
Rika Furukawa yang tengah menonton di Rumah Sakit, merasa lega karena akhirnya Black Shadow membantunya untuk meraih keadilan atas apa yang menimpa dirinya. Sekilas, ingatan atlet berprestasi itu mundur pada sehari sebelumnya ketika seseorang tiba-tiba masuk melompat dari jendela kamarnya.
Ya, siapa sangka kalau Black Shadow akan mendatanginya malam itu. Pria itu meminta agar Furukawa Rika mau menceritakan detail kejadian kecelakaan yang menimpanya sampai keputusan untuk Hiatus di kejuaraan Olimpiade Tokyo.
"Saat dua hari setelah kejadian, dokter mengatakan kakiku hanya terkilir dan tidak ada masalah, dia juga mengatakan aku boleh pulang dalam beberapa hari ke depan. Tapi, setelah keesokan harinya aku kaget saat dokter mengatakan dalam konferensi pers kalau aku mengalami cedera parah dan proses pemulihannya memakan waktu berbulan-bulan. Aku merasa tidak ada yang salah dengan kakiku dan meminta untuk melakukan pengecekan kembali. Tapi, seseorang yang tidak aku kenal datang mengancamku," ucap Furukawa Rika di depan Black Shadow sambil terisak.
Pengakuan Rika malam itu rupanya direkam dan sekarang ikut ditampilkan sebagai bukti saksi. Namun, tuan Yoshuke masih berusaha mencari pembenaran.
Tampilan layar berganti dengan sosok pria berjas putih yang telah dililit tali. Pria itu mengaku jika dia disogok oleh tuan Yoshuke untuk memberi keterangan palsu saat konferensi pers.
"Dan ini adalah dokter yang telah membuat diagnosa palsu. Untuk para polisi di luar sana, silakan jemput dokter ini! Dia ada di sebelah ruangan. Aku sengaja membawanya ke sini supaya kalian tidak capek-capek mendatangi Rumah Sakit tempat dokter ini praktik. Kurang baik apa aku membantu kalian?" ucap Black Shadow dengan gayanya yang khas.
Apa yang baru saja diekspos Black Shadow, tentu membuat publik geram. Orang-orang lantas mengutuk perbuatan ketua Olimpiade Tokyo itu. Pasalnya, tuan Yoshuke telah membuat kejahatan fatal. Ia merencanakan kecelakaan yang dialami atlet Furukawa Rika sehingga membuatnya cedera. Mengkhianati negara dan memanfaatkan jabatan dengan membuat kesepakatan bersama pejabat asing, lalu sengaja memasukkan atlet yang tak berprestasi agar membuat negara lawan menang. Terakhir, pencucian uang yang tak lain menjadi tujuan utamanya sehingga nekad melakukan apa pun.
Kei yang baru saja tiba di tempat itu, terperangah melihat gerombolan polisi yang tergabung dalam pasukan khusus penembak. Ia membuka helmnya sambil melihat kembali tayangan Black Shadow karena mengira sesuatu mungkin telah terjadi.
"Untuk apa mereka datang ke sini? Seperti ada terorris saja!" tanya Kei kepada beberapa wartawan yang berada di luar gedung.
"Entahlah, tapi kata salah satu polisi ini hanya untuk berjaga-jaga karena ada pak menteri di dalam sana. Mungkin mereka takut tuan Yoshuke melakukan hal-hal yang tak diinginkan," jawab wartawan itu.
Kei memilih masuk gedung. Namun, baru selangkah menuju pintu, dia langsung ditahan petugas. Kei menunjukkan tanda pengenal wartawan yang ia miliki. Meski petugas itu sangat mengenalnya sebagai jurnalis terkemuka, tetapi ia malah mengatakan jika tidak ada izin untuk meliput di dalam gedung.
Sama halnya dengan Kei, Mr. White terperanjat dengan mata yang terbelalak hebat ketika para penembak jitu dari kepolisian itu masuk dan langsung membentuk barisan. Dengan berseragam keamanan yang lengkap, beberapa dari mereka berjaga-jaga di sekitar koridor yang menghubungkan ruang rapat. Yang mana menteri olahraga, tuan Yoshuke, dan beberapa pejabat lainnya ada di sana bersama Black Shadow.
"Untuk apa dikerahkan regu penembak? Black Shadow tidak melakukan pengancaman apalagi penyanderaan," pikir Mr. White gelisah.
Ia menduga, regu penembak dikerahkan hanya untuk berjaga-jaga jika situasi tak kondusif. Mengingat, ada pejabat sekelas menteri di dalam sana. Namun, bola mata Mr. White berpijar terang seketika, kala membayangkan sesuatu.
Bagaimana ... bagaimana jika tujuan mereka untuk menyingkirkan Black Shadow?
