
Pupil mata Black Shadow membesar seketika melihat menteri kehakiman dengan beberapa luka tusuk tepat di dada kirinya. Saking tak percaya, ia berusaha bangkit dan mendekat perlahan, kemudian mencoba menyentuh kepala tuan Matsumoto yang tertunduk dalam untuk lebih memastikan. Hanya sedikit sentuhan, tubuh menteri kehakiman langsung roboh ke lantai. Pria bertopeng itu sontak gemetar dengan pandangan yang kaku.
Baru saja diselimuti ketakutan, ia harus dihadapkan dengan perintah yang kembali datang dari Mr. White.
"Black, cepat lari! Tinggalkan gedung ini dan selamatkan dirimu!" Suara panik Mr. White datang dari saluran earpiece. Bertepatan dengan itu, terdengar bunyi sirene menggaung secara beruntun.
Tak ayal, Black Shadow segera berlari untuk keluar dari ruangan itu. Sialnya, pintu tersebut telah dikunci dari luar. Ia mencoba mendobrak pintu itu dari dalam, tapi sia-sia dan hanya akan menghabiskan waktu. Ia pun menoleh ke belakang, lalu mengecek setiap jendela. Sayangnya, tak ada satu pun jendela yang bisa dibuka. Matanya mengedar, melihat ke kiri, kanan, dan atas untuk menemukan jalan keluar. Tidak ada! Bagaimana ini? Ia tidak memiliki celah untuk kabur dari tempat ini!
Di luar sana, polisi dan militer mulai menyisir di tiap-tiap ruangan sambil menodongkan senjata mereka. Sementara pasukan bela diri yang berbadan besar tengah berjaga-jaga di area halaman gedung seakan menjadi benteng. Dengan jumlah mereka yang banyak, tentu tak membutuhkan waktu lama untuk menguasai gedung itu. Mereka berpencar dan mencari ke seluruh pelosok tempat untuk mengetahui ruangan yang menjadi tempat penyekapan menteri kehakiman.
Belasan anggota militer menuju ke lantai lima. Mengetahui ada sebuah ruangan yang terkunci, salah seorang anggota militer memanggil kawanannya untuk mendekat. Tiga orang berusaha mendobrak pintu, sementara yang lainnya siaga dengan tangan yang berada di pelatuk senjata api. Dalam sekali dobrakan, pintu itu langsung terbuka. Mereka tercengang melihat tuan Matsumoto yang terkapar dan segera melaporkan ke markas pusat. Mata mereka mengarah ke salah satu kaca jendela pecah yang diduga menjadi jalan kaburnya Black Shadow.
Ya, benar. Kaca jendela itu sengaja dipecahkan Black Shadow agar ia bisa meloloskan diri. Pria itu kini berada di belakang gedung, berjalan merapat pada dinding dengan penuh hati-hati layaknya laba-laba. Ia melompat ke halaman belakang dan menyusup di antara pepohonan yang telah menyerupai hutan. Ketika menoleh ke samping, ia melihat Mr. White yang juga berlari ke arahnya. Mereka kemudian bertemu di belakang bak pembuangan sampah.
"Mr. White, tuan Matsumoto telah ...." Black Shadow memanggil lirih dan hanya mampu menunjukkan pisau belati berdarah yang terus ia bawa.
Terguncang, mata Mr. White membulat tak percaya. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang sambil menutup mata rapat-rapat. Tentu ia sudah bisa menduga apa yang terjadi pada calon ayah mertuanya.
"Black, cepat pergi dari sini!" ucapnya tak berdaya.
Black Shadow tersentak dan hanya membeku di tempat.
"Pergilah, selamatkan dirimu! Kita telah dijebak."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan tetap di sini! Kita telah termakan umpan mereka. Mereka sengaja membiarkan kita mengetahui petunjuk lokasi agar kita datang ke sini."
"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu! Kita adalah satu tim."
"Kumohon pergilah sekarang juga! Kau ... tidak boleh tertangkap!" tekan Mr. White dengan suara serak, "jangan pedulikan aku, aku akan baik-baik saja! Sebaliknya, jika kau tertangkap, kau akan dihukum dengan tuduhan pembunuhan terhadap pejabat negara."
Black Shadow mengangguk-angguk, lalu segera pergi dengan langkah yang tersuruk-suruk. Mr. White melihat salah satu polisi mulai bergerak ke belakang gedung. Ia langsung melepas topi dan keluar dari persembunyiannya untuk mengalihkan perhatian polisi.
"Angkat tangan!" Polisi menodongkan senjata ke arahnya lalu mendekat secara perlahan.
"Apa yang kau lakukan dengan senjatamu itu? Ini aku!" cetus Shohei.
"Ketua? Anda ada di sini juga?" Polisi yang mengarahkan senjata itu ternyata adalah Seto Tanaka.
"Bahkan sebelum kalian datang," ucapnya sambil berlalu, tetapi langkahnya terhenti sesaat dan dia langsung menunduk ke samping dengan tak berdaya.
"Ketua, apa itu artinya kau melihat Black Shadow?" tanya Seto yang berdiri di sampingnya.
