
"Tiga tim dibagi untuk menyisir Gunung Sindoro." Arman sudah dengan atribut lengkap penyergapannya, pakaian cargo, rompi anti peluru, dan senjata di punggung, pinggang, dan paha, memberikan instruksi kepada sekitar 20 anak buah yang ia pilih secara khusus untuk bersiap-siap melakukan penyergapan. Kebanyakan diantara mereka adalah penembak jitu.
"Satu tim jalan udara, mendarat di villa Khamandanu. Saya, Moses, Heksa, Pak Kardi... Dan Ayumi."
Yang lain langsung menghela napas enggan. Mereka berpikiran kalau Ayumi adalah pembawa sial. Akibat operasi pengambilan chip di paha, wanita itu pincang dan sekarang mereka harus membawanya serta menyusuri gunung. Dari situ saja sudah merupakan beban, belum seakan ia bersifat bom waktu yang tidak jelas kawan atau lawan...
"Satu tim jalan darat dari wilayah Wonosobo Jalur Ndoro Arum, Yazaki kamu yang pimpin. Satu tim jalan darat lain, dari arah Temanggung, Jalur Tampi, Umar kamu yang pimpin.... Perkiraan saya, markas mereka berada di sekitar titik ini. Masih di kaki gunung karena pasti sulit membawa wanita pingsan untuk naik. Dan lagi, mereka pasti membawa banyak kendaraan untuk senjata dan yang lain. Tapi kalau mau bekerja berdasarkan feeling, kalau saya yang jadi penculik, saya akan membawanya ke daerah sini..." Arman melingkari suatu desa di kawasan Kledung agak ke atas. "Karena, kabut tebal sering muncul di sini, dan kendaraan masih bisa masuk."
Sebastian masuk ke ruangan bersama Khamandanu Rusli yang wajahnya, seperti biasa, misterius. Tidak tersenyum tapi tidak bersungut.
Danu langsung fokus ke arah Ayumi.
"Apa saja yang kamu dengar mengenai kasus 30 tahun lalu?" tembaknya serius.
"Eh..." Ayumi menatapnya sambil terbelalak. "Tidak terlalu banyak... Hanya laporan tipis dengan cap "Selesai" saja."
"Apa tulisannya?"
Semua kini fokus ke Ayumi.
"Mana saya tahu, itu bukan urusan saya jadi saya tidak melihat isinya. Hanya sekilas. Yang saya ingat kalau ada tulisan Garnet Security Agency tahun 1989, ada foto 3 orang yang dicap 'terminated'. Lalu anak buah Yamaguci-Dono masuk dan mereka langsung meraih file itu, jadi saya tidak bisa lihat isinya."
Danu menghela napas.
Lalu ia teringat sesuatu.
"Bajunya... Foto itu... Mereka pakai baju apa?"
"Ah... Salah satunya memakai baju orange. Fotonya sepertinya candid. Yang dua orang memakai hitam-hitam, jaket kulit seperti biker."
Danu langsung terduduk lemas.
Sebastian mendengus. "Akhirnya... ketemu juga. Ternyata memang dia dalangnya. Adam Quon dan Sun Ye Oh sudah memperingati saya agar jangan menjalin hubungan bisnis apapun dengan klan Yamaguci Ito, tapi tidak saya indahkan... Saya pikir tadinya itu karena persaingan bisnis antara Triad dan Yakuza. Tapi ternyata..."
Brakk!!!
Sebastian menendang salah satu kursi. "Sejak lama kamu tahu kalau Milady akan diincar, kan??..." ia berusaha mengendalikan amarahnya yang hampir meledak.
Ayumi gemetar, namun ia harus tetap maju.
"Mereka berusaha mendekati Anda lewat Mikaeru, saya harus menjadi tameng untuk tetap berhubungan dengan Mika. Semuanya berjalan baik dan mereka menganggap Rady-San hanya peran pembantu dalam rencana saya. Namun... Sejak Rady-San mengirimkan banyak tas... Yang disusupi GPS... Mereka mulai mencurigai saya. Sejak itu target mereka berubah menjadi Rady-San." jelas Ayumi.
"Kenapa papa harus jadi korban?" Danu termenung di salah satu kursi.
"Mungkin... Ada hubungannya dengan... Si baji*ngan yang satu itu." Geram Sebastian. "Saya beneran harus menekan dia mengenai banyak hal... Hey, kampret. Kamu mau nitip pesan apa sama Irwan?!" Tanya Sebastian ke Arman.
Arman mendengus sinis sambil bilang "Naekin tuh gaji Dirga, biar ngga jajan indomie terus..." ujarnya sambil menenteng senjatanya dan menarik Ayumi, lalu berlalu dari ruangan.
*****
Ito Yamaguci mondar-mandir di ruangannya sambil menggigit-gigit kukunya.
Ia merasa panik.
Ia sangat menginginkan formula itu. Karena itulah dia menekan Hari Fadil. Bahkan sekelas Irwan Hartawi yang Komjen Pol di BNN saja tidak bisa mengungkap bahan mentahnya.
Kalau ada obat itu, pasti pasarnya akan booming, karena bisa disamarkan menjadi obat antidepresan dosis tinggi.
Namun...
Ayumi Sakurazaka mengacaukan rencana yang sudah disusunnya bertahun-tahun.
Saat ia merasa Sebastian sudah bisa berdamai dengannya...
Padahal tinggal sedikit lagi...
Tadashi... Anak perempuanmu menyusahkan.
