
Rai berjalan pulang ke apartemennya dengan langkah gontai. Sedari tadi pikiran pria itu berkelana entah ke mana. Hatinya terus berkecamuk bagaikan benang kusut. Memasuki gedung apartemennya, Rai berdiri lemah di depan lift yang tertutup. Tatapannya kosong.
"Bagaimana kalau mereka benar-benar gagal bertunangan gara-gara aku?"
Tentu Rai satu-satunya orang yang sangat tahu dengan segala hal yang telah Shohei rencanakan sebelum bertunangan. Bahkan Shohei telah membeli kondominium yang akan ditempatinya bersama kekasihnya. Mengingat kepercayaan besar yang pria itu tanamkan padanya, membuatnya semakin menyalahkan diri sendiri.
"Arght, Kenapa aku harus bertemu dengan gadis itu? Kenapa duniaku ini menjadi begitu sempit! Apa ini karmaku karena sering mempermainkan hati wanita?!" Rai membenturkan dahinya ke dinding samping pintu lift. Ia melakukan itu berkali-kali sambil terus menyalahkan dirinya.
Pintu lift mendadak terbuka. Yuriko yang baru saja keluar dari lift tersebut, lantas terlonjak melihat Rai yang terus membenturkan dahinya ke dinding.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan?"
"Kenapa aku tidak bisa mengubah sifat burukku!"
Tak peduli dengan kehadiran Yuriko, Rai terus membenturkan kepalanya sambil mengeluarkan kalimat-kalimat makian untuk dirinya sendiri.
"Rai, hentikan!" Yuriko buru-buru menarik pinggang Rai untuk menghentikan aksi bodoh pria itu.
Rai menoleh ke arah Yuriko, menatapnya dengan mata redup dan tatapan gamang.
"Apa aku telah berada di surga?"
"Apanya yang berada di surga? Surga tidak sejelek ini. Kau masih berada di apartemen," ketus Yuriko.
"Arght, aku ingin mati saja! Dasar orang tidak berguna! Seharusnya tidak usah ada menolongku waktu itu!" Rai kembali membenturkan kepalanya sambil meracau tak jelas. Hal itu sontak membuat Yuriko kembali menarik tubuhnya.
Di waktu yang sama, Rio tiba di apartemen ini dan melihat apa yang terjadi. Dengan mata yang membeliak, ia buru-buru menghampiri Rai dan Yuriko.
"Hei, apa yang kau lakukan pada kakakku?!" Ryo mendorong Yuriko sehingga tubuhnya sedikit tergeser dari Rai. Ia mengira gadis itu mendorong dan tengah menyerang kakaknya.
"Hah? Apa yang aku lakukan? Seharusnya kau tanya apa yang kakakmu lakukan? Dia sudah seperti orang gila!"
Ryo menatap Rai yang tampak frustrasi. "Oniichan, Kau pasti sedang mabuk berat!" Dia kemudian mengendus aroma tubuh Rai, "eh? Dia tidak bau alkohol," ucapnya heran.
"Sudah kubilang aku ingin mati saja. Jangan halangi aku!" Rai menepis tangan Ryo.
"Rai, hentikan! Kalau kau terus membenturkan kepalamu, dindingnya akan rusak!" sergah Yuriko kembali mencegah Rai.
Ucapan Yuriko membuat Ryo termegap-megap. "Hah? Kau lebih memedulikan dinding dibanding mengkhawatirkan kepala kakakku?!"
"Justru aku mengkhawatirkan kakakmu. Kalau dinding apartemen ini retak karena ulahnya maka dia akan mengeluarkan uang ganti rugi."
"Kau benar juga!" seru Ryo.
Yuriko dan Ryo kompak menahan tubuh Rai agar berhenti melakukan hal konyol. Jujur, ini pertama kalinya Ryo melihat kakaknya seaneh ini padahal tidak dalam pengaruh alkohol.
"Rai, tenangkan dirimu! Sebaiknya kau kembali ke kamar dan dinginkan pikiranmu," ucap yuriko.
"Ya! Aku juga setuju!" sambung Ryo mengangguk-angguk cepat.
