The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
199 "Piknik di Pantai Pink Lombok Timur"



"Apakah sangat sakit?"Tanyaku pada Rion.


"Iya, tapi karena aku seorang pria tentu ini sudah biasa."Ujar dari Rion padaku sambil tersenyum tipis.


"Aku harap, teruslah bersahabat dengannya, jangan sampai mudah di adu domba oleh siapapun." Ujarku pada Rion sambil menatap wajahnya dengan tajam dan intens.


Aku harap kami bisa saling percaya satu sama lainnya. Dan menjalin ikatan batin.


"Pasti aku akan selalu berteman dengannya." Ucapnya lagi dengan tulus dan juga jujur.


Aku rasa Rion ini bukanlah warna abu-abu namun aku rasa dia adalah warna biru, yang juga bijaksana dan adil aku rasa aku akan terus bersahabat dengannya.


"Maafkan aku Rion kau sakit karenaku." Ujar dariku namun dalam hatiku saja. Dari lubuk hatiku yang terdalam.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Hihihi.... hehehe... hahahahaa." Dia terkekeh dan tertawa sangat lepas karena dia merasa bisa membuat Andromeda marah besar.


"Aku tidak marah, karena aku sudah bisa belajar mengontrol emosiku karena seorang gadis mengajariku." Ujar dari Andromeda ini.


Sambil menatap seorang sniper yang sedang terkekeh ini.


"Hahahahahaha." Suara tawa lepasnya itu pun terdengar sangat brutal dan sadis.


"Tutup mulutmu itu, atau kau tidak akan bisa tertawa ataupun menangis di neraka paham!" Gertak dari Andromeda sambil menyeringai ke sniper ini.


"Dasar pria bodoh!,cuih."Ujarnya balik sambil meludah dan melotot .


"Beraninya kau ini ,kau tak tahu aku ini siapa?"


Ujar dari Andromeda menatap kedua bola mata sang sniper.


"Tentu saja tahu, karena aku sangat paham dan juga mengenalmu."Ujar dari sang sniper.


"Hem, beraninya kau!" Ujar dari Pedro dan ia pun menendang kakinya.


"Duug..."


"Sialaaaan...Aaaargh...!!!" Eranganya dengan sangat keras sekali.


🍁🍁🍁🍁🍁


Di dalam ruangan Rumah Sakit saat ini.


"Kenapa lama sekali Andromeda Rion?, kau istirahat saja aku mau melihatnya di depan."


Ujar Putih pada Rion karena Putih agaknya khawatir pada Andromeda.


"Ehm, bagaimana kalau aku menemanimu, maukah?" Tanyanya sambil menahan rasa sakit.


"Hei kau kan sakit, disini saja aku sangat bisa menanganinya sendiri."Ujar Putih pada Rion sambil menatapnya agak tajam, supaya Rion mengurungkan niatnya ikut bersamanya.


"Kau ini selalu saja."Ujar dari Rion pada Putih.


"Sudahlah aku hanya akan menengoknya untuk sebentar saja." Ujar dariku pada Rion.


"Baiklah, hati-hati ckkk."Ujarnya dan berbaring.


Aku pun keluar ruangan dan berjalan menuju tempat Andromeda berada. Aku lihat ternyata dia ada di dekat bibir pantai. Saat aku akan menghampirinya ternyata Daniel menepuk pundakku dan juga mengamatiku.


"Apa yang kau lakukan?,aku dengar Rion kena tembak, benarkah?" Tanya dari Daniel secara tiba-tiba aku sedikit terkejut.


"Iya tapi dia sudah tidak apa-apa."Ujarku lalu aku mengamati dari kejauhan apa yang di lakukan Andromeda.


"Rion ada di kamar ,kau bisa menengoknya." Ujarku pada Daniel sambil melihat wajahnya yang terlihat khawatir.


🍁🍁🍁🍁🍁


Disisi lain ternyata Seseorang datang dengan tiba-tiba dan menghampiri Andromeda.



"Mama kenapa sudah disini?" Tanya dari tuan Andromeda yang terkejut kalau Mamanya sudah ada di belakangnya.


"Ayolah kita pulang ke Manhattan, aku akan menyembuhkan sakitmu, Mama akan selalu berusaha keras." Ujar dari Mama Andromeda.


"Tapi aku sudah sembuh, karena barusan seorang gadis telah menolongku memberiku kekuatan." Ujar dari Andromeda ini dengan penuh semangat.


