The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
185 "Kami Bertiga Sedang Berkumpul"



Aku mengambil tumpuan di samping dinding penopang, dari Mall ini lalu memulai salto 360° lalu saat aku di atasnya aku memukuli kepala mereka dengan tongkat kasti, seperti aku bermain gamelan, do re mi fa sol, dan kurang lengkaplah ya.


"Arggghhh sialan gadis ini!" Ucap dari salah satu preman tersebut sambil mengelus-elus kepalanya yang botak itu.


"Cling..." Bersinar terang.


"Wkwkwk" Author nyempil dulu.


Akupun mendarat dengan sangat sempurna sekali, bukankah ini yang dinamakan dengan lingkaran penuh , dan juga sudut 360° dalam Matematika adalah dari titik awal ke titik awal lagi.


Jangan lupa para reader ambil jangkar kalian, cobalah memutarnya kalian pasti paham apa yang di maksud dengan author.


Mereka semua merintih kesakitan, dan ada salah satu preman maju akan mengahajarku.


Aku pun, dengan sigap menghindarinya dan juga mengamati pergerakkanya agar aku tak terkena pukulannya,Ternyata mereka fokus untuk melukaiku, apa motif mereka kenapa aku kan hanya seorang gadis SMA dan badan ku juga kecil, aku sekolah di tempat yang tak berkualitas sama sekali, dan aku juga tak pernah sama sekali melihat beberapa preman ini.


Aku pun mencoba membaca fikiran dari preman ini, hmm apakah mereka ingin sekali menggertakku.


Aku pun menundukkan badanku lalu memukul kaki preman tersebut, dia pun mengerang dan berjingkit...


"Sialaaaan, gadis brengs**!" Gerutunya dan juga menyeringai kesakitan.


"Ayolah menyerah saja kau!, tahukah kau itu makhluk rendah, jika menyerang orang jangan sembarangan." Ucapku padanya sambil tersenyum tipis dan juga menyeringai.


"Hiyyyyyaaaaaa!" Dia mau menghajarku ya jangan mimpi ya, aku pun maju, menunduk sedikit lalu saat aku di belakang dirinya aku pun menggelengkan kepalaku dan memukul tengkuknya satu kali saja, pukulanku itu lumayan kuat dan dia pun tumbang...


"Brakkkk..."


"Hei, ayolah kalian buka mulut jika tidak aku akan menghabisi kalian semua !" Ujarku pada mereka semua dan menatap sisa preman yang akan mengeroyokku.


Semua pengunjung melihat kami dan ada beberapa orang mengambil gambar mereka.


"Dengar, lihatlah banyak para pengunjung dan kalian pasti habis ok, aku hanya akan bilang kalian adalah pencopet." Ujarku pada mereka.


"Dasar gadis sialaaaaan... hiyaaaa...!" Dia pun mendekatiku dengan cepat, karena ku tidak mau berlama-lama maka kakiku kanan yang gatal ini, menendang kedua bola yang ada di bawah tepatnya yaitu kehidupan para lelaki sejagad raya.


"Dug..." Cukup satu kali saja dan aku pun merasa sisa preman tak akan berani maju.


"The end..."


"Arggggghhhhhh!" Dia pun mengerang dan kesakitan.


"Ayo, siapa yang mau maju lagi?, jangan salah kan aku, karena aku ini bukan gadis soleha."


Gertakku pada mereka agar mereka bisa aku pukul mundur, eh ternyata mereka masih saja tak mau mundur.


Mereka tetap saja mengeroyokku, dan ingin memukuliku dengan cara membabi buta.


"Ok lanjutkan..."


Sisa para preman ini ternyata ingin sekali mengeroyokku, dan mereka sangat antusias.


Ya sudahlah, karena aku ingin adegan ini bertambah hot, aku pun mengeluarkan korek api, aku menatap di atap langit2 aku pun naik dengan tumpuan tempat sampah dan saat di atas aku menyalakan korek, dan tentu saja otomatis gedung Mall ini pun airnya keluar , serta ada tanda "Kriingggg..." seperti tanda kebakaran dan semua para pengunjung ini berhamburan keluar dari gedung Mall ini.


