The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
BAB 162 PERSAMI 18 "Poem"



"Oh iya,pastikan Putih membawa ponsel dariku yang bewarna gold itu,ingat..."Ucap Andromeda pada Daniel sambil meminum minumannya.


"Iya memang ada apa?"Tanya Daniel kepo.


"Aish,yang penting bantulah aku."Jawab dari Andromeda yang tak mau menjelaskan pada Daniel alasannya,karena suatu hal.


Andromeda sibuk mengunyah makanannya dan Daniel hanya memandanginya,bertanya namun dalam hatinya saja,kenapa berandal ini sedang berbicara omong kosong.


Tidak seperti biasa karena Andromeda bukan pria yang mudah percaya dengan orang lain.


Dia sangat berhati- hati dalam mengambil tindakan serta apa yang perlu ia percayai dan tidak percayai.


Karena dia sudah berpengalaman, pernah dia percaya dengan namanya manusia sama saja dia dengan mempertaruhkan yaitu nyawanya, bisa di tusuk dari belakang,bahkan bisa juga hal itu manfaatkan kelemahannya untuk hal yang tidak baik, maka dari itu dia hanya bisa melakukan hal oleh dirinya sendiri memilih hal yang menurutnya benar.


"Apa yang kau lihat?"Ucap dari Andromeda pada Daniel, sambil mendongakkan wajahnya ala berandal tengiknya saat ini.


"Kau ini membingungkan ditanya salah, dan kalau di jawab lebih salah lagi." Protes dari Daniel pada Andromeda sambil tersenyum sinis,dan menyilangkan kedua tangannya.


"Kau, lihatlah aku sedang makan!, kau jangan memperhatikanku."Jawab Andromeda kepada Daniel sambil mulutnya itu penuh kentang goreng.


"Aku tak memperhatikanmu, ckk aku hanya penasaran kenapa kau bicara seserius itu?" Tanya Daniel kepada Andromeda saat ini dan sangat penasaran, kenapa bisa seperti itu.


"Aish, kenapa kau sekepo itu padaku?,aku kan sudah bilang jagalah dia jika aku sedang tidak ada, paham!" Ucap Andromeda sangat serius pada Daniel sambil menatapnya tajam.


"Apa ada hal besar yang terjadi padamu?"


Tanya Daniel lagi, lalu dia memperhatikan ekspresi dari tuan Andromeda.


Yang sedikit gusar, gundah gulana karena ia ingin bercerita, juga tak mau hal ini tersebar pada orang lain.


"Sebenarnya, aku...."Kata Andromeda terbata-


bata lalu mengurungkan niatnya untuk cerita yang sebenarnya terjadi pada Daniel.


"Aish kau ini seperti Putih, jika mau bercerita merangkai rumus dahulu."Ucap Daniel yang memotong pembicaraan lalu menggelengkan kepalanya setelah itu.


"Benarkah, apa dia selalu merangkai rumus jika menyelesaikan masalah?" Andromeda menatap Daniel karena sangat penasaran apa gerangan, yang selalu di pakai menyelesaikan masalah sehingga dia , tak pernah merasakan kesulitan hidup padahal masalahnya lebih pelik dari para pria yang ia hadapi setiap hari.


Kau tahu kenapa saat ada scene air mata bisa menjadi memori manusia dan bisa di lihat pada karya mentor kesayanganku J.K. Rowling saat di tayangkan pada film.


Memori perasaan lebih besar dari pemikiran kita,dan itu bisa di sebut dengan kata lain jantung hati kita ini adalah tempat tertinggi, yang bisa dengan mudah menggerakkan setiap elemen kehidupan ini.


Tentu saja di mulai dari sel terkecil sampai organ vital, bahkan otak kita tak akan bisa membohongi jika jantung hati kita lebih bisa menggerakkan semua elemen pada tubuh ini.


Jantung hati kita yang lebih pekah terhadap semua keadaan, dia akan lebih merespon hal baik maupun tidak baik, bahkan jika ada hal yang tak bisa di jabarkan dengan rumus.


Maka hati kita masih bisa merasakan hal-hal tersebut, dengan baik maka dari itu jangan biarkan jantung hati kita menyimpan memori yang sangat buruk, maka semua organ dalam tubuh kita akan menjadi buruk, dan merespon hanya untuk keburukan saja.


