi untuk bisa hidup layak di luar negeri. Meninggalkan negara ini..."
Milady tertegun.
"Mas Arman mau pindah?"
Arman mengangguk sekilas.
"Terlalu banyak kenangan menyakitkan di sini... Yang menganggap saya manusia hanya Pak Sebastian. Kalau beliau sudah tidak ada... Matilah saya. Hidup akan terasa jauh lebih sulit. Saya sudah sering diberi, rasanya malu untuk meminta lebih. Jadi saya harus menekan gaya hidup untuk mengumpulkan uang."
Arman mengunyah dengan mata menerawang.
"Nanti kan masih ada saya dan Trevor, Mas..."
"Mbak Milady tidak paham... Yang bisa mengendalikan 'mereka' hanya Pak Sebastian. Pastikan saja melahirkan pewaris yang memiliki karakter kuat seperti beliau. Baru saya akan kembali lagi ke negara ini... Mengabdi."
Senyuman penuh misteri itu kembali menghiasi bibir Arman. Senyuman dipaksakan yang terlihat getir. Mengandung berbagai kesakitan dalam hatinya.
Berapa lama Arman mampu bertahan berdiri...
Namun Milady tidak terlalu mengetahui masa lalu Arman. Walaupun ia mendengarnya secara sekilas dari Sebastian, namun Milady yakin Sebastian pun tidak menjabarkan seluruhnya agar Milady tidak terganggu. Bisa jadi yang dialami Arman jauh lebih mengerikan.
Milady menghela napas.
"Sekitar... 10 tahun yang lalu. Bapak saya bangkrut, Mas... Kak Yori dan Ipang terancam berhenti sekolah, tabungan tidak ada, rumah akan disita Bank, dan ibu saya saking stressnya pikirannya jadi sedikit terganggu." cerita Milady.
Wanita itu bercerita sambil memasukkan beberapa lembar daging sekaligus. Bercerita tanpa beban seakan semua telah berlalu dengan penuh kelegaan, dan saat ini hanya ada masa lalu untuk dipelajari.
"Jadi saya harus mencari cara agar roda perekonomian keluarga berputar. Karena saat itu saya sudah menyelesaikan pendidikan, saya pikir bisa memakai titlle S1 saya untuk mencari pekerjaan layak. Namun ternyata ada tawaran uang cepat, namun... Caranya tidak halal."
"Apa itu? Jual diri?" tembak Arman.
"Iya."
Arman langsung menatap Milady dengan mata membelalak.
"Itu serius Mbak?"
Milady mengangguk.
"Saya melelang keperawanan saya. Dan Sebastian membelinya."
Arman ternganga.
"Astaga..." desis pria itu. "Pertemuan yang... Sangat berkesan." lalu Arman menghela napas.
"Dari situ asal kekayaan keluarga kami."
"Memangnya Pak Sebastian tidak membantu Pak Malik untuk mengatasi kebangkrutannya?"
"Dia tahu ayah bangkrut, tapi dia tidak ingin membantu. Karena... Dia yang membuat ayah saya bangkrut."
Arman semakin tegang mendengarnya.
"Itu semua katanya karena permintaan Bu Ratna. Bu Ratna mendendam karena Ayah saya menikahi ibu saya, dan bukan dirinya yang notabene adalah pacar lama ayah saya."
"Tapi... Bukankah perceraian Pak Sebastian menurut rumor adalah karena Bu Ratna berselingkuh?"
"...dengan ayah saya." sambung Milady.
Arman menutup mulutnya dengan tangan.
"Oh...wow..." desisnya. "Kenapa jadi sinetron begitu Mbak?! Dunia penuh drama..."
"Tapi... Walaupun penuh rintangan, nyatanya Sebastian adalah cinta sejati saya. Dari pertama kami bertemu... Sampai berpisah pun kami tidak saling melupakan."
"Hm..." Arman agak berpikir. "Saya agak penasaran dengan... Mbak Milady ingat pin ruangan Pak Sebastian waktu pertama? Yang dirimu langsung teriak kaget?"
Milady berdecak.
"Yaaahhh..." ia menegak teh manisnya. Dan kembali merebus beberapa daging.
"Itu nomor apa Mbak?" tanya Arman sambil menyeringai penasaran.
"Makan yang banyak yah... Dirimu kan mau ketemu preman pasar...makan makan makan..." Milady meletakkan banyak daging di mangkuk Arman.
"Habisin, saya mau pesan lagi..." Milady melambai ke waitress.
Arman hanya mencibir.