
"Iya tenang saja. Bapak ini sangat kuat kok " kakek itu tersenyum canggung berjalan menuju keruang kepala sekolahnya.
"Syukurlah kalau gitu " Near tersenyum menggaruk kepalanya.
Kanna sekarang masih benar-benar bingung dengan keadaanya sekarang. Tanpa bisa menahan keingin tahunya Kanna langsung tanya kepada Ardi.
"Hey Ardi " Bisik Kanna memanggil Ardi.
"Hmm" gunam Ardi mendengar bisikan Kanna.
"Apa hubungan mereka berdua. Kok mereka sepertinya sudah saling kenal sih." Tanya Kanna penasaran.
Mendapat pertanyaan itu Ardi sedikit terkejut.
(Apakah aku harus memberitahunya ya. Tapi pasti ia akan menyalahkan dirinya sendiri. Ah lebih baik kusembunyikan saja lah.) Dalam hati Ardi bingung antara memutuskan memberitau Kanna kebenarannya atau tidak.
Karena jika Kanna tahu pasti ia akan ada perasaan dimana Kanna akan menyalahkan dirinya. Oleh karena itu Ardi tidak memberitahu kebenarnnya.
Tidak dijawab oleh Ardi, karena Ardi masih berfikir. Kanna mencoba memanggilnya.
"Ardi, hey Ardi." Bisik Kanna kesal karena tidak diperhatikan.
Ardi langsung terbangun mendengar suara Kanna.
"Eh apa. Oooh itu, aku juga sebenarnya tidak tahu tapi mereka tampak sangat akrab " Ardi berbohong demi Kanna.
"Emm(mengangguk mengerti)...ya sudahlah kalau kau tidak mengerti. Jadi aku tidak sendirian deh, karena kamu tidak tahu juga " senyum Kanna puas.
"Hehehe sepertinya begitu." Ardi tersenyum canggung.
***************
Sudah sampai diruangan kepala sekolah. Kepala sekolah itu langsung duduk ditempatnya.
"Jadi selamat datang diruanganku." Kepala sekolah menyambut mereka bertiga.
"Emmm....jadi apa yang membuat bapak memanggil kami." Tanya Near penasaran dari tadi.
"Itulah yang akan saya bahas disini. Ini perihal lokasi dibelakang sekolah. Apakah kalian datang kesana setiap istirahat dan setiap hari " tanya Kepala sekolah dengan serius.
Mereka bertiga saling melirik, ragu untuk menjawab karena jika kepala sekolah tahu bisa saja mereka disuruh berhenti berkunjung disana.
Terlihat ada keraguan dalam wajah mereka bertiga kepala sekolah langsung memberikan alasan agar mereka santai.
"Tenang saja ini hanya pertanyaan kok. Jawab jujur saja, kami tidak akan melarang kalian kok."
Sepertinya tidak ada pilihan lain selain jujur mereka bertiga saling menyakinkan untuk menjawab yang sebanarnya.
"Iya pak kami disana setiap istirahat." jawab Ardi tegas.
"Oooh begitu(menganguk mengerti)....jadi apa saja kegiatan kalian disana " tanya kepala sekolah tenang.
"Emmm, biasa saja kok pak. Ini kami hanya saling berbicara dan makan disana." jawab Near bergantian dengan Ardi.
"Emmm... begitu " tampak kepala sekolah mengangguk mengerti.
"Apa ada masalah dengan kami "tanya Kanna khawatir.
"Ooh tidak-tidak ada masalah kok tenang saja " jawab kepala sekolah enteng.
Sekilas itu membuat mereka bertiga lega karena kepala sekolah tidak menentang kalau mereka bertiga disana.
"Tapi..." kepala sekolah mengucapkan secara mendadak.
Membuat mereka bertiga secara tidak sadar menoleh kearah kepala sekolah.
"Ada satu syarat yang harus kalian penuhi jika masih ingin bisa berada dibelakang sekolah tersebut" kepala sekolah akhirnya mulai membicarakan masalah yang sedang ditutupinya.
"Apaaaa " Near terkejut.
"Kalian harus meminta izin untuk disana atau lebih tepatnya kalian harus ada alasan untuk pergi kesana " jawab kepala sekolah.
"Bukan, bukan seperti itu. Tapi lebih tepatnya kalian harus membentuk sebuah klub sekolah. Pembentukan klub ini bertujuan agar guru-guru lain tidak curiga." ucap Kepala sekolah.
