
Kanna berhenti sejenak dihadapan Ardi sekarang.
"Kanna..." Ardi khawatir dengan Kanna.
"Apa kau juga " ucap Kanna tiba-tiba sambil menatap tajam Ardi dengan mata yang memerah karena habis menangis.
Ardi terkejut juga bingung dengan apa yang sudah dilakukan Kanna sekarang. Ardi mencoba menghentikannya tapi Kanna menghiraukannya.
"Kanna apa yang kamu lakukan. Tenanglah " Ardi ikut juga masuk kekelas.
"....." Kanna tidak menanggapi dan masih sibuk dengan membereskan barangnya.
Semua siswa yang ada didalam kelas terkejut dengan yang sedang terjadi tiba-tiba. Siswa yang melihat hal itu sedang saling berbisik menduga kalau itu adalah pertengkaran kekasih. Karena masih dalam waktu istirahat maka guru masih belum datang.
"Kanna, Kanna " Ardi mencoba menyadarkan Kanna.
Tapi usaha Ardi sia-sia karena Kanna langsung membawa tasnya pergi keluar. Kanna langsung pergi menuju kedepan sekolah.
"Kanna..." Ardi mencoba mengikuti dan akhirnya berhenti.
Ardi sadar bahwa jika dia berbicara sekarang, itu akan sia-sia karena dia tampak sudah sedih sekali. Ardi akhirnya memilih mundur untuk sekarang.
"Kenapa, kenapa Kanna tiba-tiba begitu " Ardi sedang bingung, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Aku harus menelfon Near ini. Dia pasti tahu alasan Kanna tiba-tiba sedih begitu" Ardi mencari kontak Near diponselnya.
Ardi menelfon Near tapi panggilannya Ardi tidak diangkat oleh Near. Tidak ada pilihan lain Ardi memilih untuk mencari Near diseluruh sekolah.
"Kanna tadi datang dari arah sana mungkin Near juga ada disana " Ardi mengikuti tempat Kanna datang tadi guna mencari Near.
**********
Setelah beberapa menit mencari bahlan bel masuk berbunyi. Dia masih mencari Near, tetapi usahanya terbalaskan karena Near sidah ditemukan.
Near masih berada diruangan itu, tampak dia masih terdiam terpaku manatap lantai dengan wajah sedihnya. Ardi melihat Near seperti itu sekarang, dia hanya bisa diam melangkah pelan mencoba memahami situasi.
Ardi mencoba bertanya pelan kepada Near dengan mendekatkan dirinya.
"Apa yang sedang terjadi.." Ardi bertanya pelan.
Near tersenyum menunjukkan buku harian Kanna yang hilang.
"Mungkin aku tidak cocok menjadi temannya."
Ardi terkejut melihat buku harian Kanna yang dia beli dengan Near dulu. Ardi akhirnya mengerti situasinya sekarang, Ardi langsung mengetahui bahwa ingatan Kanna sudah kembali.
"Sabar, mungkin dia sedang kecewa sekarang tapi pasti dia memahami perasaanmu " Ardi menepuk pundak Near menyemangatinya.
Near hanya bisa tersenyum menunduk menanggapi ucapan Ardi.
"Iya semoga saja begitu "
************
Kanna sekarang sudah ada dirumahnya. Kanna langsung memasuki kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Perbuatan Kanna barusan membuat Ibunya yang ada dirumah terkejut melihat Kanna tiba-tiba pulang kerumah jam segini padahal masih ada waktu untuk sekolah.
Merasa ada yang tidak beres ibunya mencoba mengetuk pintu kamar Kanna tapi tidak dijawabnya.
"Kanna, kenapa kamu tiba-tiba begitu nak " ibunya mencoba memanggil.
"...." tidak ada tanggapan dari Kanna.
**********
"Kenapa kamu tidak menepati janjimu " gunam Kanna mengigit bibirnya mencoba menahan tangis.
Air matanya yang menetes membasahi bukunya. Membuat Kanna tidak menulis, semakin frustasi Kanna menyobek kertas itu.
Tidak bisa menahan tangisnya lagi Kanna menyadarkan kepalanya ketangannya sendiri kemeja belajarnya.
