REPEATING TIME

REPEATING TIME
Chapter 142



"Kamu berhasil menyelamatkan temanmu. Jadi tersenyumlah Near " ucap kepala sekolah tersenyum mengusap kepala Near dengan lembut.


"Tapi guru, aku terlambat mengambil keputusan untuk menggunakan tangan kananku. Padahal teman-temanku sudah sekarat, tapi aku malah masih memikirkan resiko tanganku " ucap Near sedih karena keputusan terlambatnya teman-temannya terlukap parah semua.


"Hmm(tersenyum hangat)... wajar jika kamu masih ragu. Kamu dapat berfikir makanya kamu bisa ragu. Jadi jangan salahkan dirimu, kamu berfikir sebelum bertindak itu bagus karena jika kamu bertindak gegabah nanti malah membuat teman-temanmu semakin berbahaya " ucap kepala sekolah mencoba menyemangati Near.


Tapi sepertinya dengan penjelasan kepala sekolah Near masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Sehingga tidak ada pilihan lagi kepala sekolah dengan tersenyum memakaikan jaket ke Near lalu kepala sekolah menunjuk kearah Hana.


"Kamu lihat ada orang yang dari tadi khawatir dengan Ardi. Tapi dengan keputusanmu untuk menggunakan tangan kananmu kamu menyelamatkan senyumannya. Jadi bebanggalah pada dirimu sendiri, walaupun keputusanmu terlambat. Kita tidak dapat melihat masa depan atau mengubah masa lalu, jadi belum tentu kalau menggunakan kedua tanganmu diawal akan membuat mereka selamat. Bisa saja kamu malah kelelahan dan tidak bisa menyelamatkan mereka " ucap kepala sekolah kepada Near.


Near mulai bisa menerima dengan keputusannya itu. Near menunduk air matanya mulai menetes mengeluarkan seluruh kesedihannya.


"Oleh karena itu, terima kasih atas kerja kerasmu. Near...." Kepala sekolah pergi melewati Near tapi sebelum pergi ia sempat memegang pundak Near untuk menguatkannya.


"Terima kasih..terima kasih guru....." ucap Near terisak-isak meneteskan air matanya.


*************


Setelah menenagkan Near, Kepala sekolah melihat-lihat kedalam gedung. Saat itu terlihat pria tua yang melawan Near mau dibawa keambulance menggunakan tandu untuk dilarikan dirumah sakit. Kepala sekolah melihat pria tua itu dari kejauhan dan semakin mendekatinya dengan petugas membawanya.


Saat mau melewati kepala sekolah pria tua itu menyuruh petugas ambulan untuk berhenti sebentar.


"Apa yang anda katakan. Jika anda tidak segera dibawah dirumah sakit nanti lukanya akan menjadi serius." Ucap petugas ambulan khawatir.


"Apa kau pikir aku akan mati sebegitu saja. Aku sudah melewati rasa hampir mati ini beberapa kali. Jadi jika hanya berbicara sebentar tidak apa-apa kan " marah pria tua itu karena dibantah.


"Biarkan saja. Dia tidak akan tinggal diam jika permintaannya tidak dituruti. Sebentar saja biarkan kami berbicara " ucap kepala sekolah membujuk petugas.


Petugas itu mengangguk menyetujui tapi hanya sebentar saja.


"Lama tidak jumpa pak kepala sekolah. Sekarang kamu jadi kepala sekolah kan " ucap Pria tua itu seolah mengenalnya.


"Iya, aku masih jadi kepala sekolah. Kudengar kau melawan muridku " tanya kepala sekolah pada pria tua itu.


"Hmm, apakah dia murid sekolah atau yang lain. " tanya balik Pria tua itu.


"Sepertinya kamu sudah mengetahui dia adalah muridku ya." Ucap kepala sekolah tidak menduga kalau pria tua itu tau kalau ia yang mengajari Near.


"Awalnya aku tidak percaya kalau itu muridmu saat menggunakan satu tangan. Tapi setelah ia menggunakan kedua tangannya, aku jadi yakin kalau ia muridmu dari tehniknya. Tapi sedikit berantakan tehniknya, begitu juga kau saat melawanku " ucap pria tua itu mengingat masa lalu.


"Hahaha, dulu aku amatir juga. " ucap Kepala swkokah tertawa terbahak bahak.


"Dulu ataupun sekarang aku tidak bisa mengalahkan muridmu ataupun dirimu " ucap Pria tua itu sedih.


Suasana mereka menjadi sedih terasa kecanggungan mendengar mereka berkata itu.


"Kapan-kapan kita makan bersama saat kau bebas " ajak kepala sekolah.


"Baiklah, sepertinya sudah waktunya aku untuk tidak bertarung lagi. " uca Pria tua itu tersenyum diikuti juga dengan kepala sekolah tersenyum.