The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
BAB 157 PERSAMI 13 "Broken Heart"



Kembali ke diskotik ternyata Raisa yang cantik jelita ini,masih belum mau beranjak pulang dari tempat hitam ini.Malah dengan enaknya asyik nongkrong kayak gadis belia lainnya yang suka sekali dengan kegiatan malam.Padahal hal ini sangat bahaya apalagi untuk para gadis,pada malam hari tentunya ya.


Raisa malah enak ikut menenggak minuman beralkohol,padahal dalam usia yang sangat belia seperti ini harusnya dia tidak bertindak seperti sekarang ini,terlihat beberapa anggota geng Andromeda yang sedang mabuk itu pun bangkit,ketika mereka melihat ada seorang gadis sendirian.


Jiwa seorang laki-laki yang normal seketika bangkit dari kuburnya.Mereka menatap wajah Raisa yang sangat cantik,apalagi dia sedang sendiri.


Bak serigala sedang bertemu dengan mangsa yang sangat empuk,Wah...."Wrrrrr"jiwanya dan hasrat para lelaki ini pun berdesir kemudian mereka pun mendekati Raisa yang sedang duduk sendirian.


"Hai,gadis yang cantik kenapa kau sendirian?"


Tanya seorang laki-laki yaitu anggota geng dari tuan Andromeda.


"Pergilah dasar lelaki jelek,buruk rupa!"Kata kasar pun keluar dari bibir Raisa yang sedang mabuk saat itu.


"Hei,kau cantik tapi tak punya sopan santun." Ucap dari anggota geng Andromeda ini dan tangan lelaki ini pun melayangkan pukulanya tamparan karena dia merasa direndahkan.


"Plakkk...gedebuk..."Suaranya.


"Argh... sakit tahu apa yang kau lakukan."


Ucap dari Raisa sambil merintih kesakitan.


"Apa kau kira?,kau terlihat seperti gadis yang baik-baik,mana ada."Ucapan kasar dari pria ini.


"Kau hanya seperti gadis penggoda para lelaki hidung belang di malam hari."Ucap dari pria yang ada di depannya saat ini.


Raisa yang cantik dan mabuk itu hanya bisa melihat wajah pria yang ada di depannya itu agak kabur,pandangannya mulai tidak jelas karena efek dari minuman yang ia minum.


Beberapa jam kemudian Raisa yang cantik berparas seperti dewi Aprodhite, lalu dia pun sudah berubah drastis dengan baju yang acak-acakan serta rambut yang amburadul.


Saat dia sadar dia belum tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri,beberapa menit berlalu ia pun sadar,sehingga Raisa menjerit dengan sangat kencang.


"Tidaaaaakkkkkk!"Suara dari jeritan Raisa memecah keheningan.


Ternyata dia sudah tergeletak di atas ranjang sendirian dan tak ada seorang pun disana namun,penampilannya saat ini kacau balau.


Apa yang harus dia dilakukan saat ini, dia itu hanyalah seorang gadis kecil, keluar dimalam hari dia tidak menyadari bahayanya.


Saat ini dia hanya bisa menangis meratapi dirinya sendiri yang berani keluar malam yang berakibat fatal.


"Hiks...hiks...hiks..."Suara tangis Raisa saat ini.


Dia pun menyesali perbuatannya dan hanya bisa menyalahkan keadaan,kalau dia sudah tak mempunyai mahkotanya lagi sebagai seorang gadis.


Raisa cantik itu masih tetap tak beranjak dan menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.


Dia berusaha mengingat-ingat apa gerangan yang terjadi pada dirinya,sehingga ia berahir seperti ini.


Dan dia terlihat menghubungi seseorang di ponselnya."Drrrrt....drrrt...drtt..."getar dari ponsel milik Raisa.


"Hallo,ini aku Raisa."Ucap Raisa lirih di ponsel miliknya sekarang,sambil mengusap air mata di pipinya yang putih bersih itu.


"Iya,kenapa kau menangis?"Tanya seorang pria pada Raisa di ponselnya.


"Kemarilah Pleidas,hiks..hiks..apa yang harus kulakukan?" Tanya Raisa kebingungan,sambil menangis di ponsel.