Mr. White menyadari kehadiran Black Shadow selama ini telah membuat pemerintah ketar-ketir. Bahkan polisi pun kalut karena merasa kepercayaan publik pada mereka telah direbut sepenuhnya oleh tokoh ciptaannya itu. Apalagi, masih tersisa dua orang lagi target Black Shadow, walaupun salah satunya masih abu-abu.
Tapi ... siapa yang memerintahkan ini?
Merasa situasi sedang darurat, ia pun berpikir keras. Setahunya, jika para penembak jitu dikerahkan, maka beberapa dari mereka akan membidik dari jarak jauh dan tersembunyi.
Dengan kemampuan analisis dan kalkulasi yang dimilikinya, ia bisa memperkirakan posisi seorang penembak jitu yang sedang bersembunyi, berada di sekitar jarak 300 meter dari gedung ini. Jika seperti itu, maka seharusnya tempat persembunyian sang sniper ada di seberang gedung yang berhadapan langsung dengan ruangan tempat Black Shadow berada saat ini.
Mr. White memicingkan matanya tanda pikirannya yang makin meruncing.
Jika memang para penembak diperintahkan untuk melenyapkan Black Shadow, mereka tidak mungkin melesatkan peluru saat siaran sedang berlangsung, mereka tidak punya alasan membunuh Black Shadow. Aku yakin, para penembak akan menunggu siaran itu berakhir.
Semua perkiraan Mr. White ternyata benar adanya. Seorang penembak sedang berada di seberang gedung dan mulai membidik Black Shadow dari jarak sekitar hampir tiga ratus meter.
"Jangan lakukan saat sedang siaran langsung. Aku akan memberi aba-aba padamu. Ketika siaran langsungnya berakhir, saat itu juga kau harus menembaknya," perintah pria tua berwajah garang itu pada ajudan pribadinya yang juga masuk bergabung dengan para penembak kepolisian.
"Siap." Pria yang memegang senjata itu mempertajam arah bidikan.
Tepat setelah ia mengintruksikan anak buahnya, ponsel miliknya berbunyi. Pria yang duduk di kursi kebesarannya itu, melihat nama pemanggil di layar ponsel. Sambil mencebikkan bibir, ia pun menerima panggilan tersebut.
"Kenapa kau meminta regu penembak kepolisian di gedung olahraga?" tanya seseorang yang meneleponnya.
"Ada lebih dari sepuluh pejabat di sana dan antaranya adalah menteri olahraga. Tidak ada yang bisa menjamin Black Shadow tak akan melukai mereka, bukan?" jawabnya santai.
Di ruang rapat, tuan Yoshuke yang sudah diikat Black Shadow bersama sekretaris pribadinya, kini 'bernyanyi' dengan menyebutkan tiga nama pejabat yang turut bersekongkol dengannya. Lantas, pejabat-pejabat yang ditunjuk oleh pria itu langsung mengelak. Sayangnya, mereka pun ikut merasakan lilitan tali dari Black Shadow. Satu orang yang hendak kabur, langsung di hadang oleh menteri olahraga.
"Tayangan ini disaksikan seluruh masyarakat, apa kalian masih memiliki rasa malu untuk kabur?" ucap menteri olahraga menahan geram.
Di waktu yang sama, Mr. White menghidupkan earpiece yang terhubung langsung dengan Black Shadow.
"Black, dengarkan aku!" Mr. White memberi aba-aba secara tiba-tiba di tengah siaran yang sedang berlangsung.
"Saat ini mungkin ada penembak yang sedang membidikmu dari jauh. Apalagi posisimu berdiri di samping jendela. Cepat, tutup tirai jendela di sampingmu sekarang! Aku akan menghentikan tayangan untuk sementara waktu." Usai berkata, Mr. White menghentikan siaran sejenak.
Black Shadow langsung menoleh ke arah jendela yang berada tepat di sampingnya. Ia bergegas menutup tirai lipat jendela tersebut. Sialnya, bagian sudut pertengahan tirai lipat itu sudah tak utuh lagi, sehingga memiliki peluang masuknya bidikan.
Dari kejauhan, penembak suruhan pejabat misterius itu menyadari sasaran fokus telah tertutupi sebuah tirai, tetapi ia masih bisa membidik kepala Black Shadow dari celah tirai yang tak utuh. Hanya tinggal menunggu siaran berakhir, maka peluru panas siap menembus kepalanya.
Sepuluh menit berlalu, penembak yang berada di seberang gedung masih siaga dengan jari tangan yang berada di pelatuk senapan. Sementara pejabat misterius yang memantau siaran dari ruangannya, mengernyit saat sudah sekian menit tayangan itu hanya menampilkan tiga wajah pejabat lainnya yang bersekutu dengan tuan Yoshuke. Meski begitu, penembak masih bisa menemukan titik sasaran dari celah tirai yang rusak.
