Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Pertigaan



Sebastian berkacak pinggang sambil menatap langit bertaburan bintang di depannya. Dahinya mengernyit dan matanya menatap tajam lautan lepas di depannya.


Ia kini berada di Kanagawa, di salah satu penginapan di pinggir pantai Enoshima.


Saat siang, gunung Fuji terlihat jelas dari sini.


Namun saat malam.. Kegelapan terasa menyesakkan dadanya.


Laut Jepang terlihat tenang hari ini, dengan deburan ombak halus memecah pasir pantai.


Sebastian tidak bisa menikmati keheningan yang terjadi.


Karena...


"Ayolah Boss-sama... Jangan buat para wanita penasaran!!" Seru Yamaguchi sambil melambaikan tangan padanya supaya bergabung, menceburkan diri ke dalam lautan wanita yang siap menggerayangi setiap inci tubuh, memberikan kenikmatan yang fana.


Tapi...


Sebastian merasa semua itu tidak ada artinya.


Sudah lama ia merasakan mati rasa kepada lawan jenisnya.


Sejak ia patah hati...


Karena Milady Muda menghilang.


Dan kini saat kembali bertemu...


Wanita itu malah antara ada dan tiada...


"Urusan kita sudah selesai, kan?" Tanya Sebastian tak yakin.


"Ayolah... Kalau menolak berarti kau menghinaku." Desia Yamaguchi.


"Kau sudah menghinaku duluan dengan menghidangkanku ikan teri sekarang..." Dengus Sebastian.


"Laki-laki normal suka wanita."


"Lalu kau menganggap aku suka pria?"


"Kalau kau mau, aku bisa memanggil anak-anak muda tertampan di negara ini untuk melayanimu."


"Jangan memulai permusuhan denganku, kita baru saja berbaikan, Yamaguchi..."


Yamaguchi terkekeh sinis.


Lalu menyingkirkan wanita yang daritadi melayani bagian sensitifnya dan merapatkan kimononya, lalu menghampiri Sebastian.


"Apa sih masalahmu...hah?" Yamaguchi menantang Sebastian.


"Sekali lagi, aku tanya..." Geram Sebastian. "Urusan kita sudah selesai, kan?"


Yamaguchi mendengus.


"Biasanya orang dari negaramu tidak akan menolak sajianku. Mereka tahu akibatnya menolak ketua klan paling berpengaruh di negara ini."


"Kedigdayaan dari organisasimu sudah luntur sejak tahun 90an, tidak ada gunanya menggertakku... Kalian kalah kuasa dengan pemerintah, dan aku berada di belakang pemerintah." Sebastian tersenyum sinis. "Aku anggap urusan kita sudah selesai. Jangan lupa transfer full jam 7 besok, telat semenit saja kujamin barangnya tidak akan sampai padamu."


Sebastian berbalik ke arah pintu keluar sambil manatap sinis ke kepala 'keamanan' Yamaguchi, mengancamnya agar jangan mengikutinya.


"Airport." Desisnya ke drivernya. Ia sudah terlalu lama di negara orang lain.


Pekerjaan seperti ini seharusnya bisa ia handle jarak jauh. Namun karena iaa tidak tega melihat Trevor mondar-mandir, jadi ia langsung turun tangan sembunyi-sembunyi.


Mudah-mudahan Milady tidak memberi tahu Trevor kalau Sebastian juga ada di Jepang.


Milady...


Perlukan Sebastian menghubunginya lebih dulu...?


*****


"Aku sepertinya akan pesan satu kotak lagi untuk istriku... Sebentar lagi ia pulang." Desis Eiichi sambil menoleh ke mesin Pizza.


"Ah, kamu sudah menikah?"


Eiichi menyeringai.


"Iya, sudah dua tahun. Istriku bekerja di club kabuki populer di Kabukicho juga."


Milady hanya tersenyum menanggapi Eiichi, ia menunggu di mobil sementara Eiichi ke mesin penjual pizza.


Menurutnya, gaya hidup Eiichi mungkin ekstrim kalau di negaranya. Kedua insan suami istri yang saling mencintai, tapi pekerjaan mereka masing-masing dalam jasa melayani orang lain dengan konteks negatif.


Tapi Milady juga tidak berhak menghakimi Eiichi, semua dengan kehidupan dan time squarenya masing-masing.


Karena Milady juga menjalani gaya hidup yang sulit diterima orang lain, dan ia sudah melihat banyak hal.


Namun belakangan ada hal yang sangat mengganjal pikirannya.


Yaitu...


Ayumi.


Mungkin besok Milady akan melihat keadaannya sebentar.


Dan ia sedikit merasa aneh dengan kedua pria yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan Ayumi.


Trevor dan Ayumi sudah bersama cukup lama. Ayumi kelihatannya bukan type wanita yang mudah jatuh cinta ke orang lain dan bertindak ceroboh seperti itu.


