
Mama Rion yang anggun dan elegan itu pun masuk kedalam kamarku,dan duduk diantara kami berdua,Aku dan Rion saat ini.
Dia sedang mengenakan dress warna cream cerah di padu padankan dengan renda emas di tepinya,serta kulitnya itu bersih membuat Mama Rion sangat cocok dengan dress yang ia kenakkan hari ini.
Dia tersenyum melihatku seolah aku adalah seorang putrinya sendiri.Wajahnya nampak bersinar terang .
Lipstiknya berwarna merah muda,dan dia mengenakan anting-anting berbentuk bunga rambat, benar-benar elegan sangat cantik.
Dia pun mulai angkat bicara dengan lirih.
"Ayo kita makan malam dulu."Ajak Mama Rion kepadaku untuk makan malam bersama.
Aku di ajak mereka turun di meja makan yang besar,seperti meja makan di restoran yang sangat mahal itu. Besar dan makanan pun sudah terhidang dengan berbagai macam aku pun bersiap-siap menyantapnya,dan untuk beberapa menit aku melupakan Andromeda dan sedikit ingatanku bahwa aku adalah anak yatim piatu,aku merasakan kalau aku adalah bagian dari keluarga mereka yang harmonis ini.
Dan setelah itu aku pun tersadar,kalau saat ini Andromeda sedang pingsan seharusnya dia sudah siuman,namun kenapa dia masih saja belum menghampiriku sampai detik ini.
Aku pun berjalan kembali mencari kamar Andromeda aku ingin melihat keadaannya karena sangat penasaran apakah dia sudah siuman atau masih pingsan.Namun ada seseorang yang menghadangku.Dan dia mencengkram tanganku.
"Ayolah makan dulu,nanti kalau sudah baru kau bicara dengannya."Kata Rion kepadaku sambil memegang tanganku agar aku tidak memasuki kamar Andromeda.
"Ayolah Rion,aku hanya akan melihatnya sebentar,seharusnya dia sudah siuman." Jawabku kepada Rion dan melepas cengkramannya.
Aku tahu maksud Rion jika Andromeda bangun maka aku tidak akan di bolehkan untuk tinggal atau bahkan makan malam bersama sekalipun Maka dari itu Rion pun bermaksud,aku diajaknya makan malam dulu.
"Ayolah makan dulu,aku tahu kau akan menolaknya,cobalah untuk egois sedikit."Kata Rion kepadaku.
"Pikirkanlah dirimu sendiri jangan orang lain."
Kata Rion kepadaku lagi sambil menatapku.
"Iya,tapi aku sangat khawatir dia sedang sakit biarkanlah aku melihatnya ya"jawabku kepada Rion kemudian membuka pintu kamar yang dimana Andromeda sedang berbaring.
"Ceklek"
Aku pun membuka pintu ternyata Andromeda masih belum siuman juga aku pun duduk di bangku di sampingnya,namun tubuhnya itu sangat dingin.
Aku pun meletakkan jariku di bawah hidungnya.
Dan ia masih bernafas,aku menggenggam erat tanganya yang dingin aku mengharapkan dia merasakan kehangatan dariku, dan segera siuman.
"Ayolah bangun,kau sudah lama pingsan apakah kau tak lelah?"Tanyaku padanya dan menatap wajahnya yang pucat pasih masih terbaring.
Rion pun berdiri di sampingku,dan dengan sabar menungguku untuk mengajakku makan malam.Namun aku tak mau dan seharusnya Andromeda sudah siuman,ini sudah lama entah berapa jam dia tak sadarkan diri.
"Astaga ya Tuhan,kenapa anak ini membuat sangat khawatir."Ucapku pada diriku sendiri.
"Ayolah bangunlah,walaupun di dalam dunia ini terkadang sangat jahat dan membuat kita sangat penat,aku harap kau mau masih mau bangkit."Kataku dan aku tak sadar menitihkan air mataku dan air mataku jatuh menetes di lengan Andromeda yang sedang pingsan saat ini.
Aku menunggunya dengan setia,ternyata 10 menit berlalu,kelopak matanya yang indah itu pun mulai terbuka.Dan kurasakan dia mulai siuman dari pingsannya.
"Ya Tuhan, terimakasih karena di masih bisa bangun dari pingsannya."Kataku dalam hati.
