
"Oke Pak... Sampai sini saja." sahut Arman ke Pak Kardi.
"Itu Mbak Jepunnya ngga papa kan Pak? Nangis terus dia dari tadi..."
"Mana saya tahu..." sahut Arman. "Gengs, semua aman kan?! Absen..."
"Pengawal 1, status : melipir ke warung nasi padang, laper..." sahut Moses dari alat penghubung.
"Pengawal 2, status : berantem sama bini..." kata Eiichi dari alat penghubung.
Arman terbahak.
"Kenapa lagi sih kamu berantem?!"
"Dia kurang suka saya kerja yang berhubungan dengan Sakurazaka-San."
"Pulang-pulang cuciin piringnya, bantuin setrika..." sahut Pak Kardi.
"Ceile Pak... kasih bunga, dong..." sahut Moses.
"Udah bukan zamannya lagi kasih bunga, kasih coklat. Jaman krisis begini harus hemat... Bantuin pekerjaan rumah tangga juga penting." sahut Pak Kardi.
"Tuh dengerin gengs... Gue lanjut jalan yah, stay safe semua. Jangan lupa pacar gue dilap..."
"Udah saya elus pak, udah bobo nyenyak di tasnya..." sahut Eiichi.
"Kamu lucu juga yah Yazaki-San belajar dari mana kamu... Balikin ke Boss sekalian yah." Arman mematikan alat penghubungnya.
"Saya lanjut Pak Kardi, makasih. Salam buat Pak Lurah." sahut Arman.
"Jangan lupa bintang lima yah kak.." canda Pak Kardi saat Arman menyeret Ayumi keluar dari Mobil.
Pria itu hanya menyeringai menanggapi Pak Kardi, lalu wajahnya kembali dingin saat menoleh ke depan.
"Kita mau ke mana?" tanya Ayumi sambil mengikuti Arman.
Arman tidak menjawab. Mereka berjalan ke salah satu rumah warga di pinggir jalan.
"Pak Arman, bagaimana? Sukses?!" tanya seorang ibu-ibu dengan daster dan sapu di tangannya.
Saat itu jam menunjukan pukul 4 sore.
"Lumayan, paket tinggal setengah jalan..." sahut Arman sambil menunjuk Ayumi.
"Walah... Manis sekali ya paketnya..." sahut ibu-ibu itu.
Arman mengambil motornya yang ia sengaja parkir di sana untuk menghindari pelacakan.
"Naik..." sahutnya ke Ayumi sambil menyerahkan helm.
*****
Ayumi melayangkan pandangan ke segala arah.
Apartemen...
Luasnya sekitar 33m2...
Lumayan rapi tapi terkesan jarang ditinggali karena auranya dingin.
Setiap barang di sana bagaikan display pameran furniture.
Mewah, tapi tanpa tanda-tanda kehidupan.
Ayumi menatap Arman yang begitu datang langsung mengambil botol kaca Heineken dari kulkas dan menegak isinya dengan rakus.
Lalu meletakan sisanya di atas konter dapur dan mencopot kemejanya.
"Ini tempat tinggal kamu sampai kami dapat menangkap Hari Fadil. Security di sini semua teman-teman saya..."
Arman mencopot rompi anti pelurunya.
Lalu kaos oblongnya.
Tekstur ototnya...
Membuat Ayumi menelan ludah.
"Kamu dilarang keluar dari area ruangan sampai saya mendapatkan sensor lokasi. Kamu bisa pakai semua barang disini..."
Lalu pria itu meloloskan celananya dan melemparnya ke keranjang laundry.
Tersisa boxer ketat hitam dengan siluet menawan.
Kokoh, dan ukurannya...
Pandangan Ayumi terpaku di sana.
"Pagi-pagi ada petugas bersih-bersih. Kalau mau makan, Kamu masak sendiri, atau delivery via online. Kamu juga dilarang menggunakan ponsel karena takutnya bisa terlacak mereka. Nanti saya kasih ponsel cadangan."
Arman meletakkan dompet, kunci, pistol ukuran kecil, pistol ukuran sedang, dan pisau lipat di atas konter dapur.
"Saya sudah biasa dikurung..." sahut Ayumi, mengenang saat-saat bersama Trevor.
