
Anggaplah ini visualisasinya ya para reader agar kalian bisa sangat takjub dengan ,yang namanya makhluk yang tak bisa bicara dan padat ini, serta mampu menggerakkan fikiran dan perasaan kita, menerangi seluruh Alam bak lentera di malam hari, dan juga kunang- kunang yang mampu menerangi sang malam.
Atau juga bisa di sebut jembatan yang sangat rela dan ikhlas, kau pijak dan injak di bawah kakimu yang bau serta kotor itu tanpa marah sedikitpun.
Ya itulah dunia literasi atau buku, yang bisa membuka jendela wawasan pengetahuan kita ya kan para reader semua, semangat berkarya dan anggap semua kita bersahabat untuk selama -lamanya.
Aku pun mengingat hari ini aku sangat ingin menghabiskan waktu, dengan kedua sahabat imut serta cantik jelitaku, maka aku pun pamit pada semua buku suci yang ada di depan mataku ini.
"Dengar lain kali aku pasti hadir ok, tapi untuk hari ini tidak , karena ada dua bidadari surga sedang ingin bercengkrama denganku ya."
Ucapku lirih dan lembut pada mereka padahal dalam lubuk hatiku, aku ingin mampir walau hanya memegang covernya saja.
Namanya juga sahabat iya kan.Pasti saling bertanya kabar.
"Ah... kau tak seru sama sekali."Ujar dari buku sastra,dengan amat sangat kecewa dia pun mengerucutkan bibirnya dan membuang muka padaku.
"Tumben dia seperti ini, apakah kau sedang malas?"Tanya buku puisi sambil memandang diriku.
Aku hanya menggelengkan kepala kepadanya
"Aish... pasti dia ada kencan mulai melupakan kami."Ujar dari buku sejarah dan membuang muka padaku.
"Aniyo chinghu," jawabku sambil menggeleng kan kepalaku beberapa kali agar mereka tidak kecewa ,karena hari khusus aku mau nongki sama teman-temanku,artinya tidak kawan, itu bahasa Korea.
"Biarkan saja ,untuk hari ini dia pasti ingin bercengkrama dalam dunianya yang nyata." Ucap Buku Matematika dengan tegas dan menatap kedua bola mataku.Dia itu sahabat sejatiku untuk saat ini dan selama-lamanya.
Dan tersenyum padaku karena hanya dialah yang paling mengerti dan paham sekali aku.
Dalam situasi terberat pun, dia akan tetap memberiku semangat 45 yang tak bisa di berikan oleh makhluk apapun di muka bumi ini, bahkan manusia sekalipun, maka dari itu aku malah lebih suka berteman dengan buku.
Apalagi buku Matematika yang tak di sukai ini sama halnya denganku lah, aku selalu terkucil dan juga di remehkan semua orang, selalu di anggap rendah apalagi ya nilai angka diriku hanyalah 0 yang mungkin jika aku tak ada ,tak akan berpengaruh dan berkonstribusi dalam hal apapun, namun demikian akan tetap saja selalu semangat setiap hari . Walaupun nilai angka 0 tetap bersemayam pada diriku.
Dan aku berharap mereka makin banyak di lihat dan di baca agar para generasi penerus Bangsaku cepat bangkit dan bisa memerangi kebodohan atau kejahiliyahan... ya layaknya pada jaman dahulu.
Aku pun berlalu dan berjalan menyusuri tiap inci Mall dan sampai di meja Persi, Mutiara.
"Wah kalian pesan camilan banyak sekali."
Ujarku pada Persi dan Mutiara yang sedang menungguku saat ini untuk bercengkrama.
"Tentu saja corndog ini kan kesukaan kita iya kan Persi?"Tanya Mutiara sambil menggigit corndog hangat di bibirnya dan melumer keju mozarela, serta rasa gurih dan enak mantul pokoknya ya cobalah pasti haucek kawan.😉
"Makanlah Put, aku yakin kau pasti akan suka dan melumer..." Ucap dari temanku Persi ini sambil tersenyum manis kepadaku, seperti bak senyuman bidadari yang bertemu juga dengan sahabat bidadari lainnya.Padahal aku hanyalah manusia biasa yang mau berteman dengan para bidadari-bidadari ini.
"Baiklah aku makan, enak sekali."Ucapku pada mereka sambil menggigit corndog,yang tak diragukan rasanya sangat mantul dan enak bingit.
"Wah ada dorayaki juga ternyata, kalian ini mau berkuliner ya, rasa coklat bukankah ini rasa kesukaanku."Ujarku pada Persi dan juga Mutiara sambil menaruh corndog ku.
Dan mengambil satu dorayaki rasa coklat ini sambil menggigit serta merasakan rasanya yang lembut, dari kue doraemon berasal dari Negara Jepang yang sangat terkenal itu.
"Hei Put , karena tadi aku terburu-buru maka aku lupa membawakan oleh-oleh buat kalian berdua ."Ujar dari Mutiara padaku dan pada Persi juga.
Terlihat wajah cantiknya itu mulai masam dan kecewa ,takut kalau aku akan marah jika ia tak membawakan buah tangan kepadaku dan Persi.
"Tenang saja bidadari, kau tahu oleh-oleh yang sangat aku inginkan apa?"Tanyaku pada Mutiara sambil memandangi wajahnya itu dengan sangat amat serius sekali, aku ingin dia menebak aku marah, padahal aku hanya sedang mengerjainya, jangan bilang siapa- siapa para reader.Akting amatir dari Putih gak kalah ya sama , aktris papan atas dari Korea Selatan manapun lah.
"Aish... apakah itu sepatu Raja Fir'aun yang ingin sekali kau mengoleksinya?"Ujar Mutiara menebak isi fikiranku saat ini dan takut aku akan memarahinya.
Dan Persi hanya bengong tak mengerti sama sekali, apa yang di bicarakan Mutiara dan Aku
"Tentu saja gadis soleha, mana sepatu Fir'aun nya, kan kau sudah berjanji mau memberikan padaku apakah kau lupa?" Tanyaku kepada Mutiara dengan nada sangat marah sekali atau nada tinggi .
Sebenarnya aku menggoda Mutiara namun dia malah, seirus menanggapinya, eh maaf serius maksud eike.
"Ayolah, mana ada sepatu raja Fir'aun Put, kau minta lainya saja, kau ini selalu mempersulit diriku, aku tahu kau meledekku kan ,kalau aku bukanlah wanita soleha sebenarnya?" Suara lembut dan lirih Mutiara bagiku ini suaranya mirip, lantunan ayat suci karena dia memang sangat soleha, tak pernah marah dan juga selalu mengajariku agar bersikap lemah lembut dan penyayang kepada siapapun.
"Aku hanya bercanda tak usah di anggap serius. hihihi....." Jawabku pada Mutiara
Bersambung...
"Kata kiasan itu biasanya di ungkapkan untuk sindirian, namun terkadang kata sindiran juga di katakan melalui kiasan."
"Kata hanyalah kata, namun mereka bernilai jika hal itu mempunyai makna yang terdalam bisa merubah seseorang menjadi lebih baik."
~Pungkies*~