"Dimana ini gadis lamban?"Tanya Andromeda kepadaku sambil mengamati wajahku.
"Kita di rumah Rion dia menyelematkan kita."Ucapku kepadanya sambil menatap wajahnya yang sedang kebingungan.
Beberapa detik dia pun sadar benar bahwa dia sedang di rumah sahabatnya sekarang hubungannya tidak terlalu akur itu.
"Jika bukan karena Rion kita pasti masih di jalanan,kendalikan dirimu."Kataku lirih dan lembut agar dia melunak.
Namun dia sangat murka kepadaku dan Rion, Andromeda sang perkasa pun telah bangkit dari tidur panjangnya,dan berdiri tegak seperti Dewa Zeus,yang sedang ingin menusukkan tombaknya kepada Rion.
Aku pun berada di tengah-tengah mereka agar tidak terjadi perkelahian,dan menatap wajah Andromeda yang masih pucat.
"Kenapa kita ada disini aku sangat muak,ayo kita pergi,aku akan menyuruh Hendrik untuk menjemput kita di luar!"Seru Andromeda yang sedang marah besar tahu ada di Rumah Rion.
"Dengarkan aku juga sudah muak dengan tingkah kekanakanmu,lepaskan Putih biarkan dia makan dulu belajarlah dewasa."Kata Rion sambil menarik lenganku dan aku pun di belakang badannya.
Dan Andromeda pun semakin marah besar kepada Rion karena dia menyentuh tanganku,
"Beraninya kau brengsek!"Ujar Andromeda sambil melayangkan tinjunya ke Rion.
"Buak...!"
Aku pun mendekati Andromeda dan menariknya kebelakang,
"Hei sudahlah,Rion tidak salah kau belajarlah meredam amarahmu."Kataku dengan tegas dan mencengkram tangan Andromeda yang kekar itu.
"Dasar gadis lamban,seharusnya apapun terjadi kau harus ada di pihakku paham!"
Serunya matanya berubah merah menyala karena dia tidak bisa meredam emosinya yang meluap.
"Sudah ayo kita keluar sudah cukup aku akan memihakmu namun jangan pukul Rion ok." Kataku pada Andromeda sambil menyeretnya keluar dari rumah Rion.
Jika aku membiarkan mereka baku hantam maka,aku tidak bisa melerai keduanya.
Maka tanpa berpamitan kepada Mama Rion aku membawa Andromeda,dan mengajaknya pergi dari rumah Rion Saat ini.
Hendrik pun menjemput kami menuju rumah Andromeda yang besar mewah itu.
Beberapa menit pun kami sampai Andromeda masih sangat marah dan melepas jaketnya dengan serampangan dan melemparkan ke sembarang tampat.
"Ayolah kenapa kau selalu main-main dengan emosimu itu."Kataku kepada Andromeda.
"He... kau selalu saja mendekati semua pria apa kau tak paham kata-kataku."Tukas dari Andromeda dengan sangat marah.
"Aku tidak mendekati,aku menganggapnya temanku."Jawabku padanya dan menyeringai.
"Dengar semua pria tidak ada yang namanya dekat dengan wanita hanya untuk bersahabat dasar gadis lamban."Katanya lagi kapadaku dengan sangat marah.
"Kau yang terlalu banyak berfikir, kadang
kendalikanlah emosimu itu aku terkadang sudah muak,karena kau selalu bertingkah seperti anak TK."Jawabku kepadanya sambil menatapnya tajam.
"Aku rasa semua orang akan berfikiran sesuai perasaan mereka masing-masing dan kau itu berlebihan,maka dari itu kau selalu tidak bisa lepas dari penyakitmu itu!"Ujarku lagi kepada Andromeda agar bisa mengolah penyakitnya itu.
"Jika kau terus begini maka tak ada cara lain, aku akan meninggalkanmu sendiri!"Gertakku kepadanya.
"Baiklah aku akan meredamnya,aku mau ke kolam renang dulu kau pergilah ke kamar tamu."Jawab Andromeda karena dia takut aku meninggalkannya.
"Fikiran dan perasaan manusia memang tak ada yang tahu, namun selama kita masih bisa membuat energi positif, maka tidak ada yang tak mungkin, lagipula prasangka buruk pada orang lain akan membutakan mata kita."
Bersambung...