The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
186 "Kami Bertiga Sedang Berkumpul"



Ponselku pun bergetar...drrt...drtt...drrt...


"Yoeboseyo...hei kalian kemana?,aku masih di dalam gedung ini bersama anak kecil."Ucapku di dalam ponsel sambil mengamati keadaan.


"Aku lari keluar, karena ada alarm pemadam kebakaran yang sedang berbunyi."Ucap dari Persi dalam ponsel ini.


"Aish, itu ulahku, karena aku tidak mau banyak orang menonton adegan lagaku."Ucapku pada Persi dan melihat sepatuku basah karena air yang keluar dari atas gedung itu.


"Kau ini ,dimana-mana selalu melatih ototmu itu!"Ucap Persi padaku, dan dia pun aku kira sebal ya, karena selalu saja saat kami quality time pasti ada saja gangguannya.


"Hei, ini aku Mutiara, dengar aku tunggu di depan ya jangan lupa assalamualaikum."Ucap Mutiara dan menutup ponselnya.


"Waalaikum salam wr wb..."Aku pun menutup ponselku dan duduk di tepian , dan melepas sepatuku yang basah.


"Kakak, aku tadi melihat banyak orang pria yang ada disana, aku rasa kakak ini dalam bahaya."Ujar anak kecil ini sambil menatap aku dengan pandangan sendu.


"Benarkah?,Aku kira ini memang akan jadi hari yang panjang dik." Ujarku pada adik kecil ini.


Sambil tersenyum dan menggeleng-geleng kan kepalaku setelahnya.


"Tidak apa-apa kak, bukannkah pengetahuan kita sudah cukup, untuk melawan mereka." Ucap bocah cilik ini padaku sambil menatap kedua bola mataku sambil membawa tongkat kasti.


"Maksudmu kita berdua hafal struktur gedung ini, dan bisa lolos dengan mudah."Ucapku dan aku tersenyum setelahnya.


"Benar."Jawab dari adik kecil ini, dia pun memberikan tongkat kastinya padaku.


"Ini kak, buat senjata aku akan membantu kakak."Ujarnya ,aku yang melihat bocah ini ada perasaan ganjil dan magis, karena dia terlihat kecil namun di mataku dan perasaan ini seperti dia orang dewasa yang hidup lama namun menyamar sebagai anak-anak.


"Siapakah, bocah kecil ini?"Namun kata-kata ini hanya dalam benakku saja.Kenapa dia tiba - tiba muncul dan membawa tongkat kasti ini serta membantuku juga untuk memecahkan masalah yang sedang aku hadapi.


Setelah melepas sepatuku yang basah karena kucuran air dalam gedung ini, setelahnya aku memasukkannya kedalam tasku, aku pun tak memakai alas kaki, dan berjalan menyusuri area Mall ini.


Ternyata apa yang di ucapkan bocah cilik ini benar adanya, ada banyak pria atau preman yang sedang mengincarku, aku tidak tinggal diam. Aku mulai menghajar mereka satu per satu dengan tongkat kastiku.


Memukuli mereka dengan secara acak,


"Dik kau menyingkirlah dulu ya, karena kakak mau membereskan para berandal ini." Ucapku pada adik kecil ini lalu aku maju dan ternyata semakin banyak para preman-preman ini pun, yang mulai menyerangku secara berjamaah.


Kulihat para preman ini banyak sekali, aneh ya aku kan sedang berlibur kenapa mereka tahu ya jika, saat berlibur aku tak berlatih judo atau tidak bisa membaca buku, maka dari itu para preman ini dengan ikhlas memberikan ilmu tambahan agar aku bertambah kuat, sehat cerdas, dan juga tambah lihai dalam berbagai masalah yang akan aku hadapi kedepannya.


"Baiklah karena kalian, rela menjadi samsak ku akan mengabulkannya,hiyyaaaaa!" Seruku.


Aku pun memukuli wajah preman A beberapa kali, dan setelah itu merunduk dan menjegal preman B, setelah itu bangkit dan menendang mereka yang ada di depanku, mata elangku ini nampaknya sambil menghitung berapakah preman yang mengeroyokku ini.


"Sialaan,cckk banyak sekali kalah telak aku ini."Ujarku sambil mengumpat sebal karena jika para preman ini semua menghajarku, aku pasti kalah, jumlah dari mereka ternyata lebih banyak daripada yang aku duga.


"Kakak, aku sudah bilang aku tadi mengamati mereka ,gerak-gerik mereka sangatlah beda aku rasa kakak, memang di incar."Ujar dari bocah ini sambil mengamati mereka dengan sorot mata tajam.


