The Power Of Ice Girl

The Power Of Ice Girl
BAB 150 PERSAMI 6 "Para pria"



Andromeda tiba-tiba datang dan mendekat serta berdiri di depanku,hari ini memakai baju dan celana warna putih,entah apa yang dia pikirkan,pria ini kenapa bisa berpakaian serba putih.Namun dia tampak sangat fresh seperti potongan buah melon,yang baru keluar dari kulkas



"Gadis lamban kenapa kau pergi? ckk aku kan sudah bilang aku akan menemanimu," ucap Andromeda sambil bergaya bak model brand Ambassador.


"Aish kenapa kau kemari lihatlah bajumu,apa kau mau berubah menjadi seorang perawat?" Tanyaku penasaran kenapa pakai baju seperti itu kan,dilapangan banyak debu dan kotoran jadi memungkinkan untuk baju putih terkena noda kan mubadzir menghilangkan kesucian dari baju tersebut.


"Bagaimana sudah tampan belum?, ya kalau belum aku akan berganti baju di mobil dulu?"


Tanya Andromeda sambil menatapku dengan gaya berandal tengiknya.


"Kau mau jadi model,"ucapku padanya sambil menyeringai dan menatapnya tajam.


"Hei,aku membawakan sesuatu pasti kau suka makanlah bersama teman-temanmu itu."Ucap dari Andromeda kepadaku sambil berlarian menuju mobilnya dan membawa sesuatu.


"Ha...ha...ha..."Dia pun mengatur nafasnya dan tersengal-sengal.


"Ini makanlah semua habiskan juga,biar bisa mendinginkan otakmu itu."Tukas Andromeda sambil menaruhnya di depan kami.





"Good Job,is yummy."Ucapku lalu memakan muffin greentea dan mencicipi es teler yang bikin meler nich.Dan belum potongan kiwi yang segar sekali.


"Wah kau dapat dari mana makhluk ini,kenapa bisa bagus sekali servisnya?"Tanya Aline pada diriku sambil mencomot kue muffin strawberry yang lembut manis,dan lumer di mulut.


"Tentu saja aku menemukannya di jalanan jika tidak mubadzir, lagipula dengan begini dia itu bermanfaat bukan?" Kataku kepada Aline sambil mengunyah muffin rasa greentea rasanya segar.


Manis dan sangat lembut sekali perpaduan pas antara rasa dan juga tekstur yang saling bertabrakan.


"Begitu ya,"ucap Aline


"Aku mau ya."Kata Shinta sambil memakan kue dan menggeleng2 kan kepala karena,dia belum pernah makan-makanan yang seperti ini.


"Makan saja,sisakan untuk para anggota OSIS pria karena habis ini mereka istirahat."Ucapku pada Aline dan Shinta.


"Iya Ketua OSIS siap."Jawab dari Aline,Shinta kompak.


"Hei kau beli dimana?,kenapa banyak sekali?" Tanyaku pada Andromeda sambil mengamati wajahnya itu yang sangat berseri-seri.


Seketika bayanganku membayangkan es krim dengan rasa coklat meleleh di tanganku ingin rasa hati menjilat tanganku karena lelehan es krim ini sudah meluber di setiap jariku.


"Aku hanya beli di perjalanan tadi,makanlah."


Ucapnya dengan tersenyum lebar dan lembut padaku.


"Hei kau tampan sekali,khusus hari ini jangan bertempur ya paham." aku memperingatkan Andromeda si tukang baku hantam ini namun dengan lirih dan lembut seperti cream dari muffin greentea.


Aku berharap dia bisa damai untuk hari ini saja,kebetulan Rion dan Erik ada di sini.


Apakah yang akan terjadi bila mereka bertiga berkumpul jadi satu di sekolahan ini.Ya biasa para berandal ini kan bercita-cita untuk jadi tukang pukul dan ajudan.


"Janji dulu kau harus patuh, memperingati hari perdamaian sedunia mau." Dengan lirih dan menggoda agar dia lunak ,tak bertengkar lagi dengan pria lainya.


