
Pertarungan kelompok Ardi melawan Jason dimenangkan oleh Ardi. Dengan sengit mereka bertarung dalam kurun waktu yang lama tapi tidak ada bantuan dari polisi yang datang menjemput atau menyelamatkan mereka.
Tapi untungnya Ardi dan Near mendapatkan bantuan dari Jason dan Dodik yang merupakan anggota gengnya dahulu.
Mereka semua bentrok saat itu juga dan hasinya Jason menendang dagu Jarwo hingga ia pingsan. Sehingga kenyataan ini bisa dianggap kalau Ardi menang.
Sebelum mereka semua bangkit kembali untuk menyerang Ardi, Near, Jason dan Dodik memutuskan untuk pergi dari tempat itu apalagi mereka sedang kelelahan saat ini.
Tapi saat mau pergi terdengar suara tepuk tangan seoarang. Dia datang mendekat dan sampai digedung tempat mereka bertarubg tadi. Pria tua itu tersenyum dan melangkah masuk. Dia mengenalkan dirinya sebagai guru Jarwo.
"Hahaha, aku siapa. Perkenalkan aku adalah guru Jarwo yang mengajarkan ilmu bela diri padanya. Tapi karena ia tidak berbakat sama sekali, akhirnya ia hanua bisa mnggunakan rencana licik untuk melawan kalian padahal aku sudah berharap dapat murid yang bagus " ucap pria tua itu yang mengaku guru Jarwo.
*************
Dengan perkenalan itu membaut mereka berempat tidak bisa tenang karena mereka pasti akan bertarung. Dan benar Pria tua menjadi semangat karena melihat kekuatan mereka berempat dan memutuskan untuk menantang mereka berempat saat itu juga.
Mereka berempat sempat ragu, sehingga pria tua itu mencoba memprovokasi mereka. Tapi hal itu sia-sia karena Near sudah tau kalau Pria tua itu sedang memprovokasinya. Melihat kalau provokasinya tidak berpengaruh, hal itu malah membuatnya jadi semangat dan tidak sabar bertarung.
"Jangan memprovokasi kami kakek, apa kau pikir kami akan langsung menyerangmu kalau kami mendengar hal itu. Bahkan tanpa provokasimu keliatannya kami akan tetap melawan dirimu " senyum Near mengetahui maksut Pria tua itu berbicara seperti tadi.
"Hahaha, menarik kalian tidak termakan provokasiku. Ini malah membuatku semakin semangat melawan kalian " pria tua tersenyum senang seolah telah menemukan mainan baru.
*********
"Kita harus tetap melawan dia, karena sepertinya ia tidak akan membiarkan kita kabur jika tidak melawannya. " ucap Near mulai serius dan memasang kuda-kuda penyerang.
"Iya, sepertinya begitu. Aku tidak tau seperti apa kekuatannya tapi jangan meremehkannya. Walau ia tampak tua seperti itu aku merasakan kekuatan yang besar dalam dirinya. Tapi kita jangan menyerah, kita harus kuat karena kita harus kembali. Banyak orang yang sedang menunggu kepulangan kita " ucap Ardi tersenyum runyam.
"Iya kami mengerti " jawab Jason.
"Yap " Jawab juga Dodik.
Mereka berdua juga memasang kuda-kuda untuk bersiap bertarung dengan pria tua itu. Keadaan hening terjadi dalam gedung itu. Semua orang didalamnya jantungnya berdebar kencang saling menatap musuh satu sama lain.
Pria tua itu tetap terdiam tanpa ekspresi, hal itu membuat mereka berempat semakin taku untuk maju. Mereka berempat bergetar ketakutan untuk memulai menyerang maju.
"Kenapa, kalian tidak menyerangku segera. Padahal dari tadi aku sudah menunggu" ucap Pria tua itu tiba-tiba.
"Eh " mereka berempat kaget dan bersiap untuk bertarung dengan tangan gemetaran.
"Baiklah jika begitu, jika kalian tidak menyerangku maka aku akan menyerang kalan dulu hahhaha " tiba-tiba tua itu tersenyum dan melangkah maju dengan tawa gilanya untuk menyerang mereka berempat.
