
"Tapi... Kakak bukannya ada kerjasama lain dengan pihak dari Amerika?"
"Ada... Tapi bukan dengan cara licik. Kalau mereka ingin hasil bumi Rusia, bisa berbisnis dengan cara yang lebih sportif. Namun Gunawan... Dia berusaha mendapatkan keuntungan dengan mengkudeta perusahaan saya. Sepertinya dia belum tahu kalau saya sudah menyadari... Saya juga memiliki orang dalam untuk mengamati kinerja pejabat-pejabat saya. Tapi kamu..." Sebastian mencubit hidung mancung adiknya perlahan. "Kamu belakangan grusak-grusuk. Kamu baru bercerai, bukannya istirahat malah main mata sama Gunawan. Kasus Gunawan selesai malah udah menclok ke cowok lain... Kamu udah bukan remaja lagi, Meli."
"Apa sih kak..." keluh Meilinda sambil menepis tangan Sebastian. "Aku itu memang ngga terlalu beruntung kalau soal cinta-cintaan... Kebanyakan dibohongi!"
"Mantan suami kamu kena penyakit kelamin tuh, dia lagi dalam pengobatan di Jerman." Sebastian membuka kembali laptopnya.
"Jadi kabar kalau dia Gay itu hoax dong?"
"Dia bukan Gay... dia bisex."
"Astaga..." Meilinda mengusap dahinya. "Jaangan-jangan waktu sama aku, dia sudah..."
"Belum sepertinya. Dia mulai menjelajah justru setelah menikah, karena merasa bebas dari pengamatan orang tuanya." sahut Sebastian.
Seperti Milady...
Yang menjadikan pernikahan sebagai kunci kebebasannya.
"Meli... " desis Sebastian. "Saya akan melindungi kamu, sebisa saya. Untuk Dimas... Kakak butuh waktu untuk mengamatinya sedikit lagi. Tapi bukan berarti penjagaan saya melonggar yah. Satu tetes saja air mata kamu untuk dia turun, Dia habis! Ngga peduli anak siapa..." sahut Sebastian.
Meilinda terkekeh, lalu mencium pipi kakaknya.
"Kak..." panggilnya sebelum keluar ruangan. Sebastian meliriknya. "Aku tunggu kabar baiknya. Hehehe...". Meilinda menggoda Sebastian.
Pria itu hanya mengibaskan tangannya menyuruh Meilinda keluar.
*****
Milady menatap pintu besar kayu jati dengan ornamen ukir yang rumit itu.
Lalu menghela napas.
Ia sudah sampai di sini...
Kenapa aku tidak bisa lepas seluruhnya dari sini sih... Keluhnya dalam hati.
Lalu sebuah tepukan lembut di pundaknya mengagetkannya.
"Cari siapa yah Mbak?"
Seorang kakek-kakek, dengan handuk tersampir di leher, topi kain, baju lusuh dan... Tas plastik berisi tahu bulat.
"Ini Pak... Saya mau cari Pak Sebastian. Katanya beliau lagi sakit yah Pak.
"Ooh mau cari Mas Yan. Iya darting, biasa dia kalau banyak pikiran... Belakangan sih ngga suka kambuh, ngga tahu hari ini tiba-tiba kepalanya sakit. Mungkin faktor usia hehehehehe..." Sahut bapak tua itu.
Milady menyeringai.
"Pak, bapak juga ngga muda lagi. Hati-hati tahu bulat banyak micinnya. Hampir di setiap bagian. Belum formalin dan lainnya..." sahut Milady.
Pak tua itu mengangkat kantong plastik yang ia bawa. "Saya lagi pingin jajan. Heheheh. Mau mbak?"
"Enggak pak..." Milady mengangkat tangannya dan menunduk menghormat. "Makasih... Bukan selera saya."
"Masuk saja mbak, Mas Yan di ruangannya." sahut Pak Tua itu akhirnya.
Milady menghela napas.
Tapi ia tetap berdiri di tempat.
"Kenapa?" tanya Pak Tua itu.
Milady menyeringai kikuk.
"Saya takut kena omel Pak. Hehehehe..." sahut Milady.
Tak disangka Pak Tua itu malah tertawa terbahak.
"Ya sudah, sambil menyiapkan hati... Mau kopi atau teh? Minum sama saya di taman sana...saya mau makan jajanan." sahut Pak Tua itu.
"Boleh deh Pak..." Milady mengikuti Pak Tua yang kelihatannya tukang kebun itu.
