
Di kamar VVIP atau Naratama, Rion masuk ke dalam kamar , karena dia tahu kalau Putih ini sedang tak sadarkan diri karena perbuatan Pleidas waktu itu, membuat Rion pun sangat hawatir.
Dan Rion saat ini sedang duduk di samping kamar Putih, lalu dia pun memandanginya bak adik kembarnya.
"Bangunlah Putih, aku ingin kau bangun ayo kita pergi dari sini." Ucap Rion lirih pada Putih.
"Hei, aku tahu kau tak takut apapun, dan aku sangat khawatir tahu, apakah ini ulah pleidas? " Tanya Rion sambil menatap Putih yang sedang terbaring pingsan.
Tak lama Putih pun bangun dari pingsannya, dan mulai membuka kelopak matanya yang indah itu.Dan mendapati Rion di sampingnya.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Putih pada Rion sambil melihat wajahnya yang sendu.
"Kau berani sekali, banyak orang yang mau membalas dendam padamu, apakah itu ulah Pleidas?" Tanya Rion kepada Putih sambil melihat ekspresi wajahnya.
"Aku tidak tahu, hanya saja aku tadi di suruh mengambil ponsel milik seorang gadis," ucap dari Putih polos, aku tahu karena ada orang yang bilang Andromeda membawamu kesini ke Rumah Sakit.
"Siapa?" Tanyaku pada Rion dengan sangat penasaran.
"Temanku, dia ada di dekat sekolahan." Ucap dari Rion sambil menatap wajah Putih.
"Hei, tak bisakah kau berteman lagi dengan Andromeda ,aku ingin kalian berdamai nanti kita berpiknik dari Sabang sampai Merauke *mau tida*k?" Tanya Putih sambil tersenyum agar Rion mau berbaikan dengan Andromeda.
"Sebenarnya, adikku meninggal karena sakit, dia mempunyai penyakit yang tidak bisa di sembuhkan." Ucap dari Rion lalu menundukan wajahnya, terlihat sedih dan matanya pun berkaca-kaca.
"Lalu kenapa kau membenci Andromeda?,dia itu baik menurutku,cuma mulutnya saja masih belum punya tata tertib."Ujar Putih sambil tersenyum agar Rion sedikit terhibur hatinya.
"Ariana sangat menyukai Andromeda, dan Andromeda tidak mau menerima cintanya." Ucap dari Rion dengan kecewa serta sedih.
"Apa yang salah?,Andromeda memang benar dengan begitu kan tidak saling menyakiti." Ucap dari Putih pada Rion sambil mengamati ekspresi Rion yang sedang sedih.
"Maksudku, aku berharap hanya berpura-pura saja , untuk membuat hati Ariana senang dan untuk sementara saja."Ujar Rion pada Putih yang sedang duduk di Kamar Rumah Sakit.
Rion bermaksud agar Andromeda sahabatnya itu, mau berpura-pura untuk menjadi kekasih sementara waktu, karena Ariana sakit keras.
Namun Andromeda tetap bersikukuh, untuk tidak mau berpura-pura karena Andromeda hanya akan menyukai orang, yang di anggap nya benar-benar dicintainya dengan tulus dan suci dalam hatinya. Karena selama ini tuan muda ini adalah pria kesepian, banyak orang yang meninggalkannya satu demi satu. Dan tak punya teman sejati, maka dari itu Putih adalah cinta pertamanya dia menganggap dia orang paling tulus untuknya saat ini.
"Kalau begitu, tetap saja itu cinta bertepuk sebelah tangan Rion, kau tidak bisa memaksa Andromeda!" Ujarku pada Rion agar mau berdamai dengan Andromeda lagi seperti dahulu kala.
"Selesaikanlah dengan baik-baik ,apa perlu bertengkar selama ini, ayolah ya mau ya." Ucapku membujuk Rion agar masalah cepat terselesaikan kami pun berdamai semuanya.
"Kemana Andromeda sekarang?"Tanya Rion kepadaku sambil berkaca-kaca.
"Tidak tahu, ambilkan tasku Rion."Kataku pada Rion sambil menunjuknya tasku yang berada di atas meja tersebut.
