
Nampaknya di lorong Rumah Sakit gadis itu duduk, dengan wajah yang sayu dan sendu.
Sembari beberapa kali mengusap air matanya yang berlinang, namun kesunyian amat terasa karena di depan ruang operasi hanya ada dia seorang. Beberapa perawat ada yang berjalan untuk mengantarkan makanan,dan obat untuk para pasien lainnya, namun selebihnya hanya kesunyian . Di lorong Rumah Sakit bernuansa sedih itu terlihat gadis itu masih saja duduk dengan segala perasaanya yang campur aduk
Beberapa kali sudah berjalan mondar-mandir namun dia pun sudah lelah, sekarang duduk lagi menunggu Ruang Operasi terbuka, juga berharap saat pintu itu terbuka maka ada satu kabar bahagia dari sang Dokter.
Namun saat dia menunggu duduk di depan pintu itu, dia teringat Ayahnya yang ternyata pulang saat pagi, dan padahal ia berjanji akan pulang malam.Dan berjanji untuk menikmati makan malam bersama. Sore hari yang indah cerah bersama dengannya , namun setelah itu hanya ada sisa kenangan saja.
Saat Ayahnya pulang ternyata juga adalah kabar berita duka cita, untuknya sekaligus perpisahan terahir kalinya, dia dan Ayahnya.
Padahal sore nya dia masih juga berbincang dengan Ayahnya, bercerita tentang hal yang indah-indah saja. Makan buah bersama-sama sebelum Ayahnya berangkat bekerja. Namun memang waktu dan keadaan tak akan ada yang tahu maka hari itu gadis yang sedang menangis , dia pun merindukan Ayahnya.
Dalam benaknya terbersit ingatan sisa-sisa kenangan, bisa di bilang ingatan itu adalah kenangan yang hangat namun menyakitkan.
Karena sekarang hanya ada bayangan saja, serasa dunia akan runtuh.
"Apakah enak, buah naganya?" Dan menyuapi Ayahnya.
"Tentu saja, apakah kau tak mau?"Tanya Ayah gadis kecil itu sambil saling menatap hangat.
"Tidak aku masih kenyang." Jawabnya lirih
"Apa ada yang ingin, Ayah makan lagi?" Tanya dari gadis dengan tersenyum riang di tangan kirinya membawa potongan buah naga, dan di tangan kananya membawa garpu untuk mengambil potongan buah naga bewarna merah yamg segar.
Bayangannya pun pecah, dia pun menangis lagi air mata yang sudah di usapnya berkali kali namun tetap saja mengalir deras seperti air sungai . Terus saja mengucur ,mengalir seenaknya tak dapat di bendung lagi.
"Ya Tuhan,semoga operasinya lancar."Ucap gadis dengan lirih berurai air mata di pipinya
"Apakah ? aku akan kehilangan orang lain lagi, dan kenapa seperti ini dalam hidup?" Batin dalam hati kecilnya.
"Kenapa Tuhan sangat tega padaku,Dia selalu merampas semua milikku." Batin hati kecilnya saat ini.
"Hmmm, apa yang terjadi padaku, selalu saja sama, dan tak ada perubahan banyak sekali orang yang meninggalkanku." Batinnya saat ini dengan berlinang air mata.
Sambil mengalir genangan air mata di pipinya dan mengapa hal ini terus berulang, sampai kapan semua nasib buruk yang tak kunjung berhenti ini, terus menghantui .
Dia tertunduk lemas tak berdaya,karena yang tertusuk kenapa bukan dirinya saja.
Ternyata perawat dari Ruang Operasi itu pun keluar dari ruangan,namun semua Dokter dan lainnya belum keluar,aku pun semakin gugup apa gerangan yang akan terjadi pada pria yang bernama Andromeda ini.
Aku mulai memberanikan diri mendekati perawat itu.
"Bagaimana,apakah lancar operasinya sus?"
Tanyaku penasaran dan sangat gugup,tangan serta kaki semua pun bergetar , walau sama sekali tak terjadi gempa bumi,kenapa sangat lama sekali fikirku.