"Iya,dia selalu cerita rumusnya padaku,aku juga tidak paham sama sekali."Tukas Daniel pada Andromeda saat ini sambil membuang muka.


"Oew,tak suka matematika,"tanya Andromeda pada Daniel karena dia tertunduk lesu.


"Iya,aku tidak suka sama sekali, bagiku jika semua mata pelajaran bisa di hapus seperti permainan,aku ingin sekali matematika ini di hapus di muka bumi ini."Jawab Daniel pada Andromeda dan tidak senyum sama sekali dengan raut wajah masam.


Seperti asam jawa. Mengerut dan menggosok hidungnya yang tak gatal sama sekali.


"Kau ini mana ada, jika di hapus bagaimana apa kata dunia?"Tukas Andromeda kepada Daniel sambil tersenyum sangat sinis.


"Semua pelajaran pasti menggunakannya dodol, emang sulitkah?" Tanya Andromeda pada Daniel lalu dia menggerakkan kelopak matanya dengan beberapa kali.


"Tentu saja, aku hanya bisa mendapat nilai separuh dari semua soal yang aku kerjakan." jawab Daniel dengan kecewa dan nampak wajahnya sangat muram sekali.


"Kau, pria yang payah sekali bagiku walau tak mudah aku suka." Ujar dari Andromeda yang tampan sambil tersenyum ,dan menggeleng kan kepalanya beberapa kali.


Heran karena Andromeda serampangan ini selalu memecahkan masalahnya itu,dengan matematika juga, karena akan lebih mudah untuk menyelesaikan dengan,cepat walaupun terkadang memang menyakitkan orang lain.


"Sudahlah, ayo kita lihat Putih kenapa dia lama sekali?"Tanya Andromeda pada Daniel sambil meminum es segar warna-warni ini.


"Ah..."Suara Andromeda yang setelah minum es warna-warni.


"Tidak disini saja, kalau sudah selesai pasti dia akan kemari." Protes dari Daniel pada Andromeda dia terlihat sedang melamun.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu."Ucap tuan Andromeda pada Daniel sambil mengambil kentang gorengnya lagi.


"Nyam...nyam...nyam.."


🍁🍁🍁🍁🍁


Disisi lain Putih masih mengamati untuk lomba puisi, tinggal satu peserta yang akan tampil dan anak itu ternyata masih belum hadir juga, aku rasa dia sedang beristirahat melupakan kalau hari ini dia tampil membaca puisi, atau juga dia demam panggung.


Kau tahu demam panggung adalah ,tidak panas di badan dan juga tidak sakit, namun mentalnya sedikit kurang percaya diri, untuk menakhlukkannya hanya ada satu cara yaitu dirinya sendiri.


Mengendalikan tubuh serta pikirannya, dan juga harus bisa mau untuk percaya bahwa dirinya mampu untuk mengungkapkan isi hati serta ,percaya bahwa dirinya mampu tampil di khalayak umum.


Hal ini memang sangat sepele, namun masih banyak anak malu, dan demam panggung saat akan memasukki panggung, atau bisa disebut area pertunjukkan.


Karena memang sulit bisa memberanikan dirinya sendiri bertekad bulat mengalahkan, ketidak mampuan dirinya, aku pun memberi waktu agar dia bisa menjalin aliansi dengan perasan dan fikirannya, mengendalikan agar mau maju membaca puisi dengan keberanian penuh percaya diri.


Aku percaya sich semua siswa mempunyai keunggulan masing-masing, dalam bidangnya yang berbeda-beda, mulai kemampuannya, dan juga keunikan masing-masing.


bakat maupun juga hal difavoritkannya,aku rasa hanya perlu memberi waktu ekstra ya agar mereka benar-benar terlepas dari kata demam panggung tersebut.


Dan menjadi sosok lebih percaya diri dalam mengimprestasikan kary seni mereka, dan membuat hasil karyanya lebih bermutu, dan berkualitas.


Bersambung...


"Jangan memaksakan sesuatu kalau bukan kemauanya, karena itu hanya akan sia-sia"