Kei mendengus ketika tak bisa masuk ke gedung. Tak hilang akal, pria berpakaian hitam itu pun berjalan-jalan ke sekitar halaman gedung, mencari akses untuk masuk. Ia mencoba untuk memanjat salah satu jendela.
"Memangnya hanya Black Shadow saja yang bisa seperti ini," gumamnya.
Bertepatan dengan itu, penembak melihat seseorang berpakaian hitam yang sedang bergantungan di jendela. Mengira itu adalah Black Shadow, ia langsung memberitahukan pada atasannya.
"Tembak dia sekarang juga!" pinta pejabat misterius itu.
"Baik."
Penembak mulai membidik kepala pria itu, mengatur teknis pernapasan dan bersiap meluncurkan pelurunya. Namun, tiba-tiba arah pandangnya menjadi kabur dan tertutupi kabut putih tebal sehingga menyulitkan ia melihat target.
Begitu juga dengan Kei yang terbatuk-batuk dan mendadak tak bisa melihat apa pun saat sedetik yang lalu seseorang yang berada di satu lantai lebih atas darinya mendadak menyemprotkan APAR ke tubuhnya. Untungnya, ia segera melompat masuk ke ruangan. Tentu saja ia tak mengerti kenapa ada yang menyerangnya dengan alat pemadam api ringan.
Tanpa ia tahu, seseorang yang melakukan itu adalah Mr. White dan tujuannya menyemprotkan gas APAR untuk membuat gangguan visual sang penembak. Ya, triknya berhasil. Andaikan ia tak melakukan itu, pasti Kei telah tertembak karena disangka sebagai Black Shadow.
Mr. White masih berkeliaran di sekitar gedung lantai paling atas untuk mencari Black Shadow. Tiba-tiba, earpiece-nya memberi tanda komunikasi yang terhubung.
"Mr. White, aku sudah berada di luar gedung!" ucap Black Shadow dengan nada santai seperti biasa.
Sepuluh menit yang lalu, setelah mengikat tuan Yoshuke dan sekutunya, Black Shadow turut keluar bersama menteri olahraga dan pejabat lainnya. Masker dan setelan jas yang ia kenakan memudahkan dirinya menyisip di antara para pejabat. Ia bahkan mendapat kawalan dari aparat kepolisian sampai di luar gedung karena terus berjalan beriringan dengan menteri. Ia juga sengaja meletakkan patung kepala manusia yang berada di ruangan itu untuk mengecohkan lawan. Sementara, penayangan terus berlangsung hingga kini adalah bagian strategi dari Mr. White untuk memberi waktu Black Shadow kabur dari ruangan itu.
Mr. White terkejut bercampur lega. Ia mengira pria yang baru saja bergelantungan di atas gedung itu adalah Black Shadow, itulah yang membuatnya menyemprotkan APAR dari lantai atas untuk memastikan keamanan partnernya itu.
"*Yo*katta. Cepatlah ke Skytree, aku juga akan segera ke sana!" pinta Mr. White yang langsung mematikan siaran langsung.
Bibirnya tersungging senyum lebar karena misi yang begitu menguras pikiran ini telah berhasil, dan dia siap untuk berkencan dengan kekasihnya yang telah menunggu di menara Tokyo Skytree.
Baru saja hendak beranjak, langkahnya terhenti kala seorang pria berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
"Yo, Kebetulan sekali kita bertemu di sini," sapa Kei yang terlihat seperti menghadang langkah Shohei.
Shohei mengangguk. "Kau pasti sedang meliput kejadian tadi."
"Hhmmm ... tidak juga! Meliput seperti itu bukan tugasku."
"Oh ...." Shohei kembali mengangguk. Tak mau membuang waktu dan membuat Seina menunggu, ia pun pamit. "Sepertinya aku harus duluan karena masih ada urusan."
Ketika pria yang berpacaran dengan Seina itu berbalik hendak pergi, Kei malah berkata, "Sebenarnya aku ke sini untuk mencarimu, Mr. White."
Dipanggil dengan sebutan 'Mr. White' tentu membuat Shohei terentak seketika diikuti pupil mata yang membesar. Ia berbalik perlahan, menatap Kei yang mengarahkan kamera padanya. Wajahnya lantas tersorot jelas dalam rekaman yang baru saja dimulai itu.
Sambil terus mengarahkan kamera ke wajah Shohei, Kei mulai membuat narasi berita. "Pemirsa, Anda bisa melihat di hadapan saya saat ini adalah seorang oknum polisi yang selama ini berada di belakang aksi Black Shadow."
Mr. White
Kei Ayano