REPEATING TIME

REPEATING TIME
Ardi Datang Untuk Membantu



Pada hari itu Ardi pulang seperti biasanya. Karena ia memiliki teman makanya ia selalu pulang bersama mereka.


Tapi hari itu saat mau perjalanan pulang Ardi tampak merasa ada yang janggal. Akhirnya tidak ada pilihan lain Ardi mengecek tasnya


"Ada apa Ardi. Apakah ada barangmu yang ketinggalan?" Tanya temannya yang ikut berhenti menunggu Ardi mengecek tasnya kembali.


"Iya, sepertinya bukuku ketinggalan " tawa kikuk Ardi


"Hahaha, Ardi bisa lupa juga " tawa temannya mengejek karena tidak seperti biasanya.


"Hei mau kupukul kaku. Aku kan manusia pastilah pernah lupa " jawab kesal Ardi.


"Tenang bro. Lebih baik kamu cepat ambil bukumu. Kami akan menunggumu disini " temannya mencoba menjadi baik.


"Okelah, awas loh kalau pergi " ancam Ardi.


"Tenanglah percaya padaku." Jawab santai teman-temannya.


************


Ardi sudah berada dikelas, saat perjalanan menuju kelas tampak tidak ada kejanggalan. Karena itu ia bisa dengan mudah pergi.


"Ini sudah ketemu " Ardi mengecek dibangkunya.


Tapi tiba-tiba ada suara jatuh, yang mana bunyi itu berasal dari kursi yang dibanting anak nakal tadi.


"Apa itu " Ardi mulai mencari-cari suara itu.


*************


Tapi karena tidak ada lagi setelahnya, Ardi memutuskan untuk tidak menghiraukan suara itu.


Tapi suara itu kembali datang lagi. Tapi bukan suara jatuh melainkan suara minta tolong Hana. Ardi mencoba menghiraukan tapi suara itu tampak sudah tidak berdaya lagi.


"Aduhhhh, mana mungkin aku menghiraukan suarq minta tolong ini. Aku harus membantunya bisa saja ia benar-benar minta tolong " Ardi memutuskan intuk berlari menceri suara tersebut.


Hingga Ardi sampai disuatu tempat yang ada Hana didalamnya. Tampak mereka sedang mencoba memukul Hana dengan sapu.


Melihat seorang akan memukul perempuan dengan sapu. Ardi tidak bisa membiarkan itu. Reflek Ardi langsung berlari dari belakang dengan cepat menghampiri anak nakal yang membawa sapu.


Tapi kedatangan Ardi terlambat karena sapu yang dilayangkan oleh anak nakal tadi hampir mengenai Hana. Merasa tidak mempunyai waktu lagi Ardi langsung menendang tubuh anak yang membawa sapu tadi.


Tendangan keras itu membuat anak nakal itu jatuh tersungkur dan membuat ia tidak bisa memukul Hana dengan sapunya.


************


Disisi lain dalam pandangan Hana.


Hati Hana semakin rileks karena mendengar suara yang lembut itu. Hana akhirnya bisa sedikit demi sedikit membuka matanya.


(Siapa, siapa yang datang. Tapi kedengarannya aku kenal suara ini) Hana dalam hati bertanya-tanya sambil sedikit demi sedikit membuka matanya.


Hana telah membuka mata sepenuhnya dan ia sangat terkejut karena yang ada didepannya tidak lain adalah Ardi yang sangat populer dikelas.


"A,,Ardi, kenapa kamu disini " tanya Hana gelagapan karena terkejut dengan kedatangan Ardi.


"Hahaha, itu sepertinya aku telah ketinggalan bukuku dikelas " Ardi mengaruk kepalanya kikuk dan santai.


"Hehehe. Aku pikir saat ini bukanlah hal yang santai. Kamu haris melawan mereka bertiga " gunam Hana heran dengan Ardi yang santai.


***********


"Apa kamu tidak apa-apa " Kedua temannya yang lain menghampiri anak yang sudah ditendang oleh Ardi tadi dengan khawatir.


"Kau pikir, kau siapa hahhh. Beraninya kamu menendangku. Kamu belum merasakan pukulanku ya " Anak nakal itu dengan sombongnya menantang Ardi.


