Never Not

Never Not
Ch. 131 : Negosiasi



Rai, Ryo, Kei dan Yuriko langsung menyebar ke tempat tujuan masing-masing untuk mencari keberadaan bom yang akan diledakkan Black Shadow palsu. Sementara, Shohei mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Kazuya Toda di restoran yang juga masih berlokasikan di sekitar tempat penyisiran timnya.


Lautan pejalan kaki memadati jalanan utama Shibuya, distrik Tokyo yang tak pernah sepi. Sepertinya, video ancaman bom yang beredar belum banyak ditonton orang-orang, mengingat rilisnya video itu di jam sibuk. Polisi pun hanya berjaga-jaga di sejumlah titik ramai Shibuya.


Berdiri di tengah keramaian, mata Rai tak lelah menelisik sekitar untuk menemukan keganjilan. Di tempatnya sekarang, ada sekelompok anak-anak SD yang tengah latihan marching band, ada sekumpulan anak remaja yang sedang bermain skateboard dan sepeda, serta banyaknya orang berlalu lalang dengan segala kesibukannya. Bagaimana ia bisa melindungi semua yang ada di tempat itu?


Sejenak ia kembali memikirkan kata-kata Shohei.


"Ingat, jika bom itu benar-benar meledak dan memakan banyak korban, maka sebagai Black Shadow asli kau akan dituduh terroris dan menjadi buronan internasional."


Ryo yang ditugaskan menelisik ke tempat arena permainan terbuka, hanya bisa mengernyit bingung. Tak mau menyia-nyiakan waktu, ia segera memeriksa setiap barang yang mencurigakan di tempat itu.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tegur petugas arena permainan ketika Ryo berusaha membongkar kotak hitam mencurigakan.


"Benda ini mencurigakan, biar kuperiksa dulu!" sahut Ryo.


Petugas itu langsung mendorong Ryo dengan kasar. "Apa kau gila? Ini mesin permainan komidi putar.


Kei dan Yuriko juga telah memasuki plaza terbesar yang ada di Shibuya. Mereka langsung bergerak ke tempat-tempat tersembunyi gedung perbelanjaan itu, untuk mengecek bom yang mungkin di letakkan di sana.


"Gudang, toilet, dan koridor sekitar tangga darurat lantai dasar aman." Yuriko melaporkan lewat earpiece yang terpasang di telinganya.


"Lantai dua juga aman," balas Kei yang kini menuju lantai tiga.


Berpikir ini akan memakan waktu banyak, ia malah beralih menuju ke pusat keamanan gedung plaza. Sambil berlari tergesa-gesa, ia langsung menerobos ruang pantau CCTV. Sontak, petugas yang berada di sana pun terkejut melihat kehadirannya.


"Aku ingin memeriksa CCTV di setiap gedung ini!"


"Siapa kau?" Petugas melongo bingung.


"Tidak ada waktu lagi untuk bertanya," desak Kei ingin mengambil alih komputer mereka.


"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau tahu orang lain tidak bisa masuk ke tempat ini? Kau harus mengantongi izin dari manager dulu jika ingin melihat tayangan CCTV gedung!" larang petugas itu.


Di sisi lain, Shohei telah menuju restoran yang berada di lantai 63 gedung pencakar langit di kawasan itu. Ketika menyebut nama Kazuya Toda pada pelayan restoran, ia langsung dituntun ke ruang VIP. Pengamanan ruang VIP itu sungguh ketat, di mana ia harus melewati pintu sensor metal detector.


Begitu tiba di ruang VIP, pandangannya langsung tertuju pada Kazuya Toda yang tengah duduk santai di sisi kaca gedung. Yang membuatnya sedikit tersentak adalah tidak ada polisi lainnya seperti yang disebutkan Kazuya Toda sebelumnya. Artinya, pertemuan itu hanya dirancang untuk mereka berdua.


"Duduklah!" sambut Kazuya Toda memamerkan senyum hangatnya.


Shohei langsung mengambil posisi duduk di hadapan pejabat tertinggi di badan keamanan nasional itu.


"Menikmati kopi sambil melihat pemandangan Shibuya dari ketinggian ini sungguh menakjubkan, bukan?" ucap Kazuya Toda sambil menawarkan kopi panas yang telah tersaji di depan Shohei.


Melihat Kazuya Toda yang mulai menyesap kopi, Shohei pun mengambil cangkir miliknya dan ikut menikmati kopi hitam.


"Aku masih mengingat betul saat memberimu penghargaan dua tahun lalu sebagai penyidik terbaik di kepolisian Metropolitan," ungkap Kazuya Toda membuka obrolan, "Yamazaki-san, apa pendapatmu tentang kasus jual beli senjata dan penimbunan uang yang ditemukan di gudang pelabuhan Tokyo? Jujur saja, itu membuatku sedih dan kecewa," ucapnya lagi dengan menunjukkan raut tak berdaya.


