
Andromeda oleng karena dia terkena suatu penyakit Hemophobia, dan aku berfikir inilah saatnya aku harus menyembuhkan penyakit mentalnya ini. Agar dia bisa membantu Rion sahabatnya ini,bukankah jika dia bisa sembuh maka aku akan senang.
"Ayolah Andromeda kau harus kuat, dan bisa mengalahkan penyakitmu ini."Ujarku ke tuan Andromeda agar dia bisa melawan penyakit nya sendiri .
Aku memberi waktu pada Andromeda dan juga sangat amat khawatir tentunya dengan Rion, karena dia harus secepatnya di bawa ke Rumah Sakit terdekat di daerah ini.
"Apakah aku kuat, dan bisa melewati hal yang besar ini."Ujarnya sambil menangis dengan pilu.
"Ayolah , Rion sembuh karena kita dalam bahaya waktu itu , sekarang kau harus bisa mengalahkan penyakitmu itu."Ujarku pada tuan Andromeda ini sambil memegang erat tanganya, agar rintangan ini bisa kita lalui bersama-sama.
"Argh..." Erangan dari Rion sambil mengatur nafasnya.
"Bertahanlah Rion jangan pingsan." Ujarku pada Rion agar kami bertiga, bisa melalui hal ini bersama-sama.
Akhirnya beberapa menit, Rion pun sudah terkulai lemas, dan akan pingsan.
"Ayolah, kuatkan dirimu sekarang kita harus menyelamatkan Rion."Bisikku lemah dan lembut pada Andromeda agar dia kuat, dan bisa melalui rintangan bersama.
Andromeda pun berdiri dan membopong Rion dan aku rasa dia mulai bisa, mengendalikan Hemophobia nya itu.Dan aku yang tahu rasa nya ingin sekali loncat yang sangat tinggi dan mengepakkan sayapku, namun aku lupa kalau aku hanyalah manusia biasa, bukan Malaikat.
Beberapa menit kemudian ternyata kami pun sudah sampai di Rumah Sakit, dan kami juga sudah di ruang tunggu karena Rion masih sedang dalam tahap perawatan. Aku sangat cemas sama seperti saat Andromeda yang terkena pisau dari pria beberapa hari yang lalu
"Ya Tuhan, semoga Rion selamat kenapa semua orang sangat jahat ?, dan tak punya hati nurani."Ujarku namun dalam hatiku saja.
Aku lihat Andromeda masih shock karena ada noda darah di bajunya dan juga sangat sedih.
Aku kira dia sudah hebat dapat mengalahkan penyakit Hemophobia ,Aku tersenyum senang karena aku bisa menyembuhkan penyakitnya dan juga bisa mengembalikan persahabatan mereka berdua. Bagaimana ini tinggal Rion saja semoga dia akan kuat dan bisa melewati masa krisisnya dan akan menjadi pria yang lebih hebat di masa depan.
Aku pun menghampiri Andromeda dan juga menepuk pundaknya.
"Hei, basuhlah wajahmu itu dan juga ganti bajumu, aku yakin Rion akan selamat." Ujarku pada Andromeda agar dia bisa menjadi pria yang kuat juga.
"Hiks...hiks...hiks..."Dia pun menangis dia paham perasaanku dan juga perasaan Rion yang sudah kehilangan adiknya.
"Apakah ada perasaan yang seperti ini, jika ada orang yang sangat penting terluka." Ujar dari Andromeda sambil menitihkan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
Aku menganggukkan kepalaku, dan memeluk nya karena tidak ada lagi hal yang bisa aku lakukan lagi, karena dia dulu pria yang belum paham arti rasa sakit , dan dia sudah berubah menjadi pria yang mempunyai empati juga mempuyai perasaan yang dalam hari ini.
"Terimakasih Tuhan karena tiap langkah dari diriku bisa membuat , solusi bagi setiap orang yang aku temui." Aku bersyukur karena aku bisa menyaksikan mereka berdua saling berteman, dan bersahabat lagi.
Setelah beberapa menit ternyata suster pun keluar dari ruang operasi, dan seperti biasa dia pun menatap kami dan juga menghampiri kami.
"Ehm, pasien sudah berhasil melalui masa kritis jadi, ijinkan kami undur diri Tuan Muda."