"Lalu aku harus bagaiman Dik?, kalau begini Kakak akan kalah."Ujarku karena jika aku lelah pasti kalah, dan tak mungkin hanya gadis kecil seperti aku bisa mengalahkan banyak preman dalam sekaligus.


"Bagaimana kalau kita, melarikan diri lewat lift mau tidak?"Tanya adik kecil ini padaku.


Ternyata ada trolly belanja di depanku, aku pun memasukan bocah ini kedalam trolly dan kudorong sekuat tenaga....


"Sruuuut..."Bocah itu pun kedepan meluncur bebas dan berhenti menatap tembok, didekat supermarket yang ada di Mall ini.


Setelah ku pastikan dia aman, aku pun pergi berlari ke arah lain karena aku yakin, mereka hanya akan mengincarku saja, dan aku berlari mengambil bubuk lada dan masker penutup wajah, di dekat supermarket tersebut.Aku pun menutup wajah ku dengan masker penutup .


Tara aku pun memulai aksiku dan mulai membubuhkan banyak lada di dekat para preman tersebut.


"Rasakan ini, makanya jangan bodoh, belajar yang rajin ya."Ujarku sambil menumpahkan minyak untuk menghambat para preman yang sedang kelabakan karena bumbu lada pedas di mata membuat orang akan, hidung gatal dan juga bersin-bersin.


"Hacuh... hacuh..., sialan kenapa dia penuh tipu muslihat?" Ujar dari salah satu preman itu dan mereka sangat bodoh, maka dari itu jika mau menyerang lihatlah lawanmu, jika kalian tak mau di permalukan ok. "Reflection" 😂


Ada yang jatuh, karena terpeleset minyak di lantai, karena mereka kurang keseimbangan.


"Buk, gedebuk buk gedebuk...gedebuk."


"Dasar makhluk bodoh!, banyak tapi tak punya otak."Ujarku sambil berlari dan menghampiri trolly adik kecil tadi dan tersenyum setelah itu


"Ayo adik diam dulu, duduk dengan tenang kakak akan mengantarmu dengan selamat sampai tujuan ok."Ujarku seraya mendorong trolly berisi bocah kecil ini dan tongkat itu aku taruh dalam trolly juga siapa tahu masih ada sisa preman yang masih berkeliaran.


"Terimakasih kakak, sangat seru ya kak."Ujar dia sambil tersenyum senang, dia pikir ini sedang syuting film aktion, padahal ini nyata.


"Aish, hei anak kecil apakah kau tak mepunyai rasa takut?" Tanyaku padanya dan sambil menyusuri jalan ini.


"Aku sudah tahu, jika aku menghampiri kakak aku akan mendapatkan keseruan, benarkan?"


Ujarnya sambil menatapku, dan tersenyum seperti berandal tengik.Bocah dewasa.


"Hei, kau ini kan anak kecil kenapa bicaramu bisa melantur ?"Tanyaku pada anak kecil ini sambil menggelengkan kepalaku.


Memang anak kecil sekarang berbeda sekali dengan anak kecil jaman dahulu, karena saat seusiaku dulu umur segini masih polos dan hanya main petak umpet, bekel, main tanah, kelereng, main renang-renangan di sungai, dan masih poloslah.


Lihatlah anak kecil jaman sekarang wooow mereka berubah drastis, walaupun tak bisa di pungkiri lagi pada jaman sekarang memang sudah serba canggih, berbeda eralah semakin maju, tapi alangkah baiknya kita bijak dalam memberikan ilmu serta pengetahuan untuk para penerus Bangsa kita ini.


Khususnya untuk para anak muda-mudi kita lah ya, menjauhkan mereka dari hal yang tidak baik, misalnya ini ya film dewasa, atau juga kita bisa memberikan edukasi yang baiklah agar mereka lebih cerdas, teliti, hemat, pandai dan tetunya bisa memberikan semua akses Pendidikan dengan mudah dan ekonomis.


"Hemat pangkal kaya kan,boros pangkal miskin." 🤗 ok.


Khususnya untuk para generasi yang muda penerus Bangsa Indonesia yang benar-benar berkualitas. Inilah yang di sebut dengan kata.


"Ilmu yang bermanfaat di dalam Dunia dan Akhirat kelak."


Karena tak perlu lagi author jelaskan dengan panjang kali lebar kali tinggi ya, ini pastinya adalah Rumus Volume.


Karena misal ada yang tanya kenapa sampai akhirat juga ilmunya, jawabanya tentulah saja bisa di renungkan sendiri author yakin pasti akan mendapat syafaat dan hidayah.


Saranghae.... 🤩😍😘


Bersambung....