"Kenapa Anda sedih dan kecewa?" tanya Shohei.


"Seperti yang kau ketahui sendiri, Eita Kaze bersikap kesatria dengan mengakui perbuatannya. Aku sungguh tak menyangka dia akan melakukan itu!"


"Benar. Pejabat birokrasi seharusnya bekerja untuk rakyat, bukan untuk pemimpinnya."


Balasan Shohei yang menohok, membuat sudut bibir Kazuya Toda bergetar seketika. Untuk sesaat, dua pria itu saling bertukar pandangan.


"Mari kita ubah topik yang membosankan ini," ucap Kazuya Toda sambil tersenyum.


Pria tua itu lalu meletakkan sebuah penyadap dalam bentuk bolpoin di atas meja. Melihat bolpoin itu, membuat pupil mata Shohei melebar.


"Apa kau mengenal bolpoin ini? Bolpoin ini ditemukan anak buahku di ruang kerja mendiang Matsumoto, saat mereka hendak mengamankan berkas negara yang ditinggalkan Matsumoto. Aku sedikit terkejut, kenapa ada alat penyadap yang diletakkan di ruang kerja pribadi menteri kehakiman. Jadi, aku meminta anak buahku memeriksa pemilik bolpoin ini. Dan mengejutkan, hanya ada satu sidik jari yang terdeteksi. Ini milikmu, kan?"


Shohei Yamazaki bergeming. Memilih tak menjawab dugaan Kazuya Toda.


Kazuya Toda kembali mengulas senyum favoritnya. "Aku cukup lama bertanya-tanya kenapa seorang penyidik kepolisian menyadap secara diam-diam seorang menteri yang notabene adalah calon mertuanya sendiri. Dan anehnya lagi, penyadapan itu bukan bagian dari tugasnya di kepolisian. Sebagai seorang polisi, kau pasti tahu kan, melakukan penyelidikan diam-diam tanpa perintah atasan adalah sebuah pelanggaran kode etik?" ucap Kazuya Toda sambil menyesap kopi dengan tenang, tapi selanjutnya mata pria itu menyorot tajam ke arah Shohei. "Ah, mungkin bagimu pelanggaran kode etik dalam pekerjaan tidak menjadi masalah, asalkan kau bisa membuat bahan konten untuk siaran langsung yang dilakukan Black Shadow. Sebab, kau adalah Mr. White, sosok yang menunggangi Black Shadow selama ini."


Shohei semakin membatu. Serasa ditelanjangi saat Kazuya Toda membongkar identitasnya sebagai Mr. White. Meski begitu, tak ada guratan panik ataupun takut di wajahnya. Ekspresinya hingga kini masih sama seperti sebelumnya. Datar.


Shohei menunduk, memejamkan matanya, lalu tertawa sinis. "Akhirnya terbongkar juga!"


"Apa kau tak berpikir yang kau lakukan itu bisa menghancurkan karir kepolisianmu? Kesatuanmu tidak akan bangga dengan apa yang kau lakukan. Meski sebanyak apa pun kau menangkap koruptor, jika itu dilakukan dengan cara melanggar kode etik, maka kau tak akan mendapatkan penghargaan. Malahan pencopotan jabatan mungkin akan menantimu di sana," ucap Kazuya Toda dengan sebelah alis yang terangkat.


"Bagaimana dengan Anda sendiri? Apa yang bisa rakyat banggakan dari tindakanmu sebagai pejabat negara? Apakah kau tidak malu dengan citra yang kau ciptakan sebagai pejabat tegas dan jujur?" balas Shohei tak kalah sengit.


"Politik adalah seni menarik simpatik rakyat. Oleh karena itu, jangan ikut campur di bagian yang tidak seharusnya!" Pria itu kembali menebar senyum beracun, "Apa yang kau lakukan hanya membuang-buang waktu saja, karena kau dan black Shadow tak akan bisa menyentuhku!"


"Aku yakin kebenaran pasti akan menang," ucap Shohei lantang.


"Bagaimana kalau kebenaran itu adalah milik sang pemenang? Selama kau memenangkannya, itulah kebenaran," balas Kazuya Toda penuh percaya diri. "Ah, tapi tidak seru rasanya jika aku yang langsung menang, kan? Bagaimana kalau kita bernegosiasi?"


"Aku tidak akan bernegosiasi apa pun padamu."


"Benarkah? Ada bom yang diletakkan di lantai paling atas pusat berbelanjaan itu." Mata Kazuya menatap gedung plaza yang berdiri kokoh di seberang sana. "Jika kau salah mengambil langkah, maka bom itu akan meledak."


"Ledakkan saja!" ucap Shohei tanpa berkedip. Sebab, ia yakin Rai, Ryo, Kei dan Yuriko bisa menghentikannya tepat waktu.