Ujar dari suster tersebut sambil tersenyum.
"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap dari tuan Andromeda ini.
Tak berselang lama kami masuk ke dalam ruangan Rion dan mengamatinya, aku rasa dia sangat kesakitan dan juga menahan itu semampunya.
Drrrt...drrrt...drrrt...
"Halo, Tuan Muda kemarilah aku sudah menangkap pelakunya." Ujar Pedro dalam ponsel.
"Aku akan kesana tunggu sebentar." Jawab dari Andromeda dan keluar dari Ruangan kamar Rion.
" Mau kemana?,bolehkah aku ikut." Tanyaku pada Andromeda dan melihat wajahnya yang tampan itu terlihat lusuh dan juga banyak darah Rion di bajunya.
"Baiklah hati-hati ya."Ujar dariku aku sedikit khawatir.
Andromeda pun keluar juga menghampiri Pedro saat ini , ternyata Pedro dan sniper ini sudah menunggu kedatangan Andromeda.
"Lihatlah Tuan Muda ini pelakunya." Ujar dari Pedro sambil menodongkan pistol revolver.
"Oh, aku tahu apakah aku mengenal orang itu?" Tanya dari Andromeda pada sang sniper ini.
"Hihihi.... hehehe... hahahahaa." Dia terkekeh dan tertawa sangat lepas karena dia merasa bisa membuat Andromeda marah besar.
"Aku tidak marah, karena aku sudah bisa belajar mengontrol emosiku karena seorang gadis mengajariku." Ujar dari Andromeda ini.
Sambil menatap seorang sniper yang sedang terkekeh ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Disisi lain ternyata Rion sadar dari tidurnya itu walaupun dia sudah di operasi.
"Kenapa kau bangun tidur saja Rion." Ujarku pada Rion sambil mengamati wajahnya.
"Ehm, aku kan sudah bilang jangan dengan Andromeda, kau bisa mencari pria lainnya." Ujar Rion padaku sambil menahan rasa sakit dari luka jahitnya.
"Iya, tapi kau tahu dia menyelamatkan nyawa mu, dan membawamu ke Rumah Sakit," Ucapku lirih dan lembut kepada Rion
"Dan dia juga tahu rasa sakitnya kehilangan seorang adikmu, dan juga rasa sakitku." Ujarku pada Rion lagi sambil tertunduk.
"Kau tahu dia menangis saat melihatmu yang tertembak, yang rela menjadi perisai kami."
Ujarku pada Rion lagi sambil menitihkan air mataku, karena aku tahu aku sudah tidak kuat
"Hiks...hiks...hiks..."
"Terimakasih ya, aku paham sekarang semua hal yang kau ucapkan, terimakasih." Ucap dari Rion sangat tulus lubuk hatinya yang paling dalam padaku.
Aku pun menghentikan tangisku dan juga melihat wajah Rion yang sangat pucat.
"Apakah sangat sakit?"Tanyaku pada Rion.
"Iya, tapi karena aku seorang pria tentu ini sudah biasa."Ujar dari Rion padaku sambil tersenyum tipis.
"Aku harap, teruslah bersahabat dengannya, jangan sampai mudah di adu domba oleh siapapun." Ujarku pada Rion sambil menatap wajahnya dengan tajam dan intens.
Aku harap kami bisa saling percaya satu sama lainnya. Dan menjalin ikatan batin.
"Pasti aku akan selalu berteman dengannya." Ucapnya lagi dengan tulus dan juga jujur.
Aku rasa Rion ini bukanlah warna abu-abu namun aku rasa dia adalah warna biru, yang juga bijaksana dan adil aku rasa aku akan terus bersahabat dengannya.
"Maafkan aku Rion kau sakit karenaku." Ujar dariku namun dalam hatiku saja. Dari lubuk hatiku yang terdalam.
Bersambung...
Ilmu dari persahabatan jangan sampai curiga dan juga fikirkan dulu, dan rasakan apakah hal yang kita lakukan benar-benar sesuai dan aku rasa Alam akan terus membimbing kita ya di jalan yang benar, ini hanya karya fiksi namun alangkah baiknya kita bisa mengambil sisi positif dari novel ini trimakasih para reader.