The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
BAB 164 PERSAMI 20 "Poem"



Ternyata lapangan yang tadinya, kosong satu persatu mereka itu mau berdiri bermain hujan bersamaku.


Mulai dari Daniel berdiri di samping kiriku,dan Erick berdiri mematung terlihat dari kejauhan, semua anggota OSIS yang tahu tekad bulatku mau berdiri, dan mereka merelakan bajunya basah terkena hujan yang jatuh berantakan ini.


Hujan juga berpihak padaku, terlihat sedikit demi sedikit para siswa, atau murid baru hadir memenuhi lapangan ini dan hampir penuh, bak kolam ikan mereka sudah penuh sesak dan hanya tinggal satu siswa yang belum hadir.


Kami memberi kekuatan agar tak malu lagi, dalam menunjukkan apresiasinya itu.


Aku tersenyum dan yakin dia saat ini masih dalam perjalannan melangkahkan, kakinya yang mantap itu, dan memberi tahu dunia ini


"Aku akan mengahadapi semua hal tanpa takut sama sekali, aku juga bersemangat."


Namun hujan ini pun perlahan-lahan berhenti mereka kemudian, menyusut, menghilang, seperti di telan bumi, aku melihat seperti film di flasback alurnya mundur dengan cepat.


Seperti di tarik dari belakang, namun dengan kecepatan sangat tinggi, tinggi sekali, maka seperti kibasan kilat sang ultra sonic itu pun dan kembali sedia kala.


Aku tersenyum melihat keadaan yang sangat jarang terjadi ini,awan kelam yang hitam dan tadinya itu memberi suasana sendu berubah drastis membawa suasana cerah.


Bak suasana menyambut seorang Malaikat yang turun dari langit menuju bumi,berpendar dan bewarna keemasan, serta sangat hangat.



Aku terkesima dengan pemandangan yang indah ini, bewarna keemasan dan lebih dari perasaan yang sangat luar biasa,kau tahu ya memang tidak bisa di ungkapkan kata-kata.


Ternyata anak itu berlarian menuju lapangan, dia itu adalah seorang gadis kecil tekadnya besar, gadis itu pun melewati jalan, terlihat sangat indah berpendar juga .


Bak seorang bidadari kecil ia, berlarian sambil mengatur nafas, dia mendekatiku dan juga menatap wajahku yang basah.


Karena sisa-sisa air hujan jatuh membasahi bumi itu, aku pun sangat terharu sekali, dalam hatiku sangat bangga, karena kepercayaanku kepada gadis ini tidak sia-sia.


Terbukti dia di depanku saat ini menatapku dengan hangat sekali.


Siswi ini sangat cantik anggun, tergambar jelas bola matanya berbinar terlihat jika ia adalah calon dari orang hebat.


Salah satu putri bangsa akan berprestasi, dan mengharumkan nama Negara Indonesia ini, dia menatapku dengan tatapan bangga.


Karena ia sudah membuat karya puisi serta berterimakasih juga, karena dia sudah di beri kesempatan membacakan puisi miliknya itu.


Walau sebenarnya saat itu dia ingin sekali tidak hadir, dan menghindari acara ini dia bermaksud untuk pura-pura lupa, ternyata tekad dia mengalahkan demam panggungnya memilih maju membacakan puisi miliknya.


Dia paham sedang bertaruh saat ini, walau dia kalah tak masalah, karena kata kekalahan sejatinya adalah hanya kata-kata.


Tak berarti sama sekali, yang barharga apa, tentunya yaitu waktu yang sangat beharga, karena jika sudah berubah hari maka, akan menjadi hari esok dan basi untuk di perbaiki maupun diratapi tak bisa di ulang kembali.


Aku tersenyum karena dalam tatapannya,


banyak makna yang harusnya aku artikan.


"Hemm ...Ya Tuhan Kau sangat baik sekali keyakinanku tak meleset sama sekali." Batin


Badanku kedinginan, namun tidak hatiku terasa hangat saat ini, seperti bara api masuk dengan perlahan-lahan.