Sudah sejak lama aku bilang, anakmu akan menjadi boomerang. Umpot Yamaguci dalam hati.
Mimpi Ito Yamaguci adalah menjadikan klannya menjadi lebih besar lagi. Ada 1440 klan Yakuza di Jepang, dengan lebih dari 100.000 anggota.
Klan Ito Yamaguci ada di bawah keluarga Yakuza Sumiyoshi-kai, keluarga yakuza terbesar kedua dengan 20.000 anggota yang terbagi dalam 277 klan.
Klannya adalah spesialis ampethamine dan dinilai cukup terpandang karena berhasil menebus pelanggan di jajaran pemerintahan, karena itu Shigeo Nishiguchi, pemimpin Sumiyoshi-kai, menjadikan Ito Yamaguci sebagai andalan. Suatu prestasi yang sangat bergengsi di kalangan gangster.
Terutama orang-orang dari keluarga rival mereka, Klan Yamaguchi-Gumi, yang saat ini dikenal sebagai pemilik klan nomor satu terbesar... Kalau ia bisa menaklukan Sebastian, Orang-orang dari klan Yamaguchi-Gumi akan bertekuk lutut di bawah kaki Sumiyoshi Kai, dengan Ito Yamaguci sebagai Komandannya...
(Ada tiga klan besar Yakuza di Jepang. No. 1 yang terbesar adalah Keluarga Yakuza Yamaguchi-Gumi, No. 2 terbesar adalah Sumiyoshi-Kai, dan No. 3 terbesar adalah Inagawa-Kai. Perseteruan antar klan dalam Yakuza juga kerap kali terjadi perang antar geng, sehingga Pemerintah Jepang mulai membubarkan satu persatu klan. Klan Ito Yamaguci ada di bawah Keluarga Yakuza Sumiyoshi-Kai)
*****
(Percakapan berikut adalah dalam bahasa Jepang.)
Sebastian meraih ponselnya saat ia dan Danu dalam perjalanan menuju Kantor Pusat BNN.
"Kamu masih berminat dengan saham Garnet Mall Jepang?" tanya Sebastian langsung.
"Jelas! Berapa kamu mau jual?"
"Aku berikan."
"Ha?"
"Rekam percakapan kita. Aku berikan semuanya..."
"Eh...Loh... ada apa ini? Bukan secara cuma-cuma kan?!"
"Habisi semua klan Yamaguci Ito, aku berikan semua saham Garnet Mall Jepang. Nilainya 50 miliar Yen."
Tidak terdengar suara dari seberang.
"Sebastian... Tolong cerita pelan-pelan. Aku hampir saja terkena serangan jantung karena senang sekali."
"Kamu tidak usah tahu detailnya. Aku perlu tahu, kamu bersedia atau tidak..."
"Tentu!! Tapi... Kamu serius?!"
"Serius. Aku harap seluruh klan Yamaguci Ito tuntas malam ini. Sapu bersih..."
"Klan Yamaguci Ito klan kecil. Sangat mudah bagi kami. Namun... Pemerintah?"
"Urusanku."
Sebastian menutup teleponnya.
Danu menatap Sebastian dengan tegang, sekaligus terpana.
Sebastian menghubungi seseorang lagi.
Menteri Daerah
"Pasti kamu akan menyusahkanku lagi..." kalimat pertama dari Menteri Daerah Jepang saat menerima telepon Sebastian.
"25% saham atas nama pribadi di Garnet Hotel Korea." sahut Sebastian. "Nilainya 10 miliar Yen."
"Hah? Na...namaku?"
"Iya."
"Pasti mahal kan?"
"Aku berikan."
"Kamu berikan?! Tunggu... tunggu... Pasti ada sesuatu yang akan sangat menyulitkanku." suara Menteri Daerah terdengar kuatir.
"Kamu dipenjarapun masih bisa bebas kalau punya 10 miliar yen, atau kalau dipecat pun bisa tetap makan enak 7 turunan..." sungut Sebastian.
"Apa... Balasannya..." suara Menteri terdengar lemah. Sepertinya sedang menyiapkan hati.
"Aku baru saja meminta Shinoda untuk menyerang salah satu klan Sumiyoshi-kai di daerah Kanagawa."
"Kamu apa?!" terdengar pekikan kaget Menteri Daerah. "Kamu sudah gila ya?! Berapa personel yang harus aku turunkan untuk perang antar geng?! Memangnya wartawan bisa diredam semudah itu hah!! Belum lingkungan sekitarnya itu villa dan penginapan semua!!"
"30% persen saham." Tawar Sebastian.
"Astaga, Sebastian..."
Lalu hening.
"35% karena aku harus bayar personel pengamanan." sahut Menteri Daerah.
"Oke." jawab Sebastian.
Dan Sebastian mengakhiri teleponnya.
Lalu menatap ke luar jendela, memandang seliweran mobil dan motor di sekitar mereka demgan gusar.
"...biar mereka tahu... Dengan siapa mereka berhadapan selama ini..." geram Sebastian.
*****
"Pak... Nilai aset Ito Yamaguci tidak sebesar itu. Pun keuntungan dari ampethamin yang mereka edarkan pun jauh dari itu..." desis Danu.
"Kamu benar..."
"Dan lagi... Bapak... Baru saja memerintahkan seseorang untuk membunuh... Membunuh banyak orang..."
"Ya." desis Sebastian. "Setiap malam saya memohon ampunanNya. Mungkin tidak akan cukup untuk surga. Setidaknya... Saya ingin menyelamatkan surga dunia saya."