"Haaaa....." tangis keras Kanna yang terdengar ibunya didepan pintu kamar anaknya.
Ibunya hanya bisa terdiam mendengar anaknya menangis dengan keras didepan pintu. Hari itu adalah hari dimana Kanna sangat sedih.
************
Besok harinya Kanna tiba-tiba terbangun dari tidurnya semalam. Seperti biasanya Kanna lupa ingatan jadi dia mulai membaca buku hariannya.
Membaca setiap halaman perhalamannya membuat Kanna ingat rasa waktu yang terjadi. Walaupun hanya hatinya yang mengingat semua kenangan itu, tetapi rasa itulah yang membuat Kanna mengenal orang-orang disekitarnya.
Kanna pergi keruang makan untuk memakan sarapannya. Kanna bersikap seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kanna langsung duduk memakan sarapannya tanpa banyak berbicara.
"Emmm...enak " gunam Kanna berpura-pura.
Ayah dan ibunya Kanna hanya bisa menatap sedih melihat putrinya yang kemarin menangis tapi sekarang menjadi bahagia. Seolah dia tidak akan pernah merasakan kenangan sedih dan senang dalam hidupnya.
"Apa yang terjadi, kenapa ayah dan ibu menatapku. Apa ada yang salah denganku " tanya Kanna memegang wajahnya kebingungan.
"Oh tidak apa-apa. Ayah hanya senang kamu makan dengan lahap." Ujar ayahnya pura-pura tertawa bahagia.
"Ibumu ini juga senang karena kamu makan dengan lahap" ibunya memberikan lauk kepada Kanna.
"Emm...ayah ibu " Kanna merajuk malu dengan apa yang barusan diucapkan oleh ayah dan ibunya.
Mereka tertawa bersama dalam meja makan itu. Meskipun Kanna sebenarnya sudah mengerti situasi yang terjadi pada dirinya dia tetap diam didepan ayah ibunya untuk tidak terlalu membuat mereka khawatir.
(Maaf ayah ibu telah membuat kalian khawatir begitu kemarin, tapi aku tau kalian hari ini sedang sedih. Jadi aku hanya bisa tertawa agar kalian tidak terlalu khawatir) dalam hati Kanna berfikir.
***********
Kanna pergi seperti biasanya kesekolah, tetapi ada satu hal yang membuat dia berbeda dia tidak mendekat kepada Ardi dan Near. Bahkan waktu istirahat Kanna memilih makan makanannya disuatu tempat yang tidak ketemuan sama Near dan Ardi.
Begitupun dengan Ardi dan Near mereka hanya bisa terdiam menunggu Kanna menerima kebenarannya. Ardi dan Kanna juga merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan selama ini.
Hal itu terus terjadi selama seminggu setelah mereka berpisah. Kanna yang masih tetap diam karena kecewa begitu juga dengan Near dan Ardi yang masih merasa bersalah kepada Kanna.
***********
Hari minggunya
Kannna masih merasakan kekecewaan yang paling dalam. Dia membaca berulang kali buku lamanya yang sekarang menjadi tempat dia menulis kesehariannya karena waktu itu Kanna masih belum mengetahui kebenaran buku harian baru yang telah hilang.
Seperti hari minggu sebelumnya Kanna masih malas-malasan membaca bukunya diranjang tempat tidurnya.
"Hahh..apa yang harus kulakukan hari ini. Karena aku masih marah dengan Near dan Ardi maka aku tidak biaa keluar " Kanna dengan malas mengenggam buku harian ditangan kanan.
Entah karena tangannya licin atau terlalu malas Kanna mengangkat buku hariannya Kanna menjatuhkan buku harian kelantai.
"Hahhha..." Kanna menghela nafas panjang malas mengambil buku hariannya.
Tetapi saat mau mengambil buku hariannya. Tampak Kanna sangat terkejut melihat buku hariannya yang terjatuh dengan posisi terbuka. Buku itu menunjukkan seseatu informasi yang penting.
Kanna mengambil buku harian itu dan membacanya. Mata Kanna terbelalak melihat isi dihalaman tersebut.
"Astaga ini hari minggu bagaimana aku bisa sangat lupa akan hal ini " ucap Kanna menutup mulutnya terkejut.