"Baiklah karena kau manis, hari ini seperti minuman es itu,aku akan patuh padamu."


Ucap Andromeda sambil tersenyum,mungkin karena perasaanya sedang bahagia.


Andromeda sekarang patuh padaku karena mungkin efek dari baju putihnya,membuat hati Andromeda seperti malaikat yang tak bersayap.


🍁🍁🍁🍁🍁


Disisi lain sekarang para pria yang bernama Erick,Riko,Leo,dan Rion nereka yang berada di tenda Pleidas mereka menatapnya dengan sangat tajam.


Khususnya dengan Rion karena Rion tahu betul dendam yang terjadi antara Andromeda dan Pleidas. Ternyata Rion juga masih ada sangkut pautnya.


Rion yang wajahnya merah menyala,dan serta menyeringai ini kemudian maju mulai angkat bicara,padahal sedari tadi di hanya membisu.


"Hei,apa yang kau lakukan disini?,kau mau menguntit dasar berandal!"Ujar Rion pada Pleidas karena Rion merasa dia mempunyai maksud lain di balik menjadi siswa baru di sekolahan ini.


"Oh,anak buah Andromeda apakah kau sudah di buangnya?"Tanya dari Pleidas dengan nada tinggi memprofokasi agar Rion tersulut emosi


"Aish,berandal ini beraninya kau!"Tukas Rion pada Pleidas, Erick pun memegangi badan Rion sambil menahannya karena takut terjadi baku hantam karena Erick juga sudah pernah mengalaminya dan kalah waktu itu.


"Sudah kau mundur dululah,aku saja yang melihat masakan dari regu Pleidas."Tukas Erick pada Rion dengan bijaksana berwibawa.


"Baiklah."Jawab Rion lalu dia pun mundur.


"Hei apa yang kau masak,ingat jangan curang disini tidak menerima murid manja,"ucap Erick dengan sangat tegas dan berwibawa


"Aku sudah memasaknya,lihatlah dan mari kita makan bersama-sama."Ujar dari Pleidas sambil tersenyum tipis,setipis lapisan es di atas danau yang membeku yang pecah bila tergores sedikit saja oleh benda tajam....


"Kretek...kretek...kretek...pyar..."


"Pasti curang mana ada, kau dengan waktu yang singkat bisa memasak sebanyak ini," Kata Erick dia terlihat sangat marah karena banyak siswa yang sudah sportif.


Jika ada siswa yang curang maka siswa yang mengikuti secara sportif akan sia-sia usahanya. Kasihan para siswa yang sudah mengikuti dengan antusias. Maka dari itu Erick pun geram pada pria ini, dia pun lalu akan melayangkan pukulannya, karena dia merasa ada pria yang tak mau bertanggung jawab akan kata-kata nya . Namun sebelum itu dia pun menanyakan dan memastikan apakah perkataan pria ini benar adanya.



"Oh..kenapa bisa membuat satu panci soto ini padahal kan kau ini seorang pria, hei kau pasti curang." Protes Erick pada Pleidas karena dia merasa kalau Pleidas ini tidak mungkin bisa memasak dalam jumlah yang banyak.


"Aish, mantan Ketua OSIS kau mencurigaiku aku sudah jujur lho ,ayolah kita makan dulu ." Jawab Pleidas dengan ringan lalu tersenyum setelahnya.


"Hemmm, ternyataaa kau ini pria yang agak pandai bersilat lidah." Erick semakin geram.


"Haaa, kau tak percaya ya sudahlah aku ini memanglah hoby memasak." Ujarnya lagi membela dirinya sendiri.


"Ayolah tak ada gunanya kau berbohong." Erick semakin geram dengannya lalu ia pun mendekatinya.


"Oh, kau ingin menantangku?" Pleidas mulai menyeringai dan mengusap wajahnya yang berkeringat, berpeluh dia menatap Erick .


Karena cuaca disini amat cerah dan mentari membakar dengan sempurna, hawa terasa amat panas sehingga membuat fikiran agak kacau balau. Para lelaki ini yang sedang adu mulut merasakan hawa panas, bertambah emosinya tersulut .


Bersambung...