"Iya semacam itu. Tapi bedanya di sini... Kamu keluar, kamu mati." Arman tersenyum sinis.
"Saya tidur dimana?"
"Kita sharing yah... Saya belum sempat beli tempat tidur lain."
"Ini sebenarnya apartemen kamu yah?!" tanya Ayumi kaget.
"Hm... Saya juga ngga ingin kamu di sini sebenarnya. Tapi setelah diperhitungkan, ini tempat terakhir yang akan mereka cari..."
Ayumi menghela napas mendengarnya.
Ia harus berbagi tempat dengan orang asing...
Dan tanpa privasi sama sekali...
Bahkan kamar mandinya...
Kenapa tanpa pintu dan hanya menggunakan kaca?!
Satu-satunya ruangan tertutup dan menggunakan pintu disana hanya toilet!
"Iya nanti beli korden... Saya juga ngga sempat cari itu. Namanya juga tinggal sendiri, ngga perlu pintu..." Arman menyadari arah pandangan Ayumi
Ayumi menghela napas dan duduk di atas kursi bar dengan pandangan ragu.
"Saya ngga tahu maksud kamu kesini. Sebenarnya bukan urusan saya juga. Kalau kamu mau bunuh saya, juga ngga ada gunanya... Yang jelas, saat ini kamu dilarang bertemu siapapun. Satu-satunya orang yang bisa kamu temui, hanya saya."
"Enggak."
"Kamu membiarkan saya memakai barang-barang kamu. Bahkan senjata api... kamu santai saja letakkan di depan saya."
Arman menyeringai penuh arti.
"Dengar yah Mbak...Ayu." desis Arman. "Sejak dirimu di sini, penjagaan keluarga Bataragunadi jadi semakin ketat. Kamu hanya bisa bergantung sama saya kalau tidak ingin Yamaguci dan anteknya menangkap kamu. Kami juga punya orang dalam di sana. Mereka lagi heboh mau bunuh kamu karena kamu mencuri sesuatu dari mereka."
Ayumi menghela napas lagi.
"Saya ngga ingin tahu yang kamu sembunyikan. Misi kami selanjutnya adalah menjebloskan Hari Fadil ke penjara dan membereskan Yamaguci. Jadi... Apapun yang kamu sembunyikan, bukan urusan saya. Visa kamu untuk kerja, jangka waktunya 6 bulan. Itu jadi patokan kami untuk menyelesaikan misi. 6 bulan atau kurang... Jadi silahkan bersantai menikmati hidup di tempat ini selama 6 bulan. Disini, tolong jangan bicara dengan siapapun. Saya mendaftarkan kamu di pengelola apartemen sebagai istri saya."
Ayumi mengangguk pasrah.
Apa boleh buat...
Dia tidak ingin mati konyol, jadi dia harus menurut.
"Oke, sementara kamu pakai dulu baju saya, itu lemarinya... Saya mau siap-siap pergi lagi."
Arman akan menghadiri bachelor partynya Dimas malam ini. Sekaligus tanding biliar.
Ayumi menatap Arman dan memperhatikan laki-laki itu saat kain terakhir Arman lolos dari tubuhnya dan masuk ke kamar mandi.
Hanya kaca yang memisahkan mereka.
Ayumi bisa melihat dengan jelas aktivitas Arman di kamar mandi.
Astaga...
Keluh Ayumi.
Wanita itu memalingkan wajah dan menyalakan televisi.
*****
"Eh, yang habis tugas lapangan, bisa juga dateng..." Sapa Dimas saat Arman menghampirinya dengan langkah malas. Leon menghampiri meja dengan Carlsberg di tangannya.
"Pak Arman." Sapa Leon.
"Pak Leon... Apa kabar?" Balas Arman sambil menyeringai.
Leon berdecak.
Kalau bukan ia punya hutang budi dengan Arman, sudah ia buat babak belur pria di depannya ini.
"Eh, Lo berdua bukannya orangnya Pak Baskara yah? Sebelumnya saling kenal dong?" tanya Dimas.