"Setelah itu kita pikirkan cara bunuh diri yang aman, damai, dan tidak sakit seperti ini," ucap Yuriko kembali seraya mengelus-elus punggung Rai.
"Ya! Aku juga setuju!" Ryo kembali menyambung, tapi tiba-tiba tersentak kaget. "Eh?! Kenapa kau malah menyarankan dia bunuh diri?!" pekik Ryo dengan mata melotot.
"Soalnya dia mengatakan ingin mati lebih dari sepuluh kali. Sebagai tetangga yang baik tugasku membantunya mencari jalan keluar," ucap Yuriko dengan gaya yang polos. Ia lalu berkata pada Rai, "Mungkin sebaiknya kau pergi ke hutan Aokigahara¹."
"Oniichan, sebaiknya kita ke kamarmu sekarang," ajak Ryo sambil hendak merangkul kakaknya.
Rai dan Ryo lalu masuk ke kamar. Ryo menyalin makanan yang ia beli sebelum datang ke apartemen kakaknya itu. Ia menoleh ke arah Rai yang tengah meneguk bir.
"Ne, Oniichan, tidak biasanya kau memintaku datang dan bermalam di sini," kata Ryo sambil meletakkan makan malam mereka di meja makan.
Rai mengambil sumpit dan mulai mencapit makanan. "Aku hanya sedang tidak ingin sendiri. Rasanya sepi dan gelap," ucapnya lirih sambil mengingat masa-masa di penjara.
"Eh?" Ryo makin tak mengerti dengan tingkah kakaknya. "Apa kau baik-baik saja?"
Tak menjawab pertanyaan adiknya, Rai malah balik bertanya, "Ryo-chan, apakah setiap kesalahan besar yang kita perbuat dapat termaafkan?"
"Tentu saja. Aku mengkhianatimu dan menggagalkan misi penipuan yang kalian lakukan. Tapi kau masih memaafkan dan menerimaku," balas Ryo sambil tertunduk lemah mengingat apa yang pernah terjadi di antara mereka.
"Apa Shohei juga akan memaafkan aku jika dia tahu aku mengkhianatinya?" gumam Rai menatap kosong ke depan.
Shohei?
Ryo merasa asing dengan nama yang baru saja disebut Rai. Namun, secara tiba-tiba ia teringat dengan pria yang selalu bersama kakaknya itu memperkenalkan diri. Ya, seingatnya pria itu bernama Yamazaki Shohei.
Entah kenapa Ryo malah membuat kesimpulan sendiri tentang apa yang dihadapi Rai saat ini. Detik itu juga, senyum lebar tersungging dari bibir Ryo tanpa bisa disembunyikan. Bahkan dia harus menutup mulutnya untuk menyembunyikan kegembiraan.
Akhirnya Kamisama mengabulkan doaku. Meski harus melihat Oniichan patah hati seperti ini, yang penting dia telah kembali menjadi pejantan tangguh!
Di waktu yang sama, Shohei dan Seina baru saja selesai makan makan bersama di kafe yang menyajikan menu-menu ala barat. Mereka kini tengah berjalan di taman kota dengan pemandangan lampu warna-warni yang melilit pohon-pohon maple. Keduanya saling menggenggam tangan layaknya pasangan kekasih.
Seina menoleh ke arah Shohei sambil tersenyum. Wajah pria itu sungguh meneduhkan. Meski tak seromantis pria lainnya, tetapi Shohei tetaplah memiliki daya tarik yang sanggup membuatnya tetap bertahan di sisi pria itu.
Sepasang kekasih itu memilih duduk di salah satu kursi taman yang kosong. Sama-sama terdiam, Shohei menggeser posisi duduknya agar bisa lebih berdekatan dengan Seina. Ketika tangan mereka tak sengaja bersentuhan, keduanya malah menjadi salah tingkah dan saling membuang pandangan masing-masing.
Shohei menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Baru saja hendak membuka suara, tiba-tiba perhatian keduanya teralihkan pada sepasang kekasih berseragam SMA yang duduk di depan sana.
