Never Not

Never Not
Ch. 101 : Menambah Kekuatan



Seina pun masih mengingat jelas ayahnya berpesan jika isi flashdisk itu hanya boleh dilihat oleh Shohei. Saat ayahnya mengatakan itu, sejujurnya ia tidak memiliki kecurigaan apa pun dan berpikir bahwa flashdisk tersebut dititipkan padanya untuk diberikan pada Shohei terkait urusan pekerjaan. Bahkan hingga kini, ia masih berpikir seperti itu. Sekarang, ia sedang berkabung dan tidak ingin menemui atau berbicara pada siapapun, termasuk Shohei. Untuk itu, ia memilih menyimpan kembali flashdisk mendiang ayahnya ke tempat semula.


Ia lalu membuka laci berikutnya, di mana tersimpan kelopak bunga Camelia yang ditinggalkan Black Shadow tiap mereka bertemu. Kelopak-kelopak bunga itu dikumpul dalam sebuah kotak keramik berbentuk hati, menandakan jika peninggalan Black Shadow itu sungguh berarti baginya.


"Kenapa kau membunuhnya?! Kenapa tidak aku saja yang menjadi penggantinya?" Seina berkata lirih sambil menatap kumpulan kelopak bunga Camelia. Bibirnya tampak kering dan pecah-pecah, sedangkan matanya terus basah karena linangan air mata. "Kau tahu ... aku sangat ingin berteriak di hadapanmu ... kalau aku ... sangat membencimu!" ucap Seina terputus-putus. Ia duduk terisak di sisi ranjang dengan sebelah tangan yang memeluk guci berisi abu ayahnya. Bahunya tampak berguncang dikepung pilu.


Sama halnya dengan Seina, Kei yang tengah mengendarai sepeda motor di jalanan, tak henti-hentinya mengingat kebersamaan antara dirinya dan mendiang pamannya. Nuansa kesedihan begitu tertangkap jelas di matanya. Wajahnya yang tersembunyi dari balik helm, menunjukkan ekspresi hancur. Ia berteriak sekencang-kencangnya, tepat saat motornya melintasi jembatan gantung pelangi dan membelah jalanan dengan laju.


Bagaimana tidak, ia baru saja menerima telepon dari petinggi siaran televisi tempatnya bernaung. Direktur televisi mengatakan akan menghentikan program siarannya selama beberapa Minggu ke depan sampai isu tentang kasus pamannya dilupakan publik.


Di sisi lain, selepas pulang dari kediaman Seina, Shohei mendatangi kembali gedung yang menjadi lokasi penyekapan mendiang Matsumoto malam itu. Rupanya, inspektur Heiji bersama tim yang berasal dari divisi investigasi sedari tadi telah berada di sana. Mereka menyelidiki ruang tempat ditemukan jasad mendiang Matsumoto dengan menggunakan alat canggih berupa 3D laser. Alat itu tiba-tiba berbunyi ketika digunakan memeriksa lantai sekitar, menandakan jika sesuatu telah terdeteksi.


"Alat mendeteksi serbuk pasir di sekitar ini!" teriak salah satu polisi.


Inspektur Heiji dan Shohei segera mendekat. Polisi itu segera mengambil sampel pasir tersebut untuk dilakukan penelitian di laboratorium kepolisian lebih lanjut. Mata Shohei memicing curiga, mencoba mengembalikan ingatannya atas kejadian semalam.


Di ujung ruangan lantai lima gedung itu, Ai Otaka tampak bersandar di terali sambil bermain gim di ponselnya. Hanya dia satu-satunya polisi yang terlihat santai. Karena bosan, ia memilih turun dari gedung itu. Saat keluar dari gedung tua itu, ia melihat Seto Tanaka yang ikut bergabung bersama tim anggota investigasi yang sedang menyisir halaman gedung.


"Oi, apa yang kau lakukan? Tempat kejadian perkara bukan urusan kita. Kita ke sini hanya menemani ketua," ujar Ai bersandar di pilar beton dengan kedua tangan yang bersedekap.


"Aku hanya penasaran apakah pria itu meninggalkan sebuah barang bukti," balas Seto.


