
Dua belas tahun yang lalu Putih kecil saat itu berusia 4 tahun , dan usia tersebut, adalah usia dimana anak-anak akan disayang oleh ibunya , dan berharap akan dimanja, dipeluk
dicium, serta di peluk setiap saat olehnya.
Namun tidak dengan gadis kecil ini ,dia tidak mempunyai ibu semenjak dia dilahirkan. Keadaan tersebut membuat gadis ini sangat penasaran, dengan sosok ibu yang biasa dimiliki semua anak di dunia ini.
Bahkan suatu hari dia juga rela menukarkan semua permen dan semua hadiah pemberian dari Ayahnya , berharap dia akan bertemu dengan ibunya.
Di suatu pagi Putih yang sedang bermain dan berlarian sana-sini dikejutkan dengan suatu pemandangan yang tidakk pernah ia lihat sebelumnya.
Dia duduk di depan teras rumah seseorang
dan menatapnya dengan amat sangat serius.
"Nak ayo ibu suapi ya, buka mulutnya!"Kata seorang ibu yang tak lain adalah tetangga Putih, sambil menggendong anaknya , dan memasukan suapan demi suapan makanan kepada anak tersebut.
Anak yang di gendongnya ternyata sangat rewel sekali ,dan menangis dengan kencang.
"Hua...hua... hiks...hiks... huhu...hu!"Suara tangisan bayi tersebut terdengar keras sekali.
Namun ibu tersebut pun, lalu mengalihkan perhatiannya kepada burung yang terbang di langit . Ajaibnya anak kecil tersebut berhenti menangis seketika dan mau makan makanan itu lagi.
Putih yang penasaran,tetap duduk tenang dan mengamati orang tersebut.Dan karena Ibu itu kira Putih lapar menginginkan makanan maka dia mendekati Putih kecil dan memberinya sepotong roti rasa coklat.
"Hei nak! apakah kau lapar ,ini roti rasa coklat kau pasti akan menyukainya!"Kata Ibu itu dengan lirih dan lembut kepada Putih.
Namun Putih menggelengkan kepalanya saja tanda ia tak mau menerima roti tersebut.
Dan orang itu nampak bingung kenapa anak ini tidak mau menerima pemberiannya.
"Apa kau mau permen?,tante punya beberapa permen di dalam rumah!"Kata Orang tersebut sambil masuk ke rumah mengambil permen dan memberikannya kepada Putih.
Dan Putih pun menggelengkan kepalanya lagi, tanda tidak mau menerima permen dari orang tersebut.
Kemudian orang tersebut duduk di samping Putih, sambil menanyakan apa keinginannya, sehingga dia pun mengamati seorang ibu tersebut.
"Kau menginginkan apa nak?,jika roti dan permen kau menolaknya!"Kata orang itu kepada Putih .
Namun Putih hanya diam tak menjawab. Kemudian berlari menuju rumahnya.
Ternyata hari ini Ayah Putih kecil sedang tidak bekerja ,dia sedang memasak di dapur sambil menyanyi,dan menari untuk menghibur Putih agar tersenyum.
Namun Putih kecil pun tetap diam dan tak tersenyum sama sekali,setelah beberapa saat Ayah Putih membawa nasi goreng bersama telur mata sapi kesukaanya dan menaruhnya di meja makan.
Namun Putih yang amat nakal saat itu tidak memakannya namun,menumpahkan nasi goreng tersebut ke atas lantai dan seketika berserakan.
Anehnya Ayah Putih tidak menegurnya sama sekali ,namun dengan segera membersihkan lantai dengan sabar.
"Putih sayang , lain kali makananya harus dimakan ,jika jatuh terbuang maka nasinya akan menangis!"Kata Ayah Putih kecil dengan sabar dan lemah lembut, seperti memerankan peran seorang ibu. Karena disini peran Ayah yang tak mempunyai istri maka ia akan selalu merangkap tugas seorang ibu.
Dan Putih kecilpun mulai berbicara kepada Ayahnya.
"Ayah dimana ibuku saat ini?"Tanya Putih kecil kepada Ayahnya tersebut dengan polosnya dan menatap wajah Ayahnya.
"Ibu saat ini pergi ketempat yang sangat jauh!"Kata Ayah Putih lirih,dan meyakinkan Putih agar percaya bahwa ibunya saat ini berada di tempat sangat jauh.
"Apakah ,kita bisa menjual semua permen dan semua kado dari Ayah kepadaku untuk menemuinya?"Kata Putih kecil yang polos itu.
