
Meskipun Kanna tampak acuh pada Near. Tetapi dalam hatinya dia sangat penasaran dengan Near. Kanna selalu ingin berbicara dengannya tapi ditahan karena mereka sedang berada dikelas.
Kanna selalu melirik wajah Near dan mengingatnya. Walaupun dengan malu-malu ia masih melirik sedikit Near.
********
Near yang sedang mencari itu membuat Kanna penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Near sendirian disekolah.
"Apa yang sedang dia lakukan disekolah yang sepi ini " gunam Kanna belum tau kalau itu Near.
Near menggaruk kepalanya bingung. Near beristirahat duduk sambil membuka botol minumannya. Tampak Near sedang kesusahan membuka botolnya karena tangan Near sebelah kanan masih diperban.
Dngan kesal dia membanting botol itu kelantai sambil merebahkan dirinya ketembok. Near kesal meihat nasibnya sekarang.
"Siall... kenapa nasibku begini." mata Near berkaca-kaca memandang langit.
Kanna akhirnya sadar bahwa tangan Near sedang diperban. Niatnya dia mau pergi ketika Near pergi jauh. Tapi setelah melihat Near kesusahan seperti itu membuat hati Kanna tergerak.
(Eh... kenapa hatiku sakit melihatnya tidak bisa membuka botol itu. Apalagi melihat wajahnya yang meratapi langit membuatku ingin membantunya) Kanna bingung dengan perasaanya yang berubah tiba-tiba.
Tanpa sadar tubuhnya bergerak menghapiri Near. Dia langsung mengambil botol yang telah dibuang oleh Near.
Near belum tahu bahwa ada orang datang, karena Near sedang banyak pikiran membuat dia hanya bisa menatap langit tidak memperdulikan sekitarnya.
*******
Kanna membuka tutup botol itu dan berdiri didepan Near. Dia langsung memberikan botol yang sudah dibuka.
"Ini minumlah, sudah aku bukakan untukmu " Kanna tersenyum ramah.
Near terkejut melihat Kanna yang berada disekolah. Tidak ingin memperlihatkan kondisinya yang terpuruk. Near beranjak berdiri.
"Tidak usah itu untukmu saja " Near mulai pergi acuh dengan perhatian Kanna.
"Ini sudah kubuka untukmu." Kanna mengikuti Near.
"Tidak usah buang saja itu " Near dengan keras menolak perhatian yang Kanna berikan.
"Tapi kamu haus kan. Aku melihatmu kesusahan membukanya. Jadi ini kubuka" Kanna masih mengikutinya.
"Oleh karena itu dengan rasa terima kasihku kuberikan kepadamu " masih belum tahu kalau Near adalah teman sebangkunya, Kanna ngotot mau memberikan minuman itu kepada Near.
"Sudah kubilang aku tidak mau rasa kasianmu " Near mulai marah tanpa sengaja menghempaskan botol yang sedang dibawa Kanna.
Kanna merasa terkejut dengan sikap yang telah ditunjukkan Near.
"KENAPA KAMU TIDAK TERIMA RASA PERHATIANKU PADAMU" bentak Kanna yang meneteskan air matanya.
"Eh, maaf " gunam pelan Near, merasa bersalah karena tanpa sengaja menumpahkannya.
"Kenapa, kenapa selalu tidak ada yang mengerti diriku. Kenapa aku tidak mempunyai teman " Kanna menangis sejadi-jadinya.
Mendengar kata-kata Kanna barusan membuat Near merasa frustasi karena selalu tidak membuatnya bahagia. Merasa harus melakukan seseatu agar membuat Kanna berhenti menangis.
Near mulai menampar pipinya sendiri dengan keras."Dasar kau nakal"
Pukulan keras Near dipipinya sediri membuat Kanna berhenti menangis. Karena Kanna juga terkejut dengan bunyi keras barusan.
Melihat Kanna berhenti menangis, membuat Near melanjutkan aksinya dia mengambi botol yang jatuh dan meminum airnya yang hanya ada setengah karena sisanya jatuh akibat hempisan tidak sengaja Near.
"Hehehe.." Kanna melihat wajah konyol Near membuat dirinya tertawa walaupun agak canggung.