"Ah, benar juga, ya! Biasanya Black Shadow selalu meninggalkan kelopak bunga Camelia di setiap aksinya, tapi kali ini tidak!" Kali ini Ai mengelus dagunya sambil memajukan bibirnya ke kiri dan kanan secara bergantian.



Tak terasa warna langit mulai gelap. Shohei dan Kei bertemu di tepian sungai Sumida, duduk di pembatas jalan dengan saling memunggungi. Kei menyalakan ujung rokok yang mengapit bibirnya, kemudian menyodorkan sebungkus batang nikotin itu ke arah Shohei lengkap dengan pemantiknya.


Shohei mengacungkan telapak tangannya yang terbuka pada Kei, sebagai bentuk penolakan. "Arigatou, tapi aku bukan perokok."


Kei menyimpan kembali bungkusan rokoknya, lalu menghela napas dengan berat. "Hah ... aku dan program siaranku diliburkan."


Shohei terkejut seketika. "Benarkah? Mungkin karena mereka mempertimbangkan kau sedang berduka."


"Entahlah! Mulai sekarang hidupmu mungkin dalam bahaya. Apakah kau masih ingin menyelidiki target kesepuluh?"


"Ya, tentu saja. Dia pasti dalang dari pembunuhan Matsumoto-san," jawab Shohei tanpa keraguan. Ada amarah yang tertahan dari nada bicaranya.


"Meskipun mungkin dia akan mengambil sesuatu paling berharga yang kau miliki?"


"Sesuatu paling berharga yang dimiliki oleh seorang detektif adalah sebuah kebenaran," balas Shohei dengan sorot mata yang dalam.


Kei menyunggingkan senyum tipis. "Mari kita bertukar informasi! Tekanan di media sosial saat ini sungguh luar biasa. Meski masih banyak yang mendukung aksi Black Shadow, tak sedikit juga yang menghujat kalian karena Black Shadow gadungan itu. Aku akan membuat artikel persuasif yang mengemukakan keganjilan aksi terakhir Black Shadow untuk membuka pemikiran orang-orang."


"Bagaimana caranya? Bukankah kau dibebastugaskan dan program acaramu diliburkan?"


Kei tersenyum miring. "Jangan lupa, aku adalah influencer dengan jumlah pengikut twitter terbanyak ketiga di Jepang."


"Arigatou gozamaisu," ucap Shohei.


"Aku tidak melakukannya untukmu ataupun untuk Black Shadow. Aku melakukannya demi pamanku. Aku ingin mengetahui siapa yang telah membunuhnya. Untuk itu, aku akan terus berada di pihakmu, mendukung kau dan Black Shadow."


"Apa pun alasanmu, kau tetap memercayai aku dan Black Shadow saja itu sangat berarti bagi kami. Bergabunglah bersama kami untuk mengusut kematian pamanmu sekaligus melawan target kesepuluh, Ayano-san!" Shohei mengulurkan tangannya.


Kei menerima uluran tangan Shohei. "Selain itu ... masih ada yang lebih penting. Yang paling terpukul atas kematian paman adalah Seina. Dia pasti mengira Black Shadow yang asli benar-benar pembunuh ayahnya. Jika sampai terbongkar kau adalah pengendali Black Shadow, maka itu akan menghancurkan hubungan kalian. Dia pasti akan semakin terpuruk."


Shohei tertegun. Memang benar, kejadian ini tentu membuat Seina mengira Black Shadow benar-benar membunuh ayahnya. Ia tidak ingin kekasihnya salah paham dan membenci tokoh ciptaannya. Namun, bagaimana caranya agar bisa menjelaskan yang sebenarnya pada Seina?


"Sebelum kuliah jurusan jurnalistik di USA, Ayano Kei bagian dari pasukan Bela-diri Jepang. Dia mengikuti pendidikan khusus selama dua tahun untuk menjadi anggota Coyote. Saya dengar, dulunya dia sempat ingin membeberkan pelecehan kekuasaan yang terjadi di lingkungan Coyote. Karena itu juga dia memutuskan berhenti dan memilih menjadi jurnalis. Dia mendapat tugas pertamanya sebagai jurnalis dengan meliput berita di Timur Tengah. Sekarang, dia menjadi jurnalis terkemuka yang ditakuti para politisi karena pertanyaannya. Dia juga memiliki jutaan pengikut di sosial medianya."


