REPEATING TIME

REPEATING TIME
Kejadian Kepala Sekolah Setelah Kasus Melawan Penjahat



Setelah hukumannya dicabut mereka bertiga tidak bisa berhenti tersenyum saling menatap masing-masing.


"Okelah masalah kan sudah selesai disini benar kan" tanya Kepala sekolah meminta kepastian wali kelas Kanna.


"Iya sepertinya begitu. Tidak ada pilihan lagi selain selesai." Ucap Wali kelas dengan gugup.


"Kalau sudah selesai. Maka kalian bertiga ikut aku sebentar diruanganku. Ada yang mau kubicarakan sebentar. " Kepala sekolah itu menunjuk kearah Kanna, Near dan Ardi.


"Eh..." mereka bertiga terkejut karena mereka pikir kalau ada masalah lain.


"Kenapa apakah ada masalah lagi dengan kami " tanya Ardi penuh khawatir.


"Tidak.. hanya bicara biasa saja kok. Oke pak guru kita pergi dulu" Ucap kepala sekolah dengan lembut dan melangkah pergi.


Mereka bertiga tidak ada pilihan lain selain mengikuti kepala sekolah keruangannya. Dengan sedikit khawatir mereka saling berbisik.


"Hey, apa ada seseatu yang terjadi. " tanya Ardi.


"Hmmm...entahlah aku tidak tahu " ucap Near pelan.


"Kita ikuti saja dulu." saran Kanna menghentikan mereka berbisik.


************


Wali kelas Kanna hanya bisa diam kebingungan dengan situasi yang terjadi. Karena dia belum menjumpai kasus seperti ini.


Tapi dalam hatinya ia merasa lega karena dirinya tidak bisa melihat murid-muridnya sedih.


Dengan helaan nafas panjang karena lega. Ia langsung duduk kembali mengambil surat hukuman mereka bertiga.


"Sepertinya aku tidak butuh ini lagi." Wali kelas Kanna langsung menyobek kertas itu jadi dua dan ia langsung membuangnya dalam sampah.


"Semoga saja mereka baik-baik saja dengan kepala sekolah tersebut." Ucap wali kelas tersebut keluar ruangan dengan tersenyum lega.


***************


Mereka bertiga masih mengikuti kepala sekolah menuju keruangannya. Dengan sedikit kebingungan mereka berjalan dibelakangnya.


"Kalian pasti berfikir kenapa dipanggil padahal masalah sudah selesai. Tenang saja kok, aku hanya ingin berbicara seseatu kepada kalian." Kepala sekolah memberitahu secara tiba-tiba.


Mendengar ucapan kepala sekolah tadi membuat mereka bertiga bisa sedikit rileks.


"Hehehe iya, maafkan kami berfikir begitu " Ardi tersenyum menggaruk kepalanya dengan kikuk.


"Tapi apakah punggung kakek baik-baik saja sekarang. Terima kasih telah membantuku waktu itu." Ucap Near tanpa ragu sambil tersenyum


FLASHBACK ON


Sebenarnya waktu itu setelah polisi datang. Tampak semua penjahat telah dibawa pergi oleh polisi.


Tapi yang bikin terkejutnya adalah mereka juga menangkap kepala sekolah tanpa konfirmasi terlebih dahulu identitasnya.


Kejadiannya...


"Apakah kita perlu menangkap ia juga pak " tanya polisi junior ke polisi yang lebih senior.


"Hahh...gitu aja ditanyakan. Tentu saja bawa ia kekantor polisi. Apakah kamu mau dipecat karena telah melepaskan satu penjahat." Ucap polisi senior menasehati.


"Oh maafkan saya telah menanyakan pertanyaan bodoh itu. Saya pikir tadi ia adalah korban karena tampak tua. Makanya saya sedikit ragu" polisi junior tadi memberi hormat meminta maaf.


"Gak perlu minta maaf begitu. Yang penting kau paham. Jangan diulangi lagi, bisa saja pria akan berpura-pura kesakitan nanti dan membodohimu. Lebih baki kau berhati-hati " beritahu polisi senior memberikan saran kepada yang junior.


"Siap pakk " Polisi junior memberi hormat dengan kagum pemikiran polisi senior.


(Kasiannya, dia ini sudah tua tapi menjadi penjahat. Apa mungkin ia sedang membayar utangnya dengan menjadi anak buah para penjahat. Betapa malang nasibnya.) Dalam hati polisi junior membicarakannya.


