Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Banyak Jalan Menuju Roma



"Mau apa, kamu?!" Pekik Milady protes, saat Sebastian mendorongnya masuk ke dalam.


Pria itu menahan kedua tangan Milady di atas kepala wanita itu dan menekannya ke dinding.


"Sebastian..." Dada Milady naik turun karena tersengal. Tubuhnya bergetar ketakutan.


Sebastian hanya diam.


Tapi tangannya membuka ikatan kimono Milady.


Dan saat kain tipis licin itu terpisah, tampak kilatan matanya menatap lekat-lekat setiap bagian sudut tubuh Milady.


Milady mencoba melawan, mendorong Sebastian sekuat tenaga. Namun pria itu tak bergeming... Sebastian sekeras batu!


Wajah Sebastian mendekat, berbisik sekaligus menelusuri pipi Milady. "Bagian mana yang sudah dia sentuh..."


Milady menelan ludahnya.


"Hm? Bagian... yang mana saja?" Ulang Sebastian dengan suara lebih dalam. Terdengar kemarahan dalam suaranya, sekaligus desahan napas penuh libido.


Tangannya menelusuri dada Milady... membelainya, dan meremasnya perlahan. Seakan sangat rindu dan mendamba.


Milady melenguh sambil terengah-engah.


Sial...


Dia sepenuhnya dalam kendali Sebastian.


Tidak, tidak bisa begini!


Bukan ini yang ia inginkan!


Tidak ada lagi paksaan untuk dirinya!


DUAKK!!


Milady menendang Sebastian sekuat tenaganya.


Berhasil!


Pria itu melepaskan pegangan tangannya dan menabrak dinding di belakangnya. Lalu tersungkur ke lantai sambil mengaduh.


Milady mengatur napasnya sambil terengah-engah. Kakinya langsung pegal bagaikan selesai mendorong sebuah tank...


"Kesini kamu..." Desis Milady sambil mencengkeram kerah Sebastian dan menariknya ke dalam kamar.


Sebastian terperangah karena ia sedang di tarik oleh seekor kucing kecil. Ia bisa saja menolak, tapi ia ternyata tidak mampu dan malah menuruti kemauan Milady.


"Duduk!" Milady mendorong Sebastian ke sofa.


Lalu...


Wanita itu membuka kimononya dan mengibaskan rambutnya ke belakang.


Kini seluruh tubuhnya yang menawan terpampang sangat jelas dihadapan Sebastian.


Pria itu mendesah terkesima bagaikan melihat dewi turun dari langit


Ia beranjak naik ke pangkuan Sebastian. Pria itu menatapnya dengan tertegun, lebih ke rasa kagum dan terhipnotis.


Aku akan membuatnya lebih mencintaiku.


Aku akan membuatnya tergila-gila padaku.


Ia mencintaiku, namun ia masih meninggikan gengsinya.


Sekarang...


Aku akan buat kamu takluk...


Dewa Zeus Sialan...!


Umpat Milady.


"Kamu mau diriku seutuhnya?" Milady meraih tangan Sebastian dan meletakkannya di dadanya.


Sebastian menggigit bibirnya.


"Aku harus apa...?" Bisik Sebastian. Matanya nanar menatap lurus ke mata Milady.


Milady menangkup rahang Sebastian untuk mendekat dan wanita itu mencium bibirnya.


Rasa ini...


Yang sering ia rindukan...


Rasanya tidak bosan-bosannya berciuman dengan Sebastian.


Seakan memang pria ini adalah pemiliknya...


Pasangannya...


Bagian tubuh utuhnya dimana Milady adalah tulang rusuk kirinya...


"Aku bohong...maaf..." Desah Milady saat ia melepaskan ciumannya.


"Hm?"


"Belum ada yang menyentuhku lagi... Sejak terakhir bertemu kamu..."


"Maksud..." Sebastian tidak bisa melanjutkan pertanyaannya karena Milady membungkamnya dengan ciuman.


"Dari dulu... Hanya kamu..." Jemari Milady menarik lepas ikat pinggang Sebastian dan menurunkan resletingnya.


Lalu...


Mengeluarkan isinya yang keras dan panas.


Jemarinya membelai Sebastian dengan agresif. Dan Milady turun dari pangkuan sebastian, duduk bersimpuh di lantai.


Di depan Sebastian sambil tersenyum menggoda.


"Aku masih ingat saat kamu dulu mengajariku... Aku rasa, aku masih ingat juga caranya...."


Sebastian menarik napas saat belaian Milady semakin cepat.


"... Caranya supaya tidak...kena..." Milady tertawa sekilas dan mengeluarkan lidahnya, lalu berikutnya Sebastian hanya bisa mengeluarkan erangan dan meremas rambut Milady.


*****


Trevor kembali ke hotel sekitar waktu subuh.


Milady sudah menyediakan kopi untuknya di konter dapur. Namun keberadaan wanita itu tidak terlihat.


Jadi Trevor meletakkan cangkir di mesin kopinya dan menunggu sampai cairan hitam legam itu turun ke dalam cangkirnya sambil mengganti pakaiannya.


Keadaan Ayumi baik-baik saja. Dan mereka sudah melepas rindu.


Jadi hati Trevor agak tenang sekarang.


Trevor mengutarakan keinginannya untuk mengambil alih semua kewajiban, jadi Ayumi tidak perlu bertemu lagi dengan dua orang host yang menjanjikan untuk menikahinya.


Sekarang, tinggal mencari tempat tinggal baru untuk Ayumi, yang layak untuk ditempati anak kecil...


