
Disisi lain Putih masih mengamati lomba puisi, tinggal satu peserta yang akan tampil dan anak itu ternyata masih belum hadir.
Aku rasa dia sedang istirahat melupakan kalau hari ini dia akan tampil membaca puisi, atau juga dia sedang demam panggung.
Kau tahu demam panggung tidak panas di badan dan juga tidak sakit, namun mentalnya sedikit kurang percaya diri, menakhlukkannya hanya ada satu cara yaitu dirinya sendiri
Mengendalikan tubuh serta pikirannya, dan juga harus bisa mau untuk percaya bahwa dirinya mampu untuk mengungkapkan isi hati serta ,percaya bahwa dirinya mampu tampil di khalayak umum.
Hal ini memang sangat sepele, namun masih banyak anak malu, demam panggung saat akan memasukki panggung, atau bisa disebut area pertunjukkan.
Memang sulit agar memberanikan dirinya sendiri, juga bertekad bulat mengalahkan, ketidak mampuan dirinya, aku pun memberi waktu agar dia bisa menjalin aliansi dengan perasan dan fikirannya.
Aku percaya semua siswa itu mempunyai keunggulan masing-masing, dalam bidangnya yang berbeda-beda, mulai kemampuannya, dan juga keunikan masing-masing dari bakat maupun juga hal yang difavoritkannya.
Aku rasa hanya perlu memberi waktu ekstra ya agar mereka benar-benar terlepas dari kata demam panggung tersebut.
Dan menjadi sosok lebih percaya diri dalam mengimprestasikan karya seni mereka, dan membuat hasil karyanya lebih bermutu, dan juga berkualitas.
Dan cuaca terang pun berganti hujan lebat saat ini, mereka jatuh indah menetes sangat dingin dan segar, menetes di tiap kulitku, aku masih tak beranjak dari kursiku, aku masih masih sangat setia untuk menunggunya dari bangkuku, tanpa menggeser badanku sama sekali dari tempatku ini.
Dalam hidup ini ada banyak hal yang harus kita kerjakan tak boleh membuang-buangnya
yaitu waktu, dengan sedikit pun, jika tidak kau akan menyesal untuk selama-lamanya, disini aku melihat semua pergi.
Dan meninggalkanku ya mereka semua para siswa baru yang tadi berkurumun, berubah kosong tak ada satu pun dari mereka mau, menunggu salah satu murid yang terahir akan membaca puisinya yang akan aku dengarkan walaupun puisi itu hanya satu baris saja.
Hujan ini dingin, segar menetes, jatuh dan berantakan acak, tak rapi, menyebar cepat kecil-kecil namun membuat genangan,dan juga bisa membuat banjir bandang.
"Ya Tuhan berkah ini mengapa bisa ya di buat para manusia?,hanya untuk sebuah ingatan di masa lalunya saja ?,"ucapku lirih dalam hati ini seolah air hujan paham oleh rasa sakitku, dan rasa syukurku.
Mereka berusaha mendinginkan rasa perih dan juga harapanku yang begitu kuat.
Aku tertunduk, bajuku pun sudah basah kuyup rambutku yang terurai, juga basah terkena air hujan
Namun hatiku masih menunggu dan yakin tak akan salah, bahwa seorang siswa murid dari anggota MOS tahun ini, pastilah bisa dengan mudahnya menundukkan egonya,dan bisa juga mengendalikkan demam panggungnya itu.
Walaupun mereka semua menjauhiku, hanya satu orang masih sangat setia padaku, dan dia mendekatiku, tanpa membawa payung ataupun hal lainnya, dia hanya menatapku dari samping tak mau berbicara sedikitpun.
Dia menatapku dari samping dengan tanda tanya besar pada hatinya saat ini , tak mau berkata karena hafal perangai diriku,yang tak suka sama sekali dan banyak pertanyaan, aku hanya mau bukti bukan sekedar janji bualan saja.Aku juga tidak terlalu suka bernegoisasi.
