
Selesai makan, tetap tidak ada yang mencurigakan dari gerak-gerik mereka walaupun Kanna sudah fokus pada mereka ketimbang makanannya.
Tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi Kanna bertanya kepada Ardi. Tapi sebelum mengeluarkan sepatah kata bel masuk berbunyi.
Tidak punya pilihan lain Kanna hanya bisa mengucapkan kata perpisahan.
"Sepertinya sudah masuk jadi kami pergi dulu yah " ucap Kanna beranjak pergi meninggalkan Ardi dan mengajak Near segera masuk kekelas.
"Iya terima kasih telah menerimaku disini " ucap Near menunduk tulus.
"Iya..." ucap Ardi tersenyum melambai.
*******
Tidak mau melewatkan kesempatan bertanya lagi. Kanna langung bertanya ke Near.
"Hei apakah kamu kenal Ardi " tanya Kanna sambil melangkah menuju kelas.
"Tidak, memang ada apa " jawab Near seolah benar-benar tidak kenal Ardi.
"Tidak, karena kelihatannya Ardi juga mengenalmu begitupun saat aku melihatmu." Kanna menunduk sedih.
Kanna langsung sadar dengan apa yang barusan diucapnya "eh...hahaha, maafkan aku bicara ngelantur begitu"
Near sedih karena dalam hati kecilnya dia mau memberitahu Kanna tapi ditahannya.
"Oh..sepertinya ada yang ketinggalan dibelakang sekolah tadi " ucap Near meraba-raba sakunya.
"Eh, apa perlu aku temani " Kanna tampak mengkhawatirkan Near.
"Oh tidak papa aku bisa sendiri. Nanti kamu bilang keguru ya bahwa aku sedang ke toilet" ucap Near berlari menuju kebelakang sekolah.
"Iyaa " Kanna dengan keras agar Near bisa dengar.
Kepala Kanna pusing melihat punggung Near. Sekilas ingatan tentang Kanna pergi dengan Ardi meminta bantuan, dipikiran Kanna.
Terasa sakit lagi dihatinya. Tapi rasa sakit itu tidak sampai membuatnya pingsan seperti dulu, sehingga dia segera pergi kekelas dengan mata yang berkaca-kaca secara tiba-tiba.
**********
Near sekarang berlari kebelakang sekolah tampak Ardi masih menunggu disana belum kembali kelas, seolah mereka sudah janjian akan bertemu. Ketika sudah dekat dengan Ardi, Near memelankan langkahnya dan berjalan mendekat ke Ardi.
"Lama sekali kamu" ucap Ardi kesal sambil memandangi langit tanpa menoleh ke Near.
"Hahaha...maaf sangat susah menipu Kanna " Near santai berdiri disampingnya.
"Selamat sudah datang kembali kesini" ucap Ardi datar masih tidak menoleh kearah Near.
Mendengar Ardi mengucapkan selamat, membuat Near terkejut karena tidak biasanya Ardi memberikan selamat begitu. Tapi Near tetap senang karena dirinya masih disambut disini.
"Iya, jadi apa ada perkembangan soal Kanna " tanya Near mulai serius.
"Tidak, dia masih belum ingat apa-apa " Ardi menjawab dengan rasa bersalah tidak bisa membantu Near.
"Begitu(menunduk sedih)...mungkin belum waktunya " Near menjawab dengan tersenyum menahan rasa tangisnya.
Melihatnya saja sudah tahu bahwa Near sekarang sedang menahan tangisnya. Tidak bisa melihat sahabatnya merasa sedih, Ardi mencoba mencairkan suasana.
"Tapi kelihatannya dia belum ingat denganmu, karena dia kehilangan buku yang kau berikan padanya" Ardi memberitahu yang sebenarnya terjadi.
"Apaaa, Kanna kehilangan buku harian itu " Near terkejut mendengar bahwa Kanna sedang kehilangan buku itu.
"Tampaknya dia masih belum tahu bahwa dia memiliki 2 buku. Salah satunya dari kamu itu. Aku tidak memberitahunya karena aku ingin kamu sendiri yang memberitahunya " ucap Ardi serius.
"Terima kasih " Near tersenyum tulus dengan apa yang sudah Ardi beritahukan.