"Kami ada masalah,tuan muda hampir saja meregang nyawanya karena terlalu banyak, kehilangan darah."Kata Perawat itu sambil terlihat sangat gugup sekali tergurat jelas di matanya bahwa dia panik.
"Astaga ya Tuhan apa lagi ini?" Tanyaku namun dalam hati,jantungku rasanya ingin meloncat seperti katak hijau.
"Lantas apa,cadangan darahnya kehabisan?" Tanyaku sangat amat penasaran,keringat deras mengucur dari semua bagian tubuhku saking paniknya aku,karena ini masalah hidup dan mati.
hanya bisa di temukan pada keluarga,atau kerabat saja." Ujar Suster tersebut dan raut wajahnya sangat panik sekali.
"Oh ya Tuhan, Suster kebetulan aku ini punya golongan darah O-, ambilah darahku ini." Kata pada Suster ini agar dia cepat mentransfusi darahku pada Andromeda.
Aku berfikir jika dengan cepat memberi donor maka akan bisa menyelematkan nyawanya.
Dan tidak akan merasa bersalah lagi, apa hal itu bisa menjadi bagian misi penyelamatan .
Atau bisa di bilang juga ingin sekali berpacu dengan waktu , berusaha namun Tuhanlah yang akan menentukan hasilnya.
Karena beberapa kali dia merampas orang yang kusayangi dengan paksa tanpa berbelas kasih sedikitpun padaku. Walaupun tak di ragukan cara merampasnya sangatlah tidak terduga sama sekali . Melebihi detik jam yang berdetak di dinding, dan juga bayangan yang mengikuti kita selama ini.
Suster pun mengajak aku ke dalam ruangan dimana darahku di cek,apakah benar memang darahku adalah O- atau O+ setelah itu darahku pun di transfusi ke tubuh Andromeda.
Beberapa menit kemudian aku pun kelelahan.
mulai tertidur lelap karena dalam ruangan ini keadaan begitu hening dan dingin,membuat mataku mengatup satu sama lainnya.Lalu
akhirnya aku tertidur pulas dia atas kasur .
Entah kami tertidur sudah berapa jam namun anehnya tidur kali ini, tak merasakan mimpi ataupun merasa tidur .
Setelah beberapa jam kemudian gadis ini dan Andromeda di bawah ke dalam ruangan VVIP.
Mreka masih tertidur lelap.
Mereka sudah berada dalam satu ruangan ini
namun ini kenyataan bukan hanya sekedar cerita belaka.Aku mulai membuka mataku dan bangun dari tidurku.
Ternyata untuk menjaga kadar cairan dalam tubuhku,aku di infus oleh suster tersebut.
Aku pun mendekat ke kamar Andromeda,dia terbaring kaku,dingin dan pucat sekali aku mulai mengamati wajahnya. Diam karena masih belum siuman.
"Hei,bangunlah,biasanya kau akan berbicara seenak mulutmu itu."Ujarku padanya sambil menggenggam erat lembut jemari kekarnya.
"Jika kau tak bangun,aku tidak punya lagi rival untuk bertengkar,aku harap kau mau cepat siuman." Ucapku pada di sampingnya dan tertunduk
"Apakah enak tertidur lama, dan kamu lebih memilih berbaring daripada untuk bangkit."
"Hemmm, apakah sudah lelah dan penat di sini, aku kira kau muak dengan segala yang ada iya kan?"
"Semua orang mungkin akan berfikir seperti itu, dan memilih mengacuhkan dan diam."
"Daripada berusaha dengan segala kepenatan yang sangat memuakkan."
Gadis itu tetap berbicara saja di samping pria yang tertidur lelap sedari tadi. Walau pun pria itu tak dapat mendengarnya. Dia menangis dan diam setelahnya. Di sekeliling ruangan hawanya tiba-tiba sangat dingin walau AC dalam ruangan itu sedang tidak menyala.
Bersambung...