REPEATING TIME

REPEATING TIME
Chapter 141



"Tidak, tidak mungkin itu guru. " teriak Jarwo tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat dipojok gedung.


Jarwo melihat gurunya yang ia kagum-kagumi dan selalu mendukung ambisi balas dendamnya kepada Ardi sedang terkapar lemas dipojok gedung. Pria tua itu sudah babak belur dengan banyak darah diwajahnya. Pria yang ia yakini bisa melawan berapa ratus orang sendirian, dia sekarang melihat kekalahannya.


"Tidak, tidak mungkin kamu bohong. Dia pasti bukan guruu... akan kutelfon dia. Dia pasti sedang durumahnya, aku yakin itu. Dia pasti tiruannya ( menunjuk gurunya yang terkapar ) " ucap Jarwo menyangkal semuanya sambil menekan nomor gurunya.


Ia menelfon gurunya, terdengar suara dari arah pria tua itu. Jarwo mencoba mematikan telfonnya dan seketika itu ponsel pria tua itu uga ikut berhenti. Ia melakukan itu sekali lagi dan hasilnya tetap sama seperti sebelumnya sehingga ia tidak bisa mengelak lagi.


"Tidak, tidak mungkin " Jarwo jatuh kecewa.


"Terimalah kenyataanya Jarwo " tampak pria tua itu sudah sadar.


"Eh, guru" Jarwo terkejut dengan suara dari gurunya(pria tua) begitu juga dengan yang lain.


Mereka terkejut karena mengira kalau pria tua itu sudah pingsan karena melawan mereka berempat. Tapi ternyata ia masih sadar dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan.


"Terimalah kenyataanya Jarwo " ucap sekali lagi dari pria tua itu.


"Guru, ini tidak mungkin kan. Kamu pasti bercanda kan soal kalah dengan mereka. Mereka pasti menggunakan trik curang untuk melawanmu bukan... aku akan membalaskan kepada mereka. Tenang saja " ucap Jarwo tidak pecaya.


"Sudahlah kau membuatku malu saja. Aku sudah tidak bisa bertarung lagi, bahkan tubuhku tidak dapat bergerak lagi. Aku kalah melawan mereka walaupun aku sudah serius. Itulah kenyataannya Jarwo terima saja " pria tua itu menjelaskan kepada Jarwo.


"......" Jarwo terkejut dan menunduk pasrah.


"Lagian kalah tidak bgitu buruk. Disini kau dapat melihat kalau diatas langit ada langit lagi. Sama sepertiku pasti ada yang lebih kuat dariku. Oleh karena itu jangan terlalu berharap apa-apa dariku...." ucap pria tua itu tersenyum sedih.


Jarwo tidak bisa berkata apa-apa lagi dia hanya dia berlutut melihat ketanah merenungi nasibnya. Dan satu persatu anak buahnya mulai menunduk juga pasrah dengan kondisi sekarang.


**********


Pimpinan polisi langsung menyuruh anqk buahnya membawa mereka yang tidak terluka parah kekantor polisi sedangkan yang terluka parah harus dibawa kerumah sakit. Mereka dibawa satu persatu oleh petugas polisi dan ambulance.


Terlihat Hana dan kepala sekolah datang dari belakang. Dengan terharu Hana melihat Ardi selamat dari bahaya tersebut. Hana langsung berlari menghampirinya dan memeluknya dengan refleks Near melepaskan pegangannya agar Hana dapat memeluknya.


"Syukurlah kamu selamat, sykurlahhhh " Hana menangis keras dengan memeluk Ardi.


"Iya syukurlah..." Ardi tersenyum menenangkan Hana.


Near juga ikut senang karena dapat membantu Ardi melwan pasukan Jarwo. Tampak kepala sekolah mendekat kepada Near dengan tersenyum.


"Sepertinya kamu sudah menemukan seseatu yang berharga " ucap kepala sekolah tersenyum sambil melihat tangan kanan Near.


"Iya aku sudah menemukannya guru " ucap Near memegang tangannya sambil tesenyum sedih.