"Kau dimana,aku akan menjemputmu?"Jawab Pleidas pada Raisa dia sangat khawatir.


"Aku di diskotik dekat,rumahmu."Ucap Raisa dengan lirih,sambil meneteskan air matanya.


"Kemarilah cepat,aku tidak tahu harus apa?" Kata Raisa pada Pleidas di ponselnya,dengan suara parau,dan setelahnya menangis dengan sekencang-kencangnya.


"Baiklah,aku akan menjemputmu ya jangan menangis."Ucap Pleidas pada Raisa saat ini.


Raisa pun menutup ponselnya,dan melempar dengan sekencang-kencangnya, ponselnya pecah,untuk melampiaskan kekesalannya saat ini.


"Praaaakkkkk pyarrr..."Suara bantingan dari ponsel Raisa.


Namun apalah daya sudah, karena nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur, tidak bisa di putar kembali lagi maka yang ada hanyalah penyesalan semata.


Beberapa menit kemudian Pleidas itu sampai


menghambur dengan tergopoh-gopoh,dia pun sangat khawatir dengan seorang yang sangat dicintai ,apa gerangan yang terjadi sehingga Raisa bisa menangis sepagi ini sudah ada di tempat beraura hitam ini.


Pleidas sudah ada di samping gadis yang ia cintai saat ini terkejut,karena Raisa sudah acak adul,dengan penampilan yang demikian dia pun bertanya dengan lirih dan lembut.


"Apa yang terjadi?kenapa kau ada disini?"


Tanya Pleidas dengan sangat panik.


"Lihatlah apa yang harus aku lakukan?"Tanya dari Raisa saat ini sambil menitihkan air mata.


Pleidas adalah pria yang sangat baik, mulai mengusap air mata yang ada dipipi Raisa dengan penuh perasaan dan kelembutan.


"Sudahlah,jangan menangis,"ucap Pleidas pada Raisa sambil memakaikan jaketnya pada Raisa.


"Lihatlah,apa yang terjadi padaku?"Tanya Raisa pada Pleidas sambil terlihat sangat gugup.


"Sudah-sudah ya aku akan mengantarmu pulang." Ucap Pleidas penuh perasaan kepada Raisa saat ini.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi,tahu-tahu aku sudah disini."Ucap Raisa dengan lirih sekali memelas, dan menangis sesudahnya.


"Kemarin kau disini dengan siapa?"Tanya dari Pleidas pada Raisa dengan amat penasaran.


"Aku tadi,ada Kak Rion dan Kak Andromeda?" Kata dari Raisa sambil tertunduk dan masih menangis tersedu-sedu.


"Hiks...hiks...huhuhu."Suara tangis Raisa yang membuat pilunya hati, yang membuat Pleidas sangat iba,dan putus asa.


Gadis cinta pertamanya itu membuat hatinya Pleidas yang hangat, berubah drastis menjadi pria yang punya rasa dendam,iri,serta dengki.


Dia pun sejak saat itu memutuskan, untuk menghancurkan pria bernama Andromeda tanpa tahu kebenaran yang seutuhnya dan yang sebenarnya terjadi.


"Aku pasti akan menghancurkanmu apapun caranya."Ucap Pleidas dalam hati kecilnya saat ini, penuh dendam, iri, dengki, kebencian yang tergurat jelas dimatanya saat ini.


Dan sejak saat itu Pleidas,selalu saja mencari cara untuk menghancurkan Andromeda,dan mencari celah serta mencari-cari kekurangan agar bisa menumbangkan kesombongannya.


Hari demi hari silih berganti,dan bulan pun juga demikian,namun Pleidas masih belum bisa menemukan kekurangannya.


Dan suatu hari,tanpa sengaja Pleidas tahu jika Andromeda pun selalu menempel dekat gadis yang bernama Putih ini.


Maka Pleidas pun memutar haluan menjadi siswa rakyat jelata.


Dan memilih sekolah di tempat rendahan ini. yang tak sebanding dengan Sekolahan Elite milik keluarga Andromeda.


Kemudian ingatan Pleidas pun pecah karena, orang yang di bencinya sudah didepannya sekarang.


Bersambung...