
Pejabat misterius tampak geram ketika anak buahnya mengabari bahwa ia kehilangan jejak Black Shadow. Tak hanya itu, kini seluruh pejabat telah pulang, hanya menyisakan tuan Yoshuke dan tiga pejabat terlibat yang sekarang telah dibawa oleh kepolisian. Para aparat keamanan dan regu penembak juga telah membubarkan diri dan bersiap kembali. Dengan demikian, tak ada alasan mereka untuk terus memburu Black Shadow.
Pejabat yang namanya tak terdeteksi itu langsung meremas kertas sambil menggertakkan gigi. Tampilan emosi di wajahnya seakan mempertegas jika darahnya sedang menggelegak saat ini. Otaknya seakan dipaksa bekerja untuk memikirkan cara menyingkirkan Black Shadow.
Di sisi lain, Seina yang masih menunggu di Tembo galeri Tokyo Skytree, hanya bisa terus melihat ke ponsel dan arlojinya secara bergantian. Sudah dua jam lebih dia menunggu Shohei di sana, dan hingga kini belum ada tanda-tanda kemunculan dari pria itu. Bahkan untuk menghubunginya pun tidak ada.
Seina berinisiatif menghubungi kekasihnya. Sialnya, telepon itu tidak tersambung. Ketika ia hendak menelepon kedua kali, matanya malah terbuka lebar dengan judul berita online yang tiba-tiba muncul di layar ponsel. Bagaimana tidak kaget, kalau ternyata ia baru tahu Black Shadow melakukan siaran langsung beberapa menit lalu. Pantas saja sedari tadi orang-orang di sekitarnya tampak serius menatap layar ponsel.
Jika dia telah selesai melakukan aksinya, itu artinya ... dia akan ke sini!
Seina menoleh cepat ke arah lift.
Tidak! Aku tidak boleh bertemu dengannya lagi.
Seina berjalan cepat mencoba menghindar dan bersembunyi dari tempat yang memungkinkan dirinya bertemu Black Shadow. Ia tak ingin hatinya kembali bimbang dan goyah ketika berhadapan dengan pria yang selalu mencuri ciumannya. Meski sebenarnya, ia juga merindukan pria itu.
Dalam hening, Seina mengambil ponselnya dan memutar siaran ulang aksi Black Shadow yang tersebar di jagad Maya. Meski terlambat menonton, ia tetap mengaguminya aksi pria itu. Malahan, bibirnya mengurai senyum secara refleks, ketika Black Shadow mengikat ketiga pejabat yang bersekongkol dengan tuan Yoshuke.
Sementara, Shohei dan Kei masih saling berhadapan. Kedua pria yang sama-sama lulusan universitas ternama di luar negeri itu saling menatap dengan sepasang mata yang menghunus satu sama lain. Meski diarahkan kamera yang menyala, Shohei masih terlihat tenang dan tak gentar.
"Apa-apaan ini? Aku tak mengerti sama sekali dengan leluconmu." Shohei mengernyit, sengaja menampilkan raut kebingungan.
"Tentu kau tak mengerti karena ini memang bukan lelucon, melainkan fakta," imbuh Kei dengan sudut bibir yang tertarik sedikit.
"Fakta?" Shohei mengulang kata itu, kemudian membuang wajah sambil tertawa kecil. "Hanya karena kebetulan aku ada di sini kau menyimpulkan seperti itu."
"Apa kau mau mencoba mengelaknya, Mr. White?" Kei mulai berjalan pelan mengelilingi Shohei bagai bumi yang berevolusi ke matahari. "Bukankah kau dulunya adalah anggota devisi khusus yang dibentuk untuk menangani kasus korupsi, suap, dan pencucian uang?"
Shohei tetap bergeming saat Kei terus mengelilinginya dengan kamera yang terarah padanya.
"Waktu itu kau sedang memeriksa beberapa nama pejabat yang diduga memiliki aliran dana korupsi. Sayangnya, kau dan beberapa polisi lain harus keluar karena peraturan baru yang mengkhususkan devisi itu hanya dihuni oleh para jaksa. Karena sudah bukan wewenangmu lagi, kau menyerahkan segala bukti data dari para pejabat yang berhasil kau selidiki. Tapi sayangnya, sepertinya bukti yang sudah susah payah kau dapatkan sama sekali tak diusut devisi itu, sehingga kau pun memutuskan bekerja sama dengan Black Shadow untuk melakukan apa yang tidak dilakukan devisi itu, memberantas para pejabat yang telah terbukti korupsi, menerima suap, dan melakukan pencucian uang." Kei berhenti tepat di samping Shohei yang membatu, lalu berbisik pelan di telinganya, "Apa aku benar?"
"Dan lagi ... sebagai polisi ada batasan dan aturan yang membuatku tidak bisa bertindak sendiri tanpa perintah ataupun persetujuan atasan," ucap Shohei secara tiba-tiba dengan pandangan lurus ke depan dan suara yang terdengar suram.
Kei menatap Shohei secara saksama. "Apa kau sedang membenarkan perkataanku?"
Shohei menggeleng pelan, membalas tatapan Kei. "Aku sedang menambahkan!"
Kei tersenyum kecil. "Itu artinya kau sama sekali tidak menyanggah sebagai Mr. White, kan?"
Shohei terdiam sebentar, tatapannya beralih ke handycam yang masih mengarah padanya. "Katakan apa yang kau inginkan dariku!" ucapnya tanpa basa-basi dengan sorot mata yang dalam.
