
Near melayang tinjunya kearah pria tua itu dengan sekuat tenaga. Dengan pukulan tersebut, hal itu jelas membuat pria tua itu jatuh pingsan kebelakang. Tapi sebelum jatuh ketanah tampak pria tua itu tersenyum puas seolah ini adalah pertarungan yang ia cari selama ini.
(Hahhh, sudah lama perasaan ini. Perasaan melawan orang yang kuat ) ucap dalam hati pria tua itu memandang langit-langit gedung tua tersebut sesaat setelah ia jatuh.
***********
Near menarik lengannya dengan hembusan nafas sedih. Dia menatap pria tua itu dan segera kembali ketempat Ardi berada.
"Ayo kita pergi, sebelum Jarwo dan teman-temannya bangun " ucap Near sambil mengangkat Ardi.
"Iya, kita pergi " ucap Ardi tersenyum.
Sesaat mereka mau sampai didepan pintu keluar gedung. Terdengar suara dari belakang mereka. Hal itu sontak membuat mereka berempat berpaling kebelakang.
Ternyata dibelakang mereka yaitu Jarwo dan beberapa anggotanya sudah mulai bangun dengan bingung.
"Aduh dimana ini dan apa yang sudah terjadi " ucap Jarwo bingung
"Bos kenapa kita disini " tanya anak buahnya juga ikut bingung.
"Mana aku tau, aku juga bingung... " sesaat mereka melihat kedepan yaitu tempat mereka berempat berada.
Melihat siapa yang ada dihadapannya, sontak hal iu membuat Jarwo mengingat atas balas dendamnya kepada Ardi.
"Ahhh, kita disini masih beLum membalaskan dendam kita kepada Ardi " tunjuk Jarwo dengan geram kearah Ardi.
"Tapi boss kenapa mereka sudah terluka parah begitu " tanya anak buahnya
"Mana gua tahu hal itu, tapi kemenangan ada ditangan kita. Liat mereka tampak sudah tidak kuat lagi untuk bertarung. Kesempatan kita untuk melawan habis mereka " ucap Jarwo dengan semangat.
"Benar itu, mereka tampak sudah tidak kuat lagu bertarung." Ucap anak buahnya menyetujui setelah melihat mereka berempat.
"IYAAAAA " teriak anak buahnya penuh semangat.
"Sekarang tidak ada yang berani lagi untuk melawan kita. Seklah lain akan tunduk sama kitaaaaa. Hauahaha " teriak Jarwo penuh ambisi.
"Hahahaha " anak buah lainnya uuga ikut tertawa menantikan kemenangan itu.
*************
Disisi lain mereka berempat sudah tidak kuat lagi bertarung. Mungkin hanya Near dan Dodik yang bisa, tapi itu pasti hanya beberapa menit hingga Near dan Dodik dapat terus berdiri.
Near tahu itu dan teman-temannya juga. Tapi tidak ada pilihan lain Near mengajukan diri untuk melawan kelompok Jarwo sendiri begitu juga dengan Dodik.
"Biar aku dan Dodik yang akan menghadapi mereka." Ucap Near sambil melepaskan pegangan Ardi.
Begitu juga dengan Dodik ia mau melepaskan pegangan Jason dan mau menyuruh mereka untuk duduk.
"Kalian berdua(Ardi dan Jason) duduk saja disini biar kaki yang mengalahkannya " ucap Near.
Tetapi mereka berdua tidak duduk.
"Tidak, kami akan membantu. Kita harus menyelesaikan ini sampai akhir " ucap Ardi menolak untuk diam saja.
"Iya kami tidak akan diam saja saat kalain bertarung " ucao Jaso juga menolak untuk duduk diam.
Near menghela nafas dan mengangguk menyetujui mereka untuk membantu. Karena Near tau kalau mereka akan tetap membantu walau dirinya memaksa mereka untuk duduk.
"Baiklah kita akan akhiri ini untuk yang terakhir kalinya dan keluar dari sini jugaaaaa " ucap Near berbalik kerah Jarwo dengan penuh semangat.
"Iya " ucap mereka bertiga penuh semangat dibelakang Near.