Dan ia terlihat sangat putus asa kemarin, saat Trevor marah padanya.


Kasihan dia...


Ia terlihat kuat di luar, tapi wanita yang sedang hamil sangat sensitif.


Jadi daripada berpengaruh ke janin akan membuat Milady merasa bersalah telah membiarkan Ayumi dengan keputusasaannya sendiri, ia harus menjadi pengganti Trevor untuk memberi kekuatan bagi Ayumi.


*****


Sebastian meraih ponselnya, dan mengecek apabila ada pesan singkat, atau panggilan dari Milady.


Lagi-lagi kosong.


Wanita...sungguh sulit dimengerti...


Ia hanya mengungkapkan kenyataan. Memang itu pekerjaan Milady yang telah ia sepakati, bukan?!


Lagipula ia tidak ada hubungannya dengan Ayumi. Milady tak perlu ikut campur dan menarik dirinya sendiri ke dalam permasalahan orang lain.


Apa susahnya bersikap profesional?


Toh, ia sudah setuju.


Mereka diikat perjanjian...


Tidak perlu marah-marah seperti itu.


Apa kepentingannya?


Ya kan?!


Dan...


Kenapa posisi Milady dari setengah jam yang lalu tidak bergerak?


Ia ada di ujung gang hotel.


Tunggu...


Kalau ia mau cari makanan, letaknya sekitar 5 meter dari titiknya.


Yang ini titiknya di pertigaan.


Apakah...


Mungkin saja gelangnya jatuh.


Atau ia sedang menunggu sesuatu sehingga duduk di sana.


Menunggu apa jam 11 malam begini?!


Atau...


Mungkin Milady pingsan?


"Ke Shibuya saja." Desisnya ke Driver.


"Tidak jadi ke airport pak?"


"Tidak jadi."


*****


"Eh, maaf yah harus menemaniku mengobrol..." Sahut Milady saat Eiichi sudah kembali.


Ia keluar dari mobil dan berdiri di ujung gang. Sudah saatnya Milady kembali ke hotel. Untuk tidur. Bisa-bisa ia kesiangan membangunkan Trevor nanti.


"Aku senang loh bisa ngobrol lagi sama kamu, Rady-chan. Karena kesibukan, walaupun sebenarnya bisa lewat pesan singkat atau email, tetap saja nyatanya selama ini tidak bisa mengobrol seperti ini."


"Aku mau kenal sama istri kamu juga."


"Dengan senang hati kukenalkan. Tapi tidak bisa sekarang, takutnya dia kecapekan. Kami punya sedikit sekali waktu bertemu dan santai. Pagi-pagi kami juga harus jaga cafe, agak sore siap-siap ke club... Jadi sepertinya harus dicari jadwal yang kosong."


"Aku bisa mampir ke cafe."


"Boleh. Ini alamatnya..." Eiichi memberikan alamat cafenya ke email Milady. "Akan kami berikan diskon kalau kamu datang. Cafe milik kakakku, kami hanya karyawan. Tapi gajinya lumayan untuk tambahan hidup dan bayar sewa apartemen."


"Hebat sekali kalian... bisa double job."


"Iya... Istriku ingin melahirkan. Tapi kalau begini terus kami tidak akan bisa mengurus anak. Jadi kami harus menabung agar istriku bisa berhenti dari pekerjaannya di club dan mengurus anak. Aku juga mengambil beberapa pekerjaan tambahan untuk hal itu."


"Wow... Eiichi-san! Kudoakan kamu dan istrimu selalu sehat."


Eiichi menyeringai.


"Baru kali ini ada yang berdoa secara tulus untuk kami..." Desisnya getir, namun dengan tatapan penuh terima kasih.


Milady menggenggam tangannya memberi Eiichi kekuatan.


"Milady..."


Eh?


Suara yang paling ingin dihindari terdengar dari arah gang.


Milady terhenyak dan menoleh.


Sosok yang paling ia rindukan.


sekaligus yang paling ia ingin hindari...


"Sebastian?" Desisnya.


"Boss-Sama...?" Desis Eiichi.


Milady dan Eiichi saling bertatapan dengan kaget, lalu menoleh ke Sebastian.


Sebastian melihat mereka dengan pandangan dingin. Bergantian antara wajah dan tangan mereka yang masih saling menggenggam.


"Kamu kenal dia, Eiichi-San?"


"Kamu kenal dia, Rady-Chan?"


Berseru berbarengan.


"Yazaki Eiichi..." Sebastian menyapa Eiichi sambil memicingkan mata dengan sinis.


Eiichi langsung merasa ada yang salah dan reflek melepaskan oegangan tangannya ke Milady, lalu menjauh.


"Eh, dia Bossku di pekerjaan sampingan. Aku... pulang dulu. Maaf sudah mengganggu waktu kamu..." Dan Eiichi menunduk ke Milady sambil terburu-buru, lalu membungkuk ke Sebastian dan masuk ke mobil.


*****