
Tolooong....tolong...toloooong!" Terdengar suara Teriakkan dari seseorang yang ada di perkemahan.
Terdengar suaranya sangat keras aku rasa suara seorang gadis, aku pun langsung berlari dan mendekati tempat sumber suara tersebut
'Ada apa ini, kenapa kau berteriak?' Ujarku pada gadis ini,aku lihat dia sudah berlinang air mata, dia menangis sesenggukan sambil menunjuk area kebakaran.
Ternyata salah satu tenda siswa baru itu terbakar api, dan terlihat merah menyala.
"Huhuhu....hiks...hiks... kakak bagaimana ini?"
Ujar gadis tersebut sambil menangis.
"Apa yang kau maksud?,"ucapku padanya.
"Lihatlah ada ponselku ,di dalamnya ada foto Ayahku dan Mamaku."Ucap dari gadis ini aku tanpa banyak tanya, langsung melakukan tindakan.
Berlari cepat dan mengambil karung ghoni lalu membasahinya, membalutkannya pada tubuhku dan menerobos api walaupun dia berkobar dengan merah menyala, aku pun masuk tenda gadis ini.
Namun aku tidak melihat sama sekali ada ponsel di dalamnya
"Dasar bodoh jangan terlalu polos dan culun ya ingat hari ini kau akan mati,"ucap gadis itu namun dalam hatinya, sambil menyeringai dan mengeluarkan api kebencian membara seperti api yang membakar tenda ini.
Aku rasa gadis mempunyai maksud lain dan bersengkongkol atau menjalin aliansi dengan seseorang yang sudah mengenalku.
Kemudian Pleidas datang menghampiri gadis yang menyuruhku untuk mengambil ponsel miliknya itu.
"Apakah rencana kita berjalan mulus?"Tanya Pleidas pada gadis tersebut sambil menatap tenda yang terbakar saat ini.
"Tentu saja ,kita lihat Andromeda akan tahu bagaimana rasanya, sedih dan perih yang sesungguhnya!"Seru gadis itu sambil senyum tipis ,menyeringai dengan api kebencian dan kedengkian serta iri yang sangat besar lebih besar dari Gunung Merapi yang menjulang.
"Tentu saja, seharusnya kita bekerjasama dari dahulu kala , biar kita bisa menumbangkan dia sang Putra Mahkota yang bodoh itu." Ucap dari Pleidas sambil tersenyum menyeringai dan merasa puas kalau dia sudah mampu menjebak Putih.
Padahal Putih saat ini hanya ingin menolong, dan juga melaksanakan tugasnya sebagai sang Ketua OSIS yang bertanggung jawab.
Serta ia tak mau acaranya rusak hanya karena satu tendanya terbakar, namun Putih yang tak mempunyai rasa curiga pada gadis itu tetap ada dalam tenda yang terbakar, mencari-cari ponsel milik gadis tersebut.
"Astaga kenapa tidak ada?,aku sudah dari tadi mencarinya, namun tak nampak apa dia mau mencoba membohongiku?"Ujarku namun di dalam hatiku saja.
🍁🍁🍁🍁🍁
Andromeda matanya melihat sekeliling, dan ternyata tak mendapati Putih kekasihnya , dia pun menaruh gitarnya di bawah, dia berjalan berkeliling mencari Putih saat ini.
Dan ternyata ia bertemu dengan Daniel.
"Tidak aku dari tadi disini, aku hanya sedang melihat para bintang-bintang dan bulan yang sangat indah." Ujar Daniel pada Andromeda.
"Ayolah kita cari dia, kenapa perasaanku tidak enak?"Ujar Andromeda pada Daniel sambil terlihat wajahnya yang gundah dan bingung.
"Em, coba carilah dia di tenda para siswi perempuan, pasti kau akan menemukannya." Ujar Daniel pada Andromeda dengan santai.
Karena Daniel adalah pribadi yang sangat tenang dia adalah pria tanpa keraguan, dia sangat hafal watak dari sahabatnya tersebut akan melakukan tindakan yang tidak gegabah sama sekali.Walaupun ia di paksa dan akan mendapatkan hukuman berat sekalipun.
"Benarkah?,baiklah aku akan mencarinya." Ucap Andromeda sambil berjalan dengan cepat melangkahkan kakinya itu menuju tenda para siswi perempuan.
"Iya pergilah aku akan tetap disini saja, "ucap dari Daniel sambil tetap duduk tenang sambil menikmati pemandangan langit yang begitu indah malam ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Disisi lain ternyata Pleidas yang sangat ingin sekali menghabisi nyawa Putih, yang tidak bersalah sama sekali dalam hidupnya itu.
Sekarang Pleidas sedang tersenyum penuh kemenangan, menganggap rencana kali ini akan berhasil, dan juga bisa menumbangkan sang Putra Mahkota yaitu Abang Andromeda.
"Dasar ,dia pikir dia siapa?,kali ini aku akan melihat melodrama dari sang Putra Mahkota. hahahahahah!"Tawa Pleidas dengan segala api kebenciannya, dan saat ini Putih masih bersikukuh mencari ponsel milik gadis itu karena Putih hanya melakukan tindakan yang menurutnya benar saja.
"Hei ,Pleidas bagaimana kalau kita ambil pop corn dan membawa minuman bersoda kita bisa menyaksikan, kalau ada orang yang akan menangis hari ini hahahaha."Ucap dari gadis ini yang menyuruh Putih untuk mengambil ponsel tersebut
"Boleh, sebentar lagi dia akan tiba lihat saja, kau hidup tenang jangan harap,dalam mimpi!"
Ucap Pleidas sambil mengamati Putih yang di anggapnya bodoh dan rela untuk menukar nyawanya hanya untuk mengambil ponsel.
Bagi seorang bangsawan ponsel itu sangat murah bisa di beli kapan saja, bahkan mereka bisa saja mengakuisisi sebuah Perusahan ponsel jika mereka mau.
Bagi mereka nyawa seorang gadis rendahan sepertiku , tak ada harganya, yang mereka tahu yang terpenting bisa membalaskan yaitu dendam kusumat, masa lampau yang abang Andromeda lakukan pada cinta pertama sang Pleidas yaitu Raisa.
Pleidas pun seketika melihat bayangan Raisa yang meratapi jikalau dia itu tak mempunyai mahkotanya lagi sebagai seorang gadis, dan pernah juga ia akan bunuh diri, dan bagi Raisa itu adalah hal yang sang amat menyedihkan baginya ,dia yang hanya terus meratapi kisah hidupnya larut dalam dunia kesedihannya . Sedih dan bersedih juga tak mau bangkit dari segala keterpurukannya.
Putih dalam tenda menemukan benda yang mirip ponsel, namun ternyata bukan, seketika Putih terkena banyak CO2 atau juga kepulan dari asap tenda yang terbakar membuat dia sesak nafas dan agak sedikit lemas, namun karena dia agak pusing Putih pun akhirnya terkulai lemas dan tak sadarkan diri.Dia pun akhirnya tumbang dalam tenda yang terbakar.
Pleidas dan gadis itu sedang menonton serta ada perasaan bangga, bisa melihat kekasih Andromeda itu akan mati terbakar dengan percuma. Mereka menyeringai dan menikmati keadaan yang buruk itu, dan kapan saja Putih akan mati jika tidak ada orang yang datang menolongnya saat ini juga.
Mereka berdua menjalin aliansi layaknya seorang pengusaha yang akan membuka sebuah pabrik, namun saat ini mereka pun melihat opera Putih yang sedang kesusahan
Bersambung...