Selang beberapa menit Ayah Putih keluar dari kamar mandi dan menghampiri Putih.
"Bagaimana kalau kita hari ini jalan-jalan ke taman yang banyak bunga, serangganya, dan juga membeli juga beberapa camilan yang enak!" Bujuk Ayah Putih kepada putri kecilnya.
"Baiklah aku mau makan es krim"!Kata Putih kecil kepada Ayahnya tersebut.
Sesampainya di taman bunga Ayah Putih melebarkan tikar di tempat yang teduh , dan suasana hari itu begitu sangat cerah, semilir angin sepoi-sepoi meniup helaian rambut Putih kecil saat itu, terbang tertiup angin mereka menikmati suasana piknik dengan hangat dan santai.
Putih kecil saat itu sedikit melupakan ingatan tentang ibunya,dan berlarian mengitari taman yang luas dan indah itu.
Beberapa kali dia terjatuh karena berlarian kesana kemari , namun ia tidak menangis sedikitpun. Ayahnya pun menghampirinya dan melihat apa ada luka di kaki gadis kecilnya tersebut.
"Apakah,kau tidak apa-apa ?"Tanya Ayah Putih sambil menundukkan badan di samping Putih kecil.
"Iya tidak apa-apa kata Putih,aku punya ini!"
Kata Putih kecil sambil menunjukkan plester kecil kepada Ayahnya,bermaksud jika terluka maka ia akan menempelkan plester tersebut kelukannya.
Ternyata pandangan Putih pun tertuju pada seekor kupu-kupu yang mati dan tergeletak di rumput , dan ia pun mendekatinya.
"Lihat Ayah kenapa kupu-kupu ini diam dan tak bergerak?"Tanya Putih kepada Ayahnya karena Putih kecil saat itu tidak mengetahui arti dari kata kematian.
"Apakah kupu-kupu itu haus dan lapar?"Tanya Putih lagi kepada Ayahnya dengan sangat amat penasaran.
Kemudian Ayah Putih menjelaskan bahwa Kupu-kupu tersebut sudah mati.
Serta memberi penjelasan tentang kematian pada anaknya tersebut.
"Sayangku kupu-kupu itu telah mati , maka tubuhnya tidak kan pernah akan bergerak , berhenti mengepakkan sayapnya , berhenti menghisap madu , berhenti bermain-main,dan tak bisa berbuat apa-apa?"Kata Ayah Putih kecil saat itu.
"Semuanya yang hidup ini akan mati, dan tak bergerak atau bermain, dan juga pasti akan hancur!"Kata Ayah Putih menjelaskan dengan lemah lembut kepada Putri kecilnya tersebut.
Akan tetapi dengan anak seusianya itu, dia ya tidak akan pernah mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh ayahnya, namun ia bertanya kepada Ayahnya .
"Apakah itu sangat menyedihkan?"Tanya Putih kecil kepada Ayahnya.
"Tidak! "Jawab Ayah Putih dengan lirih sambil menahan tangisnya.
Dan beberapa saat Putih pun di ajak Ayahnya pergi membeli Es krim dan juga camilan yang ia sukai , Ayahnya berharap agar Putih tak bertanya tentang Ibunya lagi.
"Apakah kau senang?,Ayah akan mengajakmu ke tempat yang lebih menyenangkan , saat Ayah libur minggu depan, dengan syarat Putih tidak boleh nakal, dan membuang makanan sembarangan!"Kata Ayah Putih dengan sabar dan lemah lembut. Ayah Putih bermaksud agar putrinya tersebut tidan nakal lagi.
Putih pun asyik memakan es krim nya dan mengangguk tanda mengiyakan syarat yang Ayahnya ajukan kepadanya.
"Ayah mau ke kamar mandi sebentar kamu tunggu di sini !" Kata Ayah Putih kecil dan pergi meninggalkannya menuju toilet.
Saat itu Putih kecil melihat ada seorang anak laki-laki berambut merah berada di luar toko terjatuh dan terluka , kemudian Putih kecil pun menghampirinya .
"Hei , anak berambut merah ,kakimu terluka pakailah plester ini !"Kata Putih kecil sambil menempelkan plester di luka anak berambut merah tersebut.
Ternyata Ayah Putih yang datang ,mengajak Putih pergi pulang ke rumahnya. Karena nampaknya langit sedikit mendung dan tanda akan turun hujan.
Bersambung...