REPEATING TIME

REPEATING TIME
Mereka Berdua Mulai Menyelidiki Hana



Near akhirnya bisa beranjak berdiri setelah memastikan Kanna benar-benar tertidur sekarang. Ia melangkah dengan hati-hati menuju kedepan pintu.


Near keluar dari UKS tersebut menemui Ardi yang sedang menunggu diluar UKS. Begitu juga dengan Ardi melihat Near pergi keluar maka dengan cepat ia menghampiri diikuti oleh Hana dan penjaga UKS.


"Apakah ia sudah tidur." Tanay Ardi masih khawatir.


"Tenang saja ia sudah tidur kok. Nyenyak banget malah tidurnya " Ucap Nee bercanda.


"Hahaha...bisa aja kamu nih. Aku dari tadi percaya padamu tapi ada seseorang yang tidak percaya dari tafi " tawa Ardi sambil melirik penjaga UKS, Ardi mencoba menyindirnya dengan mengucapkan hal seperti itu.


Ardi, Near dan Hana melirik penjaga UKS. Mendapat tatapan yang menyindir penjaga UKS dengan refleks langsung memalingkan wajahnya. Malu dengan apa yang sudah dilakukannya tadi.


Tidak bisa menahan rasa malunya lagi, penjaga UKS langsung berjalan pergi.


"Oooh sudah waktunya aku mengecek dokumen nih" penjaga UKS tersebut melihat jamnya dan berjalan masuk seolah akan melakukan seseatu hal yang penting padahal tidak.


Tapi saat ada disamping Near, penjaga UKS itu berhenti sejenak. Membuat Near merasa takut dan heran, kenapa penjaga UKS berhenti. Hal itu juga membuat Ardi dan Hana bertanya-tanya.


"Kerja bagus " gunam pelan penjaga UKS malu.


"Eh " Near tidak bisa mendengar suara penjaga UKS karena saking pelannya ia berbicara.


"Eh....hahaha. Sudah ya selamat tinggal kalian " penjaga UKS langsung pergi dengan salah tingkah karena saking malunya.


Mereka bertiga menjadi keheranan melihat tingkah penjaga UKS tadi. Mereka saling melirik satu sama lain dan akhirnya tertawa bersama.


"Aduh gak jelas sekali penjaga UKS tadi " komentar Near.


"Tapi dia tadi yang paling khawatir loh." Ucap Ardi.


"Hehehe iya." Tawa pelan Hana


************


Setelah puas tertawa Near akhirnya menyadari bahwa ada yang berbeda dengan situasi mereka sekarang.


"Siapa????" Tanya Near secara tiba-tiba.


"Eh, siapa maksutmu " tanya Ardi kembali, tidak mengerti maksut pertanyaan Near tadi.


"Itu siapa dia? "Near menunjuk kearah Hana sekarang.


Ardi melihat kearah yang ditunjuk Near sekarang. Arah yang ditunjuk Near sekarang tepat menujuk Hana.


"Siapa kamu???" Ardi juga bertanya sama dengan Near.


"Eh...bukannya sudah kubilang tadi. Bahwa aku adalah Hana kan." Jawab kesal Hana karena bedasarkan pertanyaan yang mereka ajukan. Tanpa memberitahu mereka mengatakan kalau mereka telah melupakannya.


"Ohhhh begitu. Tapi kelihatannya masalah ada lagi nih." Jawab Near tersenyum jahat.


"Iya nih kelihatannya begitu. Gak usah banyak pembicaraan. Kamu ikut dengan kami sekarang, masih ada pertanyaan yang akan kami ajukan padamu perihal kejadian dibelakang sekolah tadi." Ucap Ardi tegas.


"Eh...emmm. baiklah " Hana tidak ada pilihan lain selain mengikuti mereka berdua melangkah.


Tampak Near dan Ardi melangkah didepan Hana sekarang. Mereka berdua saling berbisik membicarakan Hana yang ada dibelakangnya.


"Siapa sebenarnya dan kenapa ia berada disemak-semak belakang sekolah." Tanya Near pelan kepada Ardi.


"Hmmm, entahlah aku juga tidak tahu. Apa mungkin ia penguntit " duga Ardi dengan tatapan curiga.