"Curiga, kenapa. Kamu tidak melakukan apapun yang membuat semua orang curiga " bantah Near kesal karena difitnah.
"Itukan menurut kalian tapi semua siswa dan guru hanya melihat kalian berdua yang datang kesana" kepala sekolah menunjuk Ardi dan Kanna.
Ardi dan Kanna terkejut karena mereka selalu disana bersama dengan Near. Tapi kenapa mereka hanya melihat Ardi dan Kanna saja.
"Ehhhh(terkejut) tapi aku disana bersama mereka " Near membantah kalau hanya Ardi dan Kanna dibelakang sekolah.
"Entahlah, tapi guru-guru hanya melihat Ardi dan Kanna saja. Pokoknya kalian harus membentuk sebuah klub agar bisa pergi kebelakang sekolah." Jawab kepala sekolah ngotot, sambil menyerahkan surat pengajuan untuk membuat klub baru.
Tidak ada pilihan lain Kanna mengambil pengajuan itu. Mereka akhirnya berpamitan untuk keluar.
"Untuk syarat-syaratnya ada dikertas itu " ucap kepala sekolah
"Iya pak terima kasih infonya kami pergi dulu" Kanna bergegas menarik lengan Ardi dan Near agar mereka tidak membuat keadaan semakin rumit
*************
Keluar dari ruangan kepala sekolah Near dan Ardi tampak kesal karena mereka belum sepenuhnya ptotes.
"Kenapa Kanna, menarik kami tadi " tanya Near masih kesal.
"Tenang saja kalian berdua. Jika kalian protes lagi maka bisa diperumit nanti. "Jelas Kanna
"Yang penting kita harus segera membentuk klub ini " Kanna mulai membaca kertas yang diberikan kepala sekolah.
Mereka sekali lagi terkejut karena harus memiliki anggota minimal 4 orang agar bisa membentuk klub.
Dengan kebingungan mereka kembali kebelakang sekolah. Mereka mulai memperdebatkan masalah ini.
"Bagaimana ini dimana lagi kita harus mencari anggota lagi." Tanya Ardi frustasi.
"Tenanglah...apa kamu tidak ada teman yang bisa diajak kesini. "Tanya Near
"Hmmm....entahlah. Aku akan cari, mungkin ada yang minat." Ardi mengingat teman-temannya yang akan cocok dengan mereka.
**************
Kanna tiba-tiba menutup matanya secara perlahan seolah sedang tidur. Membuat Near khawatir dan mendekatinya.
"Apa kamu tidak apa-apa Kanna. Kamu tampak kurang tidur " tanya Near mulai khawatir.
"Eh(terkejut dengan panggilan Near)... oh aku. Aku baik-baik saja." Mata Kanna terbelalak terkejut dengan suara Near.
Melihat Kanna tampak kurang sehat membuat Ardi juga khawatir, dia mulai mendekatinya. Tapi ketika mau mendekatinya tiba-tiba ada seseorang yang bersuara kesakitan.
"Aduhh." Terdengar suara perempuan.
Suara itu membuat mereka melirik kearah sumber suara itu. Suara itu berasal dari salah satu semak-semak yang tidak jauh dari mereka.
"Siapa itu " tanya Kanna yang sudah tidak mengantuk lagi.
"Sttt..." Ardi menyuruh Kanna untuk diam, agar penguntit itu tidak tahu kalau mereka sudah mendengar suaranya dan tidak pergi.
Near dan Kanna mengangguk mengerti dengan isyarat Ardi. Tanpa basa-basi lagi Ardi mulai mendekati suara itu berasal dengan mengendap-endap berharap penguntit itu masih ada.
Melihat Ardi mengendap-endap membuat Near dan Kanna menahan nafasnya karena tegang dengan situasinya.
"Hati-hati Ardi" gunam pelan Near memberikan semangat kepada Ardi.
Dalam situasi seperti itu Ardi tidak bisa memikirkan apa-apa selain fokus dengan semak-semak yang mencurigakan. Ardi semakin melangkah maju mendekati.
Ketika sudah ada didepan semak-semak itu. Ardi langsung membuka semak-semak yang mencurigakan itu dengan kedua tangannya.
"Eh, siapa kamu " tanya Ardi karena terkejut dengan siapa yang ditemukannya dalam semak-semak itu.