Kazuya Toda tersenyum ringkih. "Aku tidak yakin kau tetap akan mengatakan seperti itu setelah melihat ini." Ia lalu menunjukkan sebuah video yang terekam langsung dalam tabletnya.


Pada detik itu juga, sorot mata Shohei mengeras diikuti ekspresi terperanjat. Garis-garis mukanya yang tegas dikombinasikan dengan kulit putih tampak memucat. Bagaimana tidak, di dalam video tersebut menunjukkan Seina tengah disekap dengan tangan dan kaki yang terikat, bahkan mulutnya disumpal dan matanya ditutup. Namun, yang paling mencengangkan, ada sebuah bom yang menempel di tubuhnya.


"Bom itu diletakkan di tubuh pacarmu. Waktunya tinggal tiga puluh lima menit dari sekarang. Apabila batas waktu telah berakhir, maka bom itu akan meledakkan seluruh lantai yang ada di gedung itu. Bisa ditebak, siapakah yang akan tewas lebih dulu. Tapi, semuanya bisa berhenti sesuai perintahku."


"Kenapa Bapak melakukan hal ini? Apakah Anda pikir nyawa orang-orang itu tidak berharga?" tanya Shohei dengan amarah yang tertahan.


Kazuya Toda malah semakin melebarkan senyumnya. Ia bersandar sambil menautkan jari-jemarinya dengan santai.


Shohei segera merogoh saku celana, lalu memasang earpiece untuk berkomunikasi dengan timnya. "Tolong dengarkan baik-baik! Bom itu berada di lantai paling atas plaza dan terpasang di tubuh kekasihku. Kumohon jangan bergerak, karena aku sedang memikirkan rencana untuk menyelamatkan semuanya," ucap Shohei panik.


Rai, Ryo, Yuriko, dan Kei tercengang seketika. Pergerakan mereka langsung terhenti begitu saja sesuai instruksi Shohei.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Shohei pada Kazuya Toda.


"Mudah saja. Serahkan Black Shadow asli padaku, dan bekerjalah di bawah perintahku! Mari kita lupakan semua ini!" ucap Kazuya Toda. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan sisi Shibuya yang tengah ramai dengan segala aktivitas manusia. Sambil menyilangkan tangan ke belakang, ia kembali berkata, "Aku berbaik hati memberi tawaran bagus untukmu karena masih mengingat kau adalah putra seorang jendral besar. Kau juga seorang polisi yang berprestasi. Negara tidak membutuhkan pahlawan keadilan. Maka dari itu, serahkan Black Shadow padaku, demi kestabilan negara."


"Apa yang akan Anda lakukan padanya? Apa kau akan menjadikannya tumbal seperti Eita Kaze?"


"Anggaplah seperti itu!"


Wajah shohei makin tenggelam dalam ketidakberdayaan. Sungguh, ini adalah keputusan yang membuatnya dilema. Dia harus memilih salah satu di antara kekasih dan sahabatnya. Di mana dua orang itu pernah berhubungan diam-diam di belakangnya.


Sementara, Seina yang tengah berada dalam penyekapan, terlihat syok dan tak percaya. Pasalnya, anak buah Kazuya Toda sengaja memperdengarkan secara langsung obrolan antara Shohei dan Kazuya Toda.


"Sekarang kau sudah tahu, kan? Pacarmu adalah otak di balik gerakan Black Shadow selama ini. Dialah yang menyuruh Black Shadow membunuh ayahmu karena mengetahui ayahmu tak sejalan dengan misinya! Kami terpaksa melakukan ini padamu untuk membuatnya menyerahkan Black Shadow!" ucap salah satu anak buah Kazuya Toda yang menjaganya.


Seina menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelehan bening telah mengucur deras dari sudut matanya. Mana mungkin Shohei melakukan itu. Ia lebih percaya dengan isi surat yang pernah Black Shadow kirimkan padanya.


"Sikap yang diambil kekasihmu akan menjadi bukti seberapa besar dia mencintaimu!"


Shohei masih terdiam, menimang-nimang dalam gamang yang berkecamuk di otaknya.


Kazuya Toda menatap jam tangannya lalu berkata, "waktu yang tersisa tinggal dua puluh menit menuju jam empat sore."


Setelah terdiam beberapa saat dan hampir tidak bisa tersenyum, akhirnya terdengar suara pelan nan berat dari mulut Shohei. "Aku memilih ...."


.


.


.


Ini permintaan pertamaku, berikan vote voucher untuk novel ini sebagai dukungan terakhir kalian di novel ini. sebab, novel NN belum pernah masuk 10 besar vote terbanyak. Aku gak pernah ngemis vote untuk novel ini, tapi berhubung novel ini dah mau tamat jadi aku ingin mendapatkan lebih banyak pembaca.


jangan lupa like dan komen