
"Apaaa" boss penjahat terkejut mendengar berita hilangnya salah satu anak buahnya.
Karena tempat mereka sangat dekat dengan anak buahnya tadi disekap, apalagi mereka menghilang sangat cepat tanpa jejak. Para penjahat dan bossnya sangat ketakutan memikirkan betapa hebatnya musuhnya sekarang yang akan dihadapi.
"Hhahha...bukankah kau pernah mengalami hal yang sama" Near tiba-tiba tertawa dengan keras, suaranya menggema dalam gedung itu.
Bos penjahat memikirkan perkataan Near, dia teringat saat dirinya hampir tertangkap dalam kasus yang sama yaitu masalah Near dan Ardi.
Boss penjahat itu tanpa berfikir lagi, dia memilih untuk segera meninggalkan Near dan menyelamatkan dirinya lagi.
"Cepat kita harus segera pergi " ucap boss penjahat dengan keras terburu-buru pergi.
"Tapi boss, bagaimana dengan bocah ini.." melas anak buahnya karena mereka belum sempat untuk menghajar Near.
"Biarkan saja dia, apa kalian ingin ditangkap polisi. Aku pernah mengalami situasi yang seperti ini sebelumnya dan aku merasakan perasaan merinding bahwa ada bantuan akan datang " ucap boss penjahat itu menjelaskan situasinya, kenapa mereka harus segera pergi sekarang.
Sebenarnya anak buah boss itu tidak percaya bahwa bossnya merasakan ada bantuan akan datang. Tapi karena ini perintah dari bossnya maka mereka pergi menurutinya."siapp boss "
Terlambat menyadarinya tampak ada seorang bayangan membawa sebatang kayu yang sedang menghadang mereka didepan pintu, melihat akan hal itu membuat para penjahat berhenti bergerak. Selain itu disamping bayangan itu juga ada salah satu anak buahnya yang tadi diuruh mengecek.
"Si...si..siapa kamu. Beraninya kamu menghabisi anak buahku" gelagapan boss penjahat takut bersembunyi dibelakang big.
Big hanya menuruti bossnya dan dia jarang sekali berbicara. Dibelakang big yang bertubuh besar, boss penjahat merasa aman.
"Kalian juga melukai anak didikku sekarang. Maka kalian juga harus menerima akibatnya " ucap bayangan hitam itu dengan keras.
Near yang mendengar bahwa bayangan hitam itu adalah salah satu gurunya dia merasa lega. Karena dalam perkataan bayangan hitam itu dia berkata bahwa Near adalah anak didiknya.
Tapi Near masih bingung siap yang ada didisini membantunya. Begitu juga dengan para penjahat yang bingung dengan perkataan bayangan hitam itu.
"Anak didikmu..siapa kamu keluarlah tunjukkan wajahmu " teriak boss penjahat takut dan masih bersembunyi dibelakang badan besar big.
"Kalau mau berbicara kamu harusnya tidak bersembunyi seperti itu. Mana sopan santunmu, apakah perlu pria tua ini yang mengajarimu bagaimana caranya berbicara kepada orang tua " ucap bayangan tua itu melangkah maju memasuki gedung, sambil mengangkat kayu yang digunakan untuk memukul para penjahat itu kebahunya.
Cahaya bulan mulai menerangi bayangan hitam itu seiring dia melangkah maju. Wajahnya sekarang terlihat jelas karena cahaya bulan.
"Aku adalah kepala sekolah ini. Jadi jangan harap bisa mebuat masalah kepada anak didikku disini." Ucap kepala sekolah itu menyodorkan kayunya ke para penjahat itu.
******
Near yang mendengarkan bahwa bayangan hitam itu adalah kepala sekolahnya. Near bersusah payah mengangkat kepalanya karena dia ingin melihat wajah kepala sekolah.
(Siapa dia, kenapa kepala sekolah bisa berada disini. Ya sudahlah tidak apa-apa yang penting dia bisa menghambat pejahat itu) Near bertanya-tanya dalam hati bingung kenapa kepala seklahnya bisa berada dibelakang sekolah.
Near sekarang sudah bisa mengangkat kepalanya walaupun sudah lama bersusah payah. Dia melihat kepala sekolah itu dengan jelas karena sinar bulan malam itu begitu terang.