"Dingin ...." Gadis itu berucap pada kekasihnya. Dengan segera, kekasihnya langsung merangkul tubuhnya dan membiarkan gadis itu bermanja-manja di lengannya.
Melihat kemesraan muda-mudi itu lantas Shohei hanya bisa meneguk ludah. Ia menoleh ke arah Seina yang juga membisu.
Aku tidak boleh kalah dari pemuda itu.
"Seina-chan, apa kau kedinginan?" tanya Shohei yang ingin memperagakan apa yang dilakukan anak muda di hadapannya.
"Tidak." Seina menggeleng pelan.
"Oh ...." Shohei mengangguk lalu kembali menatap sepasang anak sekolah yang sedang memadu kasih. Matanya terbelalak seketika kala melihat keduanya semakin mesra. Sang pemuda memegang pipi kekasihnya lalu mengecup keningnya dengan lembut. Sontak, Shohei pun kembali melirik ke arah Seina.
"Seina-chan, apa kau benar-benar tidak kedinginan?" tanyanya sekali lagi.
Seina menggeleng. "Apa Shohei-kun merasa dingin? Kau ingin pulang?"
"Aa ... tidak! Tidak! Aku juga tidak merasa dingin," balas Shohei cepat.
Pasangan muda itu kini beranjak pergi melewati mereka. Ini membuat keadaan sekitar menjadi sepi dan hanya menyisakan keduanya.
Shohei kembali menghela napas. Sungguh, ia ingin menciptakan momen romantis bersama Seina di bangku taman ini. Sayangnya, ia tak tahu bagaimana harus memulainya lebih dulu. Sejenak, Shohei teringat dengan tata cara berciuman yang pernah diajarkan Rai.
Ini adalah waktu yang tepat ....
"Seina-chan ...."
Seina mengerjap kaget saat tiba-tiba Shohei menyentuh punggung tangannya dengan lembut. Satu tangan pria itu telah menyangga di sandaran kursi. Ketika kedua mata mereka bersirobok, Shohei mulai memiringkan kepalanya dan bergerak maju mendekati wajah Seina. Semakin dekat, hingga napas keduanya saling berembus.
Apa Shohei ingin menciumku?
Seina meremas kuat tangan Shohei untuk mengatasi kegugupannya. Ketika gadis itu hendak memejamkan mata, Shohei malah berhenti di jarak sekian mili. Lantas, Seina pun bingung dibuatnya.
Tunggu! Tunggu! Aku lupa aku baru saja makan hamburger. Aaghhtt ... bagaimana kalau mulutku bau aroma bawang bombai? Atau mungkin lidahku terasa pedas karena sisa saus yang kumakan? Seina pasti tidak akan nyaman!
Shohei bermonolog dalam hati dengan kepala yang masih dimiringkan ke kanan dan mata yang menjurus ke mata Seina. Ketika Seina menatapnya dengan penuh tanda tanya, bibirnya spontan tertarik lebar menciptakan senyum paksa yang sengaja dilemparkan pada kekasihnya.
Kenapa Shohei hanya diam? Apa aku yang terlalu percaya diri karena menganggap dia ingin menciumku?
Suasana mendadak menjadi kikuk dan aneh. Seina turut tersenyum kaku, walaupun dia bingung kenapa Shohei menghentikan pergerakannya di saat pria itu terlihat ingin menciumnya. Shohei kembali tersenyum, kali ini lebih lebar hingga matanya menyipit. Seina pun kembali membalas senyuman Shohei tanpa bisa bertanya maksud pria itu.
Akhirnya, satu menit berlalu begitu saja. Mereka terus bertatapan sambil saling membalas senyum, tanpa kata dan tanpa pergerakan. Mematung begitu saja.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
hutan Aokigahara adalah hujan yang paling populer di Jepang bahkan sampai ke seluruh dunia karena sering dijadikan lokasi favorit untuk melakukan bunuh diri. seorang vlogger dunia Logan Paul pernah dikecam karena nge-vlog di hutan ini, di mana dia menunjukkan mayat-mayat yang baru saja bunuh diri di sana gays.
jangan lupa like ya gais