
Aku dan Rion menata meja dan bangku serta memberi surat edaran di atas meja tersebut, membagikannya untuk semua wali murid yang akan hadir hari ini.
Kami harus menata rapi agar semua wali murid yang hadir bisa merasa nyaman.
Rion ternyata penasaran tentang suatu hal kepadaku dan mulai bertanya.
"Aku melihat beberapa hari yang lalu,kau bersama Lucifer?" Tanya Rion kepadaku dengan amat sangat penasaran.
"Apakah kau akan pindah sekolah?" Tanya dari Rion lagi padaku.
"Tidak."Jawabku kepada Rion dengan jelas.
"Lalu kenapa Lucifer sampai mengijinkanmu kepada Kepala Sekolah?"Tanya Rion sangat penasaran.
"Kau sangat penasaran?"Tanyaku pada Rion.
"Tentu saja, aku kira Lucifer tidak akan pernah mengerjakan sesuatu hal yang tidak penting."
Ucap Rion kepadaku sambil menaruh surat edaran di atas meja dan menggelengkan kepalanya.
"Memang benar aku di ajak keliling ,dan aku di suruh untuk pindah ."Jawabku kepada Rion sambil tersenyum.
"Jadi kalau aku sekelas sama anaknya, maka dia akan jinak."Ujarku ke Rion lalu memanyun kan bibirku.
"Tentu saja kapan Andromeda jinak?, dia akan selalu melakukan hal sesuka jidatnya." Tukas Rion kepadaku dengan muka sewot,dan agak melamun,mungkin karena mengingat-ingat tingkah laku Andromeda pada saat dahulu kala.
"Hei, kau kan temannya, berbaikan saja ya mau ya"Kataku kepada Rion sambil melihat ekspresi wajahnya.
"Kau ini,kau tak akan paham!,lalu kau menolak atau menerima tawaran Papa Andromeda?"
Tanya Rion dengan penasaran kepadaku,Rion mendekatiku agar mendengar ceritaku lebih jelas.
Aku mengamatinya dan aku rasa penyakit *Myso**phobia* Rion sedikit berkurang,karena dia sudah mau mendekatkan dirinya kepadaku.
"Aku menolaknya,karena disini tanggung jawabku sangatlah besar,aku tidak bisa cuci tangan begitu saja,aku masih mempunyai misi."Kataku kepada Rion sambil menata meja.
"Tapi aku akan mengikuti ekstrakuriker karate dan memanah juga di Sekolahan Andromeda" Kataku kepada Rion sambil menarik meja dan merapikannya.
"Hei,tidakkah aneh kau masuk Sekolah Elite tanpa ada tes terlebih dahulu?" Tanya Rion kepadaku dengan sangat penasaran.
"Setahuku ada tes nya loh, sulit lagi."Kata Rion lagi kepadaku dan terlihat wajahnya semakin penasaran.
"Entahlah, aku juga tidak tertarik untuk masuk kesana."Kataku pada Rion dan mengamati ekspresinya.
"Apakah Bahasa Inggrismu sangat lancar?"
Tanya Rion padaku dan penasaran kepadaku.
"Tentu saja tidak,aku orang Indonesia mana ada sangat lancar,ayolah cepat kita bereskan agar cepat selesai."Kataku kepada Rion agar lebih cepat menyelesaikan tugas ini.
"Baiklah,aku akan segera membereskannya, dimana Daniel dan Anggara tumben tidak membantumu,apakah mereka tidak masuk?" Tanya Rionpadaku sambil melihat sekeliling ruangan.
"Biarkan saja mereka,aku rasa mereka sedang bermain olahraga seperti biasanya."Kataku kepada Rion sambil mendorong meja dan merapikannya.
"Hei,sesekali belajarlah melupakan penyakit Mysophobiamu ,bermainlah dengan Daniel dan Anggara,serta berbaurlah dengan teman laki-laki lainnya, aku rasa itu adalah terapi untukmu."Kataku kepada Rion lirih agar tidak ada yang mendengarnya.
"Kenapa kau sangat baik sekali kepadaku?" Tanya Rion dengan amat sangat penasaran kepadaku.
"Aku menganggapmu sebagai temanku,kita harus saling mendukung satu sama lainnya"
Kataku kepada Rion sambil tersenyum.
"Terimakasih ya."Ucap Rion kepadaku.
