REPEATING TIME

REPEATING TIME
Ardi Bertarung Pertama Kali



(Menurut pengalamanku siapa yang mengenai serangan terhadap musuh maka ia akan menguasai pertandingan. Maka aku harus membuat dia terkena pukulan dahulu. Aku tidak boleh lengah melawan seorang yang ahli seperti dia) tampak pemimpin tadi mencari info tentang Ardi.


Tapi karena Ardi masih amatir maka ia berdiri tanpa persiapan apapun atau bisa dibilang kalau Ardi berdiri dengan posisi menyerang. Itu hanya pemikiran singkat yang baru ia pikirkan sekarang.


Untungnya itu malah membuat pemimpin tadi tidak mengetahui gerakan Ardi sama sekali. Malah ia mengira kalau Ardi sangat pro soal bertarung karena terlihat ia begitu santai.


*************


Mereka berdua sudah lama sekali saling menatap. Mereka masih menuggu gerakan pertama musuhnya untuk membuat mereka bisa membalikkan serangannya.


Tapi karena pemikiran mereka sama Yaitu saling menunggu gerakan pertama musuhnya. Itu malah membuat mereka terdiam mematung karena saking seriusnya melihat kesempatan untuk menyerang.


************


(Hohoho...sepertinya ia sangat ahli ya. Dilihat dari ia diam sekarang mungkin ia memikirkan rencana yang sama denganku, yaitu saling menunggu gerakan musuh dan ketika musuh bergerak maka kita akan membalikannya) dalam hati pemimpin itu bersemangat untuk duel dengan Ardi.


(Tapi kita tunggu saja siapa yang bergerak dulu. Aku akan membuatmu kalah Ardi. Tidak lama aku merasa senang begini ) dalam hati pemimpin menantang dirinya untuk berdiri paling lama.


*************


Tapi dalam hati Ardi merasa risih karena ia sudah merasa pegal menunggu serangan pertama pemimpin.


(Sial, kapan ia akan menyerangku. Sudah 2 menit kita berdiam begini ) keluh kesal Ardi dalam hati karena pemimpin itu tidak segera menyerangnya.


Merasa sudah pegal karena sekarang ia membawa tas dipunggungnya. Maka ia mulai membenarkan letak tasnya sekarang agar pundaknya tidak pegal.


(Aduhhh, kenapa berat sekali sih. Lebih baim tadi aku melepaskannya saja sebelum bertarung) Ardi memperbaiki posisinya dengan lengan kiri sambil lengan kanan dalam posisi menjulurkan tangannya mengepal bersiap untuk bertarung kapanpun.


************


Tapi gerakan Ardi tidak terduga oleh Pemimipin itu. Karena Ardi sebenarnya tidak menyerang ia hanya memperbaiki letak tas dipundaknya agar ia tidak pegal.


Tapi gerakan itu bagi pemimpin tadi, sangatlah tidak terduga baginya karena selama ini ia bertarung. Tidak ada yang membuat gerakan seperti membenarkan letak tali tasnya.


Karena terkejut dengan sigap ia melangkah mundur agar tidak dapat dipukul oleh Ardi.


(Sial, kupikir tadi ia menyerang, untung aku tadi tidak mencoba melawannya. Bisa gawat jika aku memukulnya tadi, bisa saja ini kesempatan dia membalas seranganku. Sungguh gerakan yang tidak terduga ya. Tidak salah lagi ia adalah pro petarung) dalam hati pemimpin anak tadi tersenyum mengakui kekuatan Ardi.


*************


(Eeeeeeh, kenapa ia mundur begitu) Ardi dalam hati tampak terkejut juga dengan pergerakan anak itu yang secara tiba-tiba mundur kebelakang.


(Tidak-tidak boleh begini aku harus segera melawannya, aku harus maju terlebih dahulu. Kalau tidak bisa saja teman-temannya tadi datang lagi. Jadi sebelum itu aku harus maju) Ardi menantang dirinya untuk membuat serangan terlebih dahulu.


Ardi akhirnya melangakah maju sambil mengayunkan lengannya untuk menyerang terlebih dahulu.


Melihat Ardi mengeluarkan serang terlebih dahulu, membuat anak itu tersenyum senang karena penantiannya tidak sia-sia. Dengan gerakan serangan awal Ardi ia dapat berbagai pemikiran untuk membalikkan serangan Ardi.