(Apa... apa dia kepala sekolahku. Bukankah dia....) Near begiu terkejut menyandarkan kepalanya dilantai karena Near sekarang sudah tidak mempunyai tenaga lagi.
Pria tua itu ternyata orang yang melaporkan kasus Near dan Ardi melawan para penjahat dalam gang kosong.
Boss penjahat itu juga terkejut dengan melihat kepala sekolah. Bukan karena statusnya sebagai kepala sekolah melainkan melihat tubuhnya.
"Hmmm..hahahahh. Apakah kamu akan melawan kami " ejek boss penjahat tertawa dan diikuti anak buahnya setelah melihat wujud asli kepala sekolah itu.
"Iya of course" kepala sekolah itu dengan sombongnya percaya diri akan kemampuannya.
(Hadehhh...kepala sekolah ini buat harapanku sirna, untuk menghambat para penjahat itu pergi dari sini sampai bantuan datang. Tapi... mungkin saja dia mempunyai suatu keahlian. Apalagi dia sudah menghabisi dua anak buah penjahat itu. Bagus , sekarang masih ada harapan) Dalam hati Near berharap walaupun hanya sedikit.
Kenapa Near dan para penjahat itu tidak percaya akan kemampuan kepala sekolah, karena dilihat dari jauh saja kepal sekolah itu mempunyai tubuh yang kurus dan apalagi dia tampak sudah tua. Hal itulah membuat Near patah harapannya.
Merasa tidak takut lagi karena dihadapannya sekarang hanyalah seirang pria tua. Boss penjahat itu melangkah maju tidak berada dibelakang badan besar big lagi.
"Hahaha, tidak salah lagi insting boss kuat juga untuk melihat potensi orang lemah itu " anak buahnya menyinggung bossnya yang sudah menyuruh mereka pergi takut akan instingnya.
Mendengar hal itu membuat bossnya marah dan melirik tajam anak buahnya. Anak buahnya pun langsung diam menunduk takut.
"Hah, kamu mau melawan kami dengan badan kurusmu itu. Lebih baik kamu diam saja " boss penjahat mengejek kepala sekolah yang terlihat sudah tidak kuat lagi.
"Kalian jangan terlalu meremhkan orang. Nanti akan tau akibatnya, seperti sungai yang tenang belum tentu tidak ada buayanya. Bukankah kalian sudah kewalahan melawan bocah itu tadi padahal dia seperti orang bodoh" ucap kepala sekolah tenang dengan berbagai ejekan yang diterimanya.
(Hey kakek tua jangan mengejekku seperti itu.) Near dalam hati tidak terima karean telah diejek seperti itu.
Mendengar kata-kata kepala sekolah barusan membuat boss penjahat itu waspada kembali.
(Mungkin dia ahli bela diri yang masih aktif sekarang. Aku harus hati-hati melawannya. Mungkin karena terlalu meremehkannya bisa membuat kita kalah) dalam hati boss penjahat ketakutan setelah mendengar kata-katanya.
"Sekarang kalian semua coba serang dia kecuali big kamu disini saja jagain aku " boss penjahat memberikan intruksi kepada anak buahnya.
"Siaap boss " ucap anak buahnya penuh semangat, karena dalam pikiran mereka pria tua itu hanya seorang pria biasa tanpa keahlian bertarung.
******
Dan benar juga saat anak buahnya maju dan kepala sekolah itu mengambil posisi siap bertarung. Tiba-tiba kepala sekolah itu berteriak kesakitan.
"Aduhh..aduh pungungku " ucap kepala sekolah kesakitan memegang punggungnya karena sudah tua.Membuat para penjahat itu terperangah.
"bweb..ahahahah " para penjahat itu tertawa lepas melihatnya.
(Hadehh..belum mulai saja sudah sakit duluan. Apakah ada harapan untuk menang.) Near mengeluh mendengar kepala sekolah kesakutan bahkan sebelum mulai.
Near sekarang masih belum bisa mengangkat kepalanya karena dia kehabisan tenaga habis melawan penjahat itu. Jadi sekarang dia hanya bisa mendengar situasinya saja.