"Wah, tidak kusangka Mr. White sangat peka, ya!" Kei langsung menutup rekamannya. "Baiklah, aku hanya ingin identitas Black Shadow yang sebenarnya."
"Untuk apa?"
Kei menaikkan satu alisnya. "Tentu saja untuk sebuah bahan berita. Aksi Black Shadow selalu menjadi trending satu di sejumlah media sosial. Semua orang terus membicarakannya dan penasaran dengan sosok asli dirinya. Bahkan media Cina, Korea, dan Hongkong turut meliputnya. Aku ingin menjadi yang pertama membongkar identitasnya sekaligus mewawancarainya."
Shohei tersenyum sinis. "Dari pada informasi tentang identitas Black Shadow yang sebenarnya, aku punya berita yang lebih menarik untukmu!"
"Apa itu?" Kei memiringkan kepalanya.
"Target kesepuluh."
"Ya, target Black Shadow yang kesepuluh. Sosok itu masih abu-abu, dan tak terendus sama sekali. Aku ingin kau membantu kami menyelidikinya. Bayangkan jika kau bisa mengetahuinya dan mengungkap ke publik satu langkah lebih cepat dari Black Shadow, bukankah itu lebih menantang?"
Kei terdiam sembari berpikir. "Menarik! Tapi ... kenapa kau ingin aku membantu kalian?"
"Karena kau sangat dekat dengan menteri kehakiman." Wajah Shohei semakin suram saat mengatakan kalimat itu.
Kei terperangah seketika. "Paman? Apa hubungannya dengan pamanku?"
"Aku yakin tuan Matsumoto mengetahuinya, tapi berusaha tutup mulut. Maka dari itu, tolong cari tahu sosok target kesepuluh itu melalui pamanmu!"
"Oh, jangan bilang ... kau berpacaran dengan Seina karena agar lebih dekat dengan paman dan bisa mencari tahu apa yang kau inginkan," sangka Kei dengan tatapan curiga.
"Jika seperti itu, seharusnya aku tak perlu meminta padamu lagi! Aku mencintai Seina dan tidak ingin melibatkan dia dalam hal apa pun. Aku menargetkan misi bersama Black Shadow harus selesai sebelum aku memulai hidup bersama Seina. Oleh karena itu, mari bekerja sama untuk mencari target kesepuluh. Aku tahu, sebagai jurnalis ini hal yang sangat mudah kau lakukan. Apalagi kau sering berinteraksi dengan beberapa pejabat dan politisi."
Mendengar kesungguhan Shohei terhadap adik sepupunya membuat Kei tersentuh. Ia mengangguk-angguk sebelum berkata, "Baiklah, akan kulakukan! Tapi sebagai gantinya, kau harus berjanji padaku untuk membeberkan identitas Black Shadow yang sebenarnya."
"Apa kau bisa kupercayai?" tanya Shohei.
"Tentu saja," jawab Kei cepat.
"Bagaimana kalau ketika mengetahuinya, kau malah ikut menutupinya?"
"Aku seorang jurnalis. Sebagai jurnalis aku harus netral dan independen. Aku selalu berpegang teguh pada kebenaran suatu berita. Bagiku, kebenaran harus diungkap, dan tidak boleh dipelintir. Sekalipun Pamanku sendiri yang ikut terlibat, aku tak akan membelanya."
"Bagus. Kupegang erat kata-katamu."
"Silakan! Bagaimana dengan kau sendiri? Apa aku bisa memercayaimu?" Kei membalikkan pertanyaan.
"Apakah aku terlihat sebagai sosok pengingkar?" tanya Shohei memicingkan sebelah mata, "aku yang mengendalikan Black Shadow selama ini. Meski kau menemuinya dan memaksanya berbicara, dia tak akan melakukan hal yang tidak kuperintahkan. Jadi, lakukan dulu apa yang kumau jika hendak mendapatkan apa yang kau inginkan."
Shohei menunjukkan kemampuannya bernegosiasi. Terlihat jelas ia bukanlah orang yang mudah dilemahkan dengan hal apa pun. Terbukti, ketika Kei merekamnya sambil mengungkap identitasnya sebagai Mr. White, ia tetap tenang dan tak terpengaruh.
Lagi pula, ia mengetahui rekam jejak sepupu Seina itu sebagai jurnalis dan presenter berita yang berimbang. Sudah puluhan pejabat yang mati kutu akibat sayatan pertanyaannya yang terkenal lugas di program acaranya.
Di waktu yang sama, Black Shadow baru saja tiba di puncak menara Tokyo Skytree. Dia tersentak ketika mendapati tempat itu sunyi senyap. Hanya terdengar semilir angin yang menggelitik kulit wajahnya.
"Eh? Ke mana dia? Tidak biasa aku lebih dulu darinya!" Black Shadow berkacak pinggang saat tahu Mr. White belum tiba di tempat mereka. Ia buru-buru merogoh saku, mengecek ponselnya. Ya, ada satu pesan masuk.
^^^Shohei Yamazaki^^^
^^^Aku menunggumu di Tembo galeri setelah misi berakhir.^^^
Black Shadow melihat pesan itu dikirim dua jam lalu ketika ia baru saja menjalankan aksinya. Berpikir Mr. White sedang berada di Tembo galeri, ia pun bergegas ke sana tanpa tahu tujuan sang pengendalinya itu memintanya ke sana.
.
.
.
ke depannya, jalan yang dihadapi Mr. white dan Black Shadow semakin curam dan berbahaya. tetap setia menanti kelanjutannya, dan jangan lupa beri apresiasi novel ini dengan menekan like, komen, serta rate karena itu semua gratis 😉