**********
Setelah sekian lama mereka mulai tenang dan berbaikan ditempat teduh. Near akhirnya memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka.
"Maaf untuk dengan sikapku dan terima kasih telah membuka minumanku " Near menunduk tulus dengan apa yang barusan diucapkan.
"Emmm(menggelengkan kepalanya)..aku yang harus meminta naaf karena telah menganggumu " Kanna tersenyum malu.
Mereka terdiam sejenak tampak hubungan canggung ada diantara mereka berdua.
"Jadi apa yang kamu lakukan disini. Kan hari ini hari minggu kenapa kamu berada disekolah" tanya Near memulai pembicaraan lagi.
"Hehehe...aku sedang jalan-jalan karena tidak ada kegiatan. " Kanna dengan kikuk menggaruk kepalanya.
"Terus kamu kenapa bisa berada disini " tanya Kanna penasaran.
"Hahaha(tawa canggung)...itu aku sedang mencari buku yang hilang " jawab Near yang terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Kanna.
"Emm(mengangguk mengerti), apakah mau kubantu mencarinya. "Kanna menawarkan bantuan kepada Near.
"Tidak, tidak usah. Aku hanya ingin mencarinya sendiri. Karena ini penting bagiku yang tidak ingin kuperlihatkan pada siapapun " Near menunduk terharu, tampak matanya mulai berkaca-kaca.
"Apakah ini milik temanmu " tanya Kanna penasaran dengan maksut kata Near barusan.
"Iya, ini milik temanku yang sedang kucari. Teman yang sangat berharga " Near masih menunduk terharu.
"Temanmu mana kok tidak mencarinya juga. Apakah dia sedang marah " Kanna menduga hal itu karena melihat Near sedang mencari buku sendirian padahal tangannya patah.
"Iya, dia sangat marah padaku. Ini karena aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik " Near yang awalnya menunduk sekarang dia mulai mengangkat wajahnya melihat Kanna dengan mata berkaca-kaca.
Kanna terdiam melihat tatapan Near dan mendengar perkataan barusan.
(Eh kenapa hatiku merasakan sakit begini medengar perkataanya. Seolah aku kenal dia, apakah aku kenal dia. Tidak, tidak mungkin karena temanku hanya Ardi.) Entah kenapa Kanna merasakan seseatu dalam hatinya saat berbicara kepada Near.
"Eh. Hahaha maaf aku berbicara tak jelas begitu. Aku hanya bertengkar saja dengan temanku " Near mulai sadar kembali bahwa Kanna akan sakit jika berteman dengan dirinya.
"Ohhh begitu. Terkejut aku ketika kamu berbicara begitu" Kanna juga tersadar dan menyakinkan dirinya bahwa dia tidak memiliki teman lain selain Ardi.
"Iya maaf " Near menggaruk kepalanya malu.
(Maaf Kanna, mungkin itu yang ingin kukatakan saat ini. Aku selalu membuatmu merasa sedih. Jika saja kau kenal Ardi saja dari dulu. Mungkin kau akan bahagia bersamanya. ) Near kerasakan perasaan sedih melihat senyum Kanna barusan.
"Kamu harus berbaikan dengan temanmu. Karena tidak banyak orang yang bisa memiliki teman. Jadi kau harus usahakan jaga baik-baik hubungan itu." Kanna tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Iya akan aku usahakan terbaik untuknya." Near tersenyum tulus menatap Kanna.
Dalam pikiran Kanna sekarang, dia tersenyum senang karena bisa membantu hubungan orang lain. Merasa menganggu Near mencari bukunya, Kanna pamit untuk undur diri.
"Eh, maaf karena telah menganggumu silahkan kamu cari lagi bukumu itu." Kanna beranjak berdiri mau pulang.
"Oh, iya tidak apa-apa. Terima kasih telah membuka minumanku." Near menjulurkan lengan kirinya.
Kanna terdiam, dia tampak penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan lengan kanan Near.
Berbeda dengan Kanna, Near yang melihat Kanna terdiam. Membuat dirinya menganggap Kanna sekarang marah karena telah menjulurkan lengan kiri untuk salaman yang mana itu tidak sopan.