REPEATING TIME

REPEATING TIME
Chapter 116



Masih menyembunyikan rasa sakitnya Jarwo tidak bisa berbuat apa-apa lagi dihadapan Jason. Jarwo jatuh berlutut dihadapan Jason. Tanpa disadari anak buah Jarwo semua sudah kalah dibereskan oleh ketiga orang yaitu Ardi, Near, dan Dodik selagi Jason menghadapi Jarwo.


"Boss, apakah aku masih biaa bergabung denganmu " ucap Jarwo menengok keatas melihat bossnya penuh harap.


"Iya tenang saja. Kamu selalu diterima disisi kami kok " Jason dengan tersenyum berharap Jarwo kembali.


Jarwo sudah terlihat akan berubah, melihat anak buahnya yang dulu sudah bisa berubah membuat Jason tersenyum dan mulai menjulurkan lengannya untuk menolong Jarwo.


"Boss" mata Jarwo berkaca-kaca, terharu dengan sikap bossnya.


Tapi itu hanya kedok belaka Jarwo karena dalam hatinya ia masih tidak terima rencana yang bertahun-taun ia rencanakan akan berakhir disini begitu saja. Dalam kesempatan ini ia berniat untuk memukul ************ Jason agar ia tidak melawan lagi.


Kesempatan bahwa Ardi benar-benar lengah saat ini. Langsung Jarwo memukul dengan cepat menuju ************ Jason.


Dan tampak semua sangat terkejut melihat apa yang terjedi dengan mereka berdua. Mereka seolah tidak menyangka akan hal itu terjadi.


***********


Ternyata sebelum Jarwo melancarkan serangannya terhadap Jason. Jason tahu lebih dulu kalau Jarwo masih belum menyerah sehingga sebelum terjadi seseatu pada dirinya. Secara relfeks Jason memukul dagu Jarwo dengan kaki kanannya.


Menerima tendangan kaki Jason, Jarwo secara tidak sadar mulutnya berdarah dan jauh kebelakang karena saking kuatnya tendangan Jason. Sontak hal itu membuat anggota yang lain terkejut dengan serangan kuat Jason.


(Gila untung waktu Smp aku kebetulan menang darinya ) ucap Ardi dalam hati lega mengingat kalau dirinya pernah melawan Jason dahulu.


Mendapatkan tendangan Jason akhirnya Jarwo tumbang juga, Jarwo sudah pingsan dan tidak bisa bangkut lagi. Hal itu menjadi kemenangan bagi Ari dan teman-temannya.


"Akhirnya kita menang juga, ahhhhh " Near berteriak lega karena pertarungan mereka sudah berakhir.


Dodik teraenyum melihat Ardi dan Near sudah bisa bernafas lega. Dodik menghampiri Jason yang masih didepan tubuh Jarwo yang sedang pingsan karena tendangannya.


"Boss ayo kita pergi dari sini, sebelum mereka semua sudah sadar kembali " Dodik memegang pundak Jason untuk memberitahunya.


"Iya kita harus segera kembali " Jason masih menatap Jarwo yang pingsan dengan prihatin.


"Bos apakah kamu menyesal telah memukulnya " tanya Dodik melihat mata sedih Jason.


"Tidak, aku tidak sedih karena memukulnya. Malahan aku harus memukulnya untuk menyadarkannya, aku hanya sesih karena tidak bisa menyakinkan Jarwo saat ia pergi dulu. Aku tidak bisa menyakinkan ia agar tidak balas dendam. Hal itu yang oaling kusesali " Jason menghela nafas sedih.


"Boss aku yakin pukulanmu tadi bisa sampai kedalam hatinya. Mungkin saat sadar nanti ia bisa menjadi baik " ucap Dodik berharap.


"Iya, semoga seperti itu " Jason tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Sudah lama mereka berada disana Ardi, Near, Jsaon dan Dodik memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum anggota Jarwo sadar.


"Ayo kita pergi. Nanti bakal merepotkan kalau sampai mereka bangun " ajak Ardi pergi meninggalkan tempat itu.


Apalagi semuanya sudah kelelahan jadi Jason menyetujui saran hal tersebut. Dengan sedikit susah berjalan Ardi bersama temannya bejalan menuju kegerbang pintu.