Ardi melihat Near tersenyum lagi membuat hatinya merasa lega tanpa alasan.
"Eh...apakah kamu tidak segera kembali nanti gak dimarahi " Near tiba-tiba menyadari bahwa mereka sudah disana lama.
"Eh.. sudah jam berapa ini " Ardi melihat jam tangannya.
"Siall, sudah lama kita berbicara disini " Ardi terkejut melihat waktunya karena mereka benar-benar sudah lama berada disana.
Tanpa berfikir panjang lagi Ardi segera berlari menuju kelas. Tapi tiba-tiba Ardi berhenti melihat Near yang tidak ikut lari, malahan Near masih santai.
"Apakah kamu tidak lari kekelas " tanya Ardi yang kelihatan tergesa-gesa ingin kembali.
"Tidak nanti aku bisa bilang bahwa aku sedang sakit dan berada di UKS " Near menjawab santai seolah Near sudah merencanakan untuk tidak ikut kelas.
"Sial, enak sekali kau " Ardi kesal dan langsung berlari cepat meninggalkan Near.
"Hehehe..." Near tertawa melihat tingkah laku Ardi.
Near tidak kembali kekelas, dia sedang melihat-lihat dibelakang sekolah itu.
"Buku harian yaa..." Near tersenyum sambil mengelus tangan kanannya yang diperban. Near waktu itu tidak mengikuti pelajaran dan beralasan kalau dari UKS.
********
Malam harinya dirumah Kanna.
Tampak Kanna sedang menulis kegiatannya hari ini. Dengan tersenyum dia menulis masa-masa berada disekolah.
Tapi saat menulis nama Near tampak dia berhenti tersenyum. Dia tampak sedang mengingat-ingat Near yang membuat dirinya melihat sekilas ingatan masa lalunya.
"Near, siapa dia. Entah kenapa ketika melihatnya membuatku melihat potongan sekilas tentang seseatu yang bahkan diriku tidak tahu " Kanna bergunam mencoba mengingat.
Kanna mulai mengalami sakit lagi dihatinya, Kanna mulai memegang hatinya dan meneteskan air matanya.
"Kenapa, kenapa , kenapa melihat dia membuatku hatiku sakit. Padahal aku baru bertemu dengannya " Kanna memegang kepalanya bingung dengan apa yang sedang dialaminya sekarang.
***********
Besoknya di waktu istirahat.
Tampak Kanna akan datang kebelakang sekolah. Tapi karena Kanna sudah lupa dengan yang terjadi kemarin maka dia tidak mengajak Near.
Dengan terburu-buru dia segera kebelakang sekolah. Near menduga hal itu bahwa Kanna akan lupa dirinya, walaupun sudah membaca buku hariannya.
Merasa ada yang mengikutinya Kanna langsung menoleh kebelakang. "Jangan ikuti aku. " ucap Kanna tajam menolak keras Near untuk ikut.
"Eh, jadi kamu sudah tahu aku mengikutimu ya " Near menggaruk kepalanya kikuk.
"Aku merasa risih berada didekatmu jadi tolong jauhi aku " Kanna dengan tatapan sinis seolah membenci Near.
Near yang mendengar Kanna meminta menjauhinya. Near hanya bisa diam saja menunduk. Kanna pun sebenarnya tidak ingin berkata tajam seperti itu, tapi sebelum tidur kemarin Kanna sempat menulis dibuku hariannya bahwa dia harus menjauhi Near.
(Maaf, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau tahu bahwa aku mengidap penyakit hilang ingatan selama sehari, sehingga kau akan menjahuiku. Lebih baik seperti ini, tidak ada hubungan sama sekali sehingga tidak ada yang patah hati) dalam hati Kanna juga merasa bersalah telah mengucapkan hal kasar.
Merasa Near sudah mengerti dengan perkataanya, tanpa ada yang perlu diucapkan lagi Kanna melangkah pergi kebelakang sekolah menjauhi Near.
"Tunggu." bentak Near menghentikannya.
"Eh." Kanna berhenti melangkah. Kanna terkejut mendengar Near menghentikannya karena biasanya orang akan menyerah jika dibilang begitu oleh perempuan.