Dia menyusup seperti tentara dan memberi kehangatan yang menjalar juga merambat pada setiap organ tubuhku.


Jantungku membara seperti api unggun, ia juga memberi kesempatan para jagung, sate , dan lain-lainnya itu mendekat agar matang merata.


Ternyata awan pun sekarang ceria kembali juga memberi dukungan penuh pada gadis ini


Pemandangan langit indah bewarna-warni memberikan efek bahagia, pada semua siswa di lapangan ini, aku melihat awan ini seakan ada sebuah pelangi yang membentang ceria bewarna.



Aku pun tersenyum melihat bayanganku yang hanya bisa aku lihat sendiri, entah ini Delusi atau Halusinasi, atau juga Ilusi yang aku tahu ini sangat indah sekali, walaupun masuk dalam gerbang bayangan yang hanya aku saja bisa menikmatinya dan memahaminya.


"Kakak maafkan aku ya."Permohonan maaf gadis itu padaku ,membawa secarik kertas


"Iya tidak apa-apa."Jawabku padanya sambil menatap wajahnya yang mungil itu.


"Kemarilah."Ucapku padanya dia pun mulai mendekat padaku.


"Baiklah kakak."Suara lembutnya terdengar di telingaku ini memberiku semangat agar bisa melanjutkan lomba puisi hari ini.


"Tap...tap...tap..."Suara langkah kakinya itu mulai terdengar mantap dan tegas, terdengar bahwa dia tidak demam panggung sama sekali


Dia pun sudah ada di depanku menatap diriku dengan dekat.


"Siapa namamu?"Tanyaku pada gadis kecil ini.


"Namaku Novi kak."Jawab dari adik kelasku sambil tersenyum manis sekali.


Terlihat senyumnya bak permen kapas yang di jual di pasar malam.


"Aku rasa kau sudah mengumpulkan semua tenagamu itu memberanikan dirimu iya kan?"


Tanyaku dan tersenyum setelahnya pada Novi adik kelasku.


"Iya aku rasa aku akan mecoba membacanya dan , akan berusaha." Ujarnya dengan lirih .


"Iya berusahalah, walaupun itu tak sebagus harapan kita, lebih baik kita berani mencoba ." Ujarku lagi dan menatap wajahnya yang malu


"Lagipula, daripada mundur lebih baik maju tanpa harus, mengetahui hasilnya." Ujarku lagi


"Iya kak, dan aku sebenarnya ya sangat malu, walaupun sudah terpilih puisiku ini untuk di baca di depan lapangan." Ujarnya lagi dengan tersenyum, tertunduk setelahnya.


"Jangan malu , karena tak perlu menang atau kalah, yang penting usaha kita lah, membuat kita lebih semangat." Kataku lirih dan melihat langit berubah sangat cerah sekali.


"Aku menunggumu dari tadi, lihatlah semua mau memberi semangat, jangan lupa kalau kami tak ada yang akan mempermalukanmu."


Ujarku lagi pada gadis bernama Novi yang cantik jelita ini ,sudah mau berusaha keras membuat puisi cantiknya berpartisipasi.


"Iya kak, aku tahu dari kejauhan kakak, mau menungguku dan rela basah kehujanan."Ucap Novi padaku ditangannya membawa kertas yang terlihat sedikit kusut.


"Dan semua teman-teman, aku sangat terharu aku akan semangat membacanya, dan tidak akan mempermasalahkan demam panggung lagi." Ujar dari adik kelas yang bernama Novi dengan penuh semangat


"Baiklah, aku menantikannya, pastikan kamu bisa." Ujarku lagi dan tersenyum bangga pada dia yang mau berani tampil membaca puisi cantil hasil karyanya untuk Negeri ini.


Sepucuk Kertas yang di pegang Novi sangat lusuh, namun karena tergesa-gesa ,mungkin kertas tadi sempat jatuh di lantai ,kulihat ada bekas noda di sepucuk kertas itu.


Itu pertanda kalau sudah berlatih berkali-kali namun masih ragu untuk membacakannya di depan umum...


Bersambung...