***************


Kepala sekolah yang tidak tahu apa-apa harus dibawa kekantor polisi. Dalam keadaan pingsan ia langsung dibawa ke sel penjara secara terpisah dengan anak buah bos penjahat karena tempatnya penuh.


Setelah sekian lama pingsan, kepala sekolah itu terbangun dan terkejut karena tiba-tiba berada dalam ruangan yang terang dan tampak tidak asing.


Setelah melihat-lihat mencoba menyadari dimana ia berada. Selang beberapa menit, polisi junior datang melihatnya.


"Sudah sadar kakek " polisi junior tampak sibuk merapikan barang.


"Eh...dimana ini." Tanya kepala sekolah masih bingung.


"Dimana lagi setelah melakukan kejahatan. Maka harus masuk penjara. Jadi inilah penjara." Polisi junior menjelaskan.


"Apaaa...aku melakukan kejahatan. Kapan aku melakukannya " Kepala sekolah tampak sangat terkejut karena dirinya dicap sebagai penjahat padahal ia membantu disana.


"Hahaha...Leluconmu sudah biasa kakek." Tawa polisi junior mengirakan jawabannya.


"Eh apa lelucon. Aku ini benar-benar bukan penjahat. Aku adalah seorang kepala sekolah " kepala sekolah tampak ngotot membenarkan dirinya.


"Iya iya kek. Cukup dengan kebohonganmu itu. Kebohongan ini sudah sering terjadi dalam penjara." Jawab Polisi junior masih mengira kalau kepala sekolah itu bebohong.


"Sudah cukup dengan kebohonganmu." Polisi junior melangkah pergi sambil menutup telinganya.


Kepala sekolah hanya bisa mengigit jari bingung. Karena ia tidak ada pilihan selain bantuan dari orang luar.


Dalam situasi itu tiba-tiba datang salah satu guru. Dia langsung menjelaskan situasinya dan menunjukkan sebuah tanda bahwa salah satu pria yang ditahan adalah kepala sekolah.


Dengan situasi tersebut polisi junior itu akhirnya percaya dan langsung membuka sel pintu penjara dengan cepat.


"Maafkan saya pak. Saya benar-benar tidak tahu kalau anda benar-benar kepala sekolah." Ucap polisi junior dengan gugup membuka pintunya.


Sudah terbuka pintu penjaranya, kepala sekolah itu langsung beranjak berdiri. Melangkah keluar penjara, dia berhenti didepan polisi junior tadi dan menatapnya tajam seolah dia sedang marah.


"Maafkan saya pak. Tolong jangan bicarakan ini kepada polisi senior." Polisi junior itu menunduk dengan gemetar karena ia takut kalau akan dipecat.


Bukannya menjawab kepala sekolah itu hanya menatap tajam polisi junior. Membuat polisi itu berkeringat dingin, guru yang memberi konfirmasi juga merasakan perasaan yang tidak enak.


Tidak ingin terjadi masalah dengan tanggap ia langsung mengajak pergi kepala sekolah yang marah itu.


"Ayo kita segera pergi pak. Bukannya anda sedang sakit sekarang." Guru itu mau memegang lengannya, menuntun untuk melangkah pergi.


Tapi ajakan itu ditepisnya. Kepala sekolah itu mengangkat lengannya menghentikan guru itu. Tahu tanda itu tidak ada pilihan guru itu melangkah mundur. "Iya pak."


Kepala sekolah itu mendekati polisi junior tadi dengan tatapan tajam. Merasakan perasaan tidak enak polisi tadi terdiam gemetar ditempat.


"Maafkan saya pak " ucap polisi junior tampak tersudut.


**************


Tapi secara mendadak kepala sekolah itu langsung tersenyum menepuk pundak polisi junior.


"Tenang saja aku tidak akan protes kok. Kan manusia pasti punya salah. Dah kami pergi dulu ya, jaga kesehatanmu " ucap kepala sekolah riang.


"Iya pak makasih " polisi junior tadi mulai lega setelah mendapat perkataan seperti itu.


Akhirnya kepala sekolah bebas kembali dibawa pegi oleh guru tadi. Meskipun ia benar-benar tidak salah dari tadi tapi untunglah ia bisa bebas.


FLASHBACK END