
Sekarang Para polisi dan kepala sekolah sedang bertarung dengan anak buah pria tua yang misterius. Untuk menyelamatkan Near dan Ardi mereka semua mau tidak mau harus mengalahkan anak buah pria tua tersebut, yang jumlahnya tidak terhitung saking banyaknya orang yang ada disana.
"Jangan kira kalian bisa menghadapi kami " ucap seseorang melangkah kedepan dari anak buah Pria tua tersebut.
"Simpan kata-katamu itu setelah kau mengalahkan kami bodoh " ucap pimpinan polisi melepaskan perlengkapannya agar bisa bertarung dengan leluasa.
"Ayo kita serang mereka semuaaaaa " teriak pimpinan polisi langsung menerjang kegerombolan anak buah pria tua tesebut dengan ganasnya diikuti oleh anak buahnya
Untuk Kepala sekolah, ia masih dibelakang belum masuk kegerombolan karena ia perlu menjaga Hana yang ada dibelakangnya sekarang. Dan ia masih belum mengurus anak buah yang sudah menunjukkan jalan tadi.
**************
(Kesempatan ini selagi mereka fokus melawan mereka aku akan menyandra anak perempuan ini. Dan buat mereka menyerah lalu ini akan jadi prestasiku dihadapan bos nanti hehehhe ) dalam pikiran anak muda tadi ia merencanakan hal tersebut agar dapat diakui oleh pria tua yang sedang melawan Near dan Jason
Tapi untunglah kepala sekolah menyadari hal tersebut dan segera berjalan kearah Hana yang ada dibelakangnya. Anak muda tadi segera mengendap-endap dibelakangnya untuk menangkap Hana agar tidak berkutik lagi saat disekap. Saat mau dekat dengan lokasi Hana, ia langsung melompat kearah Hana tapi tiba-tiba ada kepala sekolah yang sudah ada didepannya entah bagaimana saking cepatnya ia sudah ada didepannya
"Adudududuhh, kenapa kamu bisa ada disini " tanya anak muda itu kesakitan dengan cengkraman erat pria tua tersebut.
"Hmmm, kau juga ngapain disini " tanya kepala sekolah balik.
Karena saking kuatnya cengkraman kepala sekolah, anak muda teraebut tidak dapat berkutik untuk melawannya.
"Ampun kek, lepaskan sakit. Toleng lepaskan kekkkk " ucap anak muda tadi meminta belas kasian.
"Apa kamu sudah tau kesalahanmu." Ucap kepala sekolah bertanya.
Tapi itu hanya akal-akalan Anak muda tersebut untuk membohongi kepala sekolah sehingga ia bisa menyerang saat ia lengah.
(Kau pikir aku akan menyerah begitu saja kakek tua. Kau hanya kebetulan dapat menangkap kepalaku tadi. Jika saja kepalaku tidak engkau pegang maka mati kau saat ini. Aku harus cepat menyerangnya, dia hanyalah kakek tua yang lambat menyerang ) dalam hati anak muda merencanakan rencana busuk.
Kepala sekolah langsung melepaskan cengkraman tangannya dari anak muda tersebut. Setelah lepas sepenuhnya dengan cepat anak muda tersebut melanglah kedepan menuju kearah perutnya, ia mengeluarkan pukulan terkuatnya untuk segera menghabis kepala sekolah dengan sekali pukulan.
Pukulan anak muda tersebut mengenai perutnya secara tepat. Hal itu membuat Hana terkejut karena serangan cepat itu. Sama dengan Hana anak muda tersebut juga terkejut secara tiba-tiba karena pukulan tercepatnya telah ditangkap oleh kepala sekolah dengan enteng.
"Ba...ba...bagaimana bisa kamu menangkap serangan tadi " anak muda tergagap takut.
"Itu terlalu muda bagiku, kau seribu tau lebih cepat untuk berhadapan denganku anak muda " ucap kepala sekolah tersenyum ramah sambil mengenggam erat tangan anak muda itu.
Hana sekarang jadi lega begitu juga dengan pimpinan polisi ia sempat melihatnya karena ia mendengar jeritan kecil Hana tadi. Jadi mau tidak mau ia harus melihatnya.Tapi sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kepala sekolah.