"Hei, setidaknya mereka biarkan pergi maka kita akan beradegan lebih manis ok."Ucapku pada mereka sambil menatap mereka dengan tajam.


Air yang membasahi lantai ini , membuat pergerakan lawan terhambat karena lantainya sangat licin, aku pun yang tahu duduk di atas tempat sampah berbahan besi, dan santai.


"Hei, semangat preman bodoh."Ujarku sambil tersenyum menyeringai ,dan menggelengkan kepalaku.


"Hei gadis kurang ajar!" Ujar dari para preman tersebut.


Aku pun mengembalikan tongkat kastinya. Pada adik kecil yang sudah mau membantu diriku ini.


"Makasih adik kecil, ini tongkat kastimu aku kembalikan ya, saranghae."Ucapku pada adik kecil tersebut dengan lemah lembut, mode anggun.Padahal aku juga bisa mode Iblis...


"Kakak aku ikut ya, karena Mamaku sedang berbelanja."Ujar dari anak kecil tersebut sambil memohon padaku.


"Sini ikut kakak."Ucapku padanya sambil menggenggam erat jari-jemari yang kecil dan lembut tersebut.


Kami pun meninggalkan para preman itu dan menuju tempat Persi dan Mutiara, ternyata saat aku sampai Persi dan Mutiara sudah pergi mungkin karena alarm kebakaran itu yang membuat mereka takut setengah mati.


"Aish, kenapa mereka pergi meninggalkan aku?" Ucapku dan mengerucutkan bibirku.


"Kakak, aku hafal struktur dari gedung ini."


Ucap dari anak kecil ini, aku pun terkejut.


"Aku juga hafal, memang kenapa dik?" Tanyaku padanya sambil mengamati ekpresi wajahnya yang sangat polos.


"Ehm, tidak apa-apa pasti Mamaku sedang mencariku,"ucap lirih dari bocah ini sambil menatapku.


"Tenang saja Kakak, akan mengantarmu dik tenang saja ok." Ucapku padanya dan berjalan menyusuri gedung.


"Apakah kau punya ponsel?"Tanyaku pada bocah ini sambil melihat ekspresi wajahnya.


"Tidak."Jawabnya dengan polos dan juga menggelengkan kepalanya.


"Tongkat kasti ini kau dapat darimana?" Tanyaku pada dia karena kenapa dia sudah memegang tongkat kasti, dan berdiri di sampingku.


"Ehm, aku memungutnya di jalan kakak."


Ujar dari bocah ini dengan polos dan sambil menundukkan badanya.


"Benarkah?, bukankah ini sangat kebetulan."


Ujarku namun dalam hatiku saja.


"Hem, ya sudah ayo kita keluar bersama-sama ok." Ucapku pada bocah kecil ini sambil berjalan.


Ponselku pun bergetar...drrt...drtt...drrt...


"Yoeboseyo...hei kalian kemana?,aku masih di dalam gedung ini bersama anak kecil."Ucapku di dalam ponsel sambil mengamati keadaan.


"Aku lari keluar, karena ada alarm pemadam kebakaran yang sedang berbunyi."Ucap dari Persi dalam ponsel ini.


"Aish, itu ulahku, karena aku tidak mau banyak orang menonton adegan lagaku."Ucapku pada Persi dan melihat sepatuku basah karena air yang keluar dari atas gedung itu.


"Kau ini ,dimana-mana selalu melatih ototmu itu!"Ucap Persi padaku, dan dia pun aku kira sebal ya, karena selalu saja saat kami quality time pasti ada saja gangguannya.


"Hei, ini aku Mutiara, dengar aku tunggu di depan ya jangan lupa assalamualaikum."Ucap Mutiara dan menutup ponselnya.


"Waalaikum salam wr wb..."Aku pun menutup ponselku dan duduk di tepian , dan melepas sepatuku yang basah.


Bersambung...


Stay tune ya dengan novelku sampai jumpa besok lagi , karena aku uda upload dua bab nich cukuplah ya, Saranghae para reader.