"Baiklah,aku akan mengambilkanya untukmu."
Ucap Rion dan mengambil tasku, ternyata tasku pun jatuh ,lalu semua isi dalam tasku berserakkan di lantai, Rion mengambili dan memasukkan kembali di dalam tasku .
"Makasih ya Rion." Ucapku pada Rion .
Ternyata foto Ayahku jatuh di lantai dan Rion pun mengambilnya, lalu ia pun memandangi foto Ayahku dengan sangat amat terkejut.
"Apakah ini foto Ayahmu?"Tanya Rion padaku sambil menatap kedua bola mataku.
"Benar sekali, mirip artis korea kan tampan kan." Ucap dari Putih sambil tersenyum pada Rion.
Ini adalah foto dari Ayah dari karakter Putih di Novel ini.
"Hik...hik...hik.."
"Kenapa kau menangis, aneh sekali kau ini?"
Ucap Putih sambil tertegun pertama kalinya melihat Rion menangis di depan seorang gadis.
"Ayahmu lah, yang menyelamatkan kami dari kecelekaan beberapa tahun yang lalu," ucap Rion padaku sambil menangis.
"Iya memang tugas Ayahku untuk membuat semua makhluk Tuhan bisa di selamatkan."
Ucap Putih dengan polosnya karena memang Ayah Putih yang bernama Bern ini adalah pemadam kebakaran.
Jadi sudah tugasnya untuk menyelamatkan semua orang yang kesulitan, dari kebakaran, kebanjiran, hewan terjebak, kecelakaan lalu lintas dan lain-lain.
"Bukankah dia seorang super hero Rion dalam Dunia nyata ini, ayolah bersatu kita teguh dan *bercerai kita akan runtu*h." Ucapku pada Rion.
"Baiklah aku akan minta maaf, namun kau tahu orang yang memukulimu dan menyamar sebagai preman, itu adalah anak buah Diego."
Ucap Rion sambil menatapku, dia benar-benar menyelikidi salah ya menyelediki kalau Diego ternyata ingin membalas dendam, karena tempo hari kalah bertaruh denganku serta Chelsea yang sudah aku selamatkan.
"Rumit sekali ya Rion, lumayanlah aku bisa beristirahat untuk hari ini...haaaa." Jawabku pada Rion sambil menguap.
"Besok penutupan acara MOS lalu kita bisa berpiknik ok,"ucapku pada Rion sambil tersenyum kepadanya.
"Kemana ya Andromeda kenapa lama sekali?, padahal biasanya dia tidak pernah keluar." Ucapku pada Rion sambil mengamati raut wajahnya yang sendu.
"Kau ini jangan bilang siapa-siapa, ya kalau aku sudah menangis ok." Ucap Rion padaku.
"Apakah Rahasia?"Tanyaku kepada Rion.
"Tentu saja ini rahasia kita berdua ok." Jawab Rion dan pergi ke kamar mandi dan menyeka wajahnya.
"Dasar kenapa para pria ini?, sangat suka menangis apa dia seorang gadis? hihihi."
Ucap Putih sambil meringis dan menggeleng kan kepalanya.
Beberapa saat kemudian ternyata Daniel dan Andromeda masuk ke dalam kamarku.
"Hei, kau sudah siuman, ckkk kenapa kau saangat bodoh sekali?, kau tidak tahu hal itu sangat berbahaya."Ucap Andromeda padaku.
"Aku hanya menyelematkan ponsel, yang ada foto Ibu dan Ayah gadis itu."Ucapku pada Andromeda sambil menggaruk rambutku.
"Aku tahu, tapi kan sangat berbahaya pada dirimu itu, dasar bodoh."Ucap dari andromeda
"Aish... kau ini, kalian darimana?"Tanyaku pada Andromeda dan Daniel saat ini.
"Aku dari kantin sedang makan, apakah kau lapar?"Tanya Daniel padaku.
"Aku tidak lapar, hanya ingin cari angin segar."
Ujarku pada Daniel sambil keluar kamar Rumah Sakit.
Bersambung....
"Sejatinya kata teman, dan persahabatan itu ada namun seperti mencari sebuah intan permata yang hilang di telan kenyataan."