"Hahaha, mana mungkin. Kau lihat kan ia perempuan mana mungkin ia melakukan hal buruk seperti itu. Apalagi pada kita, tapi bisa juga sih kalau ia menguntitmu " Near berbicara dengan pelan.


"Hmmm, benar begitu sih kelihatannya. Tapi kita tunggu saja jawaban dari dia nanti. Kamu bantu beri jawaban ya nanti " suruh Ardi kepada Near karena ia masih takut kalau Hana adalah penguntit beneran.


"Hahhh, aku harap kau membantu juga " gunam pelan Ardi mengkritik Near.


"Hah apa " Near tidak dengar suara Ardi, karena sengaja Ardi berbicara pelan seperti itu agar Near tidak dengar.


"Ohhh, enggak ada apa-apa kok " tawa canggung Ardi.


"Mencurigakan " Near menatap curiga Ardi.


"Hehehe " Ardi menggaruk kepalanya salah tingkah.


*************


Ketika mereka sudah sampai dibelakang sekolah. Dengan tatapan curiga Ardi dan Near mau menanyai Hana yang sangat dicurigai sebagai penguntit.


Tatapan Ardi dan Near membuat Hana sangat ketakutan, sampai ia hanya bisa menunduk tidak berani menatap mereka.


"Jadi apa tujuanmu tadi ada disemak-semak tadi " tanya Ardi dengan tegas.


"Emmm...anu itu. Saya sedang mencari barang saya yang hilang disana" jawab Hana gelagapan dengan gemetar ketakutan.


"Apakah kamu bebicara dengan jujur? " Ardi menegaskan kembali pertanyaanya.


Sempat ragu, Hana hanya merespon mengangguk saja karena saking groginya. Tetapi tetap saja Ardi tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Hana tadi.


Dia terus menerus menatap Hana dengan tatapan curiga. Membuat Hana ketakutan dengan tatapannya terlihat ia menelan ludah ketakutan.


Near yang melihat tingkah mereka berdua, dirinya bosan karena harua ditengah situasi mereka.


"Sudahlah Ardi kelihatannya ia berbicar yang sebenarnya " ucap Near yang keliatan ingin masalah ini cepat selesai.


"Tapi..." Ardi masih belum mempercayainya.


Hana yang mendengar ucapan Near tadi terlihat sedikit lega kalau mereka tidak menggalinya lebih dalam soal masalah ini.


"Apakah kamu masih berfikir kalau ia ini penguntitmu. Harusnya kamu sadar mana ada yang akan menguntit dengan orang yang membosankan seperti dirimu " canda Near menyindir Ardi.


Mendengar pernyataan kalau Ardi mencurigainya sebagai penguntit. Hana kembali tegang dan ketakutan sampai dirinya merinding.


"Hahh(Ardi terkejut.)... mana mungkin aku berfikir begitu. Lagian kamu ini yang harusnya sadar kamu ini juga membosankan. Aku hanya mencurigai dia." Jawab Ardi dengan kesal.


"Apa katamu, kamu bilang aku membosankan juga " ucap Near dengan kesal.


**************


(Apa yang harus kulakukan ini, jika aku beritahu tentang kebenarannya maka ia akan membenciku. Tapi aku tidak ingin persahabatan Ardi jadi kacau seperti ini) Dalam hati Hana seolah ingin memberitahukan seseatu yang penting, yang bahkan bisa membuat Ardi menjadi benci pada dirinya.


"Anooo maaf " Hana memanggil mereka berdua dengan pelan dan berharap mereka berhenti bertengkar.


"Hahhh, jangan ikut campur" mereka berdua kesal karena ada yang menghentikan mereka berdebat


Mendapat bentakan seperti itu, Hana menjadi menangis mengeluarkan air matanya.


"Maaf, maafkan aku " Ucap Hana sambil menangis.


Ardi dan Near yang melihat Hana menangis menjadi merasa bersalah karena sudah membentaknya. Mereka berdua kebingungan karena melihat Hana menangis.


Ardi dan Near tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menangani situasi seperti ini. Mereka berdua saling melirik satu sama lain.


"Apa yang harus kita lakukan. Kamu harus membuatnya tidak berhenti menangis " bisik Near pelan kepada Ardi.


"Hahhh ya kamu lah yang harus menenangkan Hana. Kan kamu yang memulai terlebih dahulu tadi " jawab Ardi