"Benarkah?,kenapa bisa seorang gadis biasa , apakah dia mempunyai sihir?"Tanya dari Mama Andromeda dengan melotot.


"Ya karena dia yang menyembuhkanku." Ujar dari Andromeda lagi sambil mengamati ekspresi Mamanya.


"Aku mau di Indonesia saja, aku ingin sekolah disini saja lagipula aku sudah sembuh." Ujar dari Andromeda dengan tertunduk karena ia takut Ibunya.


"Aku ingin melihat gadis itu, mana dia?" Tanya dari Mama Andromeda ini sambil menatap lekat kedua bola matanya.


"Dia ada di dalam Ma?,kenapa Mama tiba-tiba pulang kesini." Ujar dari Andromeda kepada Mamanya.


"Aku sangat penasaran karena kamu, kenapa tak mau pulang ke Manhattan?" Tanya Mama Andromeda dengan sangat halus dan lirih.


"Aku mau disini saja, aku lebih suka." Ujar dari Andromeda lagi terlihat bajunya banyak darah dan kotor.


"Kenapa kau berdarah? apa yang terjadi?" Tanya dari Mama Andromeda pada putranya karena seorang Mama, pasti akan khawatir dengan Putra satu-satunya yang amat di cintainya itu.


"Ini ada orang mau menembakku, namun Rion dan Putih menyelamatkanku Mama hukum dia."Ujar Andromeda sambil melihat dan juga mengamati ekspresi wajah Mamanya itu.


"Kenapa kau mau menembak putraku, kau tak ingin hidup?" Kemarahan sang Mama pun meledak-ledak dan penuh amarah , dan juga membuncah.


Mama Andromeda memarahi sang sniper itu


Ternyata Dokter Andrea pun hadir dengan tiba - tiba Dia menengahi keadaan ini.


"Kakak, ini aku Andrea sudahlah hentikan, kau tahu gadis itu siapa?, aku sangat hafal watak kakak."Ujar dari Dokter Andrea yang tiba- tiba hadir di tengah-tengah percakapan.


"Kau, sejak kapan kau kemari?, apa kau sudah mengikutiku dari tadi?"Tanya dari Mamanya Andromeda ini dengan terbelalak.


"Ayolah kakak, dia tumbuh seperti Mamanya dia selalu menganggap semua orang sahabat nya, kau tak menyesal."Ujar Dokter Andrea lagi karena Dokter Andrea masih adik dari Mama Andromeda.


"Maksudmu apa?"Tanya lagi dari Mama Andromeda ini dengan sangat penasaran.


"Ya karena, Putih adalah putri dari Kak Lily yang sahabatmu saat SMA dulu." Ujar dari Dokter Andrea dengan sangat sedih dan juga berkaca-kaca.


"Papa Andromeda sangat tahu, makanya dia selalu menyuruhku untuk menjaganya." Ujar dari Dokter Andrea dengan bijaksana dan adil.


"Suamiku sudah tahu, kalau dia anak Lily." Ujar dari Mama Andromeda dengan amat sangat terkejut.


"Tentu saja namun, Dia tetap diam." Ujar dari Dokter Andrea sambil tertunduk lemas.


"Benarkah?, lalu dimana Lily sekarang?" Ujar dari Mama Andromeda dengan hati yang bergetar karena ada perasaan pilu, serta sakit yang sangat amat dalam yang di rasakan seorang wanita pada sahabatnya tersebut.


"Dia, sudah meninggal, kau tahu gadis ini selalu hidup sendirian kak," ujar dari Dokter Andrea sambil meneteskan air mata.


"Dia juga sama seperti Kak Lily, yang selalu menganggap semua orang adalah teman dan sahabatnya." Ujar dari Dokter Andrea lagi sambil tertunduk lemas dan meneteskan air matanya.


Dan mereka berdua Dokter Andrea dan Mama Andromeda bersedih karena mengingat orang yang bernama Lily itu, mereka tertunduk amat lemas tak berdaya karena orang yang akan di sakitinya masih mempunyai hubungan yaitu anak dari sahabat lamanya.


Dan Andromeda yang masih belum paham dengan kejadian ini menatap lekat, dan ada tanda tanya besar yang menyelimutinya saat ini. Apakah yang sudah terjadi kenapa Mama dari Andromeda sangat mengenal Lily yaitu Mama dari Putih ini.


Bersambung...