"Aku adalah Ardi, apa ada masalah " tantang Ardi bersiap untuk bertarung meskipun ia merasa akan kalah karena dirinya bertarung sendirian.


"Hahhh, beraninya kamu menantangku, ayo kita serang dia" jawab pemimpin grub anak nakal itu.


Tapi tidak ada respon dari teman-teman dibelakangnya. Tampak mereka sedang memikirkan seseatu setelah Ardi menyebutkan namanya.


"Ada apa kalian berdua " tanya pemimpin mereka bingung karena mereka tampak sedang memikirkan seseatu.


"Eh, hehehe. Maaf " keduanya terkejut karena dipanggil.


"Ada apa sih. Sekarang kita serang dia " pemimpin anak nakal itu mengajak kedua temannya untuk menyerang Ardi.


Tapi mereka tidak maju-maju juga. Hal itu membuat pemimpin mereka kesal dan berbalik menanyai mereka lagi." Ada apa sih dengan kalian berdua ini "


"Hehehe boss. Sebaiknya kita mundur saja dari sini " saran salah satu temannya.


"Apa, kita tidak bisa mundur. Lihat ia sendirian, kita mempunyai kesempatan menang. Ayolah jangan mundur " pemimpin mencoba membujuk agar tidak mundur.


"Tapi boss, dia ini adalah salah satu. Orang yang dihormati disini boss. Bos sebaiknya tidak melawannya kalau tidak akan menerima akibatnya " kedua temannya mencoba menjelaskan kenapa mereka enggan menyerang Ardi saat ini.


"Apaa dia ini " pemimpin tadi terkejut mendengar kalau Ardi orang dihormati.


"Jika bos ingin menyerangnya maka kami undur diri " kedua temannya tadi, mau melarikan diri tidak mau melawan Ardi.


"Hey kalian mau pergi kemana " teriak pemimpin kesal memanggil kedua temannya tadi.


Tapi teriakannya tidak dihiraukan oleh mereka. Karena mereka saking takutnya kepada Ardi karena ada rumor kalau Ardi telah melawan puluhan penjahat selama ini.


Tapi itu tidak benar, karena Ardi juga tidak tahu. Kapan telah melawan para penjahat selama ini.


*************


"Eh kemana mereka pergi " gunam Ardi terkejut karena mereka pergi begitu saja.


(Untungnya mereka pergi. Kalau tidak bisa dipukuli aku nanti. Tapi kalau hanya satu saja mungkin aku bisa melawannya ) dalam hati Ardi merasa lega karena musuhnya hanya satu sekarang.


***********


"Dasar mereka ini tidak berguna sana sekali. Tapi sepertinya aku sendirian bisa mengatasimu " ucap dengan sombong pemimpin anak nakal tadi.


"Hah, jangan harap kau bisa menang " Ardi tersenyum meremehkan pemimpin itu.


Tapi berbanding terbalik dengan sikapnya tadi. Dalam hati Ardi ia sekarang sedikit ketakutan karena tampak musuhnya sekarang kuat.


(Aku harus hati-hati ini, jika tidak malah aku yang babak belur.) Dalam hati Ardi menyakinkan dirinya agar menang melawannya.


Hana yang ada disamping mereka. Dia mulai terkagum-kagum dengan Ardi yang sangat berani melawannya.


(Aku mohon selamatkan dia. Jangan sampai terluka ) Hana dalam hari berharap Ardi tidak terluka karenannya.


*************


Tampak suasana dikelas itu memanas, karena niat untuk selalu mengalahkan musuhnya ada ditatapan mereka.


Mereka saling mendekat satu sama lain. Dengan tatapan tajam mereka saling menatap, untuk mengeluarkan serang pertama mereka.


(Dalam serangan pertama ini aku harus mengalahkannya. Jika tidak aku bisa babak belur nih. Tapi aku harus menunggu ia melancarkan serangan terlebih dahulu sehingga aku bisa menangkis serangannya dan membalasnya ) dalam hati Ardi ia bertekad menang.


(Sepertinya aku harus menunggunya menyerang terlebih dahulu. Aku nasih belum bisa membaca pergerakannya. Dilihat dari ia berdiri tampak ia berpengalaman nih ) ucap pemimpin tadi mulai semangat.