*****
Sebastian melepaskan kacamatanya sambil meletakkan laptopnya ke samping.
Sudah terlalu lama aku di tempat tidur. Rasanya badan malah makin pegal. Pikirnya.
Ia melewati rangkaian komputernya, rencananya mau mengganti piyamanya dengan pakaian casual. Namun langkahnya terhenti dan mundur kembali ke layar monitor CCTV.
Ia meraih kembali kacamatanya dan kembali memicing.
Halusinasi atau bukan sih?
Masa segitu kangennya aku sama Milady sampai melihat dia lagi nge-teh di taman rumah?!
Batin Sebastian.
Dan di sebelah Milady ada...
*****
"Pak ini tehnya enak bangeeettttt!!" seru Milady.
"Loh iya toh, ini kiriman dari Turki. Mantan istri saya asli sana, kami masih berhubungan baik. Dia pemasok rempah-rempah..."
"Oh, hebat ya Pak, wanita karier..."
"Iya... Kami sempat menikah, namun keluarganya tidak setuju karena saya orang biasa saja. Bukan dari golongan bangsawan. Jadi kami dipaksa bercerai... Yah tapi hubungan kami masih terjaga baik sampai sekarang." Sahut Pak Tua itu sambil duduk di depan Milady.
Milady penasaran akan ceritanya namun terlihat sekali kalau masa lalu bapak dihadapannya ini penuh kesedihan, jadi dia tidak jadi bertanya.
Dan mengalihkannya ke hal lain.
"Asik juga yah Pak ngeteh di sini... Anginnya sepoi dan ngga panas. Padahal ini di tengah kota..." Milady melayangkan pandangannya ke segala arah.
"Hebat kan taman yang saya rawat? Hehe..."
"Iya Pak." Milady mengacungkan jempolnya. "Semuanya bapak yang tanam?"
"Iya... saya itu menggeluti dunia pertamanan sekitar... 40 tahunan lah. Karena waktu itu jaman cukup sulit. Keadaan kami sangat serba kekurangan. Saya sampai... Harus masak sup pakai rumput dan daun-daunan saja. Jadi setelah keadaan membaik, saya bertekad mempelajari tanaman, terutama dunia herbal, agar saat keadaan serupa terulang kami masih bisa hidup dengan tanaman yang saya tanam. Dulu... Anak saya sampai harus mencuri untuk kasih makan kami sekeluarga..." desisnya lirih. Matanya terlihat menerawang.
"Astaga... Saya turut berduka cita atas masa lalu bapak... Tapi sekarang sudah membaik kan pak keadaannya?"
Pak Tua itu menyeringai.
"Yah... Beginilah keadaannya." sahutnya.
"Beginilah bagaimana?" tanya Milady.
"Ayah..."
Terdengar suara dari arah belakang Milady.
Suara yang sangat ia kenal.
Sebastian berdiri di sana sambil menatap Pak Tua di depan Milady dengan tangan tersilang di dadanya.
"Loh Yan? Katanya sakit? Sudah bisa bangun, toh?!" Tanya Pak Tua itu.
"Saya itu cuma darah tinggi, bukannya Kolesterol sampai ngga bisa jalan." Kelihatannya Sebastian sedang menyindir Pak Tua itu. Ia memicingkan mata melihat jajanan di atas meja.
"Kan saya sudah bilang minum air kelapa muda, itu sudah ada di kulkas kamu tinggal minum..."
"Iya nanti diminum... Ayah sendiri katanya kemarin mengeluh Kolesterol. Mau saya rawat saja di rumah sakit biar ngga bisa jajan lagi atau bagaimana?!" sahut Sebastian sambil menatap tahu bulat.
Pak Tua itu mengernyit.
"Kamu ini loh...sukanya mengurung orang tua seperti saya. Bisa-bisa saya stress nanti."
"Kurangi jajanannya dong..." desis Sebastian.
"Kamu di sini?" Sebastian menoleh ke Milady yang kebingungan.
Milady menghela napas.
Lalu ia menyadari sesuatu sambil menatap Pak Tua, dan Sebastian.
"Mau bicara di dalam?" tanya Sebastian.
Milady mengangguk.
"Saya masuk dulu yah, tehnya saya bawa ke dalam boleh yah Pak... Hans...." Milady menyeringai ke Pak Tua.
Disambut dengan seringaian Pak Tua tukang kebun yang nyatanya adalah ayah Sebastian.
Hans Bataragunadi.
*****