***********


Tetapi Ardi menghentikan serangannya itu karena ia belum yakin kalau serangan awalnya adalah yang terbaik untuk saat ini. Makanya ia memilih untuk menarik serangannya karena harus memikirkan kembali serangannya.


(Tidak, tunggu dulu. Jika serangan seperti ini maka aju dengan mudah dikalahkan. Aku harus memikirkan terlebih dahulu lagi) Ardi terdiam tanpa melihat anak tadi yany sudah begitu cepat untuk mengembalikkan serangan Ardi tadi.


Untungnya ia tidak begitu cepat sehingga ia bisa menarik serangannya. Berbeda dengan anak tadi, saking cepatnya Ardi menarik lengannya, sehingga ia tidak bisa mengikuti menarik lengannya juga.


(Sial dia menarik serangannya, tidak kuduga ia juga bisa menggunakan tipuan seperti itu. Tidak...ini salahku, karena terlalu meremehkannya. Aku sudah tau kalau dia adalah seorang pro tapi aku tidak menduga ini) Dalam hati anak tadi pasrah ketika sudah tidak bisa menarik serangannya.


Tapi Ardi masih belum tahu kalau anak tadi sudah maju mau memukul dirinya. Soalnya ia masing memikirkan sebuah serangan awal untuk bertarung.


Begitu juga dengan anak tadi dia masih pasrah. Tapi pikiran itu berubah dalam sekejap saat melihat Ardi memalingkan wajahnya.


Dalam hati anak tadi berfikiran sangat berbeda dengan kenyataanya karena Ardi sedang berfikir untuk membuat serangan awal, sedangakan untuk anak tadi ia berfikir kalau Ardi sekarang sedang mengalah kepadanya.


(Kenapa-kenapa ia berhenti. Apakah ia tidak tahu kalau sedang melakukan serangan. Tidak, tidak mungkin karena tampaknya ia sedang mengalah kepadaku. Bodohnya aku, pastinya ia berharap pertarungan yang adil makanya ia memalingkan wajahnya.) Dalam hati anak tadi merasakan kesalahpahaman yang besar kepada Ardi.


(Aku tidak boleh menyerah juga. Aku juga harus ingin pertarungan yang adil. Maka aku harus menghentikan seranganku.) Anak tadi melangkahkan kakinya dengan keras berusaha agar ia berhenti melangkah.


Tapi usahanya sia-sia karena langkah kaki yang keras itu membiat ia jatuh terpeleset kedepan.(aduh sialnya aku)


***********


Ardi akhirnya bisa memikirkan sebuah langkah untuk menyeeang terlebih dahulu. Tapi saat ia melihat ketempat dimana anak tadi berdiri, ia sangat terkejut karena tidak menemukan siapapun.


(Dimana dia, dimana ia. Apakah ada dibelakangku atau mungkin ia lari. Tapi tidak mungkin) Ardi kebingungan karena anak tadi menghilang.


************


Saat kebingungan mencari kemana-mana anak yang menantang tadi ia sedikit ketakutan sambil melangkah kecil mencari anak tadi.


Tapi saat ia melangkah kecil ia merasakan kalau sudah menendang suatu yang keras. Merasa ada suatu yang janggal dengan kakinya ia melihat kebawah.


Ardi merasa terkejut untuk kedua kalinya karena anak tadi tiba-tiba sudah jatuh tersungkur.


(Apa ini gimana ia bisa jatuh, bahkan aku belum melancarkan sebuah serangan. Apa mungkin karena wanita ini) Ardi merasa curuga sambil melirik Hana.


Tapi Hana hanya bisa terdiam membeku, melihat kejadian ini. Tampak dalam hatinya ia merasa ketakutan dan sedikit ada rasa kegamuman dengan Ardi.


***********


(Tidak, tidak mungkin kalau dia yang menyerang. Dia tampak sedang kebingungan disana. Jadi siapa yang membuat ia jatuh pingsan. Apakah karena ia sedang sakit makanya ia jatuh. Tapi untunglah ia pingsan sehingga aku tidak repot-repot untuk menyerangnya.) tanya Ardi pada dirinya sendiri melihat situasi yang tidak terduga ini dan ia juga merasa lega.