Tapi tiba-tiba ada suara tepuk tangan dari arah gerbang gedung yang mereka tempati. Mendengar suara tepuk tangan yang misterius itu membuat mereka berempat berhenti berjalan.


Mereka berempat terkejut kalau ada suara tepukan dari luar. Mereka berempat gugup dan juga takut kalau Jarwo membawa bantuan lagi.


[Plak..plakkk..plakkk ] suara tepuk tangan itu semakin mendekat dan semakin mendekatnya tepuk tangan itu membuat keempat anggota jadi berdegup kencang dalam hatinya.


Tampak seorang pria tua yang berdiri didepan gedung itu. Pria tua itu tersenyum melihat Ardi dan lainnya. Mereka berempat masih waspada dengan kehqdiran pria tua tersebut, mereka tidak yakin kalau dia adalah teman atau lawan.


Pria tua tersebut melangkah masuk, hal itu membuat keemaot anggita jadi tidak bisa melangkah maju dan memilih untuk mundur karena saking takutnya.


(Siapa dia, entah kenapa aku tidak bisa melawannya. Apakah dia ini musuh. Sial baru mau keluar, ada masalh juga) keluh kesal Near.


"Siapa kau " tanya Jason memberanikan diri.


"Hahaha, aku siapa. Perkenalkan aku adalah guru Jarwo yang mengajarkan ilmu bela diri padanya. Tapi karena ia tidak berbakat sama sekali, akhirnya ia hanua bisa mnggunakan rencana licik untuk melawan kalian padahal aku sudah berharap dapat murid yang bagus " ucap pria tua itu yang mengaku guru Jarwo.


"Jadi apakah kau akan melawan kami " Tegas Jason untuk mengetahui siapa pria tua itu antara lawan atau teman.


"Hahaha, tenang saja. Aku hanya melihat pertandingan ini dan aku sangat terkesan dengan kalian karena dapat menghabisi mereka semua hanya berempat saja. " Pria tua itu menjelaskan kedatangannya digedung ini.


Mereka berempat lega karena mereka tidak bertarung lagi. Apalagi keliatannya lawan mereka saat ini sangat kuat hingga mereka berharap tidak melawannya.


"Niatnya ingin begiyu tapi setelah melihat pertarungan kalian aku jadi bersemangat sedikit. Jadi aku akan mengumumkan akan menantang duel kalian berempat pada saat ini juga. " Tantang pria tua dengan pedenya.


Mereka sangat terkejut dengan tantanga tiba-tiba itu. Padahal mereka sudah senang tidak bertarung lagi. Mendapatkan tanatangan itu mereka mulai waspada lagi dan bersiap bertempur kapanpun.


"Bagaimana kalau kami menolak" tanya Near berharap situasi ini tidak berlanjut.


"Hahaha. Kalian tidak akan bisa pergi kalau gitu, sebelum melawan diriku aku akan mencegah kalian untuk pergi dari sini bagaimanapun caranya " senyum Pria tua itu dengan licik


(Sial, sepertinya kita terpaksa harus melawannya. Padahal sudah hampir selesai urusannya disini tapi kenapa bisa jadi begini ) Near kesal dengan situasi yang terjadi sekarang karena mereka sudah kelelahan.


**************


"Jadi bagaimana apakah kalian akan terima pertarunganku. Bukankah ini menguntungkan kalian, kalian berempat sedangkan aku hanya seorang saja. Tapi kalian masih ragu untuk melawanku. Ternyata kalian hanya kebetulan saja menang melawan Jarwo itu " ucap Pria tua itu mencoba memprovokasi.


"Jangan memprovokasi kami kakek, apa kau pikir kami akan langsung menyerangmu kalau kami mendengar hal itu. Bahkan tanpa provokasimu keliatannya kami akan tetap melawan dirimu " senyum Near mengetahui maksut Pria tua itu berbicara seperti tadi.


"Hahaha, menarik kalian tidak termakan provokasiku. Ini malah membuatku semakin semangat melawan kalian " pria tua tersenyum senang seolah telah menemukan mainan baru