"Wow, sungguh mengejutkan!" Pejabat misterius itu mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum simpul.


"Apakah Anda mencurigai Ayano Kei sebagai Mr. White?" tanya sekretaris pribadinya.


"Entah Mr. White atau bukan, dia tetap ancaman bagi kita. Seorang jurnalis seperti dirinya memiliki mulut yang sangat lebar. Dia pasti sangat berisik di media sosial. Kita harus mengantisipasinya, bukan?" ucap pejabat itu dengan nada tenang.


"Saya mengerti." Sekretarisnya menunduk, lalu mundur dan keluar dari ruangannya.


Ia lalu mengendarai mobilnya ke suatu tempat, di mana terlihat seperti sebuah rumah tua yang dalam satu ruangan terisi banyak komputer.


"Akhirnya kau datang juga! Aku sudah mulai bosan dengan pekerjaan ini. Berikan upahku sekarang!" Yuta yang duduk di depan beberapa komputer, tampak menyambut "tuannya" dengan penuh antusias. Apalagi, ia melihat pria itu membawa koper uang.


"Masih ada tugas yang harus kau lakukan!"


"Apa itu?" tanya Yuta cepat.


"Aku ingin kau melenyapkan akun media sosial ini!" Pria itu menunjukkan sebuah aku media sosial di gawainya.


"Itu sangat mudah! Tapi ... bayarannya tentu akan naik karena ini adalah pekerjaan tambahan di luar kesepakatan kita."


Tanpa berkata, pria itu langsung membuka koper yang isinya membuat Yuta membelalakkan sekaligus meneguk liurnya sendiri.


"Wakatta. Akan kulakukan dengan senang hati." Yuta memutar kursinya agar berhadapan kembali dengan komputer. Jari-jarinya mulai menari lincah di atas papan tombol.


Usai bertemu Kei, Shohei berkunjung ke rumah Seina. Sudah hampir tiga puluh menit ia berdiri di depan pintu kamar sambil membawa aneka cake kesukaan gadis itu. Sayangnya, untuk membukakan pintu kamarnya pun enggan ia lakukan, apalagi menemui pria berprofesi penyidik itu.


Kepala pelayan mendekat, lalu berkata sambil menunduk, "Sedari tadi nona Matsumoto tidak mau keluar dari kamarnya. Saya rasa nona butuh waktu untuk menenangkan diri."


"Aku mengerti. Kalau begitu, tolong titip ini padanya." Shohei menyerahkan barang bawaannya pada kepala pelayan.


Begitu keluar dari rumah Seina, Shohei mengambil ponselnya lalu menghubungi Rai. Ternyata saat ini Rai sedang berada di tempat latihan mereka. Pria itu melakukan latihan fisik seharian penuh dengan semangat yang berkobar.


"Apa kau masih ingin lanjut?" Kalimat itu keluar dari mulut Shohei begitu telepon tersambung.


"Tentu saja. Sesuai perjanjian kita dari awal, aku telah menyerahkan ragaku untuk kau kendalikan kapan saja sampai misi berhasil," ucap Rai tanpa keraguan sedikit pun. Meski sebenarnya ia masih trauma dengan bayang-bayang kematian tuan Matsumoto.


"Kalau begitu, kembalilah ke apartemenmu dan temui Yuriko!"


"Eh?"


"Lawan kita kali ini sangat berat. Kekuatan kita tentu tidak mampu untuk melawannya. Oleh karena itu, kita perlu menambah kekuatan dari orang lain. Aku telah menemukan satu orang yang akan membantu kita. Tapi, kita masih harus mencari orang-orang yang memiliki keahlian dan juga rasa keadilan tinggi untuk bisa bergabung dengan kita," jelas Shohei dengan mata yang berpendar keemasan.


.


.


.


catatan kaki 🦶🦶


artikel persuasif itu berisi kumpulan paragraf yang berusaha meyakinkan, membujuk, mengajak pembaca untuk mengikuti keinginan penulis. kalimat-kalimat yang ditulis penulis bersifat memperdaya pembaca secara halus untuk menyetujui pendapat penulis itu sendiri. ini pelajaran bahasa Indonesia SMP gais


jangan lupa like dan komeng