"Hmmm... sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan " gunam pimpinan polisi tersenyum kecil.
"Ahhhhhh, jangan mengalihkan perhatianmu bodohhh " teriak salah satu anak buah musuh, dari kerumunan menyerang pimpinan polisi yang sedang mengalihkan wajahnya melihat kepala sekolah.
----------------
Kepala sekolah mengenggam erat tangan anak muda tadi dan mulai memelintir tangan anak muda tersebut secara kuat.
"Aduhhh maafkan aku kakek. Aku tidak akan mengulanginya lagiiiiii " ucap anak muda tadi kesakitan menahan tangis.
Dengan tatapan tajam kepala sekolah tidak membuang waktu lagi. Dengan jurus biasanya ia langsung menyerang leher anak muda tadi dengan serangan tercepatnya. Tanpa disadari anak muda tadi sudah jatuh pingsan ditanah.
"Maafkan aku. Kau yang memaksaku menggunakan serangan ini. Jika saja kau diam dan lari tadi kau bisa kembali dengan aman. " ucap kepala sekolah mengeluarkan dasi dalam sakunya dan tangannya masih mengenggam tangan anak muda tadi.
Ia mulai mengikat tangan anak muda tadi menggunakan dasinya dengan erat dan cepat lalu menyandarkan anak muda tadi kepohon disekitarnya. Sesudah meletakkan anak muda tadi, kepala sekolah berjalan kearah kerumunan untuk turut membantu juga.
Sebelum membantu, kepala sekolah menghampiri Hana yang masih diam bengong.
"Dia akan bangun dalam beberapa menit. Tapi tenang saja dia sudah kuikat, tapi jika kau dalam bahaya teriak saja kami akan membantumu oke. Kamu disini saja " kepala sekolah memberitahu kearah Hana.
"Ba..baiklah " Hana menjawab dan masih terpukau.
Dengan cepat dan tanpa pikir panjang lagi kepala sekolah langsung berjalan kearah kerumunan itu.
"Hahaha, bahkan seorang kakek tua ikut membantu juga. Sudah pasti kita akan menang. " tawa anak buahnya.
"Hmmm sepertinya anak muda jaman sekarang benar-benar meremehkanku sekarang. Aku harus mengajari mereka tata krama menghormati orang tua " ucap kepala sekolah tersenyum sedikit.
"bwebhahahhha, jangan buat kamu tertawa kakek. Pulang saja sono hidumu sudah tidak ada gunanya kakek. Lebih baik kau gunakan untuk hidup tenang dirumah, berkebun saja sana " ledek pihak musuh.
"Hmmm, hohoho. Sepertinya anak muda jaman sekarang lebih semangat dari dugaan. Tapi maaf kakek tua ini ingin bertarung lebih lama lagi. Tolong penuhi permintaan kakek yang sudah tua ini. Jadi jangan sampai kalah ya " ucap kepala sekolah dengan santai dengan tangan dipunggungnya .
"Hmmm, jangan menyesal kakek. Nanti jangan bilang kalau kami belum memperingatkanmu tentang ini " semua musuh langsung menyerang kepala sekolah yang tersenyum diam.
Kepala sekolah yang mulanya terdiam, sekarang malah ia menghajar satu persatu dari mereka dengan memukul lehernya hingga pingsan. Sontak hal itu membuat semua orang terkejut.
"Hmmm sepertinya aku terlalu berlebihan " ucap kepala sekolah memegang tangannya kesakitan.
"Sialllll, dia bukan kakek tua biasa. Ini semakin merepotkan " ucap pihak musuh terkejut dan kesal.
(Hebat dengan ini mereka bisa dengan mudah menghabisi orang sebanyak ini tanpa perlu khawatir lagi. Kita hanya perlu menunggu sampai mereka menghabisi orang yang menghambat ini dan menyelamarkan Ardi sebisa mungkin. Kumohon Ardi bertahanlah samlai kami datang ) ucap Hana dalam hati memohon untuk Ardi baik-baik saja.
Flashback End