Dia mulai berdiri mematung diam memberi kepercayaanya kepadaku, sambil menatap diriku penuh makna perasaan mendalam.
Serta ketulusannya padaku terasa, walaupun dia tak mengucap kan satu kalimatnya saja.
Hanya menatapku tajam dari samping, dia pun menunduk dan tersenyum sangat tipis.
Aku hanya tetap fokus dan diam masih setia menunggu, dari salah seorang siswa pria atau wanita yang sedang berperang melawan ego dari malu menjadi murid yang mempunyai rasa percaya diri tinggi mau, dan tetap fokus untuk menakhlukan rasa yang siapapun juga pasti memilikinya, aku pun tersenyum melihat hujan, yang semakin deras.
Aku sangat suka main air hujan, dan berkah bentuk dari rezeki yang dapat memberikan banyak kehidupan untuk para makhluk di bumi ini.
Airnya sangat bermanfaat sekali Itu berarti rezeki berupa air dingin bisa mendinginkan tubuhku terkena sengatan sinar matahari sejak siang tadi.
Dia itu memberi masalah beserta penawarnya dalam sekaligus, jadi menurutku walaupun kita semua punya masalah, pastinya kita akan juga menemui pemecahan soalnya juga.
Aku pun tersenyum dan menatap Andromeda yang sudah mau bermain hujan-hujanan.
Lalu dia pun menyeringai sangat tipis sekali ala berandal tengiknya, namun dia adalah pria yang satu-satunya tahu, bahwa keinginanku ini lebih besar dari keadaan apapun, karena beberapa kali dia sudah tak mempercayai aku, dan juga mengeluarkan umpatan, serta kata-kata kasar nya yang tak berpengaruh sama sekali bagiku.
Setelah ia sadar maka ia berputar haluan dan sekarang berdiri di samping kananku, tanpa keraguan.
"Ayo adik kelas keluarlah!,Aku akan tetap disini menunggumu, agar Kau bisa mau maju dan memberanikan diri,belajar menghargai keberanianmu itu."Ucapku dengan lantang pandangan lurus tahu kalau akan kedatangan tamu aku pun tetap fokus.
"Aku percaya kalau kau hanya malu saja, ayo bacalah karyamu ,setidaknya berani mencoba tanpa takut kegagalan, itu lebih baik daripada kita menyerah sebelum tahu gagal atau tidak."
"Ayolah, hanya hujan tidak apa-apa!!!"
"Aku menunggumu ok."
Ternyata lapangan yang tadinya, kosong satu persatu mereka mau berdiri bermain hujan bersamaku.
Mulai dari Daniel berdiri di samping kiriku,dan Erick berdiri mematung terlihat dari kejauhan, semua anggota OSIS yang tahu tekad bulatku mau berdiri, dan mereka merelakan bajunya basah terkena hujan yang jatuh berantakan ini.
Hujan juga berpihak padaku, terlihat sedikit demi sedikit para siswa, atau murid baru hadir memenuhi lapangan ini dan hampir penuh, bak kolam ikan mereka sudah penuh sesak hanya tinggal satu siswa saja yang belum hadir.
Kami memberi kekuatan untuk dirinya agar tak malu lagi,menunjukkan apresiasinya itu.
"Kami menunggumu kawan, kami akan mau memberi dukungan kami ,agar kamu tak malu lagi." Ujar dari salah satu siswa lainnya, dari kerumunan.
"Ayo... maju... ayo maju...maju jangan malu!!" Ujar dari para murid dengan bermandikan air hujan. Kami semua pun bermain air hujan dan basah kuyub untuk memberi semangat pada salah satu murid yang akan maju membaca puisi tersebut.
Aku tersenyum dan yakin dia saat ini masih dalam perjalannan melangkahkan, kakinya yang mantap itu, dan memberi tahu dunia ini
"Aku akan mengahadapi semua hal tanpa takut , aku juga akan bersemangat."
Bersambung...