"Hm..." Arman melambaikan tangan ke waitress dan memberi aba-aba kalau ia mau bir yang sama jenisnya dengan Leon. "Kita ngga pernah ketemu langsung, tapi saya yang memimpin penggerebekan untuk geng Adam Quon. Sayangnya yang bersangkutan minta maaf terus pindah ke Italy."
"Sayangnya... jadi situ berharap dia dihabisi saja begitu?" Tanya Dimas.
"Seperti kata BigBoss tadi pagi, Pak Dimas... beliau tidak memberi kelonggaran ke mafia. Metode itu Pak Sebastian pelajari dari Pak Baskara. Adam Quon diberi kebebasan dengan syarat melepas Zhang Jiangwu dan Dhika."
"Tadinya Adam Quon itu... kepala gangster tempat lo gitu Koh?" tanya Dimas ke Leon.
Leon mengangguk dengan malas.
"Udahlah ngga usah dibahas..." desisnya.
"Tapi Pak Dimas, baru saat itu, satu-satunya orang yang membuat saya terkesima ya Pak Dhika itu... Anak buah saya, tiga orang dia lempar waktu kami meminta keterangan pas mereka di rumah sakit..." cerita Arman.
"Iya waktu itu kita kan belum ketemu babeh, cuy... mana gue tau kalo lo anak asuhnyeee." sahut Leon.
"Maksudnya dia lempar itu... beneran di lempar..." Dimas mengibaskan tangannya memperagakan gaya melempar.
Arman mengangguk, terlihat jelas binar di matanya. "Iya, dilempar... sampai pada patah tulang..."
"Waktu itu si ahjussi ini masih jadi AKP..." desis Leon.
"Lo berdua kok tegang gitu sih..." Dimas menyadari ada aura mencekam di antara keduanya, walaupun dari tadi Arman berusaha bersikap ramah.
"Mau dibahas di sini atau gimana?!" tantang Leon.
"Cuuuyyyyy!!!" tiba-tiba terdengar seruan Rama dari ujung pintu.
"Sini Lo!!" Seru Dimas.
"Gue say hello aje dari sini, lagi ada hal heboh di deket sini."
"Lo lagi tugas? Ngaco banget lo sempet-sempetnya mampir."
"Ini kan saat terakhir gue ngeliat lo perjaka!"
"Heh Anjr**it!! Ngga usah buka aib!!" teriak Dimas sewot.
Leon hampir tersedak birnya karena tawanya tertahan.
Arman langsung terbahak. "Itu bukan aib tapi prestasi, Pak..." desisnya.
"Gue kalah sama Ipang..." dengus Dimas ke Arman. "Hal heboh apa sih lo?!" teriaknya ke Rama.
"Ada preman-preman ditembakin orang ngga dikenal di depan Garnet Continental."
Arman langsung berdehem. Tenggorokannya langsung kering.
Leon langsung menatapnya waspada.
"Kayaknya sih ngga lama, ngga ada yang mati juga, lagian mereka preman..."
Tiba-tiba kepala Rama disentak oleh Dirga.
"Polisi Gendeng! Masa lo bocorin kasus sih?!" serunya.
"Astagadragon! Itu tuh yang ngehipnotis gue!!" Dia menunjuk Dimas. "... udah ah, lanjut pengusutan! Hepi merit yeh, kado gue meluncur, isinya borgol rante panjang satu set sama cambuk." Dan Rama berlalu dari sana.
"Lo pikir gue mau maen 365 DNI ?!" Jerit Dimas.
Dirga berjalan ke arah meja Dimas setelah terlebih dulu memesan kopi. "Wah... Sarang penyamun." sahutnya saat melihat Leon dan Arman dalam satu meja. Tapi dari raut wajahnya ia terlihat lebih lega.
"Lo udah lepas yah habis ngadain konferensi pers yang kasus Obat Depresan Garnet Med..." desis Dimas.
"Iya gue kan bagian humasnya... susah banget loh nyari jenis obat itu. Kalo ngga Pak Irwan datang langsung nyembah-nyembah ke Mbah Ghandes minta dikasih tau... pulang-pulang dia linglung, loh..." sahut Dirga.
"Hm... Bagaswirya. Misterius banget itu keluarga." Kata Dimas.
"Iya. Semoga Authornya cepet ngeluarin novelnya biar jelas semua..." desis Dirga.