Shohei menatap Seto, lalu menggeleng pelan. Ia tak mampu mengolah kata terlalu banyak. Bahkan pikirannya pun seakan diselimuti kabut tebal.
Seina berjalan dengan langkah gontai melewati koridor Rumah Sakit yang sepi. Ia masuk di sebuah ruangan, dan pandangannya langsung tertuju pada satu-satunya brankar yang diisi jenazah. Shohei, Kei, inspektur Heiji dan Seto Tanaka juga ada di ruangan itu berdiri diam di sisi kiri jenazah.
Seina berjalan beringsut mendekati brankar tersebut. Saat membuka kain penutup, ia bisa melihat wajah ayahnya yang memucat dengan mata terpejam. Tak pelak, tangisnya pun pecah berhamburan. Bagaimana tidak, ia harus dipukul dengan kenyataan bahwa ayahnya meninggal dunia.
Kei menghampiri Seina, memeluknya dari belakang untuk menenangkan. Namun, Seina malah berontak sambil menangis histeris memanggil-manggil ayahnya.
"Papaaaa!" Napas gadis itu tampak terengah-engah.
Seina menoleh ke arah Shohei yang dari tadi hanya mematung dengan tatapan kosong. Melepaskan diri dari dekapan Kei, ia kini menghampiri Shohei.
"Kenapa ... kenapa kau tidak menyelamatkannya? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk menyelamatkan papa?!" ucapnya sambil memukul-mukul dada pria berkacamata itu, "Kau bilang kau akan membawa pulang papa dengan selamat, nyatanya kau membawanya dalam keadaan tak bernyawa!" lanjutnya sambil terus mengguncang-guncang tubuh pria itu.
Shohei terdiam. Enggan menjawab. Tidak, sebenarnya ia sendiri tak tahu harus berkata apa. Wajahnya kaku dan tubuhnya membatu. Tidak menyela. Tidak menyuruhnya untuk tenang. Tidak pula menepis tangan mungil yang terus memukulnya. Hanya diam. Menerima segala amukan, kekesalan, dan kekecewaan Seina yang tertuju padanya.
"Seina, sudahlah! Tenangkan dirimu!" Kei kembali memeluk adik sepupunya itu dari belakang. Ekspresi pria itu penuh kepahitan, dengan mata memerah yang terlihat sembab.
Shohei masih membisu, hanya mampu menengadahkan kepala sambil menggigit bibir bawah. Melihat Seina yang terus histeris dan berontak, membuat badannya refleks berbalik. Ia memilih keluar dari ruangan itu.
Seto yang sedari tadi menyaksikan semuanya, memilih menyusul Shohei.
"Ketua!"
Shohei menoleh dengan tatapan nanar. Mulutnya masih terkunci dan tak bersuara.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Seto dengan pandangan mengiba.
Shohei mengangguk-angguk kecil, kemudian menyeret langkahnya dengan pelan. Berjalan tak tentu arah dengan pandangan yang gamang. Ia memegang dadanya yang terasa sesak, seakan ada tali yang melilit lehernya. Lututnya melemas seakan seluruh persendiannya tak berfungsi. Pada akhirnya, ia ambruk dalam posisi terduduk di lantai yang dingin dengan punggung yang bersandar di dinding.
Suara tangisan Seina yang terus membanjiri saluran otaknya, membuatnya menyalahkan diri sendiri atas kematian tuan Matsumoto. Dengan frustrasi, ia menggunakan jari-jarinya untuk menjambak rambutnya sendiri. Sebelah tangannya lagi merambat ke dada, berkali-kali memukul di tempat yang sama.
Genangan bening mulai mengalir di sudut matanya. Merembes deras. Sebagai seorang kekasih, ia gagal menepati janji pada kekasihnya. Sebagai pria dewasa, ia gagal melindungi dan menyelamatkan calon mertuanya sendiri. Dan sebagai polisi, ia gagal menyelamatkan nyawa orang tak bersalah.
Satu jam setelah penemuan mayat tuan Matsumoto, Kepala Kepolisian Nasional melakukan konferensi pers. Ia menaikkan status Black Shadow sebagai buronan nasional. Karena telah membunuh anggota pejabat pemerintahan, pria bertopeng itu juga terancam hukuman mati.
"Black Shadow benar-benar mengeksekusinya!" seru penonton tercengang mendengar berita.
Kabar kematian menteri kehakiman yang telah dikonfirmasi langsung oleh pihak kepolisian, tentu mengejutkan banyak pihak. Termasuk Yuriko yang turut menonton berita terkini. Kelopak mata gadis itu terbuka lebar, dengan wajah yang mendadak memucat.
Apalagi ciri-ciri Black Shadow telah dirilis secara resmi. Meski bersembunyi di balik topeng, tetapi polisi dapat mengindentifikasi lewat postur tubuhnya. Polisi juga akan melakukan pembekukan terhadap siaran Black Shadow untuk tidak tayang lagi di publik.
Ryo yang melihat ciri-ciri fisik Black Shadow di papan Videotron, tiba-tiba bergumam kecil. "Oniichan ...."
.
.
.
jangan lupa like + komeng biar gua gak ngambek