"Aku rasa, ada banyak yang harus kita pelajari masing-masing , setelah apa yang aku lihat?" Kataku kepada Rion sambil tersenyum tipis.
"Oh ya, bermainlah olahraga , panas, debu, kotoran , dan keringat memanglah sangat menjijikan banyak bakteri , kuman "Kataku kepada Rion dengan tulus supaya dia mau berbaur dengan yang lainnya.
"Namun apakah kau akan melewatkan semua kenangan bersama teman-teman kita?" Tanya ku pada Rion agar dia bisa melawan penyakit mysophobianya.
"Iya, aku akan berusaha seperti yang kau katakan , karena aku sangat ingin kembali normal."Kata Rion padaku sambil menatap wajahku.
Nampak Bu wardah masuk ke dalam kelas dan mendekatiku.
"Hei , anak manis apakah kau sudah selesai menata bangkunya?"Tanya dari Bu Wardah kepadaku.
"Sebentar lagi."Jawabku kepada Bu Wardah.
Beberapa menit kemudian aku pun sudah menyelesaikan tugasku.
"Terimakasih ya Putih dan Rion, karena mau membantu menata meja dan bangkunya"Kata Bu Wardah kepadaku dan Rion.
"Sama-sama Bu."Jawabku dan Rion dengan kompak,kepada Bu Wardah.
Aku dan Rion pun keluar kelas dan kemudian mencari Daniel dan Anggara,ternyata mereka sedang bermain sepak bola.
Daniel dan Anggara yang tahu aku sudah berada di tepi lapangan menghampiriku.
"Hei Putih,apakah kakak ipar akan kemari?" Tanya Anggara dengan penasaran kepadaku.
"Entahlah aku tidak tahu ?, kenapa kau tanya kepadaku?"Tanyaku pada Anggara dan juga mengernyitkan alisku.
"Semoga dia tidak kemari."Kata Anggara sambil memejamkan matanya, dan aku lihat dia juga menengadahkan tanganya , seperti orang yang sedang berdoa meminta ilham dari Yang Maha Kuasa.
"Hei,apakah Bu wardah sudah masuk kelas?" Tanya Daniel dengan gugup dan berkeringat dingin.
"Ada apa dengan kalian berdua kenapa aneh sekali hari ini?"Tanyaku penasaran karena nampak ekspresi Daniel dan Anggara sangat gugup.
"Sudahlah seperti biasa saja aku rasa kalian akan naik kelas, walaupun itu tidak masuk 10 besar?"Kataku pada mereka sambil melihat wajah mereka yang semakin tegang.
Namun mereka menggelengkan kepalanya, tanda mereka tidak mau berada pada urutan yang terahir.
"Lantas bagaimana apa kalian sangat ingin sekali masuk rangking 10 besar?"Tanyaku kepada Daniel dan Anggara.
Mereka pun berdua menganggukkan kepala seraya berharap ada mukjizat yang datang,
agar mereka terlepas dari jerat taruhan yang Andromeda layangkan yaitu mentor dadakan mereka.
"Aku mau ke kamar mandi dulu , aku sangat gugup , dari tadi aku sudah kecing 5 kali ya karena sangking gugupnya."Kata Anggara sambil berlari menuju kamar mandi.
"Sialaaan.."Daniel pun mengumpat.
"Kenapa kalian berdua gugup,tidak seperti biasanya?"Tanyaku kepada mereka berdua.
Tililit....tililit...tililit...bunyi ponsel lamaku,
"Hallo , iya Bibi Daniel ada apa?"Tanyaku kepada Bibi Daniel.
"Tolong,nitip ambilkan raport Daniel karena aku rasa Bibi, tak bisa libur."Kata Bibi Daniel padaku di pinsel tersebut.
"Iya Bi,saya akan bilang Bibiku untuk sekalian mengambil raport Daniel."Kataku kepada Bibi Daniel.
Daniel sudah tahu kalau tidak ada yang akan mengambil raportnya hari ini,dia terlihat agak kecewa,akupun mendekatinya.
"Hei jangan muram,hanya masalah sepele tak usah di besar-besarkan"Kataku kepada Daniel sambil menepuk pundaknya.
Bersambung...
Apakah yang akan terjadi dengan Daniel dan Anggara? Yuuuk pencet like nya dulu ya biar author semakin semangat menulisnya ok 🙏