
Sesampainya dilokasi tempat diperkirakan Ardi dan Jarwo in the geng bertarung. Mereka berhenti ketempat agak jauh sediit dari gedung.
Hal itu juga membuat Hana terkejut kenapa kepala sekolah bwrhenti disini.
"Pak itu gedung disana kenapa kita berhenti disini " tanya Hana turun dari sepeda motornya.
"Kamu tunggu disini saja, biar bapak yang masuk kedalam." Kepala sekolah ikut turun dari sepeda motor.
"Tidak aku mau ikut ." Bentak Hana menunduk kesal
Melihat Hana yang kesal dan memaksa untuk ikut, kepala sekolah terpaksa harus mencoba membuat Hana mengerti kenapa ia tidak memperbolehkan Hana ikut masuk kedalam.
"Hana maafkan aku tapi kamu harus disini. Jika kamu masuk kedalam mungkin kamu akan tertangkap dan itu akan menyulitkan kita berdua. Aku harap kamu mengerti situasinya. Ini bukan karena aku egois, tapi kamu ingin menyelamatkan Ardi bukan." Kepala sekolah dengan lembut mencoba membuat Hana mengerti.
Setelah mendengar ucapan kepala sekolah barusan. Ia jadi tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Maafkan aku, karena aku terlalu kesal tidak melakukan apa-apa jadi aku malah menghambatmu disini dan mencoba untuk ikut masuk. Yang bahkan hal itu bisa membuat kalian kesulitan " Hana menangis terisak-isak mengingat dirinya yang membuat Ardi kena masalah.
Melihat Hana yang menyalahkan dirinya ia langsung menyangkal semua perkataan Hana.
"Tidak, tidak nak. Masalah selalu terjadi tapi, kamu telah membuat keputusan yang tepat dengan khawatir kepada Ardi. Hal yang kamu lakukan tadi dengan mencoba memaksa ikut. Itu membuktikkan bahwa kamu ingin dia selamat." ucap kepala sekolah dengan lembut.
Hana seketika itu muali berhenti menangis dan mulai sedikit tersenyum.
"Dan kamu telah mencoba untuk menyelamatkannya. Jangan bilang bahwa kamu tidak melakukan apa-apa. Dengan kamu disini memanggil aku hal itu membantu Ardi. Oleh karena itu tersenyum lah." Ucap kepala sekolah ikut tersenyum.
"Iya mkasih pak" Hana langsung mengelap air mata dipipinya dan mencoba untuk tegar.
*************
Setelah memastikan Hana sudah tidak menangis lagi kepala sekolah beranjak berdiri mau pergi kegedung tia tersebut.
"Oke kalau gitu bapak akan segera masuk kedalam gedung itu dan menyelamatkan Ardi. Jadi kamu tunggu disini saja, lalu jangan lupa bila bapak tidan keluar selama 10 menit segera telfon polisi. Iti berarti bapak sudah bertarung melawan mereka, mengerti." ucap kepala sekolah berjalan pergi.
"Iya pak hati-hati. " Hana menunggu didepan gedung
Hana masih ragu kalau kepala sekolah bisa menyelamatkan Ardi, melihat tubuhnya yang sudah tua. Tapi karena ini adalah yang bilang bahwa kepala sekolah bisa membantunya. Makanya ia tidak ada pilihan selain mencoba percaya kepada kepala sekolah.
Kepala sekolah sudah ada disamping gedung tersebut. Tidak terdengar suara bahwasannya didalam lagi ada pertarungan.
Tanpa pikir panjang lagi kepala sekolah berlari masuk kedalam gedung menyelamatkan Ardi.
*************
Disisi lain Ardi saat ini sudh tumbang walu ia masih bisa sedikit berdiri. Ia sudah kelelahan untuk bertarung. Tampak nafasnya tersenggal-senggal, wajahnya bengkak karena habis dipukuli.
Dengan susah payah ia berdiri, kakinya gemetar tidak kuat untuk melawan mereka lagi.
"Hahahha, tidak kukira bahwa sang legenda Ardi akan kalah seperti ini." Ejek anak buahnya yang tadi juga mengejek diawal.
Sedangkan anak buah yang lain hanya terdiam, mencoba untuk waspada kepada Ardi karena dalam pikir mereka bahwa Ardi masih pura-pura untuk kalah begitu juga dengan bos Jarwo ia tidak mendekat ke Ardi.