Trevor menoleh saat Milady membuka pintu penghubung.


Wanita itu sangat cantik pagi ini, dengan pipi memerah dan mata berbinar. Ia sudah berdandan rapi dengan gaun terusan dan rambut terblow sempurna.


"Ini masih subuh loh... Kamu udah siap-siap ke kantor?" Tanya Trevor sambil menghampiri Milady.


Wanita itu menempelkan telunjuknya ke bibir, memberi tanda supaya Trevor merendahkan suaranya.


Trevor bertanya dengan menaikan alisnya dan melongok ke belakang Milady.


Astaga...


Batin Trevor.


"Kapan dia datang??" Bisik Trevor agak panik.


"Sesaat setelah kamu pergi tadi malam..."


"Jadi dia tahu aku pergi menemui..."


"Iya. Dia tahu."


"Ck..." Decak Trevor sambil mengusap rambutnya ke belakang. "Lalu... Kamu apakan dia?"


"Kamu yakin bisa mendengar penjelasanku?"


"Ngga usah." Jawab Trevor cepat.


Milady terkekeh.


"Data dan tiket sudah kusiapkan di koper kamu. Kamu duluan saja ke kantor... Aku mau..." Milady melirik ke belakang, ke gulungan futon yang berantakan. "Mengurusi... Tuan Besar..." Desisnya sambil tersenyum menggoda.


"Usahakan sampai dia lupa akan keberadaanku, oke...?" Sahut Trevor dengan seringainya


"Ck... Ngga janji ah!" Dengus Milady sambil menutup pintu penghubung.


Milady merayap naik ke atas tubuh Sebastian yang tertidur lelap.


Sudah berapa lama pria itu tidak tidur? Kenapa sepertinya tidurnya sangat nyenyak?


Milady menyentuh pipi Sebastian dengan ujung jarinya.


Tadi malam bisa dibilang, Sebastian sudah cukup terpuaskan. Dan Milady masih bisa menjaga prinsipnya.


Dan sekarang rahangnya terasa masih pegal...


"Banyak jalan menuju Roma, heh?" desisnya.


Paling tidak, si rubah tua ini tidak merajuk lagi...


"Hei, Sayang..." Milady mengguncang- guncangkan tubuh Sebastian. "Sudah pagi, loh..."


"Hm..." gumam Sebastian.


Lalu ia bergulung sambil membawa Milady ke pelukannya.


Milady terkikik dan berbaring sambil memeluk Sebastian.


Hangat...


"Curang kamu..." Gumam Sebastian sambil mencium dahi Milady.


"Loh kok curang... kan kamu dapat enaknya."


"Aku juga mau..."


"Prinsipku tidak berubah yah... jadi kamu yang tentukan sendiri pilihannya. Yang bisa memasuki aku adalah suamiku. titik."


"Hm... aku malas bahas itu."


"Yah, jadi terima saja yang bisa kamu dapatkan... kan kamu yang pilih..." dengus Milady sambil tetap memeluk Sebastian.


"Tadi malam... kamu bilang yang menyentuh kamu selama ini hanya aku?"


"he'em..."


"Mantan suami kamu... Kenapa anak seorang pemuka agama tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami?"


"Aku ngga mau kasih tau, nanti kamu ganggu-ganggu mereka."


"Jadi... kamu ngga disentuh sama sekali."


"Aku diam aja loh ya..."


"hm..."


"hm..."


"Dan Trevor? Cuma akting dong kalian?"


"Kamu menyebalkan..."


"Bisa dibilang... kamu gagal yah...?"


"Hm...tidak juga."


"Oh ya?"


"He'em... aku mendapatkan kamu. Itu berarti, rencanaku sukses besar..."


"Ngga bisa begitu dong..."


Milady mengangkat tubuhnya sehingga matanya sejajar dengan wajah Sebastian.


"Trevor bersedia menikahiku... aset kamu aman di tanganku. Ayumi kamu buat hamil, akan ada pria lain yang menggantikan Trevor di dalam hidup Ayumi, orang bayaran kamu. Apa lagi?"


Tatapan Sebastian kini serius memandang Milady.


"Dari mana kamu..."


Milady mencekik leher Sebastian dengan tatapan penuh ancaman.


"Aku sangat marah sama kamu... sampai sekarang. Aku kan sudah bilang, jangan ganggu temanku. Lepaskan mereka... Iya?"


"Aku kan bilang aku akan lepaskan mereka asal kamu ngga ikut campur urusan Ayumi. Tapi kamu ikut campur, jadi aku juga jalankan porsiku..."


"Ayumi juga temanku. Jadi, aku bilang jangan ganggu temanku, juga termasuk dia."


"Aturan mainnya tidak begitu, sayang."


"Kalau begitu, ubah aturan mainnya." Milady memutuskan kali ini ia tidak akan mengalah.


Sebastian menghela napas.


Baru kali ini dia mendapat lawan seimbang dalam berdebat...


"Oke... aku ngga ganggu Eiichi lagi, ataupun Ayumi. Aku tarik orang-orangku kembali... sebagai gantinya, Trevor dan kamu akan tetap menikah dan..." Sebastian mengelus bokong Milady.


"Aku dapat akses penuh kesini."


Milady berdecak.


"Aku kan sudah bilang..."


"Dengan cara lain." Sebastian tersenyum licik. "Kan barusan kamu yang bilang... banyak jalan menuju Roma..." Ia melepaskan cengkeraman Milady di lehernya.


"Aku akan membuat kamu berteriak-teriak dengan cara lain... asalkan kamu buka aksesnya untukku. Bagaimana?"