Serangan pertama dilancarkan oleh pria tau itu dengan memukul dipipi Dodik dan berlanjut seterusnya hingga pria tua itu menyerang lainnya juga.
Tapi tampaknya mereka berempat tidak ada apa-apanya bagi pria tua itu karena belum beberapa menit mereka berempat jatuh, habis melawan pria tua tersebut.
Pria tua tersebut mundur beberapa langkah setelah menghabisi mereka hingga pingsan.
"Hahaha, tidak kusangka kalian selemah ini padahal kukira kalian kuat. Tapai aku akui kalian lebih baik daripada Jarwo itu. Tapi tetap saja kalian bukan tandinganku. Baiklah mari kita akhiri ini saja biar kalian tidak merasakan sakit lagi. " ucap Pria tua tersebut melemaskan tangannya dan melihat Jason.
Dengan terseyum gila Pria tua tersebut berlari dengan cepat kearah Jason yang sedang duduk dilantai karena sudah tidak kuat lagi untuk bertarung saking sakitnya. Near dan Ardi berusaha mencegah Pria tua itu untuk menyerang Jaso tapi karena mereka sedikit jauh dari tempatnya makanya mereka tidak bisa tepat waktu menyelamatkannya.
Jason yang tidak bisa bergerak itu ia hanya bisa terdiam menutup matanya menerima kekelahannya dengan lapang dada.
(Ahhhhh, ternyata kemampuanku sudah tumpul ya. Jadi inilah akhirku, padahal aku berniat membantu Ardi tapi samai ini saja aku bisa membantu ) ucap dalam hati Jason menerima nasibnya.
Pria tua itu semakin dekat dengan Jason, pria tua itu tidak melambatkan larinya dan mulai menarik lengannya untuk bersiap melancarkan serangan kearah Jason. Pria tua tersebut tidak melambatkan kecepatannya agar ia bisa mengeluarkan serangan yang kuat sehingga ia tidak bisa bangkit lagi.
Dengan pengalamannya pria tua tersebut yakin kalau yang kena pukulannya tersebut tidak bisa bangkit kembali dalam kurun waktu yang lama.
"Tumbanglah satu oranggggg " teeiak pria tau itu menikmati kemenangannya eambil melancarkan serangan kearah wajah Jason.
Sudah semakin dekat pukulan pria tua tersebut agar sampai kewajah Jason. Tanpa basa-basi lagi ia menikmati kemenangannya.
Tapi tiba-tiba Dodik melompat didepan Jason untuk menyelamatkannya dari pukulan mematikan itu. Hingga akhirnya pukulan tersebut mengenai perut Dodik dengan keras hingga membuatnya terpental bersama Jason sebagai sandarannya.
Jason terdorong jauh kebelakang karena Dodik menerima langsung pukulan mematikan pria tua tersebut sehingga Jason yang dibelakangnya juga ikut terpental.
"Aduhhhh " Jason terkejut karena ia sampai tertimpa beban yang berat dan mendorong dirinya jauh kebelakang.
Tapi ia hanya terasa sedikit sakit sehingga ia melihat beban apa yang aedang menghantamnya. Jason sangat terkejut karena beban yang berat itu adalah Dodik yang sudah tidak sadarkan diri.
"Eh, dodik. Kenapa kamu bisa disini. Dodik bangun" Jason dengan putus asa mencoba membangunkan Dodik.
"Aduhhh keliatannya aku meleset tadi. Padahal aku sudah yakin kalau dia yang bakalan pingsan malah orang lain. Tapi tak apalah ini hanya untuk pemanasan. " ucap Pria tua itu mengibaskan tangannya kesakitan habis memukul perut Dodik.
"Jadi kamu yang membuatnya begini " Jason tiba-tiba jadi serius dan mulai meletakkan tubuh Dodik ketempat yang aman.
"Hahaha itu salah dia sendiri. Kenapa ia sampai maju menyelamatkanmu " Ucap Pria tua itu mengelak.
"Kau membuatku marahhhhh " ucap Jason mengengam tangannya menahan rasa kesal.