Anak buah yang sangat jengkel kepada Ardi ini tidak memikirkan hal begitu. Sehingga ia sangat berani untuk mencoba mendekatinya.
"Ada apa boss kenapa kau mengehentikanku. Ini kesempatan bagus, dia kan sudah tumbang. Kesempatan bagus untuk menghajarnya " ucap anak buah tadi
"Tidak ini pasti adalah jebakan yang disiapkan olehnya." Duga boss Jarwo dan anak buah lainnya menyetujui hal tersebut.
*************
Anak buah yang memberontak tadi tidak terima dengan pemikiran mereka. Tapi karena tidak ada pilihan lain karena dirinya bukan bos. Makanya ia berniat melangkah mundur.
Tapi entah kenapa Ardi malah memprovokasinya tanpa sengaja.
"Hmmm, hahhaha. Kau sebaiknya nurut aja sama boss itu. Karena kau memang lemah " ucap Ardi dengan sinis.
"Kau ini " anak buah tadi langsung marah mendengar perkataan Ardi barusan.
(Sial kenapa aku bilang begitu, mulutku ini tidak bisa dijaga. Akibat terlalu kesal dengannya sehingga aku tanpa sengaja mengucapkan itu. Siallll, Padahal mereka sudah berhenti memukuliku. Tapi keliatannya aku akan mati disini ) dalam hati Ardi menyesali apa yang sudah ia lakukan.
**************
Sudah habis batas kesabarannya anak buah itu langsung menghampiri Ardi dan mau memukulinya hingga hancut.
Seperti sebelumnya anak buah tadi dihentikan oleh bossnya.
"Jangan mendekat mungkin saja ia hanya memprovokasimu " tangan Jarwo menghadang agar ia memikirkan kembali.
Tapi karena batas kesabarannya sudah habis, ia menepis tangan Jarwo dan membentaknya." BOSS ANDA HARUS MEMBUKA MATA ANDA, ANDA BISA LIHATKAN IA SEDANG SEKARAT MANA MUNGKIN AKAN BALIK MELAWAN. JIKA BOS MEMANG PENGECUT BIAR AKU YANG AKAN MELAWANNYA "
Bentakan itu menggagetkan Bos Jarwo dan anggota lainnya. Ke-4 anggota lainnya tidak terima dengan bentakan anggota itu kepada bossnya. Walaupun ia jadi boss hanya 1 hari tapi itu tetap saja keterlaluan.
Tapi ketika anggota lainnya ingin membuat anak buah yang memberontak ini sadar akan posisinya. Hal itu Jarwo langsung menghentikan mereka dengan memberikan tanda dengan menggunakan tangannya.
"Boss " 4 anggota bertanya-tanya kenapa bossnya menghentikan mereka padahal anak buah yang memberontak tadi sudah bertindak kasar padanya.
***************
Bos Jarwo hanya merasa kasian pada anak buah itu. Ketika ia melihat anak buah tadi membentaknya, ia mengingat ketika dirinya dulu lari meninggalkan bossnya yang dulu.
Melihat anak buahnya itu mengingat dirinya dulu yang juga memberontak juga. Tidak ingin mengalami posisi yang sama Jarwo mempersilahkannya untuk segera menghajar Ardi.
"Silahkan saja ingin menghajarnya"
***************
Mendapat persetujuan dari bos Jarwo, tanpa menyesali perbuatannya ia langsung melangkah mendekat ke Ardi
Ia sekarang berdiri tepat didepan Ardi yang berlutut kesakitan diseluruh badannya.
(Sial, kenapa Jarwo malah mempersilahkannya menghajarku padahal ia sudah mengasarinya. Ahhh, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apa ini yang dirasakan Near dibelakang sekolah ya. Mengaharapkan bantuan datang dan ketakutan) ucap Ardi dalam hati sambil melihat anak buah Jarwo yang sedang berdiri didepannya dengan tatapan tajam.
"Kalian akan liat bahwa ucapan kalian salah. Ia sudah tidak bisa apa-apa lagi kalian lihat ini" Anka buah tadi mengangkat kaki satunya mau bersiap-siap menendang Ardi.
Tapi tiba-tiba ada suara langkah kaki